Nona Antagonis

Nona Antagonis
Teman?


__ADS_3

...***...


Satu minggu sudah berlalu semenjak liburan itu, dan kaki Sania terasa baik-baik saja. Sania turun dari mobil, seorang diri, hanya dia sendirian, soalnya Azril mendadak ada urusan katanya.


Sania berjalan sendirian, yang ada di pikirannya adalah bagaimana Fellin akan memperlakukannya hari ini, tanpa adanya Azril di samping Sania.


Baru saja Sania memikirkannya dan Fellin sudah hadir di hadapannya, gadis itu berjalan mendekat bersama dengan Cecil.


"Azril mana? Dia ga masuk? Atau telat?" tanya Fellin, matanya masih penuh dengan kebencian khusus untuk Sania.


"Ga tau, tadi mendadak ada urusan, makanya gue sendirian. Kayaknya sih hari ini dia ga masuk." Sahut Sania seadanya.


Fellin menatap Cecil sebentar. "Kantin yu, laper." Fellin menarik tangan Cecil. Keduanya perlahan menjauh dari Sania.


Sania terdiam di tempatnya, dia menatap Fellin tak percaya.


"Seriusan cuma gitu doang? Cuma nanya Azril? Ga cari masalah sama gue?" Gumam Sania masih tak percaya.


"Sania ya?" Tiba-tiba ada seseorang yang menyapa Sania, menepuk pundaknya. Sania segera menoleh.


"Siapa ya?" Tanya Sania, saat melihat orang tak di kenalnya.  Sania memperhatikan lagi orang itu, dari ujung kaki sampai ujung kepala. Pria jangkung, berkulit putih, hidungnya mancung, alisnya tebal, matanya sayu. Satu kata, Tampan! Dan terlebih lagi, dia menyapa Sania? Jujur saja, hari ini untuk pertama kalinya Sania berbicara dengan seseorang yang bukan dari lima bangsawan itu.


"Oh gua? Gua Leon, Leon Andrawina. Dari keluarga bangsawan Andrawina." pria itu, Leon mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Sania.


"Sania Nugraha, babunya Azril." Begitulah perkenalan singkat ala Sania.


"Babu atau pacar? Haha, ngaku aja. Satu sekolah juga udah pada tau, kalo lu pacaran sama Azril, abis Azril putus dari Fellin."


"..." Sania hanya diam, dia melanjutkan jalannya begitu saja.

__ADS_1


"Tapi kayaknya Azril stress deh, bisa-bisanya dia pindah dari Nona Fellin, ke cewek kayak lu. Ibarat di kasih bulan milihnya batu." Katanya tanpa perasaan. Tolonglah, itu mulutnya kenapa begitu.


Sania menatap mata irang itu tajam.


Ganteng sih, tapi sayang mulutnya lemes, sok tau dan sok asik. Di tambah lagi, nyebarin hoax seenak jidat. Skip deh.


"Pertama, gua babu Azril, kedua, ga usah ngada-ngada, ketiga, serah lu, ke empat jangan pernah temuin gue lagi." Sania memutar bola matanya jengah, dia berjalan cepat meninggalkan pria itu. Tapi pria itu terus saja mengerjar Sania,


"Apa lagi sih? Ga ngerti gue bilang apa?" Sania berhenti, dia menatap Leon yang sudah berada di sebelahnya.


"Lah? Siapa yang ngikutin lu, gua cuma mau ke sana. Yang kebetulan,  jalannya sama arah lu aja kali." Alasan Leon yang terdengar klise dan tentu itu bohong.


Tiba-tiba ada seseorang gadis yang menarik Leon menjauh dari Sania. "Kak Leon, di panggil pak Wiz, mending pergi deh. Keburu pak Wiz marah."


Tampak Leon berdecak kesal, namun kakinya tetap melangkah ke ruang guru. Pak  Wiz itu emang mengerikan, jangankan Leon, bahkan bangsawan kelas tinggi seperti Azril dan Fellin saja harus menurut, dan tak pernah membantah.


"A-Ano! Ma-maaf! Kak Leon emang gitu orangnya. Mohon nona Sania maafin ya? Kak Leon ga jahat kok." gadis itu menunduk di depan Sania. Sania diam mematung.


"E-ehhh!! Kenapa lo nunduk, berdiri aja."


"Eh-ada yang salah kah? Kayaknya aku belum perkenalkan diri ya, Aku Leyna Andrawina, adiknya kak Leon. Aku kelas satu di sini kak, Keluarga Andrawina sangat berutang budi dengan keluarga Maheswara. Jadi, tentu kami bakal hormatin calon nyonya Maheswara di masa depan." kata Leyna, lembut dan penuh sopan.


Kenapa jadi salah paham gini sih? Kenapa semua anggep gue dan Azrul tuh, dah lah...


"Gue bukan pacarnya Azril, jadi ga usah gitu, bukan calon nyonya masa depan dari keluarga Maheswara juga."


"Eh-bukan yah? Tapi sejak Kak Sania masuk, Kak Sania selalu aja sama Kak Azril, jadi kami pikir kak Sania pacarnya Kak Azril."


Sania melanjutkan jalannya, begitu juga dengan Leyna yang mengikutinya.

__ADS_1


"Gue sama Azril karna gue babu dia, dan kedua, gue ga punya temen." jelas Sania sesingkat mungkin.


Namun tiba-tiba Leyna berhenti, dia diam membatu, dia memegangi dadanya.


Sania tersenyum miring. "Gapapa, lu ga usah ga enakan, lu kalo mau ngejauh juga gapapa. Mending jauhin gue yang pembantu ini, ya biar lu juga ga di benci Fellin sih."


Tiba-tiba Leyna terduduk lemas. Sania tidak mengerti apa yang terjadi, tapi dia langsung mendekati Leyna. Sania melihat wajah Leyna, tiba-tiba wajah itu sudah terbasuh dengan air mata.


Eh? Apa? Gue bilang apa? Apa ada perkataan gue yang salah? Yang nyakitin hati dia?


"Sorry, gu--"


"Eh-eh bukan! Ini bukan salah kak Sania, Leyna cuma ingat kejadian Leyna waktu SD doang." Leyna mengangkat wajahnya, dia tersenyum hangat. Ah, itu manis sekali.


"Kalo boleh tau? Emangnya lo kenapa pas sd gitu?" Sania cukup penasaran soalnya,


Jangan bilang dia di bully pas SD karna terlalu imut? Asli, kaya Fellin versi kecil, imutt banget.


Leyna bangkit berdiri, begitu juga Sania. "Dulu sewaktu Leyna SD, Leyna sekolah di sekolah biasa. Tapi, karna Leyna anak bangsawan, jadi semua barang-barang Leyna selalu lengkap, dan Leyna punya barang terbaik di antara murid lainnya. Leyna suka saat itu, mereka sering meminjam barang-barang Leyna, Leyna bahagia karna merasa di butuhkan. Tapi, sampai suatu saat Leyna sadar. Mereka cuma manfaatin Leyna, dan ga mau lagi pinjemin barang-barang Leyna. Dan pada akhirnya, ga ada satu pun dari mereka yang mau temenan sama Leyna." Cerita Leyna panjang lebar, matanya sendu. Ah, sepertinya itu kenangan yang benar-benar tidak ingin Leyna ingat.


"Leyna jadi sendirian, setiap jam istirahat Leyna ga punya temen. Leyna mau minjemin barang Leyna lagi, gakpapa mereka deket sama Leyna karna cuma mau manfaaatin Leyna, yang penting Leyna ada temen. Ja--"


"Pertemanan itu suatu hubungan berdasarkan perasaan, bukan pemanfaatan  semata. Lo ga perlu ngemis buat dapetin temen, Le-"


"Lebih baik kesepian di banding punya temen yang selalu manfaatin, ya kan kak?"  Leyna langsung memotong ucapan Sania. Sania diam sebentar. "Ya itulah yang kak Leon bilang, tapi sayangnya Leyna ga bisa, Leyna ga bisa kesepian sendirian, biarin Leyna dimanfaatin, yang penting Leyna ga kesepian di sekolah itu."


"Leyna tau rasanya kesepian dan ga ada temen, jadi Kak Sania, boleh Leyna jadi temen kakak?" tanya Leyna memberikan sebuah ikat rambut pada Sania.


...***...

__ADS_1


__ADS_2