Nona Antagonis

Nona Antagonis
Ikut gua!


__ADS_3

...***...


Bel istirahat pertama sudah berbunyi satu menit yang lalu. Tapi Azril masih diam dikelas, entah apa yang orang itu pikirkan.


"Kantin gas!" tanpa izin Erlan sudah menarik bahu Azril. Memang terkadang Erlan marah dengan sikap Azril yang begitu kasar pada Fellin, namun tetap saja, Azril dan Erlan sudah bersahabat sejak kecil, sekuat apa ikatan mereka, hanya merekalah yang tau.


"Gua ga bisa, males." Sahut Azril sekenanya. Dia menepis tangan Erlan yang sempat mendarat dibahunya.


"Zrill ... Kali ini aja, makan bareng kita ya, lo udah lama banget ga gabung sama kita. Kali ini gabung yaa? kita kayak dulu lagi." Berbeda dengan sebelumnya, kali ini Fellin memintanya dengan suara yang lembut. Ia menggenggam tangan Azril lembut. Matanya begitu indah, berpadu dengan senyuman tulusnya. Fellin berharap Azril akan luluh dengan sikapnya yang begini.

__ADS_1


Jujur saja, hati Erlan terasa di tusuk-tusuk ribuan jarum, namun dia sudah terbiasa. Terbiasa seperti ini selama bertahun-tahun, melihat gadis yang begitu dicintainya tersenyum untuk pria lain. Tapi tetap, walau dia terbiasa, rasa sakitnya tidak berkurang.


Deg!


Azril juga terdiam, hatinya seperti ditusuk satu tombak yang tajam, sangat sesak, dia seperti ingin luluh.


Lu harus kuat Zril! Tolak Fellin apapun yang terjadi! Tolak Fellin! Tolak! Tolak! Tolak!  Harus nolak!


"Apa karna gue manja? Lebay? Bucin? Kalo emang itu alasan lo ngejauh, gue bakal ngerubah diri gue, gue janji bakal jadi apapun yang lo mau, tapi please, jangan tinggalin gue kayak gini. Gue bakal berubah demi lo, sayang please ...!" Fellin masih dengan suara lembutnya, namun dengan beberapa tetes air mata yang sudah jatuh. Namun ucapannya mampu menghentikan langkah dingin Azril.

__ADS_1


Padahal ada gue disini yang nerima lu apa adanya wkwk


Batin Erlan, berusaha tetap berekspresi normal seperti biasanya, atau semua orang akan tau bahwa dia benar-benar menyukai Fellin. Tidak boleh ada yang tau! Tidak boleh! Atau persahabatan mereka akan benar-benar rusak!


Buset, ini Fellin dari sisi mana? Lembut banget, tapi emang cocok sih sama muka dia yang cakep. Kalo gue di posisi Azrol, fiks sih ini gue udah luluh. Suaranya lembut, mana tulus banget lagi.


Sania hanya diam menjadi penonton, dia benar-benar berharap Azril berbalik dan menerima Fellin kembali. Agar semua masalahnya selesai. Suara hatinya kali ini sungguh tulus.


"Masalahnya bukan di lu, masalahnya ada di gua. Guanya udah ga cinta, bosen sama lu. Makanya lu buruan move on dan lupain gua." Jawabannya begitu dingin, bahkan dia saja tidak berbalik untuk menatap mata Fellin. Azril berjalan pergi, namun sedetik kemudian, dia berhenti di pintu, dan menoleh ke arah Sania.

__ADS_1


"Lu ikut gua sekarang."


Sania benar-benar tertimpa kesialan, mengapa disaat-saat begini malah namanya yang disebut dari mulut Azril. Tapi bagaimanapun Sania sadar diri dia adalah babu dari orang itu, membuat Sania memaksa kakinya melangkah mengikuti Azril.


__ADS_2