
...***...
"Jadi kau bocah itu? Sejak kapan? Sejak kapan kau tau segalanya?!" Tanya Gerald, terasa pandangan nya sangat aneh.
"Sejak lama." Sahut Azril enteng.
"Jadi karna itu? Itu alasannya kau menjauh dari Fellin? Itu alasannya..., " Gerald terduduk lemas di kursinya.
Azril memudarkan senyumannya. "Ada apa? Apa kau mulai merasa bersalah? Saat putra mu akan mengorbankan nyawanya demi putri mu? Ah itu tidak mungkin kan? Karna sejak awal kau memang ingin menyingkirkan ku."
"Apa ini Azril?! Lu kalo ngomong yang jelas! Gua ga ngerti! Gua ga paham!!" Erlan menarik kerah baju Azril kuat.
Azril melepasnya perlahan. "Lu selalu nanya gua kan? Apa alasannya gua mendadak menjauh dari Fellin? Apa alasannya gua kekeuh ninggalin Fellin? Kalian selalu bertanya kan? Jawabannya udah di depan mata. Karna orang itu, adalah bokap gua." Azril menunjuk Gerald yang terduduk lemas.
"Gua? Anak haramnya dia. Dan gua artinya kakak Fellin, yang sedarah." Lanjut Azril enteng. "Jadi tenang aja, Fellin bakal baik-baik aja, karna gua bakal korbanin segalanya buat dia, termasuk jantung inti kehidupan gua."
Sania menatap Azril tidak percaya, begitu juga yang lainnya. Fakta ini sangat tidak masuk di akal.
Jadi, alasan Azril menjauh, karna? Karna dia kakak nya Fellin? Alasan paling kuat. Apa-apaan ini? Dua orang yang begitu saling mencintai, harus terpisah? Semesta? Ini kah yang di sebut bercanda?
"Jadi..., jadi itu alasannya. Itu alasannya lo jauhin Fellin, tapi harusnya lo bisa kasih tau kita yang sebenarnya, lo harusnya--" Ucapan Cecil langsung terpotong dengan teriakan Gerald.
"Tidak boleh! Fellin tidak boleh sampai tau!" Dia menatap Cecil mengerikan. "Jangan sampai Fellin tau hal ini,"
__ADS_1
"Gua setuju sama si tua bangka itu. Gua minta ke kalian semua buat sembunyiin ini dari Fellin. Fakta-fakta menjijikan ini, Fellin gak boleh tau. Gua udah sembunyiin ini cukup lama, jangan sampai pengorbanan gua selama ini sia-sia." tambah Azril, wajahnya masih tenang meski dia tau sebentar lagi dia akan kehilangan jantungnya.
"Tapi..., kalo gitu Fellin akan hidup dalam kebohongan." Sambung Sania sebisanya, dia takut untuk berbicara, tapi inilah pendapat nya.
"Gak masalah hidup dalam kebohongan, asal dia medapatkan kebahagiaan." Jawab Gerald tidak peduli, apapun yang terjadi, kehidupan dan kebahagiaan putrinya adalah yang nomor satu.
"Ya ya ya, gua setuju sama dia. Apa kalian ga pikirin bagaimana perasaan Fellin waktu tau, Papanya yang sangat di percayainya ternyata punya anak haram yang ternyata adalah pria yang ia cintai. Bagaimana?" Azril menatap Erlan miring. "Sakit sekali, jiwanya akan tergoncang, Fellin akan menderita seumur hidupnya. Fakta yang menjijikan itu, gua ga mau dia tau."
"Tapi kebahagiaan yang tercipta di atas kebohongan apakah itu kebahagiaan yang sebenarnya?" Tambah Sania lagi.
Azril udah banyak berkorban, seenggaknya tolong jujur biar Fellin ga benci lo.
"Tidak masalah, karna dia gak akan pernah tau kalau gak ada dari kalian yang ngasih tau. Dan satu lagi, jangan pernah bilang ke Fellin kalo gua adalah orang yang rela mati buat ngorbanin jantung gua demi dia, bilang aja gua ke luar negri dan menetap di sana, buat selamanya." Kata Azril lagi.
"Hey tua bangka, jaga Fellin baik-baik, dan tebuslah dosa and--"
Tiba-tiba Erlan langsung memukul Azril kuat, di pipi kanan dan kirinya.
"Gua ga niat berantem sekarang. Gua tau lu marah karna gua udah sembunyiin yang sebenarnya. Tapi gua ga mau ribut, jantung gua harus aman, demi pujaan hati lu kan?" Azril melepas cengkraman erat Erlan.
"Jangan bertindak seenaknya seperti itu! Kalian ga tau Fellin seperti apa?! Kalian bilang kalian adalah orang-oranv yang paling mencintainya, dan paling kenal dia! Nyatanya kalian tidak tau apa-apa soal Fellin!" Erlan menatap tajam Azril dan Gerald bergantian.
"Lu cuma bocah kemarin sore. Tau apa soal Fellin, lu ga tau apa-apa Lan, gua tau watak Fellin sejak kecil, dan ini adalah yang terbaik buat dia." Bela Azril .
__ADS_1
"Jangan ngomong seolah-olah lu tau yang terbaik buat Fellin, lu ga tau apa-apa! Lu ga tau kalau Fellin itu kuat! Lu mungkin kenal dia, tapi lu ga tau yang terbaik buat dia, karna yang terbaik buat dia adalah keputusannya sendiri! Fellin itu kuat, dia bisa nerima segala fakta tidak masuk akal ini! Jadi lu, lu harus bilang yang sebenarnya ke Fellin! Ka--"
"TIDAK BOLEH! Tidak ada yang boleh memberitahukan Fellin semua hal ini. Ini akan merusak hidupnya dan juga kebahagiaannya. " Potong Gerald cepat.
"Gua jijik ngakuin ini, tapi apa yang si tua bangka itu bilang adalah benar." Tambah Azril.
Erlan berjalan mendekati Gerald. "Anda masih belum ngerti? Oh saya sekarang ngerti..., anda lakuin ini bukan demi kebahagiaan Fellin, tapi ini keegoisan diri sendiri, karna anda takut Fellin membenci anda. An--"
"Itu tidak benar!"
"Itu benar!! Jadi, anda lebih yakin bahwa kebencian Fellin nantinya lebih besar dari kasih sayangnya selama ini? Apa itu artinya anda meragukan semua kasih sayang Fellin yang dia tunjukkan? Anda tau? Fellin bertahan hidup demi anda, dan menurut anda? Apa kasih sayangnya main-main?"
Gerald hanya diam saja, jauh di dalam lubuk hatinya Gerald sadar benar, kalau apa yang Erlan katakan itu benar. Dia hanya takut di benci oleh putri tercintanya.
"Udah lah Lan, sejak awal si tua bangka itu memang egois. Jadi biarkan aja dia, seenggaknya Fell--"
"Fellin memang akan kecewa di awal, dia mungkin bakal benci kehidupannya yang sekarang, karna mengetahuin fakta ini, tapi..., itu gak akan bertahan selamanya. Dia pasti akan balik bahagia, pasti ada satu masanya, dia cuma perlu bersabar nunggu masa itu, dan gua adalah orang yang bakal di sebelahnya, nemenin dia sampai ke masa itu. Tapi setidaknya, hidup nya gak penuh dengan kebohongan, Jadi Azril Skylira, buatlah rekaman terakhir buat Fellin. Sampaikan apa yang pengen lu bilang ke dia. Ini adalah waktu terakhir lu kan?" Erlan memberikan ponselnya, agar Azril merekam semua kata-kata terakhirnya, segala yang ingin ia katakam namun tidak bisa.
Semuanya menatap Erlan, begitu juga dengan Gerald dan Azril. Azril menatap kagum pada sahabatnya ini.
"Kalo gitu, gua percayain kebahagiaan Fellin ke elu. Tolong jaga dia, jagain dia dan juga kebahagiaannya. Pastikan lu selalu ada di sampingnya, sama masa bahagia itu datang." Azril memeluk Erlan, tampak air matanya menetes lagi.
"Tuan Azril, persiapannya sudah siap, mari lakukan operasinya." Kata suster itu.
__ADS_1
"Sebentar, saya ingin memberikan kata-kata terakhir, untuk Dia."
...***...