
...***...
Azril pulang ke rumah dengan wajah penuh lebam,
"Muka lo kenapa? Abis di begal kah?" Tanya Sania yang sudah ada di depan Azril. Dia menatap Azril dari atas sampai bawah, sangat basah.
"Anggep aja gitu. Lu kok ga di rumah sakit? Yang jagain mama siapa?"
"Papa, Papa minta buat gue pulang duluan, besok sekolah, abis sekolah baru jenguk Mama. Lo juga, sekolah dulu." Sania menarik tangan Azril, namun Azril memghentikannya.
"Mau apa?"
"Ngobatin lebam lo lah, lo mau ke sekolah muka kayak gitu?"
Azril tersenyum tipis. "Ntar dulu bego, gue ganti baju. Mentang-mentang ga jadi babu, songong amat." Azril menepuk kepala Sania pelan, lalu berjalan kembali ke kamarnya.
Jantung Sania berdegub begitu kencang.
Ga boleh gituu..., gue ga boleh suka sama Azril. Dia tuh kakak gue sendiri, ayolahh perasaan apa ini.
...***...
Azril menghampiri Sania yang sedang duduk di meja makan, tampak gadis itu tengah melamun.
"Lu mikirin apaan lagi? Ga nyanga gitu? Kalo di pikir-pikir sih gitu juga." Azril mengambil piring dan lauk pauk sendiri.
"Ya itu satu, sslanjutnya bukan urusan lo."
"Ya udah obatin nih muka gua, katanya tadi mau ngobatin."
Sania menatap wajah Azril, dia membuka kotak P3K yang sebelumnya sudah ia persiapkan. Sania mendekatkan kursinya pada Azril. Meski sudah banyak lebam seperti itu, Azril juga masih terlihat begitu tampan.
Sania sedikit terlena dengan harum rambut Azril, apalagi pria itu baru mandi mungkin. Wajah Sania merona panas, jangan sampai Azril menyadari itu.
"Lu suka sama gua?" Sial, mungkin Azril sudah tau. Tapi, bagaimana bisa Di bertanya segampang itu, seolah ini adalah pertanyaan lumrah.
__ADS_1
"Gak usah ngada-ngada, lo itu saudara gue." kilah Sania cepat, dengan suara yang dia atur senormal mungkin.
"Kalo gitu, itu jantung kenapa suaranya kenceng amat. Kalo suka ya suka aja, gak usah di sembunyiin gitu." Kata Azril menatap Sania penuh makna, tatapannya begitu dalam dan menghanyutkan.
Bukhhh
Sania memukul Azril menggunakan termometer itu. "Diem deh, itu karna gue khawatir Sam lo. Gimanapun buruknya lo, lo tetap kakak atau adik sih? Yang lebih tua di antara kita siapa?"
"Lah bodoamat, siapa yang peduli. Mau lu atau gua yang lebih tua, peraturannya tetap sama. Lu yang harus nurutin Semu perintah gua. Titik, gak ada penolakan. Buruan obatin, gue mau tidur lagi." sahut Azril enteng tanpa beban.
Sania geram sekali, ingin sekali gadis itu mengantukkan sendok besi ke kepala pria di hadapannya ini. Ngeselinnya ga ada obat soalnya.
"Oh iya, satu lagi, meskipun lu udah jadi keluarga Maheswara, peraturannya tetap satu, lu bakal tetap jadi babu pribadi gua, itu valid no debat dan ga bisa diganggu gugat." Kata Azril enteng, dia berdiri berjalan dengan elegan.
Sania menelan salivanya payah, dia benar-benar tidak bisa menahan hatinya untuk menyukai Azril.
Duh sial sial sial, Dari ratusan juta orang di negara ini, kenapa gue harus sukanya lo sih? Kakak gue sendiri. Please Tuhan, bantu Sania hilangin perasaan ini ke Azril, perasaan ini salah, hanya halu semata. Lagian Azril memang adalah milik Fellin.
...***...
Sania dan Azril berjalan ke kelas, ternyata sudah ada Fellin dan Cecil yang menunggu mereka di pintu.
"Azril, nanti pas jenguk tante Anya, Fellin ikut ya, gue juga udah izin sama Papa." Kata Fellin antusias memegangi lengan Azril.
"Punya mobil sendiri kan? Ya udah naik mobil sendiri." Sahut Azril dingin, dia melepas genggaman tangan Fellin dan berjalan begitu saja.
Deg.
Kenapa gue harus sedih? Bukannya ini udah biasa ya?
Fellin tidak tau kenapa, tapi kali ini rasanya lebih menusuk dari lainnya. Padahal sejak di rumah, Fellin berfikir akan mendapatkan respon baik dari Azril, nyatanya?
"Oiya, itu muka lo kenapa? Kok memar gitu?" Fellin ingin menyentuh wajab Azril, namun dengan cepat Azril sudah menepisnya. Ah ya, dengan kasar.
"Bukan urusan lu, dan berhenti sok perhatian sama gua. Jijik liatnya." Azril berjalan ke bangkunya dan meninggalkan Fellin dalam kedinginannya. Gadis manis itu hanya diam membeku, pandangannya terus terpaku pada punggung dingin pria itu.
__ADS_1
Padahal waktu itu bilangnya gue orang yang paling dia sayang di dunia ini, tapi sekarang? Apa maksudnya ini Zril?
Batin gadis itu. Fellin menggelengkan kepalanya cepat, dia langsung menarik Sania dan berdiri di depan kelas. "Oh iya, buat kalian semua, kita perkenalan ulang ya. Dia adalah Sania Maheswara, Putri Keluarg Maheswara yang hilang. Ga nyangka kan? Iya gue juga, tapi itulah faktanya. Jadi ke depannya gue harap kalian bisa bersikap baik oke." kata Fellin dengan senyuman yang tak pudar dari wajahnya.
Mendadak semua orang menampilkan senyumnya, dan sebagian lagi mulai menyapa Sania.
Apakah ini? Defenisi kalau lo punya power? Lo punya temen? Kalo udah gini jadi males berteman juga, ujung-ujungnya pasti pemanfaatan Temen ya? Hahah.
Sania teringat lagi akan sikap manis Leyna dan Leon. Jujur saja, hatinya masih sangat perih terkhianati oleh teman pertamanya di sekolah ini.
"Masih pagi udah ribut aja. Padahal gak ada gua." Suara seseorang mengalihkan fokus mereka. Ya pria itu adalah Erlan dengan memar di wajahnya.
"Muka lo kenapa? Abis buka pas gigi kah? Matanya jadi berwarna gitu." Fellin mendekat ke arah Erlan.
Oh, jadi kemarin malam Azril ributnya sama Erlan. Kira-kita karna apa ya? Kepo sih, tapi kalo tanya Azrilnya, mana mungkin mau di kasih tau.
Batin Sania yang mulai mengerti situasinya.
Apa gegara Fellin ya? Erlan kalo ga salah suka Fellin kan?
"Yoi, biar estetik. Anggap aja cosplay zombie, kapan lagi coba orang seganteng gua jadi kurang gantengnya." sahut Erlan pede, dia berjalan melewati Fellin, dan kembali ke bangkunya.
"Jadi? Gegara apa lu ribut sama Azril?" bisik Arga, menyambut kedatangan temannya itu.
Erlan diam menatap Arga, agak bingung juga.
"Semua yang punya mata juga pasti tau lu abis ribut sama Azril. Pertanyaannya gua cuma satu, masalahnya apa?"
Erlan menghela napasnya. "Fellin lah, ada lagi selain Fellin. Jangan ajak gua ngomong dulu, gua ngantuk mau tidur. Kalo pak Wiz masuk, bangunin gua." Erlan meletakkan tasnya di atas meja, dia langsung tidur begitu saja.
Arga tau, tidur adalah alasan Erlan tidak ingin menceritakan yang sebenarnya.
Azril sama Erlan kemarin malam habis ribut ya? Kenapa jadi gini? Gua pikir semuanya bakal berjalan baik abis ini, dan semuanya bakal baik-baik aja perlahan-lahan.
Fellin dengan tatapan kosong berjalan kembali ke bangkunya. Cecil yang melihat itu, membantu Fellin untuk berjalan.
__ADS_1