
...***...
"Pertemanan itu suatu hubungan berdasarkan perasaan, bukan pemanfaatan semata. Lo ga perlu ngemis buat dapetin temen, Le-"
"Lebih baik kesepian di banding punya temen yang selalu manfaatin, ya kan kak?" Leyna langsung memotong ucapan Sania. Sania diam sebentar. "Ya itulah yang kak Leon bilang, tapi sayangnya Leyna ga bisa, Leyna ga bisa kesepian sendirian, biarin Leyna dimanfaatin, yang penting Leyna ga kesepian di sekolah itu."
"Leyna tau rasanya kesepian dan ga ada temen, jadi Kak Sania, boleh Leyna jadi temen kakak?" tanya Leyna memberikan sebuah ikat rambut pada Sania.
"Pertemanan juga terjalin bukan karna kasihan." Sania melenggang begitu saja, namun Leyna menahannya dengan cepat.
Leyna menggelemg menatap Sania. "Leyna ga kasihan sama kakak, Leyna emang bener-bener pengen jadi temen kakak." Leyna memegangi tangan Sania, matanya berbinar tampak ketulusan yang jelas di sana. Sania tau benar, bahwa itu benar-benar tulus.
"Oke deh, tapi gue harus ke kelas dulu, bentar lagi masuk. Lo juga deh." Sania mengambil ikat rambutnya, lalu mengelus kepala Leyna lembut. Leyna juga tersenyum begitu tulus.
Dari jauh, ada Fellin yang menatap mereka berdua, tentu ada Cecil juga di sebelahnya.
"Bagus deh kalo dia bisa temenan sama orang lain. Dengan begitu dia ga bakal terus-terusan bareng Azril." kata Fellin. "Tapi ya Cel, dia udah berbulan-bulang sekolah di sini, kok bisa-bisanya ga punya temen gitu. Apa dia anti sosial?"
Cecil menepuk jidat Fellin pelan, sembari menempelkan uang dua ribu rupiah itu. "Bukan Sania yang ga mau berteman, lebih tepatnya ga ada yang mau temenan sama Sania."
"Kenapa?" tanya Fellin polos.
"Ya itu gegara lo lah, mereka takut lo benci mereka kalo sampe mereka berteman sama Sania."
Fellin diam sebentar. "Logika macam apa itu, gue ga bakal benci orang cuma karna dia temenan sama orang yang gue benci. Lo tau kan gue ini bangsawan berkelas, ya kali gituan doang jadi benci. Ga masuk akal sumpah."
"Iya ya ya, gue tau jelas, Fellerin Skylira itu gimana." Cecil menepuk pundak Fellin. Keduanya berjalan kembali ke kelas. Namun, ekor mata Cecil menatap sinis Leyna dan Sania yang mengobrol.
__ADS_1
Leyna Andrawina? Keluarga Andrawina ya? Bukannya itu penjilat keluarga Skylira? Mau apa dia?
Entah bagaimana pun Cecil berfikir keras, dia sama sekali tak mengerti motif apa yang Leyna punya.
...***...
Bel istirahat pertama sudah berbunyi, tak ada keributan yang Fellin timbulkan kepada Sania, bahkan saat tak ada Azril di sana. Fellin hanya fokus belajar, ah fokusnya terkadang buyar karna gangguan-gangguan kecil dari Erlan.
Fellin ga seburuk itu oke? Meskipun dia manja dan sombong, tapi dia bukan orang jahat.
Sania merapikan bukunya, pandangannya jatuh pada gadis yang baru masuk. Ya, Sania kenal, dia adalah Leyna. Gadis mungil versi Fellin kedua itu datang menghampirinya.
Leyna melambaikan tangannya pada Sania, dengan senyuman manis yang tak pudar darinya. "Kak Sania, kantin bareng yuk?" ajaknya ramah.
Sania bingung harus bersikap apa. Ini pertama kalinya dia diperlakukan seperti ini di sekolah ini. "Oh oke, ntar beresin buku ini."
Sania tak sengaha melihat empat sekawan itu mulai berjalan keluar. Leyna menatap Fellin, sembari tersenyum. "Halo kak Fellin." sapanya ramah. Fellin hanya mengangguk, lalu menerbitkan senyuman sebisanya.
Leyna terlihat sedikit panik, ia langsung menarik tangan Sania. Dia membawanya ke suatu tempat, ya tempat yang sepi di halaman sekolah. Keduanya duduk di bangku putih panjang yang tersedia itu.
"Leyna bakal bilang ke kakak yang sebenernya. Sebenarnya di kelas Leyna juga ga punya temen yang tulus, mereka cuma pura-pura baik sama Leyna, karna keluarga Andrawinda dekat dengan keluarga Maheswara. Tapi kakak jangan bilang kak Leon ya, kalo sampe kak Leon tau, dia bakal ngamuk habis-habisan. " bisik Leyna dengan suara sepelan mungkin.
"Apa alasan mereka ga mau temenan sama lo? Bukannya sama-sama bangsawan ya? Terus apa bedanya?" Ini hal yang agak aneh menurut Sania.
"Karna wajah Leyna kak, Leyna di sebut-sebut kayak Kak Fellin ke dua, di tambah lagi Kak Fellin juga baik sama Leyna. Kalo Kak Fellin sendiri ga pernah permasalahin hal kayak gitu, dia orangnya baik, cuma susah di mengerti aja. Ya gitu deh, temen-temen aku pada iri. Kakak tau kan, gimana mengerikannya rasa iri itu?" Leyna menghela napasnya. Seolah benar-benar sesak berada di kelasnya.
Sania mengangguk mengerti. "Pasti sulit ya, harus terus ketawa sana sini meskipun lo ta--"
__ADS_1
"Ga usah di bahas deh kak. Makin di bahas Leyna makin nyesek. Rasanya aja di kelas itu Leyna sulit bernafas."
Sania mengerti, tidak semua orang memiliki cara pandang yang sama. Bagi Sania, lebih baik sendirian dan kesepian daripada memiliki teman yang seperti itu. Tapi tidak dengan Leyna, dia tidak ingin diajuhi dan kesepian, untuk itu terus bertahan dalam semua kepalsuan itu.
"Ceritain soal kakak dong, maksud Leyna, waktu kakak sebelum masuk sekolah bangsawan ini. Gimana sekolah kakak sebelumnya? Apa seru?"
Sania menceritakan kehidupan sekolah biasanya. Hanya sekolah sederhana, meski tidak memiliki sahabat karib yang begitu dekat, tapi tak ada teman palsu di sana. Sania bisa melihat, mata Leyna yang berbinar hangat mendengar ceritanya.
"Seru amat, kalian bahas apa?" tiba-tiba sudah ada Leon di belakang mereka.
"Obrolan perempuan, Kak Leon mending pergi deh." Usir Leyna dengan suara manjanya.
Terjadi perdebatan kecil di antara dua kakak adik itu. Bagaikan tikus dan kucing. Mendadak Sania tertawa, sudah lama dia tidak merasakan kehangatan seperti ini. Kenyamanan untuk mengobrol dengan orang lain, perkara hal-hal yang tidak penting.
Cekrek!!!
Tiba-tiba Leyna mengambil gambar Sania yang sedang tertawa.
"Kak Sania kalo senyum manis banget ya, ya kan Kak Leon? Simpen ah buat kenang-kenangan, hehe."
Pipi Sania agak memerah, jujur dia cukup malu. Di puji dan di foto, ayolahhhh.
Leyna bener-bener versi Fellin kedua deh. Manjanya, lucunya, polosnya. Cuma Fellin lebih beruntung dari Leyna, Fellin punya temen-temen yang tulus sama dia.
"Hey, foto gue!!"
Sial, gue hampir lupa cara bersosialisasi dengan orang seumuran. Karna di rumah juga ngobrolnya sama bibi-bibi, dan yang mereka omongin always sinetron.
__ADS_1
"Mulai sekarang, lu ga sendirian di sekolah ini. Lu punya temen, kita ini temen lu. Kalo ada yang kasar, gangguin lu, atau lu ngerasa ga enak. Cerita aja ke kita, kita pasti ada buat lu." Ujar Leon, tampak sedikit serius, dan juga bercanda.
...***...