Nona Antagonis

Nona Antagonis
Begitu kah?


__ADS_3

...***...


"Tapi bukannya emang gitu ya Fell, faktanya Sania emang ga lakuin apa-apa, faktanya Azril lah yang salah. Azril yang mulai semua api ini, Sania cuma orang yang ga sengaja masuk ke dalamnya. Apa adil, kalo lo nyalahin dia." Tiba-tiba Erlan datang dengan kotak obat di genggamannya.


"Tapi karna dia Azril ngejauh dari kita!"  Kekeuh Fellin. Dia tidak mau, dia tidak suka jika ada yang mengalahkan Azril, logika dan nuraninya seperti mendadak terkunci jika itu soal Azril. Bodoh memang.


"Bahkan sebelum Sania datang, bukannya Azril emang udah ngejauh dari kita. Kalian yang sekarang bukan mencari jalan keluar, kalian cuma mencari kambing hitam yang layak di permasalahkan, tanpa mengoreksi kesalahan masing-masing, kalian terus menyalahkan cewek ini karna kalian ga mau menyalahkan Azril sepenuhnya, dengan dalih, Azril bukan orang yang seperti itu." tambah Erlan yang duduk di sebelah Fellin. Kali ini Erlan tidak ingin menyerah begitu saja, perlahan-lahan dia ingin Fellin sadar.


Bukan niat Erlan untuk menjelekkan Azril di depan Fellin, agar Fellin membenci Azril. Bukan seperti itu yang dia inginkan. Erlan hanya ingin Fellin lebih sadar akan dirinya sendiri, dia ingin Fellin lebih menerima fakta yang sebenernya terjadi.


Ini bukan salah Sania, kan? Menurut Erlan, Fellin harus berhenti terjebak dalam ilusi bahwa ini semua salah Sania, karna faktanya Sania sendiri tidak melakukan apapun untuk merampas Azril dari Fellin.


Erlan ingin, Fellin terbuka pada fakta itu, dan menerimanya dengan baik, secara perlahan.


Semuanya mendadak diam, mereka mencoba mencerna perkataan Erlan baik-baik. Apa yang Erlan katakan memang ada benarnya.


"Tapi setidaknya, kalau Sania pergi. Ada kemungkinan Azril bakal balik sama kita." Kekeuh Fellin tak mau kalah. Tidak peduli argumennya masuk akal atau ga.


"Siapa yang bisa jamin? Apa itu pasti? Mencoba hal baru dengan merusak tatanan kehidupan orang lain, itu jahat namanya. Apa Fellin si nona manja udah jadi si nona jahat?" Erlan menepuk kepala Fellin pelan.


"Gua mau keluar bentar deh, cari angin. Fell mau ikut ga?" tanya Cecil yang bangkit berdiri. Suasana menjadi lebih serius dari dugaan Cecil, dia harus tenang sekarang sebelum dia jadi ikut-ikutan terbawa emosi.


Fellin menggeleng pelan, "Ga deh, gue udah lama ga makan bareng Azril. Jadi hari ini gue mau makan bareng dia."


Cecil mengangguk mengerti, dia pergi keluar.


"Gua ikut deh, ini tempat asing, ntar lu tersesat." Tambah Arga yang mengikuti.


"Lu udah makan?" Erlan menatap Fellin penuh kehangatan.


Fellin menggeleng mantap. "Kan udah gue bilang, gue mau makan bareng Azril."


Erlan menghela napasnya, dia mengambil selembari roti, lalu membalutnya dengan selai coklat. "Aaa, makan deh." dengan sedikit terpaksa Fellin harus menelan semua suapan-suapan itu, hingga rotinya habis.


"Minum obatnya nih, dasar, beban is beban emang."

__ADS_1


"Dah tau gue beban, ngapain masih deket sama gue, ngapain mau jadi temen gue."


"Karna lu beban, ga tau dah gimana elu kalo ga ada gua."


Entah kenapa jantung Sania berdegub, hatinya merada begitu hangat. Dia cukup tersentuh dengan bagaiman Erlan memperlakukan Fellin.


Erlan segitu cintanya ya sama Fellin? Gue jadi ga tau, cinta siapa yang lebih besar. Azril atau Erlan.


"Gimana? Babu udah sarapan? Mau jalan-jalan ga? Oh iya gua lupa, lu pincang." sapa Azril yang entah datang dari mana. Dia benar-benar menghancurkan drama depan mata realita Sania tonton.


Urat-urat kekesalan sudah terlihat di kepala Sania. Dia menatap penuh amarah pada Azril.


Azril menggerakkan ibu jari dan jari telunjukya, mengisyaratkan Sania untuk memberikan senyuman.


Sania menatap Azril dengan senyuman yang seadanya.


"Yang lain mana? Apa udah sarapan?" Azril menatap Erlan, yang artinya Azril bertanya pada Erlan. Namun seketika nyeri di hatinya kumat lagi, saat dia melihat Erlan tak melepas genggamannya.


Itu bagus, sangat bagus..., inilah yang gua inginkan, semakin cepat semakin bagus.


Azril langsung bangkit berdiri, dia menggendong Sania, membawanya ntah kemana. "Gua mau jalan-jalan keluar, nyari angin." katanya sembari berjalan pergi.


Fellin menghela napasnya kasar, dia menempelkan pipinya pada meja makan.


"Ada apa lagi? Sakit hati?" Erlan menaikkan alisnya.


"Gue kira liburan kita kali ini bakal buat kita lebih dekat. Nyatanya sama aja, ga ada bedanya. Bahkan kayaknya kita makin jauh, ga, Azril semakin jauh dari kita."


"Itu artinya lu harus move on. Jalan satu-satunya ya itu, lu emang harus move on."


"Ga tau, pertama gue ga bisa, ga tau kenapa, entahlah gue bener-bener ga bisa lupain Azril."


"Lu bisa, tapi lu ga mau. Lu ga akan pernah bisa lupain Azril, karna emang lu ga mau lupain Azril."


Fellin terdiam, jika di tanya dalam-dalam itu benar. Dia memang tidak mau melupakan Azril.

__ADS_1


"Sorry Lan, gue tau, gue yang salah, gue tau gue antagonisnya, andai aja gue mau buat lupain Azril, dan ikhlasin Azril dan Sania, mungkin persahabatan kita bakal balik. Tapi sorry, gue ga bisa buat lepasin Azril, ga bisa, beneran ga bisa. Gue ga bisa liat Azril sama cewek manapun."


Erlan ikut menempelkan wajahnya di atas meja, bertatapan langsung dengan Fellin. "Antagonis ya?" Erlan tersenyum miring, dia menutup matanya.


...***...


Liburan itu berjalan biasa-biasa saja. Tak ada yang istimewa, tak ada yang semakin dekat. Eh, mungkin ada.


Saat ini Azril tengah mengganti perban di kaki Sania.


"Ada babu lain? Kenapa harus lo yang gantiin? Lo tau, ini bisa buat Fellin salah paham." kata Sania.


"Pertama, itu bagus kalo Fellin salah paham, lebih bagus lagi kalo dia move on. Kedua, lu babu spesial gua, jadi gua yang bakal obatin." Sahut Azril sekenanya.


Sania terdiam, tolong lah lagi-lagi jantungnya kumat, ia berdegub begitu kencang.


Apa itu semua? Ayolah, itu hanya sebuah perkataan, kenapa begitu berpengaruh.


Azril duduk di sebelah Sania saat dia selesai mengganti perbannya.


Dan mungkin bakal lebih bagus kalo gue bisa lupain dia, dan mulai kehidupan baru.


Azril tidur di pangkuan Sania. "Diam, dan belajar jadi patung lagi."


Sial, apa gua mulai serakah menyukai dua orang sekaligus? Engga, itu ga serakah. Dengan begini, gua bisa lupain Fellin, dan lebih bagus lagi kalo posisi Fellin tergeser oleh Sania. Sania, tolong..., tolong geser posisi Fellin. Dan Erlan, tolong..., geser posisi gua di hati Fellin. Mungkin dengan begini, persahabatan kita bakal balik. Dan semuanya bakal baik-baik aja, Fellin ga bakal tau yang sebenarnya, dan dia ga bakal pernah terluka. Karna itu, cukup gua aja yang nanggung, lu ga perlu Fell. Karna luka ini terlalu sakit Fell, jadi gua putuskan biar gua aja yang tau hal sebenarnya.


"Tolong jangan pergi, apapun yang mereka bilang, jangan pernah pergi dari gua San." Entah apa yang merasuki Azril, pria sinting itu mengatakan kata itu.


Sania terdiam seketika. Untuk pertama kalinya Azril mengucapkan kata tolong?


Seriusan dia minta tolong? Kuping gue ga salah kan? Ga ada siaran ulang gitu? Walau cuma ucapan ngelantur pas tidur?


"Gua butuh babu kayak lu yang nemenin gua." lanjut Azril yang masih menutup matanya.


Tolonglah, kalimat utamanya sudah begitu bagus. Kenapa harus di tutup dengan kalimat ini.

__ADS_1


...***...


__ADS_2