
...***...
Fellin dengan seragam nan indah sudah berjalan ke meja makan, seperti biasa rambutnya ia biarkan tergerau begitu saja.
"Aku tidak peduli, cari anak itu! Dia harus ketemu!" Omel papa Fellin di meja makan. Oranh tua itu langsung mematikan ponselnya cepat. Wajahnya memerah karna marah, keringat kekhawatiran sudah mengucur dari keningnya.
"Papa kenapa? Kok marah-marah gitu?" tanya Fellin mendekat. Wajah pak Gerald semakin ketakutan, dia agak gemetar gugup saat itu.
"Ah gapapa kok sayang, biasa lah anak-anak kantor, tau yang dulu? Yang papa pernah cerita dia korupsi, nah ternyata dia juga ambil berkas penting papa. Dan dia belum ketemu."
Pasti berkasnya penting banget, sampe papa semarah itu.
"Udah ya pa, jangan marah-marah gitu, ntar tensi papa jadi naik. Ya udah ayo sarapan dulu. Hari ini Fellin yang bakal sajiin, ga usah di raguin lagi, pasti enak banget deh. Papa duduk ya." Fellin menuntun papanya untuk duduk. Gadis manja itu tampak agak bingung apa yang harus di siapkan, soalnya selama ini dia cuma langsung makan.
Pak Gerald tertawa, dia mengelus rambut putrinya. "Yang disiapin tuh piring, terus roti di kasih selai, terus... " pak Gerald sembari tersenyum hangat menjelaskan tata cara menghidangkan ala keluarga Skylira itu.
Fellin mengangguk mengerti, "Ya udah ya pa, ga usah terlalu dipikirin lagi. Berkas-berkas itu kan masih kalah penting sama Fellin. Jadi jangan sedih ya, Fellin ke sekolah dulu. Dah Paaa~ Fellin pergi." Pamitnya, dia tersenyum hangat. Wajahnya pagi ini begitu ceria, berharap hari ini di sekolah juga.
...***...
...S...
iang itu semua anak kelas 2-1 berbaris di lapangan, setelah semuanya mengganti pakaian olahraga. Hari itu panasnya cukup berdamai, tidak begitu panas juga.
Fellin kali ini mengikat rambutnya, dia benar-benar kelihatan sangat cantik dengan seragam olahraga berwarna putih yang berpadu navy itu. Warna itu benar-benar cocok untuk kulitnya yang putih.
"Berhubung bapak akan rapat guru sebentar lagi, kalian bakal main bulu tangkis aja sekarang, dua lawan dua, Arga kamu jadi pengadil dulu. Catat semua skornya, hasilnya beri tahu bapak nanti. " Kata Bapak itu, ia segera pergi ke ruangn guru untuk menghadiri rapat itu.
Seperti biasa, Fellin langsung mendekat ke arah Azril. "Kita satu tim ya, ntar gue bilang ke Arga." Fellin mengangkat tangannya. "Ar, gue sama Azril setim ya."
__ADS_1
"Gak, gua ga mau setim sama lu." Potong Azril cepat. Azril melihat sekitarnya, tak ada yang mendekati Sania, yang artinya Sania ga bakal dapat tim kali ini. "Gua sama Sania, se tim." lanjut Azril.
Bukan hanya Fellin, Sania bahkan juga sangat terkejut.
"Apa yang lo lakuin wahai tuan muda yang baik dan bijaksana? Lo mau Fellin dan seisi sekolah makin benci ke gue. Lo ngapain se tim sama gue?" Bisik Sania yang ga habis pikir sama tingkah orang satu ini.
"Lu pikir gua mau se tim sama lu, beban kaya gini juga. Kalo emang ke depannya ga mau se tim sama gua, cari teman makanya, bego banget sih." Azril langsung berjalan, mengambil raketnya.
Fellin masih berdiri di tempatnya, dia berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengeluarkan air matanya. Tapi tentu saja, umat seisi kelas seolah bisa merasakan kesesakkan Felli. Hatinya begitu panas, namun juga terasa tertusuk-tusuk.
"Ga bisa! Azril lo harus se tim sama gue!" Protes Fellin mendekat ke arah Azril.
"Lu siapa ngatur-ngatur?"
Cukup sudah, entah dari apa hati Fellin itu terbuat. Dia masih saja tidak membenci orang yang setiap kalimat dari mulutnya selalu menusuk hati Fellin.
"Gue ga mood, udahlah gue jadi asistennya Arga, hitung nilai. Kalian main aja sana." Suara Fellin mendadak lemas, wajahnya seketika lesu sekali. Dia berjalan dekat Arga. Melihat itu, Erlan rasanya ingin menghajar dua orang itu habis-habisan.
"Woy, Tuan muda Azril Maheswara. Gua tantang lu sama Sania, ngalahin gua sama Fellin dalam bulu tangkis. Kalo lu bisa gu--"
"Kalo tim gua kalah, gua rela ikut kalian liburan kemana aja minggu depan, soal biaya gua yang nanggung." potong Azril cepat. Tentu saja dia tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Ingatan soal titah mamanya yang meminta Azril untuk liburan dengan Fellin, masih tersimpan hangat dikepalanya.
Mata Fellin langsung berbinar, semangatnya tiba-tiba hadir kembali. "Gue ikut, se tim sama lo juga gapapa dah Lan, tapi harus menang ya."
Erlan tersenyum miring. Orang yang menghadirkan luka, juga merupakan obat untuk mendatangkan tawa.
"Makanya lu jangan beban biar kita menang, terus liburan kayak dulu."
"Iya, abis itu Azril akan balik kayak dulu."
__ADS_1
"Yoi, lu sama Azril bakal Kayak dulu."
Fellin benar-benar tersenyum hangat, dia dengam cepat memilih raketnya yang bagus. Langsung melakukan beberapa gerakan pemanasan.
"Thanks Lan, hari ini lu ga bego." Kata Cecil sembari menempelkam uang dua ribu rupiah itu.
Padahal hari ini gua ngerasa orang paling bego. Apa gua harus kalah ya? Biar liburan itu ga jadi? Iya, gua egois, maka dari itu gua harus kalah.
Erlan menghela napasnya, dia tidak tau keputusannya benar atau salah. Tapi yang manapun akhirnya, tetap saja hatinya yang tersakiti.
...***...
Empat orang pemain itu sudah bersiap di posisi masing-masing, dan Arga beserta Cecil asistennya membuka mata dan telinga lebar-lebar guna menjadi pengadil seadil-adilnya.
Sial, gue bener-bener deg degan lagi. Masa iya lawan gue Fellin, dan temen gue Azrol. Jujur aja, gue pengen tuker tim. Biarin Erlan sama gue, Azrol sama Fellin, kan pas adil gak ada yang tersakiti.
Batin Sania menghela napasnya kasar. Azril menaikkan sebelah alisnya menatap itu.
Priiiittttt!!!
Peluit sudah berbunyi, pertanda pertandingan sudah akan di mulai. Tampak Fellin benar-benar bermain serius. Dan sudah jelas, erlan menurunkan kualitas bermainnnya.
Pertandingan itu terus saja berlangsung. Namun poin di tim Fellin masih tertinggal, Fellin menyadari satu hal, ada yang aneh pada Erlan.
Fellin mengangkat tangannya pada Arga, meminta sedikit waktu. "Lo sakit bekicot? Orang bego bisa sakit ya? Kalo lo sakit, mending istirahat deh. Biar digantiin Cecil aja." Fellin meletakkan tangannya di kening Erlan.
Erlan tersentak halus, dia pikir fokusnya Fellin hanya ada pada Azril dan kemenangan, dia tidak menyangka Fellin menyadari keadaannya.
...***...
__ADS_1