
...***...
Di bawah pohon di belakang laboratorium, Fellin menumpahruahkan tangisnya disana. Dia membutuhkan bahu untuk bersandar kali ini, tapi tak ada siapapun disisinya.
Namun tiba-tiba ada yang mengelus rambut gadis itu. Mendekapnya erat, mengelap semuar air mata dipipinya. Fellin memeluk orang itu erat, saat dia sadar itu adalah Cecil, sahabat terbaiknya.
"Shhhtt shhtt diem deh, ada Pak Aan noh lewat, diem. Kalo sampe ketahuan dia, fix kita ga jadi bolos kali ini." bisik Cecil menutup mulut Fellin yang masih terisak-isak. Mengusap wajahnya lembut, Cecil memang yang terbaik.
Keduanya bernafas lega saat pak Aan sudah jauh dari pandangan.
"Huu~ Huuuu~ saya hantu penunggu pohon ini huuuu~ huuu~ takutlah kalian bocah-bocah sialan huuu~~" suara itu terdengar menjengkelkan dari atas pohon sana. Saat Fellin dan Cecil mendongak, benar saja sudah ada Erlan disana, yang dengan satainya nangkring di atas sembari memakan buah.
"Hyiii hiii~ gii tikitt bingitt hyiii~" Ejek balik Fellin dengan bibirnya yang menye-menye.
"Gue baru tau lu cosplay jadi monyet cocok juga, gue malah hampir sulit bedainnya." Celetuk Cecil enteng. Erlan hanya menatap datar kedua gadis itu. Dia ingin jadi hantu, kenapa tiba-tiba jadi monyet?
"Lu mah mending bisa bedain, gua kira dia monyet beneran, ga ada bedanya soalnya." Sambung Arga yang sedari tadi ada di balik pohon itu.
"Sopankah begitu? Lucu kah begitu?" Meski sudah diejek begitu tak membuat Erlan turun, sepertinya dia menikmati angin sepoi-sepoi di atas sana.
__ADS_1
Mereka hanya mencoba menahan tawanya. "Denger-denger lu berdua mau bolos ya?" tanya Arga.
Cecil mengangguk mantap. "Yoi, lagi males belajar, males dikelas."
"Bertiga bareng gua," sambung Erlan tanpa di undang. "Btw lu pada mau mangga ga? Mayan nih manis terus enak-enak lagi." tawarnya, Fellin cukup yakin mangga itu enak, soalnya dalam sekejap saja Erlan sudah habis lebih dari tiga buah, warna dan bentuknya juga menggiurkan.
"Gue ragu lu bangsawan Lan, ga ada elegan-elegannya kalo ngelakuin sesuatu." komen Arga, wajar sih Erlan benar-benar jauh dari kelas bangsawan elegan.
"Berisik bener tuan muda satu ini! Sip sipaling elegan dan kharismatik!"
Erlan mulai mengambil mangga yang menurutnya matang.
Entah sengaja atau tidak yang jelas rata-rata buah itu jatuh di kepala atau bahunya Arga. Cukup untuk Arga menyimpan tenaga menghantam Erlan besok.
"Ya udah, gua balik duluan ke kelas ya, gua ga bisa ikut bolos, lu tau kan gua ketos, di tambah Azril bisa ngamuk." pamit pria jangkung itu.
"Halah, dia kan udah ada si Sania cewek menarik itu." potong Fellin, dia sedikit memanyunkan mulutnya. Kesal rasanya kalau mengingat Sania dan Azril yang semakin lama semakin dekat.
"Cup cup cup. Udah jangan dipikirin oke, mending mikir kita mau bolos kemana." tambah Cecil. Satu hari ini Cecil harus membuang banyak tenaganya untuk bicara, demi membuat suasana hati sahabatnya tetap stabil.
__ADS_1
"Lan, ambilin yang itu, yang kuning di atas sana, dekat yang hijau gandeng dua." tunjuk Fellin setelah memilih-milih mana yang paling menarik untuknya.
"Buset dah, itu pucuk bener. Beban is beban emang."
Dan posisi buah itu ada dipucuk tertinggi, tapi walau sejauh itu, jika yang meminta adalah Fellin nyaris tidak mungkin untuk Erlan menolaknya.
Dengan usaha semaksimal mungkin Erlan mengambil buah permintaan pujaan hatinya, sampai akhirnya buah itu di dapat.
"Arghh manis bangetttt, gue baru tau mangga di sekolah semanis ini, asssksksksk." Entah apa yang Fellin maksud, yang jelas manisnya mangga itu mampu mengembalikan sedikit suasana hatinya.
Cecil diam saja, bodoamat, dia tengah sibuk menikmati mangga yang sama.
"Kalian bingung mau bolos kemana? Santai, ada gua, gua bakal bimbing kalian dalam hal ini." Katanya percaya diri, entah apa yang harus dibanggakan dari murid yang hapal jalanĀ bolos satu ini.
"Sesat ... sesat."
"Kita lompat pagar nih?" Tanya Cecil.
Erlan menggeleng mantap, dia menarik kedua gadis itu ke gerbang belakang sekolah.
__ADS_1
Ketiga berjalan menuju gerbang sekolah, dengan diam-diam tentunya.