
...***...
Sania meletakkan tasnya di atas meja, dia tidak peduli lagi siapa saja yang sedang memperhatikannya. Dia menempelkan wajahnya ke atas meja, rambutnya menutupi sebagian lagi.
Katanya cinta gue, pas di tanya sayang Fellin, iya. Maksudnya apa coba gitu? Pikir dia gue ini apa? Mainan? Badut pelampiasan gitu?
Sania mendengar suara langkah kaki seseorang mendekat, dia mengangkat wajahnya, benar saja sudah ada Azril yang baru masuk. Tidak seperti biasanya, kali ini Azril belok ke sebelah.
Apa-apaan ini? Cinta muncul setelah adanya penolakan? Fellin udah bahagia loh, ga usah di ganggu. Katanya mau Fellin move on.
Sania tidak bisa begitu mendengar percakapan mereka, tapi tidak lama kemudian Azril kembali ke bangkunya, yang tepatnya ada di depan Sania.
Sania hanya diam, dia kembali menempelkan pipinya di atas meja.
"Istirahat nanti kita perlu ngomong berdua, Shareen Maheswara." bisik Azril. Namun Sania sama sekali tak mempedulikannya.
Sebenernya maksud Azril apa sih? Berapa kali gue mikir, berapa kali gue nebak, selalu aja nemuin jalan buntuh. Kenapa jalan pikir Azril itu susah banget di mengerti.
Sania diam-diam menatap Fellin.
Fellin ya? Dia beneran move on? Atau pura-pura move on? Tapi, lihat Fellin yang sekarang, kayak liat dua kepribadian dalam satu tubuh? Tiba-tiba jadi menjauh dan ge peduli Azril. Padahal baru beberapa minggu lalu pegen bunuh diri karna Azril.
Gue jadi penasaran sama endingnya, mereka bakal bersama ga ya?
Sania mengalihkan pandangannya kepada Erlan.
Gue harap sih Fellin bareng Erlan, bukan karna gue cinta dan pengen milikin Azril, di samping itu emang Erlan yang gue rasa paling baik buat Fellin. Cintanya besar, pengorbanan nya ga usah di tanya lagi, cara melindungi? Erlan jelas tau melindungi Fellin. Kira-kira sehancur apa hati Erlan kalau Azril dan Fellin balikan? Apa lebih hancur dari hati gue saat ini? Yang di jadikan badut pelampiasan?
Sania menghentikan lamunannya, dan berhenti berpendapat tentang orang-orang, karna guru sudah datang.
...***...
__ADS_1
Bel istirahat sudah berbunyi, dan Azril segera menarik tangan Sania untuk berbicara, sebelum Sania menghindar lagi. Soalnya Azril saat ini sudah tidak bisa mengatur Sania lagi, gadis itu kini bukan babu yang bisa Azril suruh menjadi patung terus dan terus.
Begitu juga dengan Fellin, dia ingin keluar untuk mengisi perutnya yang sudah berdemo.
Brukhh!!
Namun sayang, entah siapa yang salah, Sania atau Fellin, keduanya bertabrakan. Fellin mengambil pulpen yang jatuh dari kantung Sania, dan mengembalikannya.
"Lo punya segalanya Fell! Yang harusnya iri tuh gue!! Gue masih ingat lo bilang itu ke gue, dan sekarang liat? Siapa yang punya segalanya? Lo! Lo punya orang tua yang lengkap, dan sekarang lo bisa punya temen sebanyak yang lo mau, lo juga sekarang salah satu bangsawan yang terkemuka, dan lo bahkan punya Azril. Lo punya segalanya San-- ah, maaf maksud gue Shareen Maheswara? Tapi sorry, gue ga iri. Ga ada maksud apa-apa sih, cuma pengen bilang itu aja." kata Fellin melanjutkan jalannya.
Sania ingat kalimat yang memang ia ucapkan pada Fellin itu. Sania ingat fitnahannya lagi pada Fellin.
Lo emang gadis yang baik Fell, Azril emang bodoh lepasin lo, ntah apapun alasannya dia bego.
Fellin melangkah lebih cepat, setelah agak jauh dia memelankan jalannya, lalu menghela napasnya lega.
"Ternyata cewek manja bisa juga ngomong gitu." Tiba-tiba Erlan sudah ada di sebelah Fellin. Fellin dengan cepat menarik Erlan.
"Mau kemana? Pelaminan? Apa KUA?" tanya Erlan nada bercanda. "Kalo iya ga usah lu yang narik anjir. Biar gue aja. Gue bisa bawa lu ke KUA kok." tambahnya lagi.
Deg!
Fellin tau itu hanya bercanda, yang tidak dia tau adalah perasaan sepersekian detik yang menghampirinya tadi, jantungnya seolah berhenti saat itu.
"Diem deh, ikut aja." kata Fellin, dia ternyata membawa Erlan ke taman belakang sekolah, duduk di bawah pohon mangga.
"Apaan lagi? Pengen liat gue cosplay monyet yang lagi ngambil mangga? Lagi? Seriusan?"
"Ish ga gitu loh, ga ada gue pengen duduk ngerasain angin sepoi-sepoi aja." Kata Fellin mencoba meyakinkan.
Erlan menghela napasnya. "Lu ingat pertemuan kita?"
__ADS_1
Fellin menatap Erlan. "Ingat lah, di bawah pohon kan. Tapi gue lupa pohon apa, yang jelas itu pas jalan-jalan ke kebun binatang. Habis dari pertemuan itu, lo sering main ke rumah gue sama bokap lo, abis itu kita jadi sering main bareng deh."
Erlan cukup terkejut Fellin masih ingat, dia kira Fellin akan melupakannya, padahal Erlan baru saja mempersiapkan ceritanya.
"Buset masih ingat aja, gua kirain lu dah lupa, dah lama banget juga soalnya. Dan lo ingat waktu itu kita umur berapa?"
Fellin mengangguk mantap. "Ingat lah, waktu itu gue ketakutan banget, kirain bakal ilang guenya. Oiya, Lima tahun kalo ga salah, kita udah temenan dari umur lima tahun. Makanya gue tau tabiat abnormal lo."
Erlan mendekat ke arah Fellin, dia mendekapnya erat. "Kita udah temenan dan kenal dari umur lima tahun, dan lo pikir lo bisa nyembunyiin ini semua dari gue? Gue tau semuanya Fell, lo belum move on dari Azril."
Fellin tersentak halus, dia menangis di dalam pelukan Erlan itu.
"Nangis oke, tapi jangan sampe banjir, ntar basah baju gue, mana baru hari senin."
"Gue emang belum move on dari Azril, tapi gue udah niat coba. Seenggaknya ini lebih baik dari gue yang coba maksain perasan gue kan? Lo sendiri? Gimana hubungan lo sama cewek itu?"
"Semakin dekat, jalannya lumayan terbuka lebar." Erlan tersenyum hangat.
Fellin tidak tau rasa apa itu, tapi dia tak suka. Rasanya tak suka ada orang yang diperhatikan oleh Erlan.
"Kalo lo udah ada cewek pokoknya kenalin ke gue, dan dia harus ngerti kita tuh temen deket, dan lo itu bahu sandaran terbaik gue. Jadi dia ga boleh marah kalo gue nangis nya ke lo." Kata Fellin, entah dia sadar atau tidak mengatakan hal itu. Yang jelas itu mengundang senyuman Erlan.
Ceweknya lu bego, wkwk andai aja bisa ngomong ini. Tapi ga deh, yang ada lu ntar jadi jauh.
"Mau mangga ga? Perlu gua ambilin? Kayaknya ada yang mateng nih." tawar Erlan.
"Ini lo yang nawarin diri lo yah, gue ga pernah minta lo."
"Fellin Fellin, bego bego, beban is beban. Hadehhh."
...***...
__ADS_1
,