Nona Antagonis

Nona Antagonis
Siapa sang antagonis?


__ADS_3

...***...


Hari ini Sania beserta Wira dan Anya menjenguk Nenek yang sudah merawat Sania selama ini. Kabarnya nenek Sania udah mulai siuman, membuat semangat Sania kembali berkobar.


Itu tampak jelas dari mata Sania yang berbinar setelah mendengar berita itu. Ya kepergian Sania membuat Azril harus ke sekolah sendirian hari ini.


Azril masuk ke dalam kelasnya, dia melihat pemandangan yang sama, empat bangsawan itu sedang mengobrol ria.


Azril mengingat kembali masa-masa hangat persahabatan mereka itu, dimana dia masih jadi bagian di dalamnya.


Ayolah, lu ga lemah Zril. Lu bisa lewatin segalanya, lu harus kuat, lupain mereka ga masalah, karna lu lakuin ini buat Fellin.


Azril meyakinkan dirinya sendiri, namun nyeri di hatinya semakin hebat, dia tidak tahan dan keluar ruangan.


Azril tidak peduli jam pertama itu, dia duduk di bangku taman biasanya. Biasanya maksudnya saat ada Sania yang menjadi patung di belakangnya.


Azril menutup matanya, kesepian itu seolah menjadi temannya. Tak ada satupun yang bisa ia ajak bicara.


Mendadak Azril ingat penolakan Sania pada perasaannya.


Padahal perasaan gue nyata buat dia, kenapa dia masih nolak? Salah kah kalo gue cinta dia dan juga Fellin?


Nyesel gue sekolah, mending di kantor. Apa balik ke kantor?


Baru saja Azril ingin berjalan kembali, dia malah berpapasan dengan Fellin seoarang diri.


"Wah wah perempuan yang hampir bunuh diri karna gua, sekarang udah move on?" sapa Azril, mulutnya itu loh mulutnya.


"Sorry selama ini gue ngejar-ngejar lo kayak orang bego capek sih, sorry juga selama ini udah buat lo risih. Intinya gue minta maaf atas perbuatan gue." Kata Fellin tenang sembari melanjutkan jalannya.


Nyesss


Azril sendiri yang sudah memutuskan jalan ini, sesakit apapun dia harus menerima fakta. Ini konsekuensi dari jalan yang sudah ia pilih.

__ADS_1


Azril menatap punggung Fellin yang perlahan mulai menjauh.


Dia gak manja lagi? Seriusan? Tapi kok aneh liat Fellin jadi dewasa gitu? Dan gue ga suka liat sikapnya yang sekarang, bukan karna dia abaikan gue, tapi karna sifat Fellin gue berubah.


Ada seseorang yang menepuk pundak Azril.


"Kenapa? Lu mulai nyesel ninggalin Fellin? Karna dia udah beneran move on? Dan lu ga bisa permainin dia lagi." kata pria itu, yang sama tingginya dengan Azril, tentu adalah Erlan.


"Maksud lu apa? Gua bakal deketin Fellin lagi gitu?"


"Gak akan gua biarin lu deketin Fellin lagi, dia mencoba bangkit dari ketololannya, jadi jangan coba jerat dia masuk lagi. Lagipula, waktu lu udah habis, sekarang waktunya gua yang masuk."


Azril menghela napasnya, dia menepuk bahu Erlan penuh makna. "Pilihan gua ga salah, lu emang yang paling pantes jadi pendamping hidup Fellin." Azril melanjutkan jalannya.


"Gua bisa bantu lu buat damai lagi dengan mereka, asal lu kasih tau semua alasan di balik tindakan gak bermoral lu." ujar Erlan yang mampu menghentikan langkah Azril.


"Ga usah terima kasih, gua juga bisa hidup tanpa kalian."


...***...


Fellin sudah mendengar sebagian, dia akan tau? Tidak boleh! Aku harus segera menyingkirkan anak itu. Bagaimana kalo Fellin tau? Dia tau yang sebenarnya? Apa dia akan membenci ku seumur hidupnya.


Gerald menatap foto Fellin sendirian di dalam bingkai, khayalannya jatuh pada Fellin yang mengatakan bahwa Gerald bukan lagi papanya. Tapi itu hanya sekedar khayalan Gerald semata.


Tapi efeknya begitu besar, Gerald langsung keringat dingin, wajahnya pucat, badannya gemetar. Sejujurnya dalam hidup, hal itulah yang paling Gerald takuti, bahwa Fellin akan mencampakkannya saat tau yang sebenarnya.


Gak boleh, Fellin gak boleh tau atau dia bakal pergi dari rumah, dan akan membenci ku, putri ku, segalanya untuk ku, tidak bisa! Meski aku udah janji ke Fellin, tapi aku harus tetap melenyapkan anak itu!


Tok tok tok


"Pa ini Fellin, Fellin laper, ayo Papa turun makan malam, Fellin cape nungguin." Panggil Fellin dari luar, baru saja di bicarakan Fellin sudah muncul.


"Iya ya, bentar lagi Papa turun." Gerald bercermin, dia memastikan bahwa wajahnya baik-baik saja dan tidak ada yang mencurigakan.

__ADS_1


...***...


Makan malam itu berjalan bauk seperti biasanya, Fellin lebih sering tersenyum kali ini. Namun kegiatan mereka itu terhenti, tatkala melihat Anya dan Wira sudah berdiri di depan mereka.


"Sialan!! Siapa yang mengizinkan mereka masuk!" Bukan Gerald atau Fellin yang berteriak, tapi itu adalah orang kepercayaan Gerald yang setia berdiri di belakangnya.


"Ada yang ingin kami bicarakan dengan Fellin dan Gerald." Kata Wira, Anya hanya bisa menatap sendu Fellin, sembari tersenyum hangat dia lega sekali melihat Fellin baik-baik saja saat ini.


"Kalian semua pergi." Kata Gerald kepada seluruh pelayannya. Menyisahkan mereka berempat saja di meja makan itu. "Duduk lah, kalau mau makan, ya makan aja, ga ada racunnya kok." Tambah Gerald sembari tersenyum licik.


"Kami ke sini ingin meminta maaf kepada Fellin dan juga kau. Maafkan, karna putra kami, Fellin hampir kehilangan nyawanya." Kata Wira, dia benar-benar merasa malu, tapi mau bagaimana lagi, itu memang kesalahan Azril kan?


"Maafkan kami yang gak bertanggung jawab, Fellin maafin tante, padahal dulu tante bilang bakal nikahin kamu sama Azril, dan jadiin menantu Tante, tapi kayaknya itu ga--"


"Gak masalah, Fellin juga udah lupain semua masalah itu, gak usah di bahas, Fellin udah gak suka liat Azril. Jadi terserah, Fellin ga peduli." Kata Fellin dingin, tanpa senyuman, tanpa nada langsung memotong ucapan Anya.


Hati Anya begitu terkoyak, itu terasa begitu perih mendengar Fellin berbicara padanya dengan nada yang begitu dingin, tapi pandangannya hanya lurus ke arah makan.


"Tapi Fellin tetep Tante anggap sebagai anak sendiri, terlepas putus atau enggaknya kamu sama Azril, Tante tetep sayang sama kamu. Ja--"


"Gak perlu, Papa udah kasih Fellin kasih sayang yang udah lebih dari cukup. " Tambahnya, masih dengan suara dan pandangan yang sama.


Gerald tersenyum miring. "Kalau tidak ada lagi yang ingin kalian sampaikan, pintu keluar ada di sana, kalau lupa biar pelayan saya yang mengantar."


Wira tau penghinaan ini tidak ada apa-apanya di banding penderitaan Fellin selama ini yang di sebabkan kedua anak mereka.


Hati Anya hancur, dia tidak lagi bisa menahan air matanya. Gadis yang selalu dia anggap sebagai putrinya kini bahkan tak ingin menatapnya lagi.


"Fellin..., maafin Tante." Lirih Anya sebelum dia mengangkat kaki dari rumah itu.


...***...


...Jadi siapa antagonis nya? ...

__ADS_1


__ADS_2