Nona Antagonis

Nona Antagonis
Erlan POV


__ADS_3

...***...


Saat itu aku masih berumur lima tahun, baru saja memasuki TK, Karna terlahir dari bangsawan aku TK khusus bangsawan juga. Aku tidak kenal siapa-siapa, belum mengenal siapapun. Dan jujur saja, aku adalah orang yang penakut, juga pemalu. Aku bahkan takut untuk berbicara dengan teman seusia ku, karna sejak dulu aku tidak memiliki teman. Aku hanya bermain dengan mainan yang menggunung  meski mainan itu banyak, tetap saja membosankan.


Aku pernah mencoba menaiki sepeda, namun saat itu aku terjatuh. Rasanya sakit sekali, lutut ku berdarah. Dan aku tidak ingin menaiki sepeda lagi, ya benar, aku takut jatuh. Bahkan melihat sepeda juga aku tidak mau, ya aku takut.


Waktu hari pertama masuk di TK, mama masih menemani ku, namun tiba-tiba guru itu datang dan menarikkan. Membuat genggaman tangan mama terlepas, aku takut sekali, sangat takut terhadap orang lain, aku tidak bisa menatap matanya.


Aku masuk di kelas itu, dan mama bilang akan menunggu ku di mobil. Aku melihat banyak orang di dalam sana, mungkin sekitat dua puluhan anak se usia ku. Pada saat itulah aku mulai mengenal Fellin, Azril, Cecil dan Arga. Aku ingat semua nama mereka, bahkan saat aku belum berbicara dengan mereka.


Saat itu TK mengadakan pembelajaran alam langsung di sebuah kebun binatang, mereka bilang ingin mengenalkan kami pada hewan. Awalnya aku meminta mama untuk menolak! Aku tidak mau! Itu sangat menakutkan, banyak hewan-hewan buas di sana. Bagaimana kalau salah satunya lepas? Aku selalu berfikir begitu. Aku bersikeras untuk menolak, begitu juga papa yang memaksa aku untuk ikut.


Sialnya aku saat berada di kebun binatang aku tertinggal dan tersesat. Aku tidak tau harus bagaimana, aku hanya bersembunyi di balik sebuah pohon dan terus menangis. Aku benar-benar ketakutan saat itu, bagaimana kalau orang tua ku tidak bisa menemukan aku? Apa aku akan jadi anak terlantas.


Saat itu juga aku mendengar suara tangisan yang lebih keras dari ku, suara anak perempuan. Aku terdiam dan melihatnya, aku mengenalinya, dan dia adalah Fellin yang saat itu aku tidak tau, kalau Fellin akan menjadu segalanya untuk ku.


Gadis kecil itu menangis dengan memawa bonekanya, biar ku tebak, dia pasti tersesat dan sama takutnya dengan ku. Aku tidak tau kenapa, tapi aku mulai berjalan mendekatinya, tangisan ku mendadak berhenti, aku hanya fokus pada wajah mungilnya yang basah akan air mata.


"Kenapa kau menangis?" Tanya ku mendekatinya. Untuk pertama kalinya, aku berani berbicara dengan orang lain.


"A-aku ter ... sesatt, Fellin takuttt." katanya sembari terisak.


Tangan ku bergerak sendiri menyentuh kepalanya. "Gak masalah, aku juga tersesat. Kita bisa cari yang lainnya sama-sama." Kata ku dengan senyuman, entah kemana hilangnya rasa takut itu. Melihat gadis ini lebih ketakutan dari ku, aku merasa tenang.

__ADS_1


"Apa kau serius? Bisa menemukannya?" tangisan Fellin mulai mereda.


"Hem, percaya pada ku." kata ku yakin penuh senyuman. Aku menarik tangan Fellin,


Tiba-tiba saja cicak pohon itu jatuh ke bahu Fellin, dia berteriak histeris dan menangis. Sebenarnya aku juga takut pada cicak, jangankan menyentuhnya, memandangnya saja aku tak ingin. Tapi, aku kasihan pada Fellin, aku mengumpulkan keberanian ku dan memusatkannya di tangan. Dengan gerogi dan penuh ketakutan aku mengambil cicak itu dan membuangnya.


Aku benar-benar lega, dan tidak menyangka aku begitu berani. Fellin berhenti menangis, dia menatapku.


Ah tatapan itu, bahkan aku masih ingat jelas tatapan kagum itu. Ya, saat itu Fellin sangat kagum padaku, entah di bagian mana hati ku mulai merasa senang. Aku sangat senang di tatap seperti itu, tidak seperti biasanya yang selalu di remehkan.


"Kau menyelamatkan hidup ku, aku takut sekali." sambil terus menangis Fellin memelukku. Aku tau betapa takutnya dia tadi, dan akupun sama takutnya dengannya.


"Kamu memang anak pemberani! Selanjutnya kalau ada kecoa aku bakal panggil kamu! Hahaha!! " dia tertawa begitu lepas.


"Ayo kita cari yang lain." Kataku menarik tangannya, dia dengan senyumannya mengikuti ku.


"Makasih, berkat ada kamu aku ga takut lagi." katanya.


Harusnya aku yang mengatakan itu bukan?


Sampai di rumah aku langsung merengek pada ayah ku untuk di belikan kecoa, dia sangat heran, namun karna aku putra tunggal, dia menurutinya saja. Dia membelikan aku beberapa kecoa.


"Buat apa? Emang kamu berani?" Tanya Papa nada meremehkan.

__ADS_1


"Erlan mau belajar megang kecoa!!" kata ku yakin. Papa tersentak halus namun aku bisa melihat senyuman terlukis di wajahnya. Bahkan pada akhirnya papalah yang membantu ku untuk berani memegang kecoa.


Pada hari minggu berikutnya, Papa membawa ku ke sebuah rumah mewah milik temannya, yang kurang lebih tidak jauh berbeda dari rumah kami, dan masih satu kompleks juga.


Awalnya aku tidak ingin kesana, tapi pada akhirnya rumah itu menjadi tempat favoritku bermain. Saat papa berbicara dengan temannya itu aku bisa melihat dia, Fellin sedang bermain sepeda di halaman. Aku langsung menghampiri Fellin, sepertinya papa Fellin dan papa tengah membicarakan kami, tapi aku tidak peduli, fokus ku hanya jatuh pada Fellin.


"Ahhh ini susah sekali. Aku ingin bisa naik sepeda, Erlann ajarii akuu." Kata Fellin.


Saat kembali ke rumah aku langsung berlari ke sepedaku, meminta papa mengajari ku. Papa sangat senang karna aku tidak takut lagi, tidak peduli berapa kalipun aku jatuh, aku tetap menaikinya sampai aku lancar menaiki sepeda.


Minggu depannya lagi papa dan aku berkunjung lagi ke rumah Fellin, saat itu aku membawa sepeda ku. Aku menunjukkan pada Fellin kalau aku mahir dalam bersepeda, lagi-lagi dia menatap ku dengan tatapan takjub seperti itu. Aku benar-benar senang.


"Erlan! Ajari aku, aku juga mau bisa bersepeda seperti mu! Nanti kita bisa berkeliling bersama!" Kata Fellin. Aku merasa bahagia, dia membutuhkan aku.


Pada akhirnya begitulah, tatapan kagum dan senyuman yang dia berikan untuk ku bagai candu, aku ingin itu lagi dan lagi, aku memberanikan diri terhadap apa yang dia takuti, aku harus mahir dalam hal apa yang tidak dia bisa. Dia itu sangat manja, tapi karna dia manja aku suka.


....


"Oy Erlan, udah puas tidur? Pak Wiz udah masuk tuh? Gimana mimpinya? Bagus kah?" tanya Arga sedikit menggoyang bahu Erlan.


"Mimpinya bikin ketagihan," kata Erlan dengan senyuman merekah di wajahnya.


"Bahasanya tolong di validkan, gua bisa salah paham lu mimpi apa."

__ADS_1


...***...


__ADS_2