
...***...
Papa Fellin datang membawa seseorang.
"Gimana keadaan Anya?" tanya Gerald pada Wira.
"Masih kritis." sahut Wira semampunya.
Tampak Gerald berbicara dengan orang yang di bawanya, lalu ada seorang dokter lagi dari rumah sakit ini. Keduanya segera masuk ke dalam ruang ICU.
"Pa itu siapa?" tanya Fellin.
"Itu dokter yang papa panggil dari Singapura, dia salah satu dokter terbaik di sana. Satu lagi adalah dokter terbaik di rumah sakit ini. Cuma ini yang bisa papa lakuin, sisanya kita berdoa aja." Gerald menjawab dengan penuh kejujuran.
Azril menatapnya sinis.
Tidak akan ada yang percaya kalo orang ini adalah dalang tragedi Sania, bahkan Papa sekalipun. Si tua bangka ini...,
Batin Azril, dia ingin sekaki menghajar Gerald, namun tidak bisa. Dia belum mampu, apalagi saat ini Gerald sedang memberikan pertolongan terbaiknya.
"Azril, maafin gur. Gue ga bisa di sini lebih lama, udah larut. Gue bakal datang besok kok, meski gue balik, gue bakal tetep doain Tante Anya dari rumah." Pamit Cecil, wajarnya itu sudah hampir pukul satu pagi.
"Hati-hati ya, doain nyokap gua, jangan lupa."
Cecil menyalami kedua orang tua itu, lalu berjalan pulang. Sebelum pulang dia memeluk Fellin sekali, memberikan gadis itu semangat dan kekuatan untuk menghadapi semua ini.
Begitu juga Arga dan Erlan, mereka menepuk pundak Azril. Pasti sakit sekali ada di posisi Azril, dia harus melihat kecelakaan ibunya sendiri di depan matanya.
__ADS_1
"Fellin ga mau ikut pulang bareng mereka?" tanya Gerald. Dia tidak ingin putrinya sampai begadang, tapi dia juga mengerti keadaan putrinya saat ini, dan tidak ingin melarang apapun yang Fellin ingin lakukan.
Fellin menggeleng pelan. "Fellin ga bakal pergi dari rumah sakit kalau Tante Anya belum bangun. Fellin bakal tetap di sini, satu jam, satu hari, satu minggu, satu bulan, Fellin bakalan tungguin tante Anya sampe bangun." Kekeuh Fellin, matanya melambangkan keyakinan.
Wira tersenyum lembut, dia mengusap kepala Fellin dengan senyuman hangatnya. "Ga bakalan selama itu, percaya, sebentar lagi Tante Anya bakalan sadar kok."
Beberapa jam sudah berlalu, seperti yang Fellin katakan, dia belum tidur. Sedangkan Gerald dan Wira masih mencari pemasok darah kalau saja Sania tidak cukup.
"Tidur, yang sakit cuma mama. Ga usah nambah lu lagi, ngerti?" Azril menarik Fellin dalam pelukannya, ia menyandarkan kepala Fellin di bahunya.
Fellin sangat terkejut, dia tidak tau harus senang atau sedih dalam posisi ini. Dia hanya mengikuti instruksi Azril.
"Ini bukan berarti lu boleh tetep suka ke gua. Ga boleh ya Fell, lupain gua. Please..., lupain kalo kita pernah bersama." Tambah Azril, Namun kali ini Azril mengatakannya pelan dan juga lembut, namun penuh keseriusan. Ah, bagaimana ya kira-kira hati Fellin saat ini.
"Kenapa Zril? Kenapa...? Gue harus lupain lo? Lo tau kan gue cinta banget ke lo...? Kenapa lo ngejauh? Dan kenapa harus pisah? " Fellin balik bertanya, dengan suara yang tak kalah lembut. Tatapannya masih lurus dari kepalanya yang masih bersandar di bahu Azril.
"Karna ini yang terbaik buat kita Fell, lu percaya gua kan? Keputusan gua? Percaya gua tanpa syarat, tanpa tanya ini itu apa sesulit itu? Jadi tolong lupain gua Fell, hilangin perasaan lu ke gua. Lu bisa! Gua yakin lu bisa, Fellin itu kuat, lu bisa kalo lu niat, lu mau kan niat lupain gua?"
"Berhenti egois Fell, keegoisan lu yang sekarang bakal ngerusak lu di masa depan, ngerti? Gua sayang sama lu, sayang banget, sayanggg banget, lu orang yang paling gua sayang di dunia ini, tapi kita ga bisa bersama. Ga bisa Fell, coba buat nurut sama kata-kata gua, apa sesulit itu?"
.
"..."
Azril diam, begitu juga Fellin, tak ada suara yang keluar dari mulut gadis itu. Azril melihatnya, ternyata Fellin sudah tertidur.
"Fell, lupain gua. Percaya gua ini yang terbaik buat kita." Azril mengecup pucuk kepala Fellin, matanya hangat sedikit sayu.
__ADS_1
Kalo gitu kasih tau alasannya? Alasan kuat yang bisa buat gua menjauh? Gue ga bisa menjauh tanpa sebab gitu, Azril ceritain ke gue. Apa masalahnya, dan apa yang terbaik buat kita.
Batin Fellin, ternyata dia hanya berpura-pura tidur. Fellin tidak ingin melanjutkan pembicaraan ini. Dia tidak bisa melihat Azril begitu lembut untuk meminta Fellin melupakannya. Fellin takut, bahwa dia akan benar-benar luluh dan melupakan Azril.
Dari balik dinding sana, jantung Sania berdegub begitu kencang. Dia tidak tau kenapa tapi rasanya itu sakit sekali, sangat sakit. Dadanya benar-benar sesak, air matanya mengalir begitu deras melihat Azril bersikap begitu hangat pada Fellin.
Apa ini? Kenapa? Kenapa sakit bangettt, udah... Cukup..., ini terlalu sakit, sakit sekali. Gue ga bisa terima ini. Apa jangan-jangan gue udah suka beneran ke Azril? Tahap suka yang berubah menjadi cinta?
Sania terduduk lemas, dia tersenyum kecut. "Jadi gini? Ini rasanya patah hati? Jadi ini yang selalu Fellin rasakan waktu dia liat Azril gandeng gue? Sesakit ini? Setiap hari harus merasakan sakit seperti ini? Pantas saja dia nangis setiap hari, ternyata rasanya memang benar-benar sakit."
Tapi, apa sekarang Azril bakal balikan sama Fellin? Meskipun balikan ini hak mereka, ga ada hubungannya sama gue. Sejak awal, gue emang bukan siapa-siapa. Ayolah Sania, sadar diri sadar posisi.
Sania hanya bisa menahan tangisnya di balik dinding itu, dia menyatukan lutut dan keningnya, menangis di balik rambut panjangnya.
...***...
Matahari sudah terbit, mereka berharap pagi ini mendapat berita baik. Fellin membuka matanya, dia sadar semalaman tidur di bahu Azril, bahu yang sudah lama tidak ia sandari. Dan sekarang, perasaan itu tersalur lagi.
Semua orang sudah berkumpul lagi di depan ruang ICU, termasuk Sania yang duduk di depan Fellin.
Dokter itu keluar dari ruangan, Pak Wira langsung berdiri menanyai kondisi istrinya.
"Gimana dokter? Apakah pendonor nya cocok? Kalau tidak kami juga bisa mencari pendonor lain." kata Pak Wira yakin, apalagi di sisinya ada Gerald yang memiliki banyak koneksi. Dengan bantuan Gerald, mencari pendonor darah tidak begitu sulit.
"Apa maksud anda Pak? Bagaimana bisa itu tidak cocok saat yang mendonorkan adalah anak kandungnya." kata dokter itu sedikit heran.
Semua orang mendadak diam, mereka menatap dokter tidak percaya.
__ADS_1
"Anak kandung? Maksud dokter?"
...***...