
...***...
Minggu pagi ini Azril sudah bersiap dengan pakaian olahraganya, awalnya dia ingin joging, namun matanya tak sengaja melihat sebuah sepeda. Sepeda yang biasanya ia pakai berdua bersama Fellin.
Sepeda itu adalah saksi bisu betapa uwunya mereka dulu di jalanan. Tidak peduli berapa kali pun sepeda itu goyang, namun Fellin tidak pernah takut.
"Halah kalo jatuh juga kan bareng Azril, asal jatuhnya bareng Azril mah jatuh berulang kali, Fellin ikhlas." Kata gadis itu mendongak menatap wajah Azril, posisinya Fellin duduk di depan.
"Ga bakal jatuh kalo sama gua mah, ga bakal gua biarin lu luka, jadi santai aja." Sahut Azril percaya diri, mencium kening Fellin. Keduanya tertawa begitu lepas, tersenyum untuk satu sama lain.
"Tuan muda ngapain nyuruh saya pake pakaian ini, saya ga biasa olahraga, minggu pagi biasanya maling mangga tetangga." Kata Sania polos, yang langsung membuyarkan ingatan masa lalu yang tertampil di kepala Azril.
Azril mendengus kasar, dia kesal, namun dia juga bersyukur karna Sania datang saat itu, atau hatinya akan goyah lagi nantinya.
"Temenin gua olahraga." Kata Azril singkat, dia langsung mengayuh sepedanya begitu saja. Sania diam sebentar menatap orang itu, dia melihat kanan kirinya, sama sekali tak ada sepeda tersedia disana.
Dia mau nyiksa gua jalan kaki gitu? Larian? Ga ada otak, kaki gua lagi sakit juga.
Sania benar-benar tidak habis pikir ada orang sejahat Azril. Tapi Sania juga tak mampu menolak titahnya, jika dia menolak maka perawatan untuk neneknya akan dicabut.
Bismillah, kaki gua kuat sekuat baja!
Sania mulai berlari pelan dengan kakinya yang sakit. Denyutan itu terus terasa di setiap langkah. Untungnya dia bukan gadis yang cengeng.
Azril mendesis kesal, dia menggelengkan kepalanya.
Mana sih cewek itu, lama amat, harusnya kan dia di sebelah gua.
Azril menghentikan sepedanya. Dia melihat ke belakang. Mata Azril terbuka tidak percaya, melihat Sania berlari sedikit terpincang. Azril langsung mengayuh sepedanya kencang kembali ke belakang ke arah Sania.
"Lu apa-apaan sih bego? Udah tau kaki lu sakit malah larian gitu, lu begonya separah apa sih?" Azril cukup emosi melihat kebodohan gadis ini.
"Apaan sih lo, kan ini lo yang nyuruh, lo kan yang minta gue buat ikutin lo, buat nemenin lo olahraga. Gue disini yang kesakitan ngapa lo yang marah-marah, pake ngatain lagi." Balas Sania tak mau kalah. Cukup sudah, dia sudah sangat kesal menahan sakit kakinya bersamaan dengan pancaran sinar matahari yang tidak berdamai itu.
"Yang nyuruh lu jalan kaki siapa? Maksud gua, ya lu ambil sepeda di Garasi lah, temenin gua sepedaan, lu naik sepeda juga, astaga!!"
Sania menggigit lidahnya pelan. Mana dia tau ada sepeda lain di garasi. Kan Azril juga tidak mengatakan apa-apa. "Ya mana gue tau sepedanya di bagasi, lo ga bilang sih."
Azril menghela napasnya. "Ya udah sini naik, kita pulang aja. Gua ga mood sepedaan lagi, lu ngerusak mood orang aja."
"Di depan situ maksud lo?"
__ADS_1
"Jadi mau dimana lagi? Di ban?"
Sania diam sebentar. Kalau dia duduk disana jarak mereka semakin dekat.
"Buruan, udah panas, astaga babu satu ini lelet amat."
Mendengar bosnya sudah sedikit kesal, Sania buru-buru duduk di depan sana. Di sepanjang jalan dia hanya diam saja, punggungnya benar-benar menyentuh dada bidang Azril itu.
Untuk pertama kalinya, gue naik sepeda sama cowok. Tapi kenapa harus sama dia sih!!!
Sania memanyunkan mulutnya, tapi dia merasa ini cukup baik dibanding harus jalan kaki. Kakinya juga sudah cukup nyeri.
Begitu juga dengan Azril, ini adalah pertama kalinya dia naik sepeda bersama gadis, yang bukan Fellin. Karna Azril, selalu menaikinya bersama dengan Fellin.
......................
Sania berbaring di kamarnya, ia menatap langit-langit itu, satu tangannya ia letakkan di keningnya, tanda bahwa dia tengah berfikir saat ini. Dia mulai mengingat Fellin yang mendatanginya untuk memberinya uang.
Sania belum membukanya, dia bangkit dan mengambil uang itu dari laci. Sania benar-benar terkejut dengan uang sebanyak itu. Uang yang mungkin cukup untuk biaya hidupnya beberapa bulan dengan makanan enak.
Duit segini emang belum cukup buat biaya nenek sampe sembuh, tapi duit segini cukup buat buka kedai kecil-kecilan, gue simpen aja deh buat modal usaha, mayanlah. Ga bakal gue buang uangnya dah, sayang banget ini duit semua loh.
Sania memejamkan matanya, Dia tidak salah kan? Memangnya ada manusia normal yang akan menolak uang sebanyak itu? rasanya tidak ada kan?
Plakkk!!
Sania menampar kedua pipinya hingga meninggalkan bekas merah disana.
"Membanding-bandingkan hidup lu dengan orang lain gak akan buat lu jadi kaya mendadak! Jadi kalo mau kaya ya kerja! Emang gue ga seberuntung Fellin lahir dari keluarga kaya, tapi keluarga kaya bakal lahir dari gue!"
Sania percaya diri! Semangatnya bangkit, Sania memang gadis yang selalu berpikiran positif, Sania itu kuat, percaya diri dan juga mandiri.
...***...
"Huwaa panas bangett." Keluh Fellin di siang-siang begitu. Dari pagi ini Fellin belum ada menyapa Azril, bukan karna dia tidak mau, tapi karna Azril selalu menghindari Fellin sebelum gadis itu menghampirinya. Jadi, alhasil Fellin belum berbicara barang satu katapun pada Azril.
"Ac kelas hidup ga sih?" Fellin mengibas-ngibas bukunya, dia benar-benar merasa panas. "Asli panas banget, rasanya gue pengen ke Swiss deh sekarang." Keringat sudah bercucuran dari wajahnya, padahal jelas-jelas AC di kelas masih menyala sempurna.
"Gegara rambut lu digerai kali makanya makin panas." Cecil segera mengambil ikat rambut di tasnya, dan mengucir rambut Fellin. "Pangkas pendek aja ga mau Fell? Kayak gue?" Saran Cecil, Fellin dulu pernah rambut pendek, dan itu sangat menggemaskan, itu pula yang membuat Cecil menyukai rambut pendek.
"Ga usah lah, suka rambut gue yang sekarang."
__ADS_1
Fellin menggoyangkan kepalanya sedikit, mencoba menggoyangkan rambutnya sembari bercermin.
Cantik!
Fellin tau akan hal itu, dia benar-benar sadar bahwa dirinya sangat cantik.
"Cerminnya muak liat muka lu, gantian dong mukanya gua." Erlan duduk di meja Fellin, mengambil cermin itu. Dia menyisir rambutnya dengan tiga jari andalannya. "Buset, gua ganteng banget. Fiks sih ini gua terganteng segalaksi bima sakti stok terakhir, cuma di temuin di kelas ini, gila sih wah gila, ganteng parah gini gue."
Tukhhh
Fellin memukul Erlan dengan penggarisnya. "Lan, lo ga ilfiil gitu sama diri lo sendiri? Sumpah narsis parah, maksud gue narsis lu ga beralasan, soalnya lu ga ada ganteng-gantengnya. Asli, gantengan Arga kemana-mana!"
"Biarin Aja Fell, lumayan kan kita liat topeng monyet setiap hari." celetuk Arga tanpa dosa.
"Zril, lu yakin ga mau gabung? Mau ngenolep aja?" tanya Erlan. Dia melirik satu sahabat nya yang terus menyendiri tak pernah menunjukkan diri lagi akhir-akhir ini.
Namun Azril hanya diam saja, seolah mengacuhkan mereka semua. Jujur saja, Fellin selalu sesak jika hal itu menyangkut Azril.
"Azril..., " gumam Fellin pelan.
...***...
Pagi itu pak Aan sedang mengabsen semua murid di kelas 2-1. Kelas Fellin Arga dan Cecil, kelas kesayangan mereka semua.
Pagi itu agak aneh karena suasana kelas tampak agak damai, tidak ada lagi teriakan Fellin, begitu juga Azril, dia merasa agak kosong setelah sadar kalau hari ini Fellin tidak bersikukuh menyapa dirinya.
"Fellin Skylira?" panggil pak Aan, saat nomor absen Fellin sudah tiba.
"Ke Swiss pak, lagi pengen ngadem katanya." sahut Cecil sekenanya. Dia jujur, Fellin memang ke Siwss hari ini, soalnya dia kesal karena terlalu panas. Selain mendinginkan kepala, dan suhu tubuh, Fellin juga ingin mendinginkan hati yang kapan lalu sempat panas.
Uhuk!
Sania hampir saja tersedak ludahnya sendiri. Dia kira ucapan Fellin kemarin soal ke Swiss hanya candaan.
Gila, terlalu sultan emang beda.
Berbeda dengan Azril, dia tampak agak terkejut, namun sepersekian detik kemudian dia kembali memasang wajah datar, dan ekspresi dingin seolah tidak peduli.
Dia pigi sama siapa? Siapa yang jagain? Dia kan gak bisa kemana-mana sendiri.
Pada akhirnya, Azril masih tetap khawatir terhadap gadis manja itu.
__ADS_1
...***...