
...***...
Cecil berjalan gontai ke kamarnya. Dia menatap Fellin yang tengah tertidur lelap, lelah diwajahnya sangat menjelaskan banyak hal.
Cecil ingat, Sania tadi mengatakan bahwa Fellin akan menanggung semua kesalahan, dan kejahatan yang Cecil buat. Bukan ini yang Cecil inginkan, bukan seperti ini hasil akhir yang dia harapkan, itu bukan tujuan Cecil.
Kenapa? Kenapa ini harus terjadi ke lo? Kenapa lo harus kehilangan first love lo? Kenapa Azril jahat banget ninggalin lo? Padahal lo, selalu ada. Gimanapun yang terjadi, lo selalu ada di sisinya. Lo yang nemenin dia.
Cecil ikut membaringkan tubuhnya. Dia meletakkan tangannya di atas kening. Dia kecewa, nyatanya Cecil ikut merasakan sakit jika ada yang menyakiti Fellin. Karena Fellin memang seberharga itu untuk Cecil. Tapi, bagaimana sampai akhir Azril bisa sekasar itu?
Gue keliru. Kenapa? Kenapa gue malah salahin Sania? Padahal udah jelas, kalo di sini Azril yang salah. Di sini Azril yang jahat, dan di sini cuma Fellin yang jadi korbannya. Mungkin Sania juga bakal jadi korban,
Thanks Fell, you're my angle. Please, stay with me. I miss you. Cecil tidur di sebelah Fellin. Dia memejamkan matanya, dia harus kembali mendinginkan kepala dan menyegarkan pikirannya, dia harus kembali berpikir logis, dia harus kembali menjadi Cecilia yang logis.
......................
Pagi itu matahari sudah naik, banyak juga yang sudah bangun, termasuk Fellin. Dia sedang mempersiapkan dirinya. Cecil membuka matanya, tampak gadis berkaos putih tengah berias ria.
"Lo udah bangun? Mandi gih, gue tungguin lo." kata Fellin menatap Cecil.
"Lo turun aja dulu, sisain selai coklat nya buat gue. Lo kayak ga tau si Erlan aja, ntar di abisin dia loh. Gue mau mandi lagi, gue kalo mandi lama." Cecil mengucek matanya.
Fellin teringat satu hal, benar! Erlan itu sangat menyebalkan! Dia bisa saja menghabiskan selai coklat untuk 10 orang dalam sekali makan. Memang, hal-hal yang menyebalkan identiknya selalu saja dengan Erlan.
"Ya udah, gue turun duluan yaa, ntar lo nyusul. Jangan lama-lama. Bye bye," Fellin memeluk Cecil lalu berjalan turun.
Mungkin karna memang benar-benar takut selai itu akan habis. Fellin berlarian di sana, sampai akhirnya dia bertabrakan dengan seseorang.
Bruakhhh!!
Ternyata Fellin bertabrakan dengan Azril di sana. Fellin bisa melihat Azril dengan kaos hitamnya, rambutnya masih sedikit agak basah, biar Fellin tebak, Azril belum sisiran, soalnya rambutnya acak.
__ADS_1
"Tcih, pasti hari ini gua udah kena sial." Desis Azril yang langsung berjalan pergi, bahkan sebelum Fellin mengatakan apapun. Fellin lagi dan lagi, hanya bisa diam menatap kepergian Azril. Dia bahkan tidak memiliki kekuatan untuk mengeluarkan suara.
"Pa~gi~" bisik seseorang tepat di telinga Fellin, suara pelan, terdengar agak serak. Bulu kuduk Fellin sudah berdiri, dia benar-benar terpaku akan film horor yang di tontonnya sebelum ke sini.
Fellin dengan cepat menoleh ke samping, sayang sekali bukannya hantu, itu adalah Erlan. Posisi keduanya yang terlalu dekat membuat Fellin tidak sengaja mencium pipi pria jangkung itu.
"Arghhh!!! Erlan!! Sialan!!! Masih pagi juga! Ngagetin mulu." Fellin memegangi dadanya yang berdetak begitu kencang, jantungnya berdegub lebih cepat dari biasanya, wajahnya mendadak panas. Fellin pikir itu karna kaget semata.
"Lah? Kenapa muka lu merah gitu? Lu sakit? Itulah, kemarin di suruh dalam mobil doang degil sih, malah milih hujan-hujanan." Erlan memegangi kening Fellin, emang agak panas, dia jadi sedikit khawatir. Meski pagi ini sih dia sudah sangat senang mendapat satu kecupan tanpa sengaja.
"Ntar gua tanyain Azril, di rumah ini ada obat demam ga. Kalo engga, kita bakal cari rumah sakit terdekat. Lu turun, buruan sarapan, abis itu minum obat." Tambah Erlan, dia mengelus kepala Fellin lembut, lalu berjalan mencari Azril.
Fellin juga segera ke meja makan, namun dia masih memegangi dadanya. Soalnya, jantungnya belum kembali normal.
"Udah dong my hearth, jangan deg degan gitu, perkara di kagetin doang. Lagipula ini bukan pertama kalinya Erlan ngagetim gue kan."
...***...
"Babu tuh harusnya banyak-banyak bantuin, bukan malah nyusahin kayak gini." bisik Azril di telinga Sania.
"Bukannya tuan muda ya? Yang ingin merepotkan dirinya sendiri."
"Diam, dan tau diri sedikit bisa ga sih? Jalannya juga cepetan."
Sania cukup kesal, dia mencoba memperlaju jalannya, sayangnya itu membuat kaki Sania menjadi nyeri.
"Shhhh, aww."
"Udah tau sakit, malah coba lari. Bego banget sih," Azril menatap Sania. "Sakit banget kah? Mau ke dokter ga?" tatapan itu semakin dalam.
Sialan, kenapa dada gue jadi gini. Jantung gue kenapa kumat sih, kan yang sakit kaki gue.
__ADS_1
Batin Sania, tapi matanya terus saja menatap Azril. Sebenarnya dalam kesadarannya ia ingin membalikkan pandangannya, tapi entah kenapa sulit sekali, seolah mata itu bagai magnet yang terus menarik Sania.
"Ekhmmm!" deheman yang luar biasa berani itu datang dari Arga. Mendengar itu, Azril dan Sania kembali berjalan ke arah meja makan. Tapi Tiba-tiba Fellin sudah ada di depan mereka.
"Kan banyak pelayan di sini? Kenapa harus lo yang gandeng dia? ha?" Fellin menatap tidak senang pada keduanya.
"Masih pagi, ga usah sok ngedrama, bisa ga sih?" Azril menepis Fellin, dan membawa Sania duduk.
"Azril! Gue ini pacar lo, dan lo mesra-mesraan sama cewek lain depan gue? Maksud lo apa?"
"Ralat, kita itu mantan. Kita udah putus, lu mantan, m-a-n-t-a-n, jelas kan?" Tiba-tiba hp Azril berbunyi. Saat melihat panggilan itu, Azril langsung menjauh dari sana.
Melihat itu Fellin langsung menghampiri Sania yang duduk. Fellin menatap gadis itu dengan tatapan benci yang menusuk.
"Lo maunya apa sih? Apa sesusah itu buat jauhin Azril? Gue ga mau bertindak kasar. Tapi kalo sampe lo--"
"Demi kebaikan bersama lu jauhin Azril deh San," tambah Arga.
"Jauhin Azril, pergi dari kehidupan kita. Atau lu bakal ngalamin hal yang lebih buruk daripada cuma tersesat di hutan." tambah Cecil, ntah hanya ancaman biasa, atau ada rencana dibaliknya. Gadis seperti Cecil ini, susah untuk di mengerti dengan logika.
"Ga ga gak! Gue gak bisa pergi dari rumah Azril! Gue juga ga mau gini, gue juga mau Fellin balikan sama Azril. Gue juga ga mau di cap perusak hubungan orang! Gue juga ga mau di benci satu sekolah. Malahan gue pengen balim ke SMK gue! Meskipun fasilitas ga gitu memadai, tapi gue diperlakukan sebagai manusia di sana! Kalo lu mau Azril ambil, gue juga gak mau sama manusia songong kayak gitu. Kalo lo mau dapetin Azril balik, usaha, dan ga usah nyalahin orang." Cukup sudah, Sania muak dengan ini. Padahal dia dan Azril tidak memiliki hubungan seperti itu.
"Maksud lu Azril emang udah ga suka gue gitu? Dia udah ga sayang gitu? Lu---" Fellin rasanya ingin mengobrak abrik rambut gadis di depannya.
"Tapi bukannya emang gitu ya Fell, faktanya Sania emang ga lakuin apa-apa, faktanya Azril lah yang salah. Azril yang mulai semua api ini, Sania cuma orang yang ga sengaja masuk ke dalamnya. Apa adil, kalo lo nyalahin dia." Tiba-tiba Erlan datang dengan kotak obat di genggamannya.
"Tapi karna dia Azril ngejauh dari kita!" Kekeuh Fellin.
"Bahkan sebelum Sania datang, bukannya Azril emang udah ngejauh dari kita. Kalian yang sekarang bukan mencari jalan keluar, kalian cuma mencari kambing hitam yang layak di permasalahkan, tanpa mengoreksi kesalahan masing-masing, kalian terus menyalahkan cewek ini karna kalian ga mau menyalahkan Azril sepenuhnya, dengan dalih, Azril bukan orang yang seperti itu." tambah Erlan.
...***...
__ADS_1