
...***...
Fellin menatap Sania benci, Sania yang ada tepat di depan Fellin tak dapat menghindari tatapan gadis manja itu. Meski begitu, Sania mencoba pura-pura tidak tau saja, dia tidak ingin terlibat masalah apapun dengan Fellin.
"Kenapa lo mesti di sini sih? Mending pindah deh, kan masih banyak tempat lain. Lo ga tau apa? Betapa jijiknya gue liat lo, mau muntah tau ga." sarkas Fellin langsung. Dia memang tidak suka Sania, dan dia juga tidak perlu pura-pura menyukai Sania. Fellin tidak suka, maka dia akan berlalu seperti itu. Salah memang, tapi mau bagaimana lagi? Dia memang sejak dulu di didik sebagai nona muda yang manja, yang segala keinginannya selalu terpenuhi.
"Lu emang terbiasa gitu ya? Ga pernah dengerin omongan orang? Di suruh jauhin Azril, malah semakin mendekat, di suruh jauhin kita malah makin ke sini." Tambah Cecil memanaskan suasana. Cecil yang biasanya lebih bijak kini ikut memberikan kritik pada Sania.
Sesak, Sania merasa sesak berada di dekat kedua gadis ini, seperti dia sedang dikepung oleh srigala-srigala yang menyeramkan.
Jlebbb! Dua orang yang mengatakan hal itu benar-benar menusuk hati Sania. Sania benar-benar terluka entah kenapa, mungkin dia merasa bersalah.
...Andai mereka tau yang sebenarnya......
Sania bangkit dari tempat duduknya, dia pindah ke pohon yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat Fellin bersandar. Jujur saja, angin sepoi-sepoi itu terasa sangat menyejukkan, membuatnya terlena hingga hampir tertidur.
"He, lu di suruh Azril cari air." kata Cecil yang sudah berdiri di depan Sania.
"Ha? Cari air? Di sekitar sini? Dimana? Ini hutan semua loh." Bantah Sania masuk akal. Tapi kalau mengingat bagaimana sikap Azril saat ini, dan bagaimana Azril memperlakukannya selama ini, menyuruh nya melakukan hal yang aneh-aneh, rasanya mungkin saja dia juga meminta Sania melakukan hal gila ini.
"Ya mana gue tau, lu masuk ke dalam hutan aja kali, mungkin aja ada air terjun."
Sania menatap Azril dari kejauhan. Dia sudah menyumpahi orang dingin itu.
"Oke gue bakal cari." Sania bangkit berdiri. Dengan jantung yang berdegub kencang, ia mulai memperdalam langkahnya masuk ke dalam hutan.
Cecil juga berdegub begitu kencang. Dia cukup khawatir bahwa ini terlalu ekstrim. Tapi dia sudah melakukan pencegahan.
"Kalian semua datang ke tempat yang ku beri tahu, 10 sampai 15 orang. Segera." titah Cecil pada anggotanya. Entah dari mana dia mendapatkan jaringan, mungkin beda kartu dengan milik Sania.
"Siap Nona,"
Cecil mematikan telponnya, dia menarik napasnya panjang untuk menenangkan hatinya.
__ADS_1
15 orang untuk mencari dan mengawasi Sania, gue rasa udah cukup. Dengan begitu, dia ga akan selamanya ada di hutan ini.
Cecil kembali melangkahkan kakinya ke tempat Fellin menunggu, dia berusaha berekspresi dan bertingkah laku senormal mungkin.
Sania sembari terus berjalan, masih saja mengumpat Azril. Siapa yang tidak kesal di suruh ambil air di tempat anta berantah ini, apalagi notabanenya hutan, dan tidak ada penduduk sama sekali.
Apa dia pikir kalo gue ga tau, bisa nanya monyet gitu. Ga habis thingking gue, ini lagi, air terjun mana, kolam kek apa kek
Ada yany aneh, tiba-tiba semuanya menjadi lebih gelap. Sania melihat ke atas! Mataharinya sudah tertutup dengan awan-awan hitam.
Ya Ampun! Mau hujan nih? Seriusan? Ga salah? Gua udah masuk ke hutan loh.
Pantes aja dari tadi banyak angin mulu, mau hujan toh. E-eh! Hujan? Hujan kan air, terus Azril mintanya air, jadi Hahaha!!!!
Sania dengan senyuman manis terlukis di wajahnya mulai berjalan kembali, dia yakin dia tidak akan tersesat, karna dia ingat betul bahwa dia hanya berjalan lurus tanpa belok, mengikuti jalan setapak itu.
Akhirnya bisa pulang dengan selamat.
Shhhhh
Namun langkah gadis itu harus terhenti karna ada ular kobra di depannya. Jantung Sania berdegub begitu kencang. Dia tidak pernah seketakutan ini sebelumnya. Tenggorokan nya sulit untuk bisa mengeluarkan suara. Kakinya seolah dihisap oleh lumpur, sangat sulit bergerak. Otak Sania ingin lari, namun dia tak mampu melakukannya, dia tidak bisa menguasai dirinya sendiri.
...***...
Mendadak hujan hadir, Fellin dan Cecil segera menuju mobil. Arga dan Azril sudah masuk mobil lebih dulu. Erlan melepas jaketnya, ia menghampiri Fellin cepat, menutupi kepala gadis itu dengan jaket.
Akhirnya mereka semua masuk dalam mobil. Tampak Fellin sedikit menggigil kedinginan.
"Itu rambutnya di keringin dulu," kata Erlan memberikan handuk kecil.
"Sania mana?" tanya Azril saat menyadari tak melihat Sania dimanapun. Azril menatap Fellin yang kedinginan dengan sinis. "Sania mana?!" Nada nya sudah cukup keras, dan Erlan sangat tidak suka itu. Gadis pujaannya di bentak seperti itu.
"Gue ga tau Sania di mana. Dia kan anaknya petakilan, mungkin masuk hutan." jawab Fellin seadanya.
__ADS_1
"Ga usah bohong sama gua! Ini pasti ulah lu kan!! Lu rendahan tau ga!! Manja dan beban!!" teriak Azril begitu kasar, dengan tatapannya yang melambangkan kemarahan.
Azril langsung keluar dari mobilnya, tidak peduli hujan deras hadir, bukan halangan untuk Azril mencari Sania. Teriakan Azril terus menggema di sana, nama Sania yang selalu di sebutnya. Raut wajah yang begitu khawatir.
Melihat itu membuat Cecil tidak jadi iba.
Bisa-bisanya dia bentak Fellin sekeras itu hanya karna Sania.
Fellin sudah menangis, hatinya sakit, untuk pertama kalinya Azril terlihat begitu marah pada Fellin, raut wajah marah bercampur khawatir itu masih terngiang di ingatan Fellin, suara kasar itu seolah masih menggema di telinganya.
Erlan mendekap gadis itu erat. "Ya udah sekarang lo ceritain, kan tadi Sania ada sama kalian, kok mendadak dia hilang?" tanya Erlan lembut, dengan satu tangannya merapikan rambut acak Fellin.
"Gu-gue beneran ga tau Lan, tadi pas dia gabung, emang sih dia gue usir. Pas gue liat, dia duduknya ga jauh-jauh amat dari kita. Terus gue ga ada perhatiin dia, gue ga tau apa-apa, gue beneran ga tau!" cerita Fellin dengan suaranya yang terisak.
Arga melihat ke arah Cecil. Cecil hanya menunduk, Ah Arga sekarang tau ini perbuatan siapa.
Erlan menepuk kepala gadis itu pelan. "Ya udah, sekarang lu di dalam aja oke, ga usah keluar lagi, gua mau nyari Sania dulu, kasian dia, hujan dingin dan di dalam hutan sendirian."
"Gue mau ikut!!" Usul Fellin.
"Ga usah yang aneh-aneh bisa ga? Udah diem di sini oke? Tunggu kita balik. Ayo Ar, kasian si Sania." Erlan melepas pelukannya. Dia keluar mobil di ikuti oleh Arga. Entahlah, Fellin merasa kehilangan kehangatan, ini seolah jauh lebih dingin dari waktu dia terkena hujan tadi.
"Salah sendiri masuk hutan terlalu jauh." Celetuk Cecil tampa ekspresi.
Fellin melihat hujan dari luar jendela.
Apa gue keluar buat bantuin ya? Semakin banyak yang nyari, semakin cepet ketemunya.
"Gak usah berfikir layaknya pahlawan yang keluar buat nyelametin orang, kalo lu keluar sekarang, yang ada orang hilangnya bakal jadi ada dua. Makanya lu di sini aja." Kata Cecil yang seolah bisa membaca pikiran Fellin.
Fellin hanya menatap Cecil sendu, dia hanya menatap hujan tanpa gairah.
Pastii rasanya ngeri banget, di hutan sendirian, gelap, terus hujan lagi. Kalo itu gue...
__ADS_1