
...***...
"Gimana liburannya? Seneng kan? Seneng lah, akhirnya Azril punya waktu buat putri kecil papa ini," sapa pak Gerald yang duduk di ruang tamu, menyambut putri kesayangannya yang baru pulang.
"Iyaaa pa, seru banget tau pa. Papa tau ga? Waktu pergi itu, mobil kami tuh mogok, untung aja bisa di perbaiki sama Azril, Erlan dan Arga. Tapi waktu mogok, terus hujan. Fellin mandi hujan deh, seru banget tau pa hujan-hujanan bareng mereka. Ya akibatnya Fellin sedikit pilek deh ini." Cerita Fellin dengan penuh semangat. Wajahnya dia kondisikan agar terlihat natural dan benar-benar bahagia.
"Kamu pilek? Mau ke rumah sakit? Atau kita panggil dokter?" pak Gerald mengukur suhu tubuh putrinya, memang sedikit hangat.
"Ga usah lah Pa, minta bibi buatin minuman herbal, Fellin udah biasa minum itu, dan akhirnya sembuh deh. Oh ya pa, bibi suruh anterin ke kamar ya, Fellin cape bangett nih abis perjalanan jauh."
"Duh, papa seneng banget liat kamu seneng dan antusias gini, akhirnya semangat putri papa balik. Papa pikir kamu ada masalah sama Azril, ternyata semuanya baik-baik aja, papa bener-bener seneng liat kamu senang." Pak Gerald menarik hidung putri kecilnya itu.
"Ya udah sana naik, istirahat, cape kan." Gerald mengelus lembut rambut putrinya.
Fellin hanya tersenyum dan mengangguk, senyumannya begitu hangat.
"Papa janji, bakal jaga kebahagiaan yang kamu miliki. Gak bakal papa biarin ada yang berani rusak kebahagiaan kamu, kamu satu-satunya putri papa, kehidupan papa dan kebahagiaan papa, segalanya buat papa itu adalah Fellin."
"Gak ada yang boleh ganggu, termasuk bocah itu. Jadi, sebelum semuanya terlambat, papa bakal singkirin bocah ituuuu. Tapi sebelum itu, papa harus menemukan bocah itu, lalu dengan terpaksa mengirimnya kembali pada yang maha pencipta,"
Gumam pak Gerald. Dia menatap ponselnya, ada sebuah foto bayi di sana.
"Kau harus di temukan, dan kau harus mati. Kau tidak boleh datang dalam kehidupan kami, dan merusak segalanya, Fellin ga boleh tau soal ini."
Pak Gerald menatap benci pada bayi itu, padahal itu hanya foto tapi kebenciannya terasa begitu menusuk.
***
...Fellin turun dari mobilnya. Ya, mobil yang dikendarai supir pribadi papanya. Sepanjang perjalanan di koridor, Fellin hanya diam, entah apa yang dia pikirkan. ...
..."Gimana ya? Caranya biar Azril bisa balik kayak dulu, gimana caranya buat Azril balik dalam pelukan gue?" Sania mengetuk-ngetuk keningnya menggunakan jari telunjuk. Berharap sebuah ide brilian muncul. ...
Tapi lamunan itu harus terhambat, karna Fellin melihat mobil Azril. Sungguh, hati Fellin terasa tercabik-cabik setiap Azril turun bersama Sania. Ah, sepertinya itu tak kan terjadi pagi ini, karna pagi ini Azril hanya turun sendirian.
Mana cewek kampung itu? Apa kakinya masih sakit ya?
__ADS_1
Fellin menghampiri Azril.
"Azrill, mau ke kelas kan? Bareng gue ya," sapa Fellin dengan senyuman manis yang tak pudar dari wajahnya.
"Ogah, gua mau ketemu pak Wiz, buat bilang keadaan Sania. Dan lu! Ga usah ngikutin gua, gua risih." sarkas Azril begitu saja, seolah dia bisa tau bahwa Fellin akan mengikutinya, bahkan setelah ia menolaknya.
Fellin memegangi dadanya, entah kenapa ini semakin lama semakin sesak. Hatinya terasa seperti sedang di iris.
Tiba-tiba sudah ada yang menarik kerah baju Fellin dari belakang, seolah menarin anak kucing jalanan.
"Erlan! lo?!" teriak Fellin mencoba menepisnya.
"Iya gua, kenapa? Ada masalah?" Erlan terus saja melangkah.
Hadeh Fell, Fell.
...***...
Bel istirahat sudah berbunyi, Azril langsung pergi dari kelas begitu saja, bahkan sebelum Arga menawarkan untuk bergabung.
"Ya udah lah, ga usah terlalu maksain diri gitu." kata Cecil menepuk pundak sahabatnya itu.
Fellin pulang ke rumah dengan lesu, dia mengambil boneka kesayangannya, memeluknya hangat. Boneka beruang berwarna pink, hadiah dari papanya.
"Gimana ya? Cara buat Azril balik? Tanpa gue harus move on dari dia? Kenapa juga sikap Azril berubah?" Fellin benar-benar sudah kehabisan ide.
"Sayang? Kenapa belum turun buat makan?" tiba-tiba pak Gerald sudah ada di pintu, dia berjalan mendekati putrinya dengan membawa nampan berisi makanan.
"Eh papa, udah pulang? Fellin lagi males makan pa,"
"Anak manja papa ada masalah kah? Kok Fellin ga kayak biasanya?" tanya Pak Gerald penuh selidik.
Fellin langsung menampilkan senyuman termanisnya. "Ga ada pa, Fellin ga ada masalah apa-apa kok. Semuanya baik, cuma lagi males aja, papa tau kan Fellin pilek." bantah Fellin selembut mungkin.
"Ya udah, kalo gitu kamu sekarang makan ya."
__ADS_1
Sekarang anak papa yang satu ini udah makin dewasa ya, mencoba nyembunyiin masalahnya dari papa. Tapi..., sialan! Siapa yang berani buat Putri Gerald Skylira seperti ini!
...***...
Malam itu Pak Gerald masih menatap layar laptopnya. Dia masih setia di ruang kerjanya.
Tok tok tok
Pintu di ketuk, tak lama masuk seseorang. Ah, dia adalah salah satu orang kepercayaan pak Gerald.
"Menurut hasil penyelidikannya saya. Tuan muda Azril sudah memperlakukan nona muda dengan begitu kasar. Ada kabar burung di sekolah, bahwa Tuan Azril dan Nona Fellin sudah putus, itu karna Sania." lapornya sesuai data yang ia dapat.
"Sania? Siapa dia?" Pak Gerald menaikkan sebelah alisnya.
"Dia adalah murid baru di sekolah itu."
"Dari keluarga bangsawan mana? Berani-beraninya dia mengganggu kebahagiaan Putri ku, Nona muda Skylira."
"Maaf Tuan, saya rasa dia bukan dari keluarga bangsawan manapun. Menurut informasi nya, Sania adalah pembantu yang dipekerjakan di rumah keluarga Maheswara."
Pak Gerald mencoba mengerti situasinya. "Bisa di simpulkan, Azril sudah menyukai gadis itu, maka dari itu dia menyekolahkan pembantu itu di sekolah bangsawan, begitu?"
"Bisa jadi begitu tuan," jawab pria itu.
Gerald mengepalkan tangannya erat. Siapapun akan tau betapa marahnya dia, kalau ini sudah menyangkut kebahagiaan putri tunggal nya. Apapun akan ia lakukan, demi kebahagiaan putrinya, karna Fellin adalah dunianya.
"Berani sekali, berani sekali mereka mempermainkan putri ku. Putri kecil ku, harus bersedih karena meraka. Tak kan ku biarkan mereka hidup dengan tenang, saat mereka sudah menghancurkan kebahagiaan putri ku. Kau, dengarkan dan laksanakan rencana ini."
Pak Gerald menjelaskan rencaba yang tiba-tiba ada di pikirannya. Berharap rencana ini berjalan dengan baik, dan Fellin akan kembali mendapatkan Azril dan kebahagiaannya.
Setelah menyusun rencana itu, orang kepercayaan Gerald keluar dari ruang kerjanya. Gerald menyandarkan badannya pada kursi itu.
"Azril? Apa yang terjadi? Apa kurangnya Fellin di banding pelayan rendahan itu? Kenapa malah meninggalkan Fellin demi pelayan itu?"
...***...
__ADS_1