Nona Antagonis

Nona Antagonis
Fellin itu Dunia ku


__ADS_3

***


Deg,


Pipi Fellin merona panas. Jantungnya berdegub lebih kencang.


Kalo di ingat-ingat, sadar atau ga sadar, Erlan sering nyium kening gue kan? Dari dulu?


Semakin di sadari, dan semakin di ingat, pipi Fellin semakin merona, jantungnya bahkan berpacu lebih cepat lagi.


Fellin menarik napasnya, dia mencoba mengatur dirinya sendiri.


"Fellin? Lo? Di sini ngapain? Sendirian?" Tanya seseorang dari belakang Fellin.


Fellin menoleh ke belakang, dia kenal gadis yang memakai hoodie putih ini. "Sania?"


"Oh gue jalan-jalan aja sih, olahraga." Sahut Fellin seperlunya.


"Sendirian? Cecil mana?"


Fellin menggedikkan bahunya. "Gue ga tau Cecil, tapi gue sama Erlan, dia lagi ada urusan sebentar. Lo mau kemana?"


"Toko roti di depan sana." Katanya.


Pembicara hening sejenak.


"Ya udah gue kesana dulu ya." Sania melanjutkan jalannya.


"Gimana keadaan lo sama Azril?" tanya Fellin yang mampu menghentikan langkah Sania.


"Oh itu, Azril udah ga tinggal serumah sama gue. Dia pindah ke sebuah apartemen, tapi masih sering makan bareng kok."


"Oh baguslah, ya udah lo jaga semuanya baik-baik. Soalnya kalo udah hilang, baru terasa berharga. Dan satu lagi, gue tau lo suka sama Azril kan. Kalo kalian mau jadian, ya jadian aja, lo ga usah ngerasa ga enak sama gue. Toh gue juga udah ikhlas, gue udah lepasin Azril. Kalian saling cinta jadi kenapa ga bersama? Padahal kalian bisa? Kalian bukan saudara." Kata Fellin menatap mata Sania serius.


Sania tersentak takjub, Fellin saat ini sangat berbeda dari Fellin biasanya. Dia lebih dewasa mungkin? Hatinya jauh lebih lebar?


"Ada apa? Mendadak lo--? "


"Gak ada apa-apa sih, cuma gue tau hubungan yang di paksakan itu, akhirnya ga akan membahagiakan, dan melepaskan juga ga seburuk itu. Akhir-akhir ini gue tau, kekayaan yang bokap gue punya, ga menjamin gue bisa dapetin segalanya. Berekspetasi terlalu tinggi itu juga bukan hal bagus. Ya Erlan pernah bilang, kalau mau dewasa harus terima realita, meskipun rasanya asam dan pahit. Ya gitu deh." Kata Fellin menatap langit, matanya terlihat begitu murni. Sania benar-benar takjub akan gadis ini.

__ADS_1


Fellin udah dewasa? Engga, dia lebih--ah ga tau deh gimana nyebutnya, tapi Fellin yang sekarang? Dia..., bukan! Fellin emang perempuan yang baik dari dulu.


"Ga deh, yang paling layak sama Azril itu lo, bukan gue."


"Tapi guenya udah ga mau sama Azril. Ga tau, ga ada niatan buat balikan."


"Tapi lo masih sayang kan?"


Fellin diam, jauh di dalam lubuk hatinya dia sadar benar akan hal itu, kalau dia masih menyayangi Azril. Fellin berusaha menghilangkan rasa itu, tapi dia gagal.


Sania diam terpaku, dia sadar perkataannya kali ini sepertinya sudah menyapa bagian sensitif hati Fellin.


"Ah ya udah deh, gue jalan duluan ya, ntar kesiangan." Kata Sania melanjutkan jalannya. Fellin hanya tersenyum sebisanya.


Fellin ya? Sejak temenan sama Erlan dan stop bucinin Azril? Dia jadi lebih dewasa? Jujur, gue iri, kalo gue di posisi dia, apa bisa sehebat dia?


Tiba-tiba Sania merasa sedih.


Gue jadi bener-bener ngerasa bersalah, karna Azril udah suka gue. Dan---


Tiba-tiba ada yang menarik tangan Sania! Ternyata tanpa Sania sadari sudah ada Fellin yang mendorongnya, Sania tidak tau kalau dia melamun dan hampir tertabrak truk, untung ada Fellin yang menyelamatkannya, tapi sebagai gantinya, Fellin lah yang harus mengalami kecelakaan itu.


Sania diam terpaku, dia menatap Fellin yang terbaring berlumuran darah, bajunya sudah berganti warna. Wajah Fellin sudah tertutupi oleh darah, darah mengucur deras dari kepala gadis cantik itu.


Badan Sania gemetar, air matanya mengalir begitu saja.


"Mbaknya kenapa sih? Mbak tau dari tadi udah di panggilin sama mbak itu, tapi malah ngelamun aja!" Kata seorang pria yang memperhatikan.


Jadi sedari tadi Fellin udah manggilin Gue?


"Mbaknya kalo ngelamun jangan di jalan, kasihan tuh yang nyelametin."


Sania terduduk lemas, dia menatap Fellin.


Fellin ngorbanin dirinya sendiri demi nyelametin gue.


"FELLINN!!!" teriakan itu datang dari dua orang pria yang sudah berlari begitu kencang. Mereka mendekat ke arah tubuh Fellin yang berlumuran darah.


Fellin masih membuka matanya, pandangannya buram melihat Sania yang terduduk lemas penuh air mata. Fellin merasa lega gadis itu baik-baik saja.

__ADS_1


Gue udah lindungin sumber kebahagiaan lo Zril. Ternyata gue masih sayang banget ke lo.


Jangan pergi kemana-mana, diam di sini sampe gua balik!


Tiba-tiba Fellin mengingat kata-kata itu, yah milik Erlan.


Sorry Lan, gue ga bisa diem.


Dalam pandangannya yang hampir gelap, Fellin bisa melihat Azril dan Erlan yang semakin mendekat.


"Fell!! Fellin!! Lo bakal baik-baik aja, gua lakuin segalanya!!!"


Azril dan Erlan segera membawa Fellin ke rumah sakit.


...***...


Fellin di bawa ke ruang ICU. Mereka bertiga menunggu di depan ruangan Fellin.


"Gimana bisa terjadi? San? Lu di sana kan? Gimana mungkin Fellin bisa kecelakaan?" tanya Azril, menatap mengerikan kepada Sania.


"Itu salah gue, salah gue, gue harusnya ga ngelamun pas di jalan. Gue... Gue yang salah..., " Sania menangis sejadi-jadinya. "Fellin celaka demi ngelindungin gue, harusnya gue yang ada di dalam sana sekarang. Gue!! Gue jahat!!!"


"Diem lu berdua!!!! Diam gua bilang!! Fellin gua lagi berjuang di dalam sana!! Jangan berisik!!!" Kata Erlan dengan penuh amarah, matanya memancarkan kemarahan juga kekecewaan.


Sania langsung terdiam, ini pertama kalinya dia melihat Erlan semarah ini.


Tampak Gerald berlarian di lorong bersama dengan pengawal pribadinya.


Bukhhh!!


Gerald langsung menghajar Erlan kuat. Tampak wajah Gerald begitu tegang, matanya....? Matanya sudah banjir akan air mata.


"Saya tidak terima alasan apapun! Bukan kah kamu yang berjanji untuk menjaga Fellin! Tapi kenapa sekarang? Kenapa sekarang Fellin ada di dalam sana!!!" Teriak Gerald frustasi. Rambutnya sudah acak, kondisinya benar-benar sudah buruk.


Erlan diam saja, dia tidak tau harus mengatakan apa, begitulah faktanya. Erlan berjanji untuk menjaga Fellin, tapi apa? Dia gagal saat ini.


"In--" Sania baru saja ingin membuka suaranya, mengatakan bahwa semua adalah salahnya, namun dengan cepat Azril menghentikannya.


Azril menggeleng menatap Sania. "Diam." Azril tau jelas bagaimana sifat Gerald, dan bagaimana Gerald akan memperlakukan Sania, kalau sampai dia tau kondisi putri tercintanya saat ini adalah karna dirinya.

__ADS_1


"Fellin..., Anak ku, dunia ku...," Gerald terduduk lemas, dia bersandar di dinding, kondisinya benar-benar menyedihkan. Tampak wajahnya begitu memilukan, tidak akan ada yang mengerti bagaimana perasaan sosok Ayah itu saat ini.


...***...


__ADS_2