Nona Antagonis

Nona Antagonis
Kenapa?


__ADS_3

...***...


Pagi itu matahari sudah naik, namun Fellin belum bangun. Sebenernya kesadarannya sudah kembali, hanya saja dia malas untuk bangkit. Terlihat matanya sedikit bengkak, bekas air mata yang terlihat di pipinya. Ah, tampaknya gadis cantik satu ini sudah menangis semalaman.


Hatinya masih terasa sesak, ingatan kemarin masih tersimpan jelas di otaknya. Setiap kali dia menutup mata, hanya ingatan itu yang bisa ia lihat.


Fellin bisa merasakannya, badannya panas, dia benar-benar merasa lemas.


"Sayang, kok belum bangun? Kamu kenapa?" Suara hangat itu hadir beriringan dengan pinta yang terbuka. Tanpa melihat wajahnya, Fellin kenal dengan suara itu.


"Papa...," lirihnya dengan suara yang sedikit serak.


Melihat putrinya tengah meringkuk lemas, pak Gerald langsung menghampirinya. Ia merasakan suhu putrinya, panas, wajah pak Gerald semakin khawatir saat melihat wajah pucat dan bibir anaknya yang memucat.


"Patih!! Pat!!! Kemari cepat!" teriak pak Gerald, asisten setianya Patih segera hadir dengan sigap.


"Cepat panggil dokter pribadi saya, cepat! Nona Fellin sedang sakit, beritahu semua pelayan untuk menyiapkan buah, tidak ada yang boleh berisik!" Kata Gerald dengan raut wajah yang begitu takut. Dia tidak bisa melihat putri tercintanya dalam keadaan begitu.


Memang begitulah dari dulu, kalau Fellin sampai sakit maka yang akan sibuk adalah satu rumah itu. Pak Gerald juga selalu berlebihan walau Fellin hanya terluka sedikit.


Fellin tak ingin mengatakan apapun, dia membiarkan papanya melakukan segala yang dia suka. Gerald duduk di sebelah putrinya, dia mengompress kening gadis itu. Siapapun yang melihat kondisi pak Gerald saat ini, akan tau betapa dia mencintai putrinya, putri satu-satunya adalah dunianya.


"Tunda semua rapat, saya tidak peduli walau kita akan kehilangan miliyaran uang." begitulah titah pak Gerald kepada seseorang di sebrang telepon sana.


...***...


Pagi ini Sania sudah menunggu Azril di teras. Dia sama sekali belum berbicara dengan Azril pada saat itu.


Azrol sialan! Bisa-bisanya kemarin dia nangis gitu! Itu pasti siasat dia bir gue ga marah dan nuntut dia pasti.


Sania memanyunkan mulutnya kesal, tentu saja, siapa yang tak kesal saat uang 500 juta itu akan hangus begitu saja.


Tapi perasaan waktu itu, apa ya?

__ADS_1


Sania memegangi dadanya, rasanya dia ingin mengulang saat-saat kemarin. Entah kenapa, dia ketagihan oleh debaran itu.


Lamunan Sania buyar oleh sosok Azril yang baru keluar. Tiba-tiba jantungnya berdegub lebih kencang lagi. Entah Sania baru sadar atau begimana, tapi saat ini Azril benar-benar terlihat tampan.


Sania baru saja ingin membukakan pintu, namun Azril sudah membukanya sendiri. Azril menarik Sania masuk, yang artinya Sania akan duduk di sebelah Azril, tidak seperti biasanya di depan bersama supir.


"Lu babu kan? Nah lakuin tugas lu sebagai babu." Azril memberikan Sania sebuah dasi. Tentu saja Sania langsung mengerti. Meski cara ngomongnya selalu ga enak, tetap saja bos is bos.


"Apa susahnya bilang dengan bahasa yang lembut." sembari memasang wajah muram, Sania tetap memakaikan orang itu dasi.


Entah apa yang Azril pikirkan, dia menatap Sania dengan lembut. Tangannya seolah bergerak sendiri, merapikan rambut Sania yang berserakan.


Deg


Sania diam, padahal dia sudah mencoba untuk menahan deguban itu. Tapi, karena satu tindakan Azril ini, mengundang kembali deguban itu.


"Ingat ya babu, lu itu babu gua. Jangan pernah terima tawaran Fellin lagi, gua udah janji bakal biayain pengobatan nenek lu, dan bakal gua tepatin. Lu ga usah khawatir."


"Apa sesusah itu bilang tolong?"


...***...


...A...


zril dan Sania memasuki kelas mereka, tampak Cecil, Arga,  dan Erlan sudah berkumpul di sana. Sayangnya mata Azril tak melihat adanya gadis manja itu disana.


Cecil menatap Azril sinis, begitu juga menatap Sania dengan penuh kebencian.


Tumben banget Fellin telat? Ga kayak biasa?


Sania duduk di bangkunya. Tidak lama bell berbunyi dan pelajaran pertama di mulai. Sudah dua jam berlalu, dan Fellin masih belum kelihatan.


"Cel, Si Fellin kemana? Ke  Swiss lagi ngadem?" tanya Azril membuka pembicaraan. Pertanyaan itu sontak mengalihkan perhatian satu kelas, mereka cukup terkejut tentunya. Soalnya kan Azril selalu dingin ke Fellin, dan sama sekali ga peduli.

__ADS_1


"Lho kok peduli?" Sahut Cecil dengan suara dinginnya.


"Ga usah main-main deh Cel, gua males, ga usah bertingkah kayak Fellin, langsung ke intinya aja, cewek manja itu kemana? Kenapa dia ga masuk?"


"Bukan urusan lu, lu urusin aja cewek baru lu itu. Ga usah lagi ngurusin Fellin, ga usah peduli, ngerti?!" Cecil bangkit dari kursinya, dia pergi keluar. Mungkin dia malas melihat Azril.


"Ar? Fellin mana?" mata Azril beralih pada Arga.


"Dia sakit, demam tinggi kata bokapnya, ga bisa jalan, pucat parah sih."


Deg


Azril langsung terdiam. Dia mengingat semua perilakunya pada Fellin saat itu. Kaki Azril sudah sangat ingin berlari saat ini untuk menemui Fellin, memastikan keadaan gadis itu.


Gak! Paling dia cuma demam, apa yang harus di khawatirin, toh pasti bokapnya udah sediain dok--


Azril tidak tahan lagi, dia langsung berlari begitu saja. Namun ada Erlan yang menghalanginya.


"Lu mau apa? Nemuin Fellin? Terus buat dia nangis lagi? Lagi dan lagi? Terus menerus gitu? Zril, tolong kasihani Fellin. Biarin hari ini dia ga liat muka lu, tolong jangan buat dia nangis buat hari ini." Kata Erlan menepuk pundak Azril.


"Paan sih lu, ga usah sok tau deh. Siapa juga yang mau jenguk cewek manja itu, toh dia paling cuma demam biasa, gua mau ke mobil, hp gua ketinggalan, minggir deh. " Azril menepis tangan Erlan dan langsung berjalan pergi.


Sania hanya diam mematung, entahlah ada bagian dihatinya merasa sesak mendengar gadis imut favoritnya sakit.


"Dan juga buat lu, gua mohon ke depannya kurang-kurangi dekat sama Azril. Gua cuma pengen Fellin ga nangis lagi," Erlan berlutut di depan Sania.


Sania kembali mengingatnya, sudah sati bulan sejak kedatangannya ke sekolah ini, dan Sania tau jelas hampir setiap hari Fellin menangis karna Azril.


Fellin..., apa gue harus kasih tau ke mereka kalo sebenernya Azril ga seperti yang mereka pikirin. Azril juga peduli banget sama Fellin, mungkin kalo mereka tau, mereka punya jalan keluarnya, mereka kan sahabatnya Azril dari kecil.


"Ga usah salahin Sania, ga usah ngatur-ngatur dia. Kalo pun Fellin sakit, itu karna emang dia ga bisa jaga diri. Gua kasih tau ke lu, jangan usik Sania." Tiba-tiba Azril kembali dan langsung membawa Sania pergi dari sana.


Entah apa yang terjadi pada Azril. Azril menggenggam tangan Sania erat, bahkan beberapa kali gadis itu meringis kesakitan.

__ADS_1


"Kenapa? Kenapa lo bawa gue? Kan ga ada Fellin, ga ada yang bakal nyakitin gue. Toh Erlan juga ga main kasar ke gue, dia malah minta tolong ke gue."


...***...


__ADS_2