Nona Antagonis

Nona Antagonis
Fellin POV


__ADS_3

...***...


Malam itu tanpa pikir panjang aku melompat dari lantai atas, aku tidak tau harus bagaimana, yang aku pikirkan hanyalah aku ingin hidup bersama dengan Azril. Aku merasa Azril adalah dunia ku. Azril adalah cinta pertama ku, yang aku kira akan menjadi cinta terakhir ku juga.


Jadi, karna Azril mengatakan mencintai wanita lain, aku tidak bisa terima! Apalagi di depan mata ku sendiri dia mencium tangan gadis lain, aku tidak bisa! Lalu aku memutuskan melompat tanpa pikir panjang. Aku hanya tau Azril ku sudah pergi dan hidup ku berubah hampa, tidak ada gunanya lagi hidup, itu terlalu menyakitkan.


Aku pikir semuanya telah berakhir, tapi dia..., orang itu yang selalu ada untuk ku, sejak kecil sampai saat ini, dia menangkap tangan ku. Aku bisa melihat wajah Erlan, dia tampan dan aku baru mulai menyadarinya, tatapanya begitu tajam, aku baru tau kalau dia bisa sekeren itu. Dia menggenggam tangan ku dengan begitu erat, seolah tak kan melepaskannya meski gempa bumi terjadi.


Tapi, aku sudah kalah, hati ku sudah begitu hancur, aku rasa aku tidak ada alasan untuk hidup. Sampai Erlan menyadarkan aku, bahwa alasan ku untuk hidup adalah Papa.


Aku mengingatnya lagi, Papa! Benar,  papa segalanya untuk ku. Kalian tau? Aku tidak pernah kekurangan apapun karna papa, bahkan kasih sayang mama, aku juga tidak kurang. Meski mama sudah meninggal,


Papa itu orang hebat yang sibuk bekerja, tapi sejak kecil dia selalu punya waktu untuk ku. Tidak peduli sepenting apapun rapat itu, menghasilkan berapapun itu, kalau aku kecil sudah menangis, maka papa akan pulang.


Mungkin orang lain melihat ku sebagai putri manja yang berlimang harta. Aku di manja karna aku di belikan apapun yang aku mau, tidak! Itu salah besar! Bukan hanya harta, aku berlimang kasih sayang! Kasih sayang papa sudah membanjiri kehidupan ku hingga rasanya jika tidak mendapat cinta dari orang lain, aku rasa tidak masalah.


Orang yang mencintai ku begitu besar? Cinta tanpa syarat yang dia berikan? Tidak! Aku tidak tega untuk meninggalkan orang berharga itu. Aku meminta Erlan untuk menarikku.


Aku menangis dalam pelukan Erlan saat itu, bukan karna Azril dan Sania. Aku marah malam itu! Bukan pada mereka, tapi pada diri ku sendiri. Aku tidak tau sejak kapan, tapi aku menjadi sangat egois, bagaimana bisa aku meninggalkan papa? Aku memeluk papa saat aku sudah turun di bawah. Kehangatan itu, aku bisa merasakannya, kasih sayang yang tak terbatas miliknya.


Erlan mengantar ku sampai ke kamar, aku bilang aku ingin sendirian lebih dulu, dan mereka berdua keluar dari kamar ku.


Entah sudah berapa kali aku menampar diri ku sendiri, aku benci, aku marah aku kecewa, bukan dengan orang lain. Tapi dengan diri ku sendiri, aku merasa malu. Kenapa aku bisa sebodoh itu?


Aku menyesal, sangat menyesal bahwa aku pernah berfikir untuk meninggalkan Papa. Aku menangis sejadi-jadinya.

__ADS_1


Meski aku tidak akan hidup untuk diri ku sendiri, aku bisa hidup untuk papa, dan papa hidup untuk ku.


Aku tidak tau sebesar apa kasih sayang papa, yang jelas bahkan papa tidak marah di pagi harinya, bahkan saat kemarin malam aku hampir membunuh diri ku.


Erlan! Aku sungguh-sungguh berterima kasih padamu, kau yang menyelamatkan aku dan memberi ku pencerahan. Tapi aku tidak akan mengatakannya langsung pada Erlan! Nanti telinganya bisa naik.


Aku memutuskan untuk berhenti sekolah selama satu minggu, ya, aku rasa aku bisa menenangkan diri dalam waktu singkat itu.


Memang terkadang aku mengingat Azril, kenangan masa kecil dan SMP itu begitu membahagiakan, sayangnya itu tidak berjalan sampai SMA.


First love memang sangat berharga, tapi jika tidak di restui oleh semesta aku juga bisa apa.


Dulu aku berfikir bahwa orang yang paling Azril cintai adalah aku, meski dia menjauh aku pikir itu ada alasannya. Jika di pikir-pikir lagi saat ini, apapun alasan dia menjauh aku tidak peduli. Jika dia memang percaya padaku, harusnya dia menceritakan masalahnya dan kami bisa menyelesaikannya bersama-sama.


Aku memaksa hati ku untuk Menerim kenyataan bahwa Sania sudah menggeser posisi ku. Untuk mendesak Sania juga tidak berguna.


Aku tau Sania dan Azril saling mencintai. Aku tau itu, tatapan Azril pada Sania, sama saat dia menatap ku dulu. Cara Azril memperlakukan Sania? Ah sudahlah.


Cukup sudah, aku tidak ingin bodoh lagi. Oh ya, saat dalam pelukan Erlan dia membisikkan satu hal, yang menjadi pertimbangan ku. "Jika memisahkan dua orang yang saling mencintai, lu bakal jadi antagonis beneran loh."


Dan...,  damn! Tapi aku belajar menerimanya. Pertama yang aku lakukan bukan mengikhlaskan Azril, tapi adalah melupakan kenangan masa kecil kami.


Meski aku masih memikirkannya, aku sudah berniat melupakannya, aku rasa aku bisa.


(Fellin POV selesai)

__ADS_1


...***...


Fellin berjalan masuk ke dalam rumahnya, dia melihat papanya yang sedang marah-marah dengan beberapa anak buahnya.


Apa papa mau kasih pelajaran sama keluarga Maheswara? Engga! Papa ga boleh lakuin itu, toh gue juga udah baik-baik aja.


Fellin berjalan mendekat, dia ingin memanggil papanya, namun dia mendadak berhenti.


"Apa susahnya hanya mencari bocah itu! Bertahun-tahun apa saja kerja kalian sampai tidak bisa menemukan bocah itu!! Dia hanya bocah berusia 17 tahun! Mau kemana dia lari?!" Teriak Gerald penuh amarah.


Mendengar itu Fellin langsung bersembunyi di balik tiang, dia mengurungkan niatnya menemui Gerald.


Papa bukan mau gangguin keluarga Maheswara. Papa mau cari bocah itu? Kalo ga salah papa sering banget marah-marah karna bocah itu, apa sampe sekarang bocah itu belum di temuin? Kenapa papa semarah itu? Siapa bocah yang papa maksud?


Fellin melihat lagi, anak buah papanya sudah pergi.


Brakkk!!


Gerald melempar vas bunga itu emosi. "Bocah sialan!! Kenapa kau harus hidup di dunia ini!! Matilah!!! Kau hanya jadi beban dan benalu dalam hidup ku!!"


Fellin begidik ngeri, dia tau papanya sangat mengerikan. Tapi dia tidak tau kalau papanya separah itu, karna di depan Fellin, berkata kasar saja Gerald tidak bisa.


Jantung Fellin berdegub begitu kencang, dia sedikir gemetar, dia tidak tau tapi perasaan itu sangat tidak nyaman. Dia seolah baru melihat sisi lain Papanya.


Apa papa mau bunuh orang? Apa kesalahan orang itu sampe papa mau bertindak se ekstrim itu? Apa gue tanyain ke Papa? Tapi papa ga bakalan ngaku.

__ADS_1


"Loh Fellin? Udah pulang? Kapan? Gimana sekolahnya?"


...***...


__ADS_2