
***
Fellin melihat hujan dari luar jendela. airnya mengalir dari kaca jendel mobil itu, hatinya tidak tenang, dia merasa tidak nyaman, bukan perasaan liburan seperti ini yang dia inginkan. Padahal Fellin ingin liburan yang santai, yang menyenangkan agar bisa membangkitkan kenangan dan rasa cinta Azril lagi pada dirinya.
Tapi, entah kenapa tiba-tiba petaka seperti ini malah datang.
Apa gue keluar buat bantuin ya? Semakin banyak yang nyari, semakin cepet ketemunya.
Batin Fellin, dia bersiap ingin keluar, jari jemarinya sudah nyaris membuka pintu mobil itu.
"Gak usah berfikir layaknya pahlawan yang keluar buat nyelametin orang, kalo lu keluar sekarang, yang ada orang hilangnya bakal jadi ada dua. Makanya lu di sini aja." Kata Cecil yang seolah bisa membaca pikiran Fellin. Ah, tidak heran, Cecil benar-benar pawangnya Fellin.
Fellin hanya menatap Cecil sendu, apa yang Cecil katakan memang ada benarnya. Dia yang lemah, tidak bisa bela diri, manja dan pelupa, tampaknya tidak akan bisa membantu, dan hanya bisa menunggu saja. Jika dia gegabah, maka masalah yang ada malah akan semakin runyam.
Kalo gue keluar, terus hilang, malah bakal jadi nambah benan kan?
Fellin hanya menatap hujan tanpa gairah. Dia harap gadis itu segera ketemu, dia harap Sania segera kembali. Meski benci pada Sania, meski Fellin berharap Sania hilang dari pandangannya, tapi tetap Fellin tidak berharap Sania menghilang selama-lamanya dari dunia ini.
Pastii rasanya ngeri banget, di hutan sendirian, gelap, terus hujan lagi. Kalo itu gue...
Fellin menggelengkan kepalanya. Dia langsung turun dari mobil itu, ikut untuk mencari Sania. Dia membayangkannya, ketakutan akan sendirian dan kesepian ditengah hutan antah berantah itu, setidaknya Fellin ingin membantu.
"Fell!! Fellin masuk Fell! Itu hujannya deras! Fell!! Astaga bocah ini!" Panggil Cecil keras. Namun Fellin sama sekali tak memperdulikannya, dia hanya berjalan terus.
Tanpa membuang waktu lagi, Cecil langsung keluar mengikuti Fellin.
Kalo itu gue yang hilang, pasti papa, keluarga maheswara, keluarga Marvyn dan yang lainnya bakal ngerahin seluruh orang-orangnya. Jadi meskipun gue hilang, gue bakal tetap di temuin. Kalo ga di temuin juga, ada papa yang siap meratakan hutan ini.
Fellin terus berlari sembari merangkul tubuhnya sendiri. Di sisi lain Cecil melihat kanan kiri, dia sama sekali tak melihat adanya Fellin. Dia kehilangan jejak gadis itu.
"Cewek kampung!! Cewek kurang ajar!! Dimana lo!!!" teriak Fellin sepanjang jalan, dia mencoba mengingat jalannya.
Fellin berhenti sebentar, dia menarik napasnya, gadis itu sudah menggigil kedinginan.
"Fell..., tolongin gue!" Teriak seseorang. Entah darimana itu. Fellin berusaha untuk mencari sumbet suara, saat dia kenal itu suara Sania.
"Teriak tuh sambil nyebutin tempat bisa ga sih?!"
"Di lubanggggg, lubang jebakannn pemburu!!"
Mendengar itu, Fellin melihat kanan kiri, dia maju selangkah demi selangkah, pandangnnya lurus ke depan, fokus kanan kiri.
"Stopp Fell!!!"
Fellin melihat ke asal suara, itu adalah suara Sania yang masuk ke dalam lubang. Hampir saja Fellin masuk ke dalam lubang yang sama jika tidak di hentikan oleh Sania.
__ADS_1
"Lo kok bisa di sana sih? Ngapain coba?"
"Gue ta--"
"Diem deh, gue cari pertolongan dulu."
Fellin melihat kanan kiri di sekitarnya. Dia ga tau harus berbuat apa, dia bukan gadis petualang soalnya.
"Fell, di sekitar sini ada pohon pisang ga?" tanya Sania yang kelihatan sudah mulai tenang, tidak seperti tadi yang begitu panik.
"Ntar dulu, gue cari." Fellin melihat kanan kiri, akhirnya dia menemukan pohon pisang.
"Nah, coba ambil daun yang agak tua, warnanya agak kecoklatan gitu. Lo ambil, kita jadiin tali, lo tarik keluar gue."
Fellin mengerti, benar saja dia mengambil daun yang sudah agak tua, dengan sekuat tenaga menarik Sania keluar. Akhirnya Sania bisa menghela napas lega saat dia sudah sampai di atas sana.
"Thanks ya Fell, un--"
"Lagian lo kok bisa masuk ke situ. Gue tau jalan pake kaki, cuma tolong kerja sama juga pake mata."
Sania hanya bisa menampilkan senyuman datarnya.
Sadar diri neng, lo juga kalo ga gegara gue peringatin bakal tetep jatuh.
Tapi..., Fellin rela hujan-hujanan demi nyari gue? Serius? Si nona muda kaya dan manja ini?
"Oh iya, lo kenapa nyariin gue?"
"Ga perduli sih, jangan mikir gue nyariin lo gegara khawatir atau kasian sama lo, gue cuma..., cuma pengen berduaan bareng Azril, iya berduaan doang!" Alasan Fellin dengan suaranya yang sedikit gagu.
"Berduaan? Tapi gue liatnya lo sendirian di sini." goda Sania. Melihat Fellin yang gagu ternyata asyik juga.
"Bacot tau ga! Udah di tolongin malah ngelunjak, serah lo deh." Fellin berjalan kembali,
Sania mencoba menahan taranya juga ikut berjalan.
"Aa-awww, shhh."
Fellin melihat kebelakang. "Lo kenapa?" Terlihat kaki Sania berdarah. "Lo udah di gigit ular? Ular apa?" Fellin menghampiri Sania.
"Ga kok, bukan ular, kaki gue terkilir terus kena apa gitu sampe berdarah."
"Lo bisa jalan?"
Sania mengangguk. Fellin membantu Sania berdiri, hanya saja benar dugaan Fellin bahwa Sania tidak bisa berjalan dengan baik. Fellin mencoba memapah Sania di tengah derasnya hujan.
__ADS_1
"Kenapa lo baik sama gue?"
"Diem deh, kalo lo ga diem, abis kaki lo sembuh gue suruh salto sambil makan popmie."
Sania ingin tertawa, namun dia tau itu tak kan membuat Fellin bahagia. Jadi Sania hanya menahan senyum sebisanya.
Siapa yang tau Fellin punya sisi kayak gini?
...***...
"Lan? Lu pada liat Fellin ga?" tanya Cecil dengan napas yang tersengal, menghampiri Erlan, Arga, dan Azril yang kebetulan lagi bertukar informasi soal Sania. Tapi sayang, ketiganya tidak bisa menemukan informasi apa-apa soal Sania.
"Ha? Maksud lu gimana? Fellin ilang?" tanya Arga.
Cecil mengangguk. "Dia mau nyari Sania katanya."
"Lu apa-apaan sih Cel!! Kan udah gua bilang dalam mobil aja! Ga usah keluar! Gimana keadaan Fellin sekarang, lu tau kan Fellin itu gimana! Dia nona muda kaya yang ga tau apa-apa!" Azril langsung berdecak kesal. Dia tak lagi peduli soal hujan. Dia segera berlari lagi masuk ke dalam hutan,
Sania, Fellin, lu berdua di mana sih! Ga boleh luka! Ga boleh kejadian apa-apa sama kalian!
Dengan raut wajah sedih bercampur khawatir, Azril meneriakkan nama kedua gadis itu.
Erlan diam, dia memijit keningnya, namun bibirnya tersenyum hangat.
Seenggaknya lu udah buktiin lu ga berubah Fell, apapun yang terjadi, lu masih jadi Fellin yang sama, si nona muda manja, bukan jahat. Urusan nemuin lu, itu tanggung jawab gua.
Erlan berlari mencoba mencari Fellin, namun langkahnya terhenti saat melihat Fellin merangkul Sania yang ada di depan mereka.
Azril bernapas begitu lega, namun itu semua berubah saat dia menatap kaki Sania yang bedarah.
"Lu Kenapa cewe bego? lu!!" Azril menepis tangan Fellin, Dia langsung menggendong Sania dan masuk ke dalam mobil.
Fellin hanya bisa diam di tempatnya, menatap kepergian Azril yang selangkah demi selangkah menjauh. Hatinya bagai di tusuk ribuan jarum. Sania tidak berani menatap Fellin.
Cecil langsung berlari memeluk sahabatnya itu, dia benar-benar khawatir akan Fellin. "Please, jangan lakuin lagi. Lu ga bakal tau gimana perasaan gue."
"Sorry Cel, iya gue tau gue salah." Fellin menunduk.
"Udah-udah, kan semua udah selesai, terus pahlawannya nona Fellin Skylira, dia yang nemuin Sania, kan?" Celetuk Erlan, membuka jaketnya, lalu memakaikannya pada Fellin.
"Ya udah, ayo balik, makin deres nih."
Ke empatnya kemudian menyusul ke dalam mobil.
...***...
__ADS_1