
...***...
"Bagaimana kinerja kalian? Hanya mencari bocah itu susah sekali?!! Aku tidak peduli apapun yang terjadi!! Kalian harus mencari bocah ituu!! Hidup atau mati! Jasadnya harus di temukan!! Dia akan merusak tatanan kehidupan ku dan putri ku kalau sampai masih hidup!!" Teriak Gerald pada beberapa orang berbaju hitam itu.
Mereka semua tertunduk patuh, tak ada satupun yang berani menjawab.
"Cepat cari dan temuka sekarang!! Pergilah!!!" Suara Gerald menggema di seluruh ruangan. Para anak buahnya bergidik ngeri, dengan cepat mereka langsung keluar ruangan. Mereka benar-benar takut.
"Pa? Ada apa? Kenapa marah-marah gitu? Emangnya siapa yang buat Papa marah? Bocah siapa?" Tanya Fellin, yang Tiba-tiba ada di belakang Gerald. Gerald diam terpaku, wajahnya kaku dan dia berkeringat, tampak dia sangat ketakutan.
Apa Fellin mendengarnya? Segalanya? Bagaimana kalau dia dengar bagian hidup dan mati itu? Apa dia akan membenci ku, papanya?
Gerald berbalik, dia mengatur wajahnya, tersenyum seperti biasa. "Kamu udah turun? Sejak kapan di belakang Papa? Terus Fellin denger apa aja?"
"Barusan sih Pa, Fellin cuma denger bagian papa nyari bocah. Bocah siapa Pa? Siapa yang Papa cari? Kenapa sanpe semarah itu, apa dia buat kesalahan besar?" Fellin mendekat ke arah Gerald.
"Biasalah, persaingan bisnis emang susah di mengerti. Oiya, kamu cantik-cantik gini mau kemana? Kan udah malem?" Kilah Gerald. Entah itu bisa meyakinkan Fellin atau tidak.
Fellin mengangguk mengerti, dia memang tidak mengerti soal bisnis apapun, jadinya percaya pada Papanya adalah pilihan satu-satunya yang dia punya.
"Anu Pa, Fellin mau ke Rumah Sakit. Tante Anya udah sadar, jadi Fellin mau liat keadaannya. Piginya sama supir kok, kalo Papa kurang yakin Papa bisa utus orang-orang Papa buat nemenin Fellin."
"Jadi Anya udah sadar ya? Baguslah kalau gitu, sayang banget Papa malam ini lagi sibuk. Jadi ga bisa ikut jenguk dia, kamu ke sana aja, pulangnya jangan malam-malam, Papa kirim salam buat Wira. Bilang ke Anya dapet doa dari Papa, Papa doain dari sini. Besok pas senggang papa bakal jenguk dia"
"Fellin ikut lagi ya kalo Papa besok kesana." Wajah Fellin berseri begitu bahagia.
"Iya iya, ya udah sana pergi. Cuman tetap ada orang Papa yang nemenin kamu, Papa ga mau ada kejadian apa-apa." Gerald mengusap lembut rambut putrinya itu.
"Ya udah Pa, Fellin pergi dulu, bye bye Papa!" Fellin mencium pipi papanya lalu berjalan dengan ceria. Tampak dia begitu antusias dan semangat.
"Ga bawa buah tangan sayang?"
"Udah di mobil Pa, Fellin udah buat kue pake tangan Fellin sendiri loh."
Gerald mengantar kepergian Fellin dengan senyuman yang hangat.
Kebahagiaan Fellin ga boleh rusak, dia harus terus bahagia kayak gini, dan yang lebih penting Fellin gak boleh membenci aku. Jadi, agar semua itu bisa terwujud, kamu harus hilang dari dunia ini.
__ADS_1
17 tahun sudah aku mencari mu, dan belum ketemu, kira-kira bagaimana penampilan mu ya? Bocah sial.
...***...
Fellin sampai di rumah sakit dengan selamat. Dia turun dari mobil dengan riang, dengan hati yang senang Fellin berjalan menuju ruangan Anya.
Namun, Fellin bahkan belum memasuki rumah sakit itu, tapi sudah ada seseorang yang menghentikannya, dan dia adalah Sania.
Fellin diam.
Apa ini? Apa posisi nya kebalik? Apa dia sekarang yang minta gue buat jauhin Azril? Dan ga boleh nemuin tante Anya? Mau balas dendam kah?
Fellin menatap Sania penuh selidik. Tiba-tiba Sania membungkuk.
"Maaf, Maafin gue yang udah fitnah dan ngomong kasar sama lo waktu itu. Tanpa pikir panjang dan ga tau masalahnya gue udah fitnah lo dan ngatain lo sembarangan. Gue minta maaf, sekarang gue tau kalo itu semua bukan kelakuan lo, lo bukan dalang dari tragedi memalukan gue." Sania masih membungkuk, dia tidak akan berdiri tegak sampai Sania memaafkannya.
Lah? Aku berprasangka buruk ke dia?
Fellin menarik napasnya panjang. "Sebenernya gue kesel sih di fitnah gitu, di tampar sekuat itu, sakit juga. Apalagi buat gue yang ga pernah di tampar. Tapi kalo di ingat-ingat, lo lebih kasihan, jadi ya udah lah ga usah di bahas. Gue kesini bukan mau bahas itu, gue cuma mau ketemu tante Anya. Tante dimana?"
Tapi, jawaban apa ini?
"Mama ada di kamarnya, ruang 64. Mama udah sadar, lo bisa nemuin mama. Jadi ma--"
Fellin tidak peduli hal yang lainnya, dia langsung meninggalkan Sania saat sudah dapat informasi soal Anya.
Apa ini Bis di sebut memaafkan? Bisa kah? Tapi pasti kesal juga kan di fitnah gitu? Di tampar? Apalagi dia ga salah apa-apa.
Sania menegakkan badannya, dia menarik napasnya.
"Gak masalah Sania, seenggaknya lo dah lakuin sebisanya." Gumam gadis itu meyakinkan dirinya sendiri.
Fellin menyusuri koridor itu, dia terus melihat kanan kiri mencari ruangan Anya, soalnya sebelumnya ada di ICU dan saat ini Anya sudah di pindahkan.
"Nah ini, ruang 64." Fellin langsung masuk keruangan itu. Benar saja sudah ada Wira yang menyuapi Anya makan.
"Tante Anya." Fellin langsung berlari ria dengan makanan di tangannya. Dia memeluk Anya hangat begitu juga Anya memeluk Fellin penuh cinta.
__ADS_1
"Tante udah makan? Fellin bawain makanan loh, dan ini Fellin yang buat sendiri."
Anya tersenyum hangat. "Wah wah, Fellin udah belajar masak. Pasti enak nih, harum banget lagi."
Wajah Fellin merona, Anya bahkan belum mencobanya tapi dia sudah memujinya, ahh damagenya.
"Shareen (Sania), ayo sini sayang makan." panggil Anya saat melihat putri kesayangannya berdiam diri di pintu. Sania segera datang. Dia menatap Fellin sebentar. Azril yang memperhatikan itu mengerti semuanya.
Fellin menyuapi Anya bubur itu.
"Enak!! Fellin jago masak ternyata!!" Wajah Anya berseri bahagia.
"Wah Om juga mau cicip." Wira menyendok makanan itu, dia langsung tersenyum hangat. "Wah jadi pengen sakit biar Fellin masakin."
Fellin tersenyum hangat, dia sangat bahagia.
Fellin memberikan mangkuk itu pada Sania,
"Ga mau cicipi?" tanya Fellin dengan polos.
Sania tersentak halus, dia tidak akan menduga ini. Tapi Sania senang, dia mengambil sendok itu, bersiap memasukkan ke dalam mulutnya.
Hap
Sayang sekali, tapi yang memakannya bukanlah Sania tapi Azril. Sania juga terkejut, soalnya wajah Azril jadi semakin dekat dengannya.
E-eh! Azril makan dari suapan Sania? Kenapa gue sakit hati? Gapapa dong? Wajar aja, mereka kan kakak adik, jadi itu ga masalah. Tenang Fell, ayo tenang.
Fellin mencoba menahan itu, dia bisa.
"Azril, itu milik Sania, jangan rebut miliknya." Sindir Wira yang menggelengkan kepalanya.
"Apa salahnya? Punya Sania artinya punya Azril juga kan?"
...***...
,
__ADS_1