Nona Antagonis

Nona Antagonis
Tamparan


__ADS_3

...***...


Brakk!!!


Pintu kelasnya tiba-tiba sudah tertutup, dan itu semua adalah ulah Leon yang sudah masuk juga dalam kelas itu.


"Loh? Leon? Ngapain nyusul ke sini? Gue sama Leyna baru aja mau turun."


"Ga usah sok polos gitu San, jijik tau ga. Hah~ Jadi dia orangnya? Orang yang bakal jadi mangsa gue? Haha mayan juga, cantik sih, gua sih ga maksud buat nodain lu, tapi mau gimana lagi, ini titah keluarga Skylira, gua ga bakal bisa nolak sih." Leon membuka dasinya dengan kasar, membuka kancing bajunya satu persatu.


Sania menelan salivanya payah, dia melihat Leyna yang sudah duduk anggun di meja guru. Dia memasang kamera hp nya, mencari posisi sebaik mungkin, agar mendapat kualitas video yang bagus.


Keluarga Skylira? Fellin? Apa maksud nya ini perintah Fellin? Apa Fellin yang ada di balik semua ini? Fellin..., ga mungkin. Ga mungkim Fellin sekeji ini.


"Apa?! Apa-apaan ini! Gue masih belum ngerti. Kalian mau apa? Ngapain? Ada apa sebenernya? Bukannya kita temen yaaa." Sania berjalan semakin mundur, saat Leon berjalan semakin mendekatinya.


"Iya, karna kita temen gue mau buat hal-hal baik bareng lu." Leon semakin mendekat.


"Ley- Leyna! Bilang ke Leon, jelasin ke dia apa yang dia lakuin ini salah!!" Sania melihat  ke arah Leyna, Leyna sama sekali tidak peduli dengan Sania. Dia hanya perduli posisi ponselnya.


"Buruan deh Leon, gue mesti dapet video dari sudut terbaik. Jadi cepetan ambil posisi, keburu ada yang datang. Eh engga sih, toh sekolah ini juga udah sepi." Ujar Leyna tanpa dosa.


Sekolahnya benar-benar sudah sepi, tak ada murid yang tinggal lagi. Berhubung besok hari minggu dan lusa hari libur, para pekerja yang biasanya menginap sudah pergi. Hanya ada penjaga sekolah, jauh di pos depan pagar sana.


"Ley?! Lo bilang gue temen terbaik lo di SMA ini kan? Lo bilang cuma gue yang paling baikk? Gue temen lo! Dan lo tega lakuin ini?!" Sania menatap Leyna tak percaya. Dia benar-benar tidak menyangka, gadis yang dia pikir begitu polos, baik hati, ternyata memiliki pikiran yang jahat.

__ADS_1


"Lo? Temen gue? Dih, najis  tau ga. Babu gitu, sorry ya San, gue deketin lo jelas ada maksudnya. Gue cuma mau berteman sama kak Fellin, ga usah ngaku-ngaku temen gue deh. Gue temenan ke lo ga ada untungnya, bagusan juga sama kak Fellin kemana-mana, ah dia idola gue. "


Hati Sania benar-benar hancur. Baru beberapa hari dia seolah bisa merasakan memiliki teman di sekolah ini. Tapi apa? Itu hanya kepalsuan? Itu sebuah rencana menjebaknya? Teman pertama Sania di sekolah itu, mengkhianatinya.


Ah, bahkan Sania tidak di beri waktu untuk bersedih, karna sudah ada Leon di depannya, yang sudah melepas bajunya. Bersiap untuk menerkam Sania erat.


"Pergi lo! Jauhin gue! Jangan sentuh gue!" Sania berjalan mundur terus menerus, sampai badannya menyentuh dinding kelas.


"Niceee!! Sudut yang luar biasa. Gila, gue bakat banget dalam hal ngambil sudut terbaikkk." teriak Leyna senang. Entahlah, kedua orang ini sinting. Tidak! Yang paling sinting itu adalah Leyna.


"Ley! Lo perempuan, dan lo bisa-bisanya biarin pelecehan ini terjadi di depan lo? Dan lo malah sibuk buat rekam? Ley? Lo ada otak ga sih? Lo bukan manusia!!!" Teriak Sania yang tak habis pikir dengan kesintingan orang dua ini.


"Lah bodok, menting gue dapet duit."


"Udahlah, ga usah mikirin Leyna. Anggap aja dia patung di sana, sekarang kita lakuin hal yang memang harus kita lakuin. Kalo boleh jujur sih, gue pengennya Fellin yang di posisi lu, tapi itu ga mungkin sih. Yang ada kelar idup gue." Leon memainkan jari telunjuk nya, menyusuri setiap sudut wajah Sania.


Entah kenapa, Sania mendadak ingat kata-kata Azril. Hanya ada Azril dalam kepala Sania saat ini. Jujur, jauh di dalam hatinya, dia ingin Azril datang, walau faktanya itu tidak mungkin.


"Bacot bet deh lu Leon, udah di kasih yang cantik, malah minta putriii, ya ga dapet lah. Udah buruan, sudutnya udah bagus ini."


"Iya iya, bawel deh lu, gua yang aksi juga, lu tinggal duduk terima gaji banyak bet bacotnya."


Tes tes tes


Bulir hangat itu menetes dari mata Sania. Dia benar-benar hancur saat ini.

__ADS_1


Jadi ini, akhir riwayat gue? Gue ga bakal bisa hidup, nanggung semua noda ini.


"Udah jangan nangis gitu San. Santai, gua ga bakal tanggung jawab kok. Hahahaha."


"Lepasin gue..., gue mohonnn..., lepasin gueee...," Sania benar-benar terlihat menyedihkan saat ini. Sania ingin sekali melawan, tapi cengkraman tangan Leon begitu kuat. Di tambah lagi, tubuhnya Tiba-tib terasa lemas.


"Ga usah ngelawan gitu San. Toh waktu makan tadi, gua udah campurin obat biar lu lemas. Jadi ga usah repot-repot ngelawan. Lu cukup nurut aja, biar gua yang--"


Brakkk!!!!


Suara dobrakan pintu itu memotong ucapan Leon. Sudah ada Azril di depan sana yang menendang kasar pintu itu.


Tanpa Ba-Bi-Bu lagi Azril langsung menghajar habis Leon. Banyak sekali pukulan dan tunjangan yang Azril layangkan ke kepala orang itu.


Azril terus menghajarnya habis-habisann. Tampak jelas, wajah Azril di penuhi dengan amarah yang membara. Pijakan itu tak ada hentinya ia berikan. Untuk pertama kalinya, Sania melihat Azril dengan kemarahan tingkat ini.


Leyna ingin kabur, hanya saja sudah ada Cecil yang menangkapnya. Bukan hanya Cecil, ada Fellin, Erlan, dan Arga di sana.


Plakk!! Tukhh!!


Cecil menampar Leyna kasar, ia Memukul Leyna sampai jatuh ke lantai. Tanpa ampun Cecil memijak tangan itu. Wajah Cecil juga benar-benar mengerikan, Sania juga baru pertama kali melihat Cecil semarah itu, begitu juga dengan Fellin.


"Gue ga perduli siapapun korbannya. Gue cuma tau kalo lu ga ada otak dan ga punya rasa simpati! Bisa-bisanya lu ngakak ketawa ketiwi saat ada pelecehan sesama perempuan di depan lu. Lu perempuan juga, dan bisa-bisanya lu malah ngerekam. Itu hal bejat yang gak akan pernah gua maafin, karna gua terlahir sebagai perempuan! Bahkan jika musuh terbesar gue menjadi korban pelecehan di depan gue. Gue bakal tetap tolongin dia, Karn gue juga perempuan. Dan lu?" Cecil memijak hp beserta tangan mungil milik Leyna. Pijakan itu semakin lama semakin kuat, layar hp yang semula bagus terdapat banyak retakan.


Plakkk!!!!

__ADS_1


Sania menampar Fellin dengan tenaga yang seadanya itu. Tamparan itu mengalihkan perhatian semua orang yang ada di sana.


...***...


__ADS_2