Nona Antagonis

Nona Antagonis
Ada apa?


__ADS_3

...***...


"In--" Sania baru saja ingin membuka suaranya, mengatakan bahwa semua adalah salahnya, namun dengan cepat Azril menghentikannya.


Azril menggeleng menatap Sania. "Diam." Azril tau jelas bagaimana sifat Gerald, dan bagaimana Gerald akan memperlakukan Sania, kalau sampai dia tau kondisi putri tercintanya saat ini adalah karna dirinya.


"Fellin..., Anak ku, dunia ku...," Gerald terduduk lemas, dia bersandar di dinding, kondisinya benar-benar menyedihkan. Tampak wajahnya begitu memilukan, tidak akan ada yang mengerti bagaimana perasaan sosok Ayah itu saat ini.


"Harusnya saya gak kasih tanggung jawab Fellin ke kamu!"


Erlan masih diam saja, dia tidak peduli lagi dengan apa yang di katakan Gerald. Tampak suasana hati Erlan kacau, dia terus menunduk diam.


Begitu juga Azril, dia sama terpuruknya dengan Erlan.


Kenapa mendadak jadi begini? Gak boleh! Fellin gak boleh tiada! Apa-apaan ini, gua ngelakuin banyak hal agar dia hidup dengan bahagia! Gak bisa! Fellin gak boleh mati, apapun yang terjadi.


Azril terus menatap lantainya, air matanya sudah mengalir. Hatinya benar-benar hancur, jiwanya terguncang.


Gerald langsung menarik kerah baju Azril. "Ini semua pasti gara-gara kamu! Gara-gara kamu Fellin celaka! Kamu memang pembawa sial!"


Azril diam saja, dia tidak peduli bacotan orang tua satu ini. Namun tiba-tiba sudah ada yang menarik Gerald mundur. Dia adalah Wira. Wira datang bersama dengan Anya, begitu juga Cecil dan Arga langsung menyusul.


Wira langsung memeluk Gerald erat. "Fellin bakal baik-baik aja, Fellin anak yang kuat."


Gerald hanya diam saja, entah apa yang dia pikirkan. Anya melihat Fellin dari kaca kecil yang ada di pintu. Tangisannya pecah begitu saja  melihat putrinya terbaring lemas.


"Dimana Fellin? Dimana keberadaan sahabat gue itu?! Dimana?!" Cecil menarik kerah baju Azril kuat, namun Azril hanya diam saja.

__ADS_1


"Lu bilang apa ke Fellin sampe Fellin nyelakain dirinya sendiri?! Ini pasti karna lo berdua kan? Apa yang lo pada bilang." Cecil masih menahan kerah baju Azril, sembari air mata sudah membasahi pipinya.


Arga langsung menarik Cecil. Tidak bisa diam, Cecil berjalan ke arah Erlan!


"Mana janji lo?! Bukannya lo bilang lo bakal jagain Fellin?! Lo bilang lo cinta sama dia! Lo bakal korbanin segalanya buat dia! Tapi liat sekarang? Apa? Lo sehat-sehat aja, dan Fellin berdarah di dalam sana! Lo--"


"Cukup Cel! Berhenti salahin orang. Kita gak tau gimana kejadian yang sebenernya! Stop! Ini rumah sakit! Di banding lu ngebacot ga jelas, mending doain Fellin sama-sama biar dia cepat sembuh." Arga menarik Cecil, memeluknya dalam dekapannya. Arga tau jelas, seterguncang apa jiwa Cecil saat ini, karna dia tau jelas, betapa berharganya Fellin untuk Cecil.


"Kalau sampai terjadi apa-apa pada Sania! Kau akan menyesal Azril Maheswara!!" Ancam Gerald seperti orang kesetanan. Bagaimana mungkin dia bisa tenang? Saat dunianya sedang di ambang kematian.


Ini bukan salah Azril atau Erlan! Ini salah gue yang ceroboh, ini bukan salah mereka. Gue harus jelasin yang sebenarnya.


Batin Sania, dia menatap semua orang yang sudah meneteskan air matanya. Dia bersiap untuk menanggung segala amarah mereka.


"Ini semua bukan salah Azril, i--"


Tampak jelas wajah kemarahan di sana. Bukan marah pada orang lain, tapi marah pada dirinya sendiri.


Apa gua kurang kuat? Buat jagain Fellin? Apa gua kurang hebat? Sampe Fellin bisa luka di bawah pengawasan gua?! Fellin!! Maafin gua!!


Tapi semua orang mendadak begidik ngeri. Ini untuk pertama kalinya mereka melihat Erlan marah sampai tahap ini, Erlan si pembuat tawa.


"Gua..., gua selalu lakuin yang terbaik, gua selalu usaha biar Fellin bisa kagum ke gua. Gua selalu berfikir kalo gua yang sekarang pasti bisa lindungi Fellin. Gua marah, tapi sama diri gua sendiri. Gua kecewa, sama diri gua sendiri, kata andai andai itu selalu berputar di kepala gua. Andai aja gua ga ninggalin dia waktu itu, mungkin kejadian ini ga bakal terjadi. Dan Fellin masih bisa berjalan dengan senyuman. " Ujar Erlan menghentikkan isak tangis mereka semua. Mereka mengalihkan pandangannya pada Erlan.


Gerald tersentak, dia menatap Erlan dengan mata penuh harap.


Fellin bangun nak..., ada orang yang cintanya sama besar kayak papa, cintanya buat kamu, sangat besar.

__ADS_1


Dokter keluar dari ruangannya. Semua orang langsung berdiri dan mendekat, masing-masing dari mereka menanyakan keadaan Fellin.


"Fellin kritis, jantungnya tertusuk benda tajam, mungkin kaca mobil atau sejenisnya. Jantungnya tidak lagi berfungsi, kami butuh pendonor jantung. Dan ya, darah, stok darah di rumah sakit masih kurang. Kami butuh banyak sekali darah karna Fellin kehilangan banyak darah. Pak Gerald, segera cari pendonornya, kita tidak punya waktu lama. Kondisi Fellin benar-benar buruk." Kata dokter itu, dia memakai maskernya kembali, lalu masuk lagi. Dia masih harus menghentikan darah yang terus keluar.


Semuanya tertunduk diam, mereka benar-benar merasa lemas. Apalagi Gerald, namun Gerald ingat satu hal.


Dia langsung mencengkram lengan Path si pengawal pribadi Gerald. "Hanya ada satu jalan keluarnya. Temukan bocah sialan itu! Temukan bocah terkutuk itu! Hanya dia yang bisa menolong Fellin! Kita harus menemukan bocah itu! Hidupnya sudah merupakan kesialan, maka matinya juga harus berguna! Cepat temukan bocah itu dalam keadaan hidup!"


"Gua bakal minta bokap gua nyariin pendonor." Erlan bangkit ingin pergi, namun tangannya di tahan oleh Azril.


"Ga perlu di cari, Gerald Skylira. Bocah itu ada di sini, bocah yang selama ini anda cari ada di hadapan anda. Dan itu adalah saya, terlalu banyak cara kotor yang anda lakukan untuk menemukan saya. " Kata Azril dengan senyuman miring di wajahnya.


Semuanya diam saja, mereka tidak mengerti. Hanya ada Azril dan Gerald yang saling bertapapan tajam,


"Tidak perlu di cari atau diperintah, saya dengan senang hati akan mengorbankan jantung dan darah saya untuk Fellin," Lanjutnya segera mengetuk pintu ruangan itu, memanggil dokter.


"Apa?! Apa maksud lo?!" Tanya Erlan menatap sinis Azril.


"Jadi kau bocah itu? Sejak kapan? Sejak kapan kau tau segalanya?!" Tanya Gerald,  terasa pandangan nya sangat aneh.


"Sejak lama." Sahut Azril enteng.


"Jadi karna itu? Itu alasannya kau menjauh dari Fellin? Itu alasannya..., " Gerald terduduk lemas di kursinya.


Azril memudarkan senyumannya. "Ada apa? Apa kau mulai merasa bersalah? Saat  putra mu akan mengorbankan nyawanya demi putri mu? Ah itu tidak mungkin kan? Karna sejak awal kau memang ingin menyingkirkan ku."


...***...

__ADS_1


__ADS_2