
...***...
liburan itu berakhir, tanpa adanya kemajuan persahabatan di antara mereka. Mereka semua tak mengerti, kenapa tak ada satu pun yang berhasil. Bahkan hubungan Fellin dan Azril semakin jauh.
Selama liburan mereka sama sekali tak bisa mendekatkan diri dengan Azril, Azril juga seolah menjauh, dia hanya ingin bertemu dan berpergian bersama Sania. Azril juga jarang bergabung. Meskipun mereka semua dalam vila yang sama, seolah ada dua kubu terbentuk di sana.
Tak ada kenangan yang begitu membekas, ah kecuali bagi Sania. Dia hampir hilang dan mati di sana.
Sania berpura-pura tidur dalam mobil, kakinya sudah lebih baik, meski dia agak pincang. Hanya tinggal Sania dan Azril yang di dalam sana. Soalnya yang lainnya sudah di antar pulang.
Liburan ini? Gagal total, Azril sama sekali ga mau ngomong sama mereka. Jadi, apa gunanya liburan?
"Ga usah pura-pura gitu, gua tau lu udah bangun. Buruan buka mata, toh kita udah mau sampai." Ketus Azril, dengan nada mengesalkan seperti biasanya.
Sania membuka matanya. "Lu kan cuma pengen Fellin ngejauh? Terus kenapa malah rusak persahabatan kalian?"
Azril memukul kepala Sania pelan. "Dengerin ini, dan jangan pernah tanya lagi. Gua ga ngejauh dari mereka, gua bakal balik kalo Fellin udah move on dari gua."
"Terus kenapa harus buat Fellin move on dari lo?"
"Pertama, ini bukan urusan lu, kedua, kalo sampe lu nanya begini lagi. Perawatan buat nenek lu bakal gua cabut. Muak gua sama pertanyaan kekanak-kanakan kayak gini." Azril menghentikan mobilnya, dia ingin turun dari mobilnya.
"Apa sekarang lo masih cinta sama Fellin?" Sania tidak tau kenapa, tapi dia ingin menanyakan itu, dan dia benar-benar menantikan jawaban itu.
Azril tersenyum tipis. "Mana gua tau, ga peduli." dia melanjutkan jalannya.
Sania tidak tau kenapa, tapi dadanya seolah sesak.
Apa ini? Kenapa? Kenapa jadi gini? Jangan bilang, kalo gue udah mulai suka Azril? Ga mungkin! Gak mungkin kan gue suka sama si Azrol itu! Tapi, Azril....,
Sania mengingat kembali setiap kenangan yang dia habiskan bersama Azril. Jika di ingat-ingat lagi, sejak pertama kali Sania datang ke sini, sikap Azril juga tidak begitu buruk. Sejak pertama kali datang, Sania hanya memiliki Azril sebagai teman berbicaranya.
Kalo di pikir-pikir Azril itu,
Tiba-tiba jantung Sania berdegub begitu kencang.
__ADS_1
Plakk!!!
Sania menampar kedua pipinya, dia menggelengkan kepalanya kuat.
"Gak boleh! Gue gak boleh suka sama Azril! Karna Azril itu cuma punya Fellin! Sejak awal gitu, kalo gue ngambil Azril, itu gue yang jahat. Gue ngambil sesuatu yang Fellin punya. Toh, lagian Azril ga mungkin suka sama gue. Gue cuma di jadiin pelampiasan, karna dia ga punya temen kan?"
"Lu jadi patung, diam dan jangan bergerak." ingatan Sania terpaku pada kalimat Azril yang itu.
"Ya, lagian juga gue selama ini cuma jadi patung, Azril cuma anggap gue patung tempat dia bersandar. So, Sania jangan berpikir lebih, sadar diri sadar posisi. Dia tuan muda, dan lo cuma pelayannya. Sekian."
Lagi pula, gue ga suka Azril. Paling ini perasaan sementara karna gue sering sama dia, dan dia jadi agak baik akhir-akhir ini.
Sania menutup matanya sebentar, dia mencoba meyakinkan dirinya dengan semua argumen masuk akal yang dia punya. Namun, dia lagi-lagi terkejut saat membuka mata, sudah ada Azril yang membukakan pintu untuknya.
"Apa kaki lu separah itu? Sampe ga bisa jalan?" Azril menggendong Sania ala bridal style. Sania cukup terkejut, dia ingin menolak, namun tatapan menusuk Azril lagi dan lagi membuatnya bungkam.
Kayaknya gue kelamaan ngelamun deh.
Sania dan Azril menjadu sebuah pusat tujuan dari mata para pelayan. Meskipun mereka mencoba menutupinya, Sania tau diam-diam mereka membicarakan Sania dan Azril.
"Apa muka gue kelihatan peduli?" jawab Azril dengan memasang ekspresi sedatar mungkin.
Sania hanya memutar bola matanya jengah, ia tidak tau apa yang akan pelayan lain pikirkan. Mereka tentu sudah tau bagaimana hubungan Fellin dan Azril.
Saat mereka masuk, ada nyonya Anya yang duduk di sebuah sofa. Dia tampak melamun. Azril mendekatinya, Sania bisa melihat wajah paruh baya itu seolah bersedih, tatapannya sendu. Dia terus saja menatap foto bayi yang ada di tangannya.
"Ma..., ma?" Azril beberapa kali memanggil Anya. Tapi Anya sama sekali tak menyadarinya, fokusnya benar-benar hanya ada di foto itu.
"Maaa, Azril udah pulang nih." Azril mengeraskan suaranya, tampak Anya sedikit terkejut. Refleksnya dia menyembunyikan foto itu.
"Ma, Azril cape, mau istirahat di kamar. Oiya, ini si Sania luka." Azril meletakkan Sania di sebelah Anya.
"Loh? Sania kenapa nak? Kok bisa luka? Lukanya parah ga? Udah di bawa ke rumah sakit?"
"Maa, Azril pamit istirahat, oke?" Azril mengambil tangan mamanya, segera menciumnya lalu naik ke kamarnya.
__ADS_1
"Kita kerumah sakit ya nak? Takutnya nanti infeksi loh," kata bu Anya ramah, penuh kelembutan layaknya seorang ibu.
"Eh eh ga usah Nyonya, Sania udah di bawa ke rumah sakit kok. Ini cuma kecelakaan ringan pas liburan, istirahat beberapa hari Sania juga sembuh."
"Ya udah kalo gitu, kamu ga udah kerjain apa-apa dulu, ga usah masuk sekolah dulu sampe kakinya bener-bener sembuh."
Sania mengangguk patuh. "Iya Nyonya,"
Anya tersenyum hangat, sesekali tangan Anya menyapa kepala Sania lembut.
Tadi itu foto bayi kan? Itu siapa? Kenapa bu Anya se sedih itu pas natap foto itu?
Sania tak intin bertanya lebih jauh, dia tidak berhak, dia hanya pelayan di sini.
...***...
"Gimana liburannya? Seneng kan? Seneng lah, akhirnya Azril punya waktu buat putri kecil papa," sapa pak Gerald yang duduk di ruang tamu, menyambut putri kesayangannya yang baru pulang.
"Iyaaa pa, seru banget tau pa. Papa tau ga? Waktu pergi itu, mobil kami tuh mogok, untung aja bisa di perbaiki sama Azril, Erlan dan Arga. Tapi waktu mogok, terus hujan. Fellin mandi hujan deh, seru banget tau pa hujan-hujanan bareng mereka. Ya akibatnya Fellin sedikit pilek deh ini." Cerita Fellin dengan penuh semangat. Wajahnya dia kondisikan agar terlihat natural dan benar-benar bahagia.
Tidak boleh!
Gerald sang ayah tidak boleh mengetahui apa yang terjadi sebenarnya, kalau sang ayah sampai turun tangan, masalahnya bisa runyam. Ayah Fellin itu orang yang terpandang, dan bisa melakukan beberapa hal yang sulit dilakukan orang kaya biasa, dan Fellin tau itu.
Ditambah, Fellin tidak ingin Gerald membenci Azril, atau hubungan antara keluarga mereka menjadi renggang.
"Kamu pilek? Mau ke rumah sakit? Atau kita panggil dokter?" pak Gerald mengukur suhu tubuh putrinya, memang sedikit hangat.
"Ga usah lah Pa, minta bibi buatin minuman herbal, Fellin udah biasa minum itu, dan akhirnya sembuh deh. Oh ya pa, bibi suruh anterin ke kamar ya, Fellin cape bangett nih abis perjalanan jauh."
Fellin kembali ke kamar, dia ingin istirahat, dia sudah lelah dengan perjalanan yang tidak membuahkan hasil apapun sekarang, tidak ada kemajuan apapun, entah itu soal hubungan asmaranya dengan Azril, atau persahabatan mereka yang perlahan merenggang.
Dan papa gak boleh tau apapun, kalau papa tau liburan ini yang ada cape doang, bisa-bisa papa ngamuk.
Fellin paham akan hal itu.
__ADS_1
...***...