
...***...
Sania berbaring di kamarnya, dia tidak bisa tertidur, ingatannya hanya berputar-putar saja.
Gua cintanya sama Sania, dan kami engga sedarah.
Sania membenci dirinya sendiri, karna di tengah keributan ini, dia hanya memikirkan soal cintanya Azril. Apa ini fakta? Atau hanya alasan Azril belaka agar Sania melupakannya.
Sania tidak bisa berbohong pada dirinya sendiri, dia merasa sangat senang dan bahagia, bahwa dia bukanlah adik kandung dari Azril, mereka tidak memiliki hubungan darah sama sekali.
Azril sebegitu menjauhnya dari Fellin? Apa gue ada kesempatan buat masuk? Toh, kita ga ada hubungan darah.
Plak!!
Sania menampar dirinya sendiri, dia benar-benar malu atas apa yang ia pikirkan. Di saat-saat seperti ini kenapa dia malah berfikir begitu.
Stop San! Lo bukan orang yang bakal bahagia karna orang lain menderita!
Lamunan Sania terhenti seketika, saat dia mendengar keributan di kamar sebelah, kamarnya Azril.
Sania bisa mendengar Azril berteriak begitu keras. Dengan cepat Sania pergi ke sana, namun kamarnya terkunci. Sania memanggil nama Azril terus menerus, tapi sama sekali tak ada jawaban. Semuanya hening dari dalam kamar itu. Wira dan Anya yang mendengar keributan itu juga datang.
"Ada apa? Kenapa ribut-ribut? Kamu bertengkar sama Azril?" tanya Wira.
"Engga Pa, Sania ga tau kenapa tadi Sania denger Azril marah-marah sendiri, terus mendadak diam, udah Sania panggil dari tadi dia sama sekali ga buka pintu, terus ga ada jawaban, ga ada suara Pa."
"Azril!! Azril!! Nak!" Panggil Anya dengan perasaab hati yang sedikit tidak enak.
"Kalian cepat dobrak pintunya!!" perintah Wira Pad Beberapa penjaganya, dengan cepat penjaganya mendobrak pintu itu.
Akhirnya setelah beberapa kali percobaan pintu itu terbuka, dan benar saja, pemandangan yang mereka tak ingin lihat. Azril sudah terbaring dengan berlumuran darah.
"Azril!!!!!" Histeris Anya saat melihat darah ada di mana-mana, bahkan masih keluar dari kepala Azril.
__ADS_1
...***...
Lagi dan lagi mereka kembali ke rumah sakit ini, baru saja salah satu anggota Keluarga mereka keluar, sudah ada yang masuk lagi.
Sania, Wira, dan Anya sedang diam menunggu di luar, hanya ada suara tangis Anya di sana.
Dokter sudah keluar dari ruangan ICU itu.
"Gimana Dok?" tanya Wira dan Anya bersamaan.
"Azril baik-baik saja, dia hanya terluka di bagian kepala dan menbutuhkan banyak darah, kebetulan darah jenis itu masih banyak di rumah sakit ini, kalian tidak perlu khawatir. Hanya saja, untuk saat ini, jangan di temui dulu." Kata dokter itu sembari tersenyum hangat. Dokter itu kembali masuk, dia masih harus memeriksa lagi keadaan Azril.
Mendengar itu Ketiganya bisa bernapas dengan lega. Dada mereka merasa lapang. Meski Azril masuk di rumah sakit, hanya mereka bertiga yang tau, dan mereka tidak ingin memberi kabar pada siapapun, khususnya Fellin.
"Azril beneran bukan anak kandung Mama?" Tanya Sania. Dia tau waktunya tidak tepat, tapi dia penasaran.
Anya menarik napasnya, dia menyeka air matanya perlahan-lahan. "Iya, Azril memang bukan anak kandung Papa dan Mama, sebenernya kamu itu anak tunggal kami."
"Mungkin dua bulan sebelum kedatangan kamu. Kamu ingat kan? Dulu Azril sempat keluar dari rumah, sebelumnya akhirnya kembali?" Jelas Wira.
Sania ingat waktu itu. "Jadi waktu itu Azril pergi karna dia tau dia bukan anak kandung Papa dan Mama?"
"Ga usah di bahas lagi ya Nak, sekarang yang terpenting kita semua udah kumpul bareng, sehat dan masih hidup, itu udah lebih dari cukup buat Mama. Kalian bertiga itu anak kesayangan mama," Anya memeluk Sania, ada kehangatan yang tidak bisa dijelaskan disana.
Bertiga? Maksudnya gue? Azril? Dan Fellin ya? Mama juga sayang banget ke Fellin?
"Ya, habis Azril sembuh, kita bakal baik-baik aja." Tambah Wira mengelus kepala kedua wanita kesayangan nya.
Mungkin aja, kalau Gerald ga buat apa-apa. Tapi, mengingat sifat Gerald, dan betapa possesfinya dia kepada Fellin? Apalagi kejadian yang menimpa Fellin hari ini itu..., ah apa bisa hidup baik-baik aja?
Wira mulai menarik napasnya, otaknya mencoba memikirkan jalan keluar, bahkan dari masalah yang belum ia hadapi.
...***...
__ADS_1
Satu minggu sudah berlalu, dan sudah satu minggu pula Fellin tidak masuk sekolah. Hari ini adalah hari pertamanya masuk setelah sekian lama.
Setelah satu minggu menenangkan diri, tampak senyuman Fellin merekah pagi ini di meja makan, dia bercanda tawa dengan papanya. Entah senyuman asli atau palsu, tapi setidaknya ini lebih baik daripada mengurung diri di kamar.
"Udah selesai sarapan? Bisa kita berangkat?" Tanya Erlan yang baru masuk. Fellin cukuo terkejut, tetapi tidak dengan Gerald.
"Erlan? Lo ngapain ke sini? Minta makan lagi? Hobi bener, masih pagi juga."
Erlan tersentak halus, dia pikir pagi ini akan menemui Fellin yang muram dan penuh air mata. Mana dia tau Fellin tetap seperti biasa.
"Papa yang minta Erlan ke sini, jadi dia yang bakal anterin kamu sekolah. Kamu pulang juga sama Erlan ya. Biar papa lebih tenang gitu." kata Gerald memberi penjelasan. Fellin mengangguk mengerti, dia paham pasti papanya takut Fellin akan berbuat hal nekat lagi.
"Karna udah sampe sini nanggung juga, sekalian minta makan deh. Lu juga makan yang banyak, liat nih dari dulu kayak gak nambah tinggi." Kata Erlan menarik hidung Fellin.
"Dih, sakit bego." Fellin memegangi hidungnya itu. Meski ga mancung-mancung amat tapi itu udah lebih dari cukup.
...***...
Erlan dan Fellin sudah sampai di sekolah, mereka berjalan bersama menuju kelas. Tiba-tiba ada orang yang memeluk Fellin dari belakang.
"Akhirnya lo sekolah juga, gue kirain lo kena mental terus stress abis itu gila." Kata gadis berambut pendek yang memeluk Fellin, ya jelas dia adalah Cecil. Pelukan Cecil terasa hangat dari pelukan-pelukan biasanya.
"Jahatnya, ga gitu juga kali." Kilah Fellin memanyunkan mulutnya.
"Habisnya lo sih, satu minggu ini ga sekolah, telpon ga di angkat, chatt ga di bales, gue ke rumah lo. Lonya selalu ga mau keluar. Kan gue jadi takut."
"Sorry, gue self time. Tapi tenang, gue udah lebih baik kok sekarang." sahutnya kelihatan meyakinkan.
"Sorry gua nanya ini Fell, tapi kami harus tau, biar kami tau gimana tindakan kami selanjutnya. Lu? Udah move on dari Azril? Udah ikhlasin Azril?" Kata Arga. Cecil menatapnya sinis, memang hal itu harus di tanyakan, tapi bukan sekarang waktunya. Fellin baru saja sedikit pulih dari keterpurukannya.
"Ikhlasin sih udah, kalo move on? Gue ga tau, tapi yang jelas gue udah niat! Gue berniat buat lepasin Azril! Dan gue yakin gue pasti bisa! Lagian kan ada kalian yang selalu ada di sisi gue, gue ga bakal kesepian." Kata Fellin dengan pandangan penuh keyakinan, juga senyuman hangat.
...***...
__ADS_1