
...***...
Pagi ini seperti biasa, Sania duduk di mobil Azril. Hari ini juga Azril pergi ke sekolah, dia membatalkan semua rapatnya agar bisa datang ke sekolah.
Sania hanya diam saja, dia tidak mengatakan apapun. Pandangannya lurus saja ke depan. Azril tak ingin mengajaknya bicara, begitu juga dengan Sania.
Akhirnya mobil itu sudah sampai di sekolah. Azril dan Sania turun. Sania ingin berjalan lebih dulu, namun tangannya di tahan oleh Azril. Tepat pada saat itu ada Fellin yang lewat. Ia dengan sengaja lewat di tengah-tengah, dan memutus geganggaman tangan itu. "Pagi Zril? Mau ke kelas? Bareng gue?" sapa Fellin dengan senyuman manisnya.
"Ogah." satu kata itu, yang mampu menggetarkan hati Fellin. Fellin menghela napasnya, tanpa sepata kata pun lagi, Fellin berjalan.
Wait..., Fellin langsung pergi gitu aja? Apa dia udah bosan ngejar Azril? Seriusan?
Sania menatap Fellin tak percaya, begitu juga Azril. Dia merasa ada hal baru, meskipun hatinya merasa tak nyaman, seolah ada yang pergi, namun Azril tetap tersenyum bahagia.
Next, teruss Fell. Terus gitu, buat pengorbanan gua ga sia-sia. Lu bisa, karna lu Fellin nya Azril, dan selamanya bakal begitu.
"Ayo masuk," Azril segera menarik tangan Sania. Namun langkahnya terhenti saat ponsel nya berbunyi.
"Azril, ini papa, ke kantor sekarang. Ini penting, kita ada rapat besar-besaran. Biar papa yang minta izin ke Wiz nanti." Titah papanya dari sebrang sana.
"Bukannya udah di tunda ya pa? Rapat proyek itu kan jam 4 nanti sore?"
"Gak bisa, klien utama dan terpenting mintanya sekarang, kamu dan papa ga bisa buat apa-apa."
"Maksud papa? Om Gerlad? Papanya Fellin kan? Kenapa mendadak gitu, padahal Azril udah bilang minta tunda kemarin, dan dia acc. Kenapa mendadak gitu?"
"Pak Gerald ada urusan penting nanti sore. Makanya kamu sekarang segera ke sini, jangan buat klien penting ini nunggu. Meskipun kedepannya pak Gerald jadi Papa mertua kamu, hari ini dia adalah rekan bisnis kita." Pak Wira sudah mematikan ponselnya. Dia tidak ingin menerima apapun alasan anaknya terlambat.
Azril mengacak rambutnya frustrasi. Semua rencananya gagal total.
Si tua bangka itu! Sialan! Memang dia benar-benar pembawa bencana! Gerald Skylira sialan!
"Lu ikut gua ke kantor." Azril baru saja ingin menarik Sania. Namun Sania tak lagi ada di tempatnya. Azril ingin mencari Sania ke dalam, namun pesan - pesan papanya membuatnya mengurungkan niatnya.
^^^INGAT! lu ga boleh ngobrol atau berteman dengan siapapun! Termasuk dengan Leyna atau Leon! Gua bakal kasih lu pelajaran berharga, kalau sampai lu deketin mereka. ^^^
Nyenyenye
Sania tidak peduli dengan pesan-pesan itu.
__ADS_1
Dia kira dia siapa ngatur-ngatur gue. Mungkin dia bosnya, tapi bukan berarti dia berhak ngatur pertemanan gue kan?
"Pagi kak Sania~" Sapa Leyna hangat, tentu dengan Leon di sebelahnya.
"Pagi Ley,"
Leyna kelihatan celingukan kanan kiri. "Kak Azril mana kak?"
"Azril ga masuk hari ini. Dia ada urusan."
"Oh gitu, ya udah kak, itu kelas Leyna, Leyna masuk duluan ya." pamit Leyna memeluk Sania lalu pergi.
"Perlu gua anterin sampe depan kelas lu?" Tanya Leon dengan nada bercanda.
"Ga usah, gue bisa sendiri. Gue duluan ya."
Sania masuk sendirian ke dalam kelas. Dia langsung di sambut oleh tatapan sinis Fellin.
"Loh? Azril mana? Kok ga masuk?" Fellin menatap bingung Sania. Soalnya jelas-jelas tadi dia bertemu dengan Azril.
"Mendadak dia ada urusan di kantor bareng papanya. Selebihnya gue ga tau apa-apa." Sania melanjutkan jalannya, dia duduk di bangkunya.
^^^Ga usah pulang bareng Leon. Lu balik ntar sama gua. Gua yang bakal jemput. ^^^
Begitulah pesan meresahkan dari Azril. Ya, meresahkan untuk hati Sania.
Iya iya deh, terserah tuan muda ^_^
Azril tersenyum miring membaca pesan itu. Menganggu Sania memang luar biasa menyenangkan.
Tapi tidak dengan Sania. Hatinya berdegub kencang.
Tolonglah, ga usah sok perhatian sama gue! Gue benci lo! Jangan buat gue salah paham! Dan jangan rusak perasaan benci ini!
...***...
Bel pulang sekolah telah berbunyi, semuanya siswa dan siswi kembali pulang. Termasuk juga Fellin dan Cecil. Kali ini Fellin bahkan tidak mengatakan apa-apa saat berpapasan dengan Sania. Sepanjang waktu istirahat, Sania hanya menghabiskan nya dengan Leyna dan Leon.
Jujur aja, gue bener-bener seneng bisa ketemu dan berteman sama mereka. Selain baik, mereka juga lucu. Walau kadang ribut kecil, wajar sih kakak adik, tapi seenggaknya suasana tepi di sekitar gue ga ada. Gue ga akan kesepian lagi, terserah deh Azril mau marah gimana. Lagian dia juga kenapa, padahal berteman doang.
__ADS_1
"Sania, mau balik bareng lagi gak?" tanya Leon yang menghampiri Sania.
"Mau ya? Mau ya? Kak Sania mau yaa, ayolahhh, Leyna masih mau ngobrol banyak sama kak Sania. Mau yaaaa?" bujuk Leyna dengan suara imutnya. Matanya berbinar tulus, ah dia benar-benar menggemaskan.
Kalau bukan gegara Azril maksa mau jemput, pasti gue udah balik bareng mereka.
"Sorry, gue ga bisa. Soalnya Azril mau jemput, gue mesti beli sesuatu dulu." Tolak Sania, dengan lembut.
Wajah Leon dan Leyn mendadak berubah seketika.
"Gitu ya, gapapa deh. Kak San, minta nomor kakak dong. No--Ehhh!!!"
"Ada apa Ley?"
"Hp Leyna ga ada kak!" Leyna menutup matanya, mencoba mengingat dimana ia letakkan.
"Ingat dimana?" tanya Sania yang ikut panik.
"Oh iya! Leyna inget! Ada di kelas Leyna, di dalem laci! Iya tadi Leyna letakkin di laci, Leyna inget banget. Kak Sania, temenin Leyna bentar yaa, Leyna ga berani ke sana sendirian. Apalagi ini udah sepi." Leyna langsung menarim tangan Sania. Sania tak lagi bisa menolaknya. Lagipula memang Sania tak ingin menolaknya.
Leyna dan Sania sudah sampai di kelas gadis itu.
"Gimana? Ada hp nya Ley?" tanya Sania mendekati Leyna.
"Ada kok kak San, makasih ya kak udah nemenin Leyna. Dan makasih, udah buat rencana Leyna sangat lancar dan berjalan begitu mudah." Jawab Leyna, suara dan raut wajah gadis itu mendadak berubah. Dia menatap Sania penuh maksud.
"A-apa maksudnya Ley? Kamu lagi main drama lagi?"
Brakk!!!
Pintu kelasnya tiba-tiba sudah tertutup, dan itu semua adalah ulah Leon yang sudah masuk juga dalam kelas itu.
"Loh? Leon? Ngapain nyusul ke sini? Gue sama Leyna baru aja mau turun."
"Ga usah sok polos gitu San, jijik tau ga. Hah~ Jadi dia orangnya? Orang yang bakal jadi mangsa gue? Haha mayan juga, cantik sih, gua sih ga maksud buat nodain lu, tapi mau gimana lagi, ini titah keluarga Skylira, gua ga bakal bisa nolak sih." Leon membuka dasinya dengan kasar, membuka kancing bajunya satu persatu.
Sekolahnya benar-benar sudah sepi, tak ada murid yang tinggal lagi. Berhubung besok hari minggu dan lusa hari libur, para pekerja yang biasanya menginap sudah pergi. Hanya ada penjaga sekolah, jauh di pos depan pagar sana.
...***...
__ADS_1