
...***...
Minggu sore itu Fellin hanya duduk didepan televisinya, sembari terus mengecek hpnya. Pada minggu biasanya saat dia masih berpacaran dengan Azril, Azril selalu saja mempunya kejutan yang romantis untuknya, tapi tidak untuk setiap minggu selama satu bulan ini. Fellin selalu sendirian di rumahnya, bahkan telponnya juga tak pernah diangkat lagi oleh Azril. Seluruh pesannya tak terbalas, hanya terbaca. Hanya centang dua yang terus membiru tanpa adanya balasan satupun.
...Bosen bosen bosen! Azril kemana sih! Bosen bangettt tauuuu!! ...
Tiba-tiba ada yang menutup mata Fellin dari belakang. Gadis muda itu awalnya terkejut, namun senyuman merekah dari bibirnya, saat dia merasakan itu tangan seorang pria.
"Azrilll!!" teriaknya semangat.
"Tetottt! Salah, Coba tebak lagi." kata pria itu. Pria yang tangannya menutup mata Fellin.
Fellin menarik tangan pria itu. "Yee elo? Erlan kan, ngapain?"
Coba bayangkan perasaan Erlan saat ini, apa kalian tau rasanya? Bagaimana? Yang pasti menyesakkan bukan?
Erlan melepas tangannya, lalu duduk di sebelah Fellin. "Gua gabut sih, laper juga sih, berhubung rumah kita ga jauh-jauh banget jadi gua ke sini, mau minta makan."
Fellin hanya memutar bola matanya jengah, memang akan jarang sekali mendengar Erlan berbicara hal yang berbobot dan berfaedah. Semuanya selalu hal-hal yang aneh-aneh saja.
Tepat saat itu juga, bibi pengasuh Fellin datang membawa piring makanan berisikan lauk pauk yang lengkap.
"Ini Den pesanannya tadi." kata bibi itu ramah,
"Makasih ya bi,"
"Bi, ngapain dikasih sih, biarin aja si bekicot ini kelaperan." Protes Fellin dengan suara manjanya. Bibi itu hanya tersenyum lembut sembari kembali ke dapur. Fellin selalu manja, bahkan dengan seluruh pelayan di rumahnya.
__ADS_1
"Ywho bwodo wamatth gwa laferr." Itulah akibatnya kalau ngomong saat mulut berisi, Tidak jelas rasanya ingin Fellin sumpal mulut cowok yang satu ini.
"Abis makan lu pulang deh, eh engga! Nyuci piring dulu."
"Eh ada tamu ternyata, oh ini nih dia yang buat setengah badan Fellin lumpur semua, hadehh kamu ini ya." sapa Papa Fellin yang baru pulang ngegolf bareng teman-temannya.
Erlan langsung tertawa, dia meletakkan piringnya dan langsung berdiri menyalami Pak Gerald itu. "Maaf om maaf, saya sengaja pengen denger Fellin teriak-teriak, lama ga teriak-teriak soalnya."
"Heh, lu tuh ya." Fellin menyikut Erlan, dia langsung ikut menyalami papa tercintanya yang baru pulang.
"Asal ga luka gapapa, yang penting jangan di ulangi ya Erlan, nanti Fellin bisa sakit. kamu tau kan Fellin ga terbiasa sama hal kotor dan berbau gitu, "
"Siap om! Saya bakal jagain Fellin!" Erlan memberi hormat yang meyakinkan.
"Ya udah, saya keatas dulu, kamu tolong jagain Fellin ya, kamu kan tau dia dunianya saya."
Pak Gerald hanya tersenyum lalu naik ke atas? Naik tangga? Oh tidak, tentu saja naik lift. Dia orang kaya, Fellin benar-benar seorang putri loh.
"Nah sekarang mari kita liat apa yang buat Arga kena mental." Erlan merangkul Fellin sembari menunjukkan Dvd film gore yang waktu itu. Yang saat di kelas membuat Arga begidik ngeri.
"Bagus juga, mumpung gue gabut plus bahan besok buat hina si Arga." Fellin langsung mengambil Dvdnya dan mulai memasangnya.
Keduanya sudah duduk bersebelahan, dan Erlan kembali melanjutkan makannya yang tertunda. Duduk bersama menonton film yang sama pula.
Fellin baru saja menekan Play, pada saat opening saja sudah mulai tersaji adegan-adegan yang sangat menjijikan dan berbau darah itu. Fellin menutup matanya menggunakan jari-jarinya, tapi dia tetap bisa melihat dari sela-sela jari jemarinya. Namun tiba-tiba Televisi nya mati.
"Lah kok?" Fellin menoleh ke arah Erlan, ternyata yang mematikannnya adalah pria muda ini.
__ADS_1
"Anjirr, ntar dulu Fell, gua lagi makan lu suruh liat begituan. Sumpah selera makan gua ilang, tapi gua laper." protes Erlan.
"Bodoamat! Gue mau nonton!" Fellin merebut remotnya dan kembali menekan play. Jujur saja Fellin tidak berani melihat itu, tapi melihat Erlan terasa tersiksa begitu menyenangkan. Jadi Fellin ingin terus menontonnya walau terpaksa.
Erlan meletakkan piring yang isinya tinggal setengah, dia benar-benar kehilangan keinginan makannya.
Fellin mengambil piring itu. "Wlee!! Ayo makan, makan, makan sini, aaaa ututu aaaa anak mama yang pinter aaaaaa." Fellin memaksa Erlan untuk membuka mulutnya, menyuapi pria itu makan.
"Jangan gitu Fell, buset gua beneran mau muntah ini,"
"Bodoamat, makan aaa buka mulut Lan Aaaaa." Fellin tertawa begitu lepas, dia terus saja memaksa Erlan membuka mulutnya, namun dengan sekuatnya Erlan juga menahan, hingga satu kelalaian makanan itu masuk dalam mulutnya. Ah, entah kelalaian atau Erlan sengaja membuka mulutnya, agar dia bisa makan dari suapan Fellin?
"Nah pinter," setelah makanan itu sampai di tenggorokan Erlan. Fellin memaksa kepala Erlan untuk melihat film dengan adegan goreee yang sadis itu.
Erlan langsung bangkit dan berlari ke kamar mandi, dia benar-benar mau muntah rasanya. Fellin yang melihat itu benar-benar tertawa puas.
"Haha mampuss lo, sial gue ngakak parah."
......................
Erlan menatap dirinya di cermin yang cukup besar. Dia tersenyum manis tatkala melihat ekspresi Fellin yang seperti itu, hampir satu bulan ini sejak Fellin bertengkar dengan Azril, Erlan tak melihat lagi Fellin senyum setulus itu, dan mendengar tawanya sepuas itu. Dan yang membuat Erlan puas adalah semua itu karna dirinya, bukan Azril.
Erlan menatap cermin itu bangga, namun ingatannya kembali pada adegan dimana lelaki itu menghantukkan kepala korbannya di kaca kamar mandi hingga pecah, dan ughhh
Erlan benar-benar ingin muntah.
...***...
__ADS_1