Nona Antagonis

Nona Antagonis
Azril Maheswara?


__ADS_3

...***...


Dua minggu sudah berlalu, Anya sudah kembali sehat, bahkan hari ini dia sudah kembali ke rumahnya. Itulah yang menjadi bahan pikiran Fellin saat ini, dia berbaring menatap langit-langit kamarnya. Dia tidak tau apa yang akan dia berikan pada Anya sebagai hadiah kesehatan Anya.


Tante Anya orangnya sederhana dan ga suka pamer, jadi kalo di beliin perhiasan, sama aja ga guna. Hadehh, jadi haru apa dong?


Tanpa sengaja Sania melihat mainan kunci yang tergantung di tasnya. Dia teringat akan perkataan Sania, bahwa itu dia sendiri yang membuatnya.


Iya juga ya, bukan masalah bendanya, asal dibuat dari tangan sendiri, pasti kesan dan pesannya beda. Buat sendiri ya? Gue bisanya buat apa? Cuma buat bubur doang? Ya kali ngasih bubur.


Fellin berjalan ke kamar Papanya, dia tidak tau lagi harus meminta saran dari siapa. Papanya adalah satu-satunya yang dia harapkan saat ini.


Andai aja ada Mama, pasti bakal lebih mudah. Mama bisa ngasih saran yang terbaik. Jadi Fellin ga perlu pusing-pusing gini, Mama..., Fellin kangen tau.


Fellin mengetuk pintu kamar papanya, setelah diizinkan masuk, Fellin pun masuk. Dia melihat papanya yang duduk di sofa sambil memangku laptop kesayangannya. Fellin juga ikut duduk di sebelah papanya, dengan memasang wajah kusut yang layak dikasihani.


"Sekarang putri kecil papa ini ada masalah apa lagi? Bukannya semua udah selesai? Anya sudah sehat kan? Bahkan dia udah boleh pulang." Gerald menutup laptopnya, dia hanya fokus pada putrinya saja.


"Justru itu masalahnya Pa, nanti malam kan keluarga Maheswara ada acara syukuran gitu kan, kita juga di undang, jadi Fellin bingung mau beli apa." Fellin menghela napasnya kasar, dia sudah lelah berfikir, jadi dia hanya bersandar di bahu kuat papanya, bahu yang tak kan pernah hilang dari ingatan Fellin. Bahu ternyaman tempat dia bersandar.


"Ada ribuan barang di Mall? Dan anak papa masih bingung?"


"Ga gitu Pa, Fellin mau yang buat sendiri, biar lebih terkesan maknanya. Tapi sayangnya, Fellin ga bisa apa-apa, ga bakat dalam hal apapun. Jadi ga tau bisa apa."

__ADS_1


Gerald menarik senyuman hangat di wajahnya, dia bangkit berdiri. "Jadi kamu mau ngasih sesuatu yang spesial sama calon mama mertua itu? Biar makin di restui?"


"Papa~ Ga gitu, meskipun emang Fellin sayang banget ke  Azril. Tapi ngasih hadiah spesial buat tante Anya itu tulus dari hati Fellin loh, tante Anya udah Fellin anggap kayak mama sendiri."


Gerald berjalan ke arah lemarinya, dia mengambil sebuah kotak kayu dengan ukiran tradisional disana, sangat estetik dan unik, sepertinya barang langka. "Iya-iya papa ngerti kok, semuanya memang karna Anya, bukan Azril. Ngomong-ngomong soal Mama kamu, Mama kamu jago dalam menyulam loh, sulaman dia cantik dan rapi, kalo emang kamu mewarisi bakat mama kamu, pasti bentaran doang belajarnya. Dan ini, kotak favorit mama kamu, dimana dia menyimpan semua barang-barang menyulamnya."


Fellin menerima kotak itu, dia membukanya perlahan, tampak alat-alat itu masih tersimpan rapi, dan juga ada beberapa sapu tangan yang sudah di sulam dengan motif yang unik, perpaduan warnanya begitu indah.


"Itu punya mama kamu, liat tutor di you tube sana. Kalo kamu bakat, pasti cepet ngertinya. Soal motif, itu ada buku, nah coba buka, buku itu isinya motif-motif buatan mama kamu, ja--"


Fellin tiba-tiba langsung memeluk Gerald erat. Dia menangis begitu hebat.


"Maafin Fellin Pa, maafin Fellin..., Fellin sempat berpikir kalo papa ga bisa selesaiin masalah Fellin yang ini, Fellin pikir kalo ada mama semuanya jadi lebih mudah, mama pasti bakal ngertiin Fellin. Tapi papa? Papa yang selama ini tau segalanya yang Fellin butuhkan, kasih sayang papa udah lebih daru cukup."


Gerald tersentak halus, dia sangat terharu, pria itu membalas pelukan putri kecilnya. "Gimana pun besarnya kasih sayang papa, itu gak akan pernah cukup buat gantiin kasih sayang mama, ingat itu."


...***...


Malam hari telah tiba Gerald dan Fellin sudah memasuki rumah keluarga Maheswara setelah di sambut Wira. Fellin juga melihat ada Erlan, Arga dan Cecil yang berkunjung di sini, serta orang tua Arga. Orang tua Erlan dan Cecil tidak bisa datang karna ada urusan katanya, orang tua Cecil sudah di luar Negru sejak satu bulan yang lalu.


Fellin duduk di sebelah Erlan, kembali Fellin mengingatnya, kejadian itu.


Kira-kira siapa cewek yang Erlan sukai? Semenjak hari itu, Erlan jadi lebih sering diam, terus ga pernah ngechatt gue lagi. Ngeselin amat tuh cewek, gue kan jadi ga bisa gangguin Erlan lagi.

__ADS_1


Malam itu ada suara obrolan ringan di antara dentingan sendok di atas meja makan. Fellin berjalan mendekat ke Anya, dia memberikan sebuah kotak. "Semoga tante cepet pulih kayak semula ya," setelah memberikan itu, Fellin kembali ke mejanya.


Anya dengan rasa sedikit penasaran membukanya, dia bisa melihat sapu tangan dengan sulaman indah di sana, itu mengingatkan Anya pada satu hal.


"Dulu juga Mama kamu cerita, dia mau buat sulaman ini Fell, dia baru buat desainnya di buku, belum terealisasikan, tapi..., eh maaf..., bukan maksud--" Mata Anya berkaca-kaca, bagaimanapun juga Anya dan Mama Fellin adalah teman baik semenjak SMA.


"Gak papa tante, ya itu juga Fellin buat hasil nyontek desain Mama,"


"Makasih ya Fellin, Tante seneng banget." Anya menatap Fellin penuh cinta, terlihat jelas rasa haru di sana. Fellin mengangguk dengan senyuman hangat di pipinya.


"Oh ya, kalau Anya memang sangat sayang sama Fellin. Kenapa gak buat Fellin jadi menantu, Oh ya bagaimana kalau pertunangan yang kita rencanakan sejak dulu, terlaksana secepatnya?" Ujar Gerald membuka pertikaian dalam ini, sudah jelas kan ucapannya itu membangkitkan emosi Azril.


Fellin hanya diam, dia hanya tertunduk dengan senyuman.


Papa emang terbaik, tau aja Fellin maunya itu!


"Oh sayang sekali Pak Gerald Skylira. Saya dan Fellin udah putus, Apa Fellin ga pernah cerita?" Sahut Azril dengan suara enteng menatap Gerald seolah menantang.


"Kalian cuma bertengkar sesaat, beberapa hari lagi juga akan baikan." Lanjut Gerald tak mau kalah.


"Sayang sekali, tapi saya udah gak suka Fellin lagi, karna saya udah suka orang lain, dan hanya akan menikah dengannya. Dia, Shareen Maheswara." Azril menggenggam tangan Sania, dan mulai mengecupnya di depan semua orang. Sania diam mematung, badannya mendadak kaku, tenggorokkannya kering, pikirannya mendadak kosong, dia tidak tau harus berbuat apa dalam situasi saat ini.


Fellin menatap itu tidak percaya, amarah langsung berkobar di sekelilingnya. "Gak mungkin bisa gitu! Mana mungkin Azril bisa nikah sama Sania saat kalian sendiri saudara kandung! Kalian sedarah! Azril ingat, Sania itu adik lo! Lo gak bisa nikah sama dia!"

__ADS_1


"Nah!! Itu dia poin penting dari segalanya! Tapi, apa aku pernah bilang? Aku putra kandung Maheswara?" Azril menatap Gerald dengan kelicikan.


...***...


__ADS_2