Nona Antagonis

Nona Antagonis
Menunggu


__ADS_3

...***...


Sepanjang hari ini, Fellin selalu menantikan Azril. Tapi Azril juga tidak datang, bahkan sampai malam menjelang sekalipun. Jangankan datang, semua pesan Fellin juga di abaikan oleh Azril. Azril benar-benar dingin pada Fellin, meski begitu tetap tak membuat Fellin menyerah.


Fellin menghela napasnya, dia harus tidur agar besok pagi bisa ke sekolah dan menemui Azril kesayangannya. Sampai saat ini pun, Fellin masih berharap Azril bisa kembali seperti dulu, menjadi Azrilnya yang sangat memanjakan dirinya, menjadi Azril yang mencinta Fellin dengan segenap jiwa dan raganya.


"Liat aja, besok gue bakal marahin dia!" Fellin menarik selimutnya, menutup matanya. Apa yang akan terjadi besok, dia harap hanya akan dipenuhi hal-hal baik. Dia harap Esok Azril berubah seperti semula, seolah Azril yang kejam dan dingin yang dia hadapi beberapa Minggu terakhir, hanya mimpi buruk semata.


"Fellin bego, dia selalu lupa ngunci jendela balkon." gumam seseorang dengan suara pelan, ya dia adalah Azril yang entah bagaimana caranya sudah sampai disana.  Azril dengan gampang nya langsung masuk ke kamar gadis itu.


Azril mengambil obat-obatan di nakas itu. Ia perhatian, Azril sayang pada Fellin, bahkan mungkin lebih menyayangi Fellin dibanding dirinya sendiri. Entah lawakan takdir apa yang Azril terima, hingga dia harus bersikap dingin pada gadis yang sebenarnya begitu berharga untuk dirinya.


Takdir kita lucu banget ya Fel? Btw,


Bego banget sih, kan gini akhirnya, lu sakit, mesti minum obat yang pahit. Padahal kan lu benci yang pahit-pahit.


Azril duduk di meja belajar Fellin.


"Tolong Fell, tolong lupain gua. Ini demi kebaikan kita berdua, kebaikan lu dan gua." Azril menghela napasnya, dia memijit keningnya sedikit.


Seharian ini gua ga ngantor karna gua khawatir banget ke lu.


Dia khawatir, namun bersikap seolah tak peduli. Apa maksudnya? Melupakan cinta yang sudah mereka bangun, demi kebaikan keduanya? Apa lagi maksudnya itu?


...***...


Sudah hampir lima belas menit, nona Fellerin Skylira itu berdiri di gerbang, entah siapa yang dia tunggu. Ah? Jelas kan? Pasti Azril. Jika Fellin melakukan hal bodoh maka alasannya tidak akan jauh-jauh dari Azril dan cinta bodohnya itu.


Tiba-tiba ada sebuah mobil mewah yang berhenti di depan gerbang, sepertinya ini salah satu mobil bangsawan terkemuka.


"Lah? Lu ngapain di sini bego? Dateng pagi bukannya ke kelas malah berdiri-berdiri ga jelas." Suara itu menyapa Fellin di pagi yang dingin itu.


"Apaan sih Lan, gue mau nunggu Azril. Bisa-bisanya dia sama sekali ga jengukin gue pas gue sakit. Harus gue marahin!" jawab Fellin memasang wajah marah namun terlihat begitu imut.


"Hadeh, padahal lu baru sembuh juga, udah datang sepagi ini, ga pake jas padahal tau kalo dingin, bukannya ke kelas malah di luar. Beban, is beban emang." Erlan melepaskan jasnya, lalu ia pakaikan pada gadis mungil itu. Berhubung Fellin juga cukup kedinginan, jadi dia tak akan menolaknya. Erlan, pemuda yang mencintai sang sahabat dalam diam, cinta yang bertepuk sebelah tangan. Jangan tanya, tulusnya dia seperti apa.


"Berisik banget deh, kalo lo di sini cuma mau ngatain gue, mending pergi deh." ketus Fellin memanyunkan mulutnya, meski begitu dia berharap Erlan tidak pergi, karna Fellin sendiri tidak suka kesepian. Jika bukan karna Azril, mana mungkin dia ingin berdiri di kedinginan begini.

__ADS_1


"Udah berapa lama lu di sini?"


"Kira-kira 20 menit lah,"


Erlan tidak lagi bisa mengerti maksud gadis ini. Dia menatap Fellin kasihan. Antara sakit dan sesak, dia benar-benar tidak habis pikir dengan tingkah gadis ini. Erlan selalu ingin berteriak bahwa Fellin harus melupakan Azril, dan sesekali pandang dirinya.


Tapi tidak. Erlan tidak pernah benar-benar melakukannya walau dia sering memikirkannya, karna perilaku itu akan membuat Fellin semakin jauh dari dirinya, dan mungkin akan merusak persahabatan mereka.


Satu-satunya hubungan pengerat antara dirinya dan Fellin.


Ini di sebut apa? Perjuangan yang luar biasa? Atau gak tau dirinya melampaui batas umat manusia?


Wajah Fellin yang tadinya buruk, berubah menjadi ceria, senyuman di wajahnya terlukis indah, tatkala ia melihat mobil Azril mendekat.


Senyuman hangat dan tulus semakin merekah dari Fellin saat melihat Azril turun. Namun senyuman itu mendadak pudar melihat Sania juga turun.


Fellin tidak peduli, dia menarik tangan Azril. "Gue ga mau tau, gue marah sama lo pokoknya. Kenapa lo ga datang jenguk gue pas gue sakit?"


"Karna lu ga penting." jawab Azril sekenanya. Saat itu juga Erlan ingin sekali menghajar habis Azril. Mulutnya itu loh mulutnya. Apa dia ga tau apa yang udah Fellin korbanin.


"Intinya karna lo ga jenguk gue kemarin, jadinya lo harus traktir gue makan hari ini, kita bakal ke kantin sekarang." Fellin kembali menarik tangan Azril.


Sania diam, dia hanya bisa menatap Fellin iba, namun Fellin menatapnya dengan penuh kebencian.


"Bakal gua hajar dia!" Erlan sudah bersiap menghajar Azril saat ini, namun dia dihentikan oleh Fellin.


"Jangan pukul Azril, dia... Dia..., "


"Dia apa Fell? Dia belum sadar kalo dia cintanya sama lu doang. Lu di sini yang harusnya sadar Fell, ngerti ga?" Erlan menarik Fellin kedalam pelukannya. Memberikan kehangatan untuk hati gadis itu yang tengah beku.


"Fellin kenapa? Jangan bilang karna Azril lagi?" tanya Cecil yang baru datang, dengan Arga di sebelahnya.


"Kalo bukan karna Azril, apa yang harus Nona Fellin tangisi?" Erlan mengangkat alisnya.


"Cup cup cup dede Fellin. Udah udah, jangan nangis gitu. Ingat kan? Dua hari lagi kita bakal liburan, nah pada saat itu kita bakal rebut balik Azril, dan ngusir Sania dari kehidupan kita, selamanya." kata Arga menepuk kepala gadis itu. Di mata Arga, Fellin sudah seperti adik kecilnya sendiri.


"Serius Ar?" tanya Fellin antusias, matanya berbinar semangat.

__ADS_1


"Serius dong, makanya lo jangan nangis lagi oke? Tenang aja, Sania bakal pergi, Azril bakal balik, kita bakal sama-sama kayak dulu lagi." sambung Cecil dengan percaya diri.


"Aaaaa my Cecil is the best emang." Fellin melepas pelukan Erlan, lalu memeluk sahabatnya itu.


Erlan menaikkan sebelah alisnya, dia menatap Arga dan Cecil bergantian.


Apa yang dua orang ini rencanain? Gua harap rencananya ga berlebihan sampai hilangin nyawa sih.


...***...


Sabtu pagi ini mereka semua sudah berkumpul di tempat yang di sepakati. Berhubung senin adalah tanggal merah, maka para bangsawan ini bisa menghabiskan waktu lebih lama.


"Cel Cel, gue bener-bener seneng banget tau ga. Akhirnya kita bisa liburan barengan lagi, ugh jujur gue kadang bosen sendirian di rumah. Mau nginep di rumah lo, kasian papa gue." Oceh Fellin antusias. Gadis itu menggerai rambutnya, dengan bandana putih yang menghiasi disana.


Dia memakai kaos putih, berbalut cardigan abu-abunya. Terlihat sangat manis, tentu karna di dukung wajah imutnya.


Semua orang tersenyum hangat dan bahagia mendengar itu. Apa yang Fellin katakan semuanya adalah fakta. Mereka jarang berlibur semenjak Azril menjauh.


Azril datang membawa mobil pribadi miliknya. Kali ini Azril yang mengendarai mobilnya, berhubung dia sudah punya SIM.


Fellin ingin duduk di depan sebelah Azril, namun sayang, sudah ada Sania di sana ternyata.


"Gue bakal pindah ke belakang." Kata Sania saat melihat wajah tak senang Fellin.


"Ga usah, lu babu gua, ikutin perintah gua. Gua bilang lu duduk di sini ya lu di sini." sambung Azril menggenggam tangan Sania erat.


Fellin menghela napasnya, dia mencoba untuk tetap tenang. Dia sama sekali tidak ingin liburan ini hancur karna amarahnya semata. Fellin menarik napasnya, dan mengalah duduk di sebelah Erlan.


Mobil itu berjalan setelah semuanya naik.


"Gua haus, mau minum." Kaga Azril. Baru saja Fellin ingin memberinya botol air mineral, sudah ada Sania yang melakukannya.


"Lu ga liat gua nyetir?"


Sania melepas tutup botol itu, dan memberikannya pada Azril. Fellin hanya berusaha untuk menahan segala amarahnya.


Tahan Fell, tahan, lo harus sabar biar liburan nya ga hancur.

__ADS_1


...***...


__ADS_2