Nona Antagonis

Nona Antagonis
Cukup Fellin, oke?


__ADS_3

...***...


Bel masuk sudah berbunyi, beberapa murid sudah ada di kelas, termasuk Fellin dan Cecil. Tidak lama kemudian semua sudah masuk, termasuk Azril. Fellin tersenyum menatap Azril, namun Azril hanya membuang mukanya. Azril tidak tertarik untuk melihat Fellin.


"Masih ma--"


"Shhhtt diam Cel, sabarin aja dulu." bela Fellin yang tidak pernah lelah. Dia selalu berjuang untuk mendapatkan hati Azril kembali.


Azril terus menatap ke arah pintu,  mata sayunya sama sekali belum menangkap Sania disana. Terbesit dipikirannya bahwa Sania tersesat. Wajar saja, Sekolah Bangsawan ini begitu luas, dan Sania masih murid baru.


Tidak berselang lama, gadis yang Azril nantikan kedatangannya memasuki kelas. Tapi ada yang aneh dengan cara jalannya, dia seperti kesakitan di kaki kanannya. Tampak jelas bahwa dia mencoba berjalan senormal mungkin.


Ada beberapa orang dikelas yang memfokuskan perhatian pada Sania, dan ada yang tidak perduli dan bodoamat.


Deg!


Fellin merasa jantungnya berdegub kencang, dia menatap Cecil tidak percaya. Jujur saja, saat ini Fellin merasa bersalah, dia benar-benar tidak menyangka bahwa kaki gadis itu akan separah ini sampai sulit berjalan. Fellin akui dia benar-benar tidak sadar sudah menginjak kaki itu sekuat mungkin karena terbawa amarah.


Bibir Fellin bergetar, dadanya sesak, dia ingin mengatakan sesuatu tapi tak bisa. Dia hanya menatap mata Cecil khawatir. Bibirnya kelu, ada ucapan yang tertahan di pangkal lidahnya.


"Shhtt, diam oke. Ga bakal ada yang tau kita yang lakuin itu semua, ngerti?" bisik Cecil, dia menarik kepala Fellin untuk bersandar di bahunya. Cecil terus mengelus kepala Fellin untuk menenangkan gadis itu.


Lu tenang aja Fell, kalau dia ngadu juga gue bakal bilang itu ulah gue sendiri. Lu tenang oke. Gak akan ada yang berani nyalahin lu, gue janji.


Lanjut Cecil dalam hati. Benar, untuk Cecilia Fellin memang seberharga itu, apapun yang Fellin inginkan, Cecilia akan menurutinya.


"Ta-ta--"


"Tenang aja Fell, santai ngerti? Ini bukan sepenuhnya salah lu, ini juga salah dia karna berani deketin Azril, seandainya dia jauhin Azril lu ga bakal semarah ini kan?" Cecil juga tidak tau apa yang dia katakan benar atau salah. Yang jelas dia hanya ingin Fellin tenang sekarang. Jika Fellin terus bereaksi begini, takutnya semuanya akan ketahuan ulah Fellin, dan Cecil tidak lagi bisa menanggung hukumannya sendirian.


"Iya ini juga salah dia hnm. " Fellin merasa lebih tenang.


Yang kedua gadis itu tidak ketahui adalah, mereka sudah diperhatikan oleh Arga dan Erlan. Hanya berkomunikasi melalui tatapan, Arga dan Erlan tau kalau ini pasti ulah Fellin.


Meski begitu, baik Arga atau Erlan keduanya tidak ada niatan untuk memarahi Fellin. Karena benar, keduanya sudah dibutakan kasih sayang sampai tak satupun ada yang mau membentak gadis manja itu.


Azril ingat, tadi pagi Fellin memijak kaki Sania begitu keras, tapi Azril juga ingat dia bisa berjalan biasa saja tadi pagi.


Tapi kenapa sekarang?


Azril bangkit dari bangkunya, dia berjalan ke arah Sania, membantu memapahnya berjalan. Dan tentu membuat Fellin yang iba menjadi sangat kesal sekarang.

__ADS_1


"Babu tuh harusnya membantu, bukan malah nyusahin gini." omel Azril.


Hello tuan muda, ga ada yang minta lu bantuin gue. Lu nya aja yang mau merepotkan diri sendiri kan?


Sania hanya bisa mengerutkan dahi heran.


"Peraturannya masih sama, tidak sopan memasang wajah begitu di depan tuan mudanya. Di depan majikan itu harus selalu tersenyum." Sindir Azril yang sepertinya sangat memanfaatkan statusnya.


Sania cukup kesal, namun dia harus memaksa kekesalannya berubah menjadi sebuah senyuman manis.


Fellin yang awalnya kasihan, sekarang murka besar, dia rasanya ingin mencabik habis si Sania itu. Dia lupakan soal Sania yang terluka karna dirinya.


"Katanya cuma pelayan, hanya pelayan, tapi dia jelas-jelas senyum gitu buat caper ke Azril kan? Ya kan Cel?"


Cecil diam, dia tidak menyangka kalau Sania akan menggoda Azril begitu. Cecil pikir dia tipe gadis yang tidak peduli dengan hal-hal seperti itu.


Fellin menekan pulpennya begitu keras.


Takkk!!


Bahkan sampai pulpen itu patah.


"Nanti dulu Fell, sabar." cegah Cecil menarik tangan Fellin. Syukurlah itu Cecil, jika orang itu bukan Cecil maka Fellin sama sekali tak peduli. Perkataan Cecil sangat berpengaruh dengan tindakan Fellin.


"Cecil itu bener-bener pawangnya Fellin ya?" Komen Arga yang mendapat anggukan dari Erlan. Mereka cukup kagum dengan gadis rambut pendek itu.


"Kaki lu Kenapa?" tanya Azril membantu Sania duduk di kursinya.


"Biasalah kayak di SMK dulu, manjat pohon, terus jatuh." bohong Sania tanpa memudarkan senyumannya. Ini adalah senyuman yang paling ia benci.


Sania menatap Fellin dengan ekor matanya. Tubuh Sania langsung lemas saat dia bisa merasakan hawa menusuk itu, dibarengi dengan tatapan kebencian yang dosisnya lebih parah dari sebelumnya.


Habislah, pasti Fellin kirain gue godain Azril. Aish, gini amat. Ada masalah apa sih Semesta sama gue? Kok akhir-akhir ini ujiannya pada ga ngantri.


"Tenang aja, Fellin ga bakal berani apa-apaan lu." Azril kembali ke kursinya.


Ga berani apanya, lu kira kau gue pincang karna apa? Dipijak tuan putri.


Sania mendengus kesal. Ntahlah, dia lelah rasanya. lebih baik membabu seharian di rumah besar itu, di banding bersekolah di sekolah mewah ini.


Azril menatap kedua tangannya. Untuk pertama kalinya tangan itu menyentuh tangan lain selain tangan Fellin, tangan lembut favoritnya, yang selalu memberi kehangatan pada setiap genggamannya.

__ADS_1


"Fell ... in." lirih Azril yang hanya bisa terdengar oleh telinganya sendiri. Azril tak tahan, dia ingin keluar. Tapi dia tau, jika dia keluar maka Fellin akan melampiaskan kemurkaannya pada Sania.


Arghh laper. Laper banget, mana tadi pagi ga sarapan, siang ini ga makan, mati deh gue sekarang, ahh ayolah udara berubah jadi roti. Memdatlah kalian udara, dan jadilah sebuah burger.


Batin Sania, orang laper emang haluannya ga masuk akal, aneh-aneh semua.


Tiba-tiba ada seseorang dari kelas lain masuk membawa kantung plastik berisikan makanan dan minuman, yang langsung ia berikan pada Azril. Setelah itu pria itu langsung pergi begitu saja.


Azril memberikan kantungnya pada Sania. Entah darimana Azril tau Sania kelaparan saat ini.


Maap Fellin, tapi sumpah gue laper banget, gue ga bisa nolak apalagi ini gratis.


"Makasih." Kata Sania, terdengar tulus. Meski dia membenci pria didepannya ini, tapi dia harus tetap berterima kasih pada semua orang yang menolongnya.


Azril cukup terkejut, tapi dia tak ingin ambil pusing. Dia hanya kembali ke kursinya.


Tidak ada kah yang tau bagaimana perasaan Fellin saat ini? Melihat orang yang begitu dia cintai sangat perhatian pada gadis lain?


Tes tes tes


Fellin tak lagi bisa menahan tangisnya, dia tak sanggup lagi melihat itu semua. Fellin berlari keluar ruangan. Tak ada satupun yang mengejarnya, termasuk Cecil. Cecil paham, gadis itu butuh ruang sendirian kali ini untuk memikirkannya.


Namun tiba-tiba Azril menatap Cecil sinis, seolah memerintahkan Cecil untuk segera mengejar Fellin. Jangan pernah biarkan Fellinn sendirian.


Cecil cukup kaget, lalu dia ingat sesuatu, matanya membesar karna khawatir. Tanpa pikir panjang Cecil langsung berlari mencari Fellin.


Jika seseorang merasa sangat sedih dia mungkin butuh sendirian untuk mencerna masalahnya. Tapi itu tidak berlaku untuk Fellin, karna dia sangat membenci kesepian dan kesendirian. Bagaimanapun Fell ... In.


Batin Cecil, fokusnya sekarang hanya untuk mencari Fellin.


Saat Cecil berlari Erlan juga menyadari satu hal, dan dia ikut berlari keluar mencari Fellin termasuk juga Arga. Mereka jadi sadar beberapa hal lain.


Sania bisa melihat tangan Azril gemetar, kakinya selalu bergoyang seolah ingin berlari. Tatapan Azril gusar, dia selalu melirik ke arah pintu.


Ingatan mereka semua terpaku pada kalimat Fellin dulu.


"Gue ga tau kenapa waktu orang ada masalah mereka malah milih sendirian, kalo gue mah mending ceritain ke kalian sahabat gue, terus kalian bantuin mecahin masalahnya. Abis itu masalah selesai, gue gak sendirian,  dan gue bahagia. Selesai, ga usah ribet-ribet. Karna itu lah gue punya kalian disini, " kata Fellin menampilkan senyuman polosnya, dia begitu polos karna percaya pada teman-temannya dan tanpa ragu membagikan rahasia permasalahan hidupnya.


Tapi memang begitulah Fellin, dia sangat percaya pada orang di dekatnya. Kepercayaannya yang tidak akan pudar.


...***...

__ADS_1


__ADS_2