Nona Antagonis

Nona Antagonis
Jangan salahkan dia!


__ADS_3

...***...


"Ga usah salahin Sania, ga usah ngatur-ngatur dia. Kalo pun Fellin sakit, itu karna emang dia ga bisa jaga diri. Gua kasih tau ke lu, jangan usik Sania." Tiba-tiba Azril kembali dan langsung membawa Sania pergi dari sana.


Entah apa yang terjadi pada Azril. Azril menggenggam tangan Sania erat, bahkan beberapa kali gadis itu meringis kesakitan.


"Kenapa? Kenapa lo bawa gue? Kan ga ada Fellin, ga ada yang bakal nyakitin gue. Toh Erlan juga ga main kasar ke gue, dia malah minta tolong ke gue, minta tolong." kata Sania yang mampu menghentikan langkah Azril. Azril merenggangkan genggamannya, Sania langsung menarik tangannya.


"Karna lu itu babu, babu itu gimanapun harus ikutin kata majikannya." Azril berbalik, dia tersenyum miring tanpa rasa bersalah.


"Babu babu babu!! Apa ga bosen ngomongin itu mulu? Apa lo pikir babu itu ga manusia? Tolong, jangan libatkan gue lagi, dan tolong jangan sakitin Fellin lagi. Lo tau rasanya ga jadi Fellin?" teriak Sania, emosinya benar-benar tersulut saat ini, dia tidak tau apa sebabnya.


"Dan lu tau ga rasanya jadi gua? Apa lu pikir gua juga senang begini? Lu ga bakal pernah tau apa yang gua rasain saat liat Fellin nangis! Fellin itu, dia segalanya buat gua!! " Jawab Azril dengan suara yang tak kalah kuat.


"Segalanya lo bilang? Kalo emang Fellin sepenting itu buat lo, lo ga bakal nyakitin dia sampe segitunya! Dia cinta mati ke lo begoo!"


"Semuanya pasti ada alasannya." Azril diam menunduk.


"Alasan alasan alasan! Apapun alasannya itu ga wajar sampe nyakitin Fellin separah itu. Dia terluka, ngerti ga jadi dia? Lo ga kasian sama cewek seimut dia harus nangis tiap hari karna lo?! Apapun masalahnya, alesannya, lo harusnya bicarain baik-baik sama Fellin."


"Lu ga bakal pernah ngerti, yang gua lakuin udah jalan yang terbaik, gua lakuin ini semua buat dia. Lebih baik tersakiti hari ini, dan bukan untuk selamanya." Azril melenggang pergi, hatinya terluka sangat terluka. Dia juga benar-benar khawatir pada kesehatan Fellin.


Sania terdiam sebentar, dia terus bergumam sembari mengikuti setiap langkah Azril.


Apa gue terlalu berlebihan ya? Gue emang bukan siapa-siapa, dan harusnya ga terlalu ikut campur. Tapi gue..., gue cuma kasihan sama Fellin.


Azril berhenti di bawah pohon, pria itu duduk menyandar di sana.


"Kenapa sesulit ini? Gua ga nyangka bakal se ruwet ini. Sesak, ini terlalu sesak." Azril menghela napasnya, wajahnya saat ini benar-benar layak untuk dikasihani.

__ADS_1


"Itu berat, karna lo nanggung sendiri, cobalah untuk cerita ke orang lain." tiba-tiba ada suara dari balik pohon. Ya itu suara Sania, dia juga bersandar dibalik pohon yang sama dengan Azril.


"Percuma, ga bakal nyelesaiin masalah gua hari ini."


"Itu karna lo keras kepala, karna lo emang ga tau arti kata tolong dan maaf, terlalu tinggi ego."


"Kalo niat lu disini cuma mau ngebacot, mending pergi deh."


"Oke." sahut Sania singkat bangkit dari tempatnya. Azril yang sedari tadi menutup matanya, kini ia membukanya.


"Cewek itu beneran pergi?" ada sedikit rasa kosong dihatinya, dan Azril tidak suka perasaan itu. Azril sedikit bangkit, merangkak melihat dibalik pohon, benar saja, itu sudah kosong, tak ada Sania lagi disana.


"Belajarlah buat minta tolong, lo hidup di dunia ini ga sendiri. Untuk itulah lo punya temen, sahabat, orang tua, dan orang yang lo cintai, semua orang yang lo percaya." tiba-tiba Sania sudah ada di sebelah Azril.


Azril menghela napasnya, senyuman tipis terlukis diwajahnya.


"Lu sekarang duduk disebelah gua, tetep jadi patung, ini perintah." Azril kembali menyenderkan tubuhnya pada pohon besar itu dengan Sania di sebelahnya.


Manusia ini emang ga belajar apapun. Tapi, apapun alasannya, fakta kalo Azril secinta itu sama Fellin, ga bisa di ubah.


Entah kenapa Sania merasa sedikit nyeri dihatinya saat memikirkan itu.


Satu jam sudah berlalu, tanpa mereka berdua sadari keduanya sudah tertidur di bawah pohon selama itu. Berhubung pak Wiz tidak masuk hari ini, jadi tak ada yang berani menegur Azril Maheswara.


Azril perlahan membuka matanya, dia melihat sudah ada Sania yang tertidur di bahunya.


Iya gua tau, manusia itu ga bisa hidup sendiri. Gimanapun, sekuat apapun gua coba ngatasi semua ini sendiri, gua tetap butuh seseorang disebelah gua, buat tempat bersandar seenggaknya. Makasih, selalu ada buat gua, dan tolong jangan pergi. Lu satu-satunya orang yang bisa gua jadiin tempat bersandar saat ini, cuma lu.


Azril mengelus kepala Sania pelan. Ada rasa nyaman yang muncul dihatinya.

__ADS_1


...***...


Cecil yang melihat itu memupuk kebencian terhadap dua orang itu.


Fellin setiap hari nangis karna lu Zril, dan lu bisa-bisanya mesra-mesraan dengan cewek lain disana. Fellin yang setiap hari mengharapkan lu, bisa-bisanya lu?


Awalnya Cecil tak ingin membenci siapapun. Tapi kali ini Cecil benar-benar membenci kedua orang ini.


Karna kalian Fellin sakit saat ini!


Dari sudut yang lain sudah ada Arga yang memperhatikan segalanya.


"Pasti Cecil bener-bener benci? Mukanya keliatan jelas banget. Wajar sih, soalnya Cecil kan sayang banget ke Fellin." gumam Erlan.


"Apa semua ini? Kenapa jadi serumit ini? Semesta punya masalah apa sama persahabatan kami? Kenapa jadi hancur kayak gini? Apa karena kedatangan Sania? Ya, semenjak Sania datang, Azril menjauh dari kami." Arga mulai mengingat kembali setiap detailnya.


"Walau mungkin Azril emang sedikit ngejauh dari kami sebelum kedatangan Sania, tapi kalo Sania ga datang dalam kehidupan kami, mungkin Azril bisa dekat balik lagi ke kami. Dan mungkin hubungan Azril dan Fellin bisa diperbaiki. Apa kalo Sania pergi semuanya bakal baik-baik aja? Mungkin." Arga menimbang semua keputusannya.


"Gua cuma mau persahabatan kami balik kayak dulu, dan maaf buat lu Sania. Kayaknya mulai sekarang gua bakal pikirin banyak cara buat usir lu dari kehidupan kami, biar kami tenang." Arga menghela napasnya, dia tidak tau keputusannya salah atau tidak.


"Gua ga mau kami saling benci, bahkan Cecil keliatan benci sama Azril."


...***...


Erlan tidak peduli dengan sekolah itu, saat ini dia sudah berdiri di pintu kamar Fellin dengan penuh keringat, napasnya tidak karuan. Sepertinya dia habis lari-larian.


"Fellin, dia gapapa Om?" Tanya Erlan menatap papa Fellin yang masih setia duduk disofa sembari memangku laptopnya.


"Erlan..., lo ngapain?" lirih Fellin yang mendadak bangun, mendengar suara familiar itu.

__ADS_1


Erlan menghela napasnya lega, sangat lega, mengetahui bahwa gadis yang ia cintai baik-baik saja saat ini.


...***...


__ADS_2