Nona Antagonis

Nona Antagonis
Lumpur kan?


__ADS_3

"Pak, bukain dong, kita mau keluar, mau bolos sekalian jalan-jalan." Dengan santainya orang bodoh satu ini meminta kunci dari penjaga pagar.


Fellin menatap Erlan tak percaya, bisa-bisanya dia berteman dengan pemuda macam ini, yang agak lain kepribadiannya dari bangsawan lainnya.


"Jujur gue ga yakin lo naik kelas tahun ini." celetuk Fellin enteng, di dukung oleh sifat Erlan yang sekarang.


"Kali aja tahun lalu dia dinaikin kelas karena kesian doang." Sambung Cecil.


"Baik Den Erlan." jawab pak satpam itu, sembari membukakan gerbang untuk mereka.


"Nah ladies, ayo keluar." Ajak Erlan dengan entengnya, seolah dia lupa yang dia ajak bolos adalah Nona Fellerin Skylira.


Fellin dan Cecil melongo tak percaya. Pada awalnya yang Cecil maksud bolos ialah tetap berada disekolah hanya saja tidak masuk pelajaran, menemani Fellin dalam tangisnya. Tapi lihat sekarang, dua gadis cantik ini malah akan melangkah keluar sekolah dari gerbang belakang.


Kenapa malah jadi bolos beneran? Salah pergaulan kayanya gue.

__ADS_1


Sayangnya Cecil lupa, dia berteman dengan Erlan, yang notabanenya tau lah ya gimana. Fellin juga tidak menolak, dibanding menolak dia jadi sedikit lebih tertarik.


...***...


Ketiganya akhirnya berada di tempat yang Erlan maksud. Setelah melewati jalan aneh-aneh,  dan mobil mereka sulit masuk. Akhirnya mereka sampai juga.


Mereka saat ini  berada di daerah persawahan, dimana padinya sudah mulai menguning dan siap untuk di panen. Pemandangan sederhana itu mampu membuat Fellin merasa tenang, tak ada yang istimewa, hanya saja kicauan burung dan angin sepoi-sepoi yang menyapanya membuatnya terlena.


"Ayo ke pondok sana." Erlan menarik tangan Fellin. Erlan menuntun Fellin berlarian di lumpur, di jalan setapak yang kanan kirinya adalah padi. Sesekali telapak tangannya ia buka, guna merasakan bulir-bulir padi. Meski kadang tangannya agak sakit terkena pinggiran daun padi.


Cecil juga menikmatinya dengan berjalan, soalnya dia normal. Jujur saja, pembolosan kali ini juga tidak seburuk yang dia bayangkan.


Mereka sampai di sebuah pondok di tengah-tengah persawahan itu. Fellin cukup terkejut melihat barang-barang yang ada di pondok itu, ada gitar juga disana, dan persediaan makanan ringan.


"Jangan bilang lo sering kesini?" Fellin menaikkan alisnya tak percaya menatap Erlan.

__ADS_1


"Yoi, gua sering kasini kalau gabut, gada kegiatan, angin sepoi-sepoinya eughh pas banget nemenin gua ngegame. Tempat ini paling ajib buat ngegame dah, ngopi-ngopi santai juga seru disini."


"Liat nih, pemandangannya cantik, anginnya sejuk, jaringan lancar, ter---ehhh!!" saat asyik menjelaskan sambil berjalan, Erlan malah terplosok ke lumpur.


Sontak gelak tawa kedua gadis itu terdengar nyaring. Jujur saja mereka saat ini benar-benar tertawa lepas.


"Lah malah ketawaaa, bantuin guaa lah, berat woy." teriak Erlan saat kakinya masuk ke lumpur hampir selutut.


Fellin diam saja, wajahnya terlihat aneh, dia tampak ragu-ragu dan bingung.


"Ga bisa, gue ga bisa, ntar gue kena lumpur, gue ga pernah kena lumpur."


Cecil dan Erlan mengerti, betapa Fellin dimanja sejak kecil. Fellin putri satu-satunya yang pak Gerald punya, takkan dibiarkan kekurangan apapun.


Pribadi seseorang terbentuk karna pengaruh orang tua dan lingkungannya. Apakah menjadi kesalahannya kalau dia menjadi manja? Tapi dia memang sudah terbiasa dimanja. Fellin menjadi manja, karna dia sudah dimanja sejak kecil.

__ADS_1


Apa dia akan dianggap sombong karna tidak bisa menyentuh lumpur? Tapi sejak kecil dia sudah diajarkan untuk hidup bersih dan higenis? Apakah juga kesalahannya kalau dia tak terbiasa bekerja keras? Apakah salah Fellin kalau dia tidak ingin masuk ke dalam lumpur itu?


Erlan menatap wajah Fellin yang kelihatan bingung. Erlan sangat Yakin Fellin ingin membantunya, tapi Fellin juga sama sekali tak ingin terperosok di lumpur yang dalam itu. Cukup sepatunya dan kaus kakinya saja yang kotor, tidak boleh lebih dari itu.


__ADS_2