Nona Antagonis

Nona Antagonis
Dia yang Asli


__ADS_3

...***...


"Gimana dokter? Apakah pendonor nya cocok? Kalau tidak kami juga bisa mencari pendonor lain." kata Pak Wira yakin, apalagi di sisinya ada Gerald yang memiliki banyak koneksi. Dengan bantuan Gerald, mencari pendonor darah tidak begitu sulit.


"Apa maksud anda Pak? Bagaimana bisa itu tidak cocok saat yang mendonorkan adalah anak kandungnya?" kata dokter itu sedikit heran.


Semua orang mendadak diam, mereka menatap dokter tidak percaya.


"Anak kandung? Maksud dokter? Sania itu anak kandung saya?" tanya Gerald tak percaya.


Dokter itu sedikit tersenyum. "Pak Wira tau kan, saya juga merupakan dokter pribadi keluarga anda.  Bu Anya juga sering berkonsultasi dengan istri saya yang seorang psikolog saat dia dulu baru kehilangan bayinya. Saya memiliki catatan kesehatan Bu Anya,"


"Karna itu sebelum mendonorkan darahnya, saya memeriksa seluruh kesehatan Sania. Demi keamanan bu Anya juga. Tapi, saya juga terkejut, ada yang aneh. Hingga saya dengan inisiatif sendiri melakukan tes DNA, dan benar saja. Gadis ini adalah putri kandung kalian, saya yakin 100 persen." Sambung dokter itu sembari tersenyum. Dia sangat senang akan kebahagiaan Wira saat ini, soalnya Wira juga baik sekali pada keluarga dokter Arya, Dokter Arya bahkan memiliki hutang budi.


"Pu--putri ku? Benarkah? Sa-sania? Anak-ku masih hidup?" Wira menangis bahagia, dia langsung memeluk Sania erat. Sania sendiri hanya bisa diam memebeku, dia tidak tau apa. Dia bahkan tidak mengerti apa yang mereka semua maksud.


Gue? Anak kandung Pak Wira sama Bu Anya? Gimana bisa?


Sania masih diam membatu. Tapi dia bisa merasakan kehangatan dari seorang Ayah. Sania merasa nyaman, seolah kesedihan hebatnya kemarin malam terhapus begitu saja.


"Kok bisa? Bukannya anak kandung Om cuma Azril ya? Azril anak tunggal kan?" Tanya Fellin dengan wajah penuh kebingungan. Dia tidak bisa mencerna ini semua.


"Gua bukan anak tunggal, gua punya adik..., perempuan, dan gua terpaksa di pisahkan oleh dia, karna takdir." Wajah Azril mendadak aneh, tatapannya seolah penuh kebencian, tapi juga tersimpan kekecewaan yang dalam.


"Dan takdir hari ini mempertemukan kita semua lagi. Sania, saya Papa kamu, Anya! Anya pasti senang mendengar ini." Wira mulai antusias. Tapi Sania masih diam, meski dia sedang senang.


"Maksud nya apa ya Om? Sania belum ngerti?"

__ADS_1


"Stop, jangan panggil Om, mulai sekarang panggil Papa! Ya, panggil Papa!"


"Kalau emang Sania anak kandung Pak Wira dan Bu Anya, gimana bisa Sania hilang? Kalian ga jagain Sania?" Sania tidak tau mengapa, air matanya keluar begitu saja.


"Gak gitu nak, dulu kamu di culik dan mereka minta tebusan. Waktu kita mau nebus kamu, mobil penculiknya masuk jurang. Segalanya udah Papa kerahkan buat cari kamu! Tapi kamu sama sekali gak di temukan, dan akhirnya kamu di nyatakan meninggal. Dan hari ini kamu di sini..., kamu selamat..., kamu hidup dan masih sehat. Mukjizatt ini..., ga akan papa lupain." Wira terduduk, dia bersujud bersykur pada yang maha kuasa. Ini adalah hal yang terbaik yang pernah terjadi pada hidupnya.


Melihat Wira yang begitu sangat bersyukur, wajahnya memancarkan kebahagiaan yang tulus, hati Sania tersengat. Ada perasaan hangat yang menyapa hatinya saat ini. Sania ikut duduk, dia langsung memeluk Wira erat. Sania tidak mengatakan apa-apa, yang jelas dia ingin memeluk orang yang menyebut dirinya sebagai Ayah itu.


Azril juga tersenyum. "Mama pasti seneng banget, tunggu dan liat reaksi mama waktu bangun, saat tau anak kandung yang selama ini dia rindukan sudah pulang."


Tiba-tiba Sania ingat sesuatu. "Foto bayi? Foto bayi yang sering di liat Bu Anya itu? Apa itu Sania?"


"Bukan Bu Anya, tapi Mama Anya, dia mama kamu, mama yang selalu merindukan kamu. Anya, sangat mencintai kamu." Wira mengusap rambut Sania lembut, tatapanya hangat layaknya Ayah.


Jadi Sania ini adalah anak kandung Wira? Aku ga tau Wira punya dua orang anak? Apa anaknya kembar? Setahu ku mereka hanya memiliki satu anak, Tapi kalau memang benar Sania anak mereka, tidak buruk juga. Itu artinya Azril tidak mungkin bersama Sania kan? Merek memiliki hubungan darah, dengan begitu Azril bisa menjadi milik Fellin seutuhnya, dan putri raja ku akan kembali tertawa. Tawa yang tulus tanpa ada kepalsuan.


"Bagus sekali, semuanya berjalan baik akhir-akhir ini, kita tinggal menunggu Anya pulih, dan membuat pesta besar kepulangan Putri Keluarga Maheswara." Kata Gerald memeluk Wira. "Selamat ya, kau akan menjadi pahlawan dari satu orang. Karna Ayah, adalah pelindung terbaik untuk putrinya."


"Haha, akhirnya aku bisa jadi Pahlawan seutuhnya." Wira juga memeluk Gerald. Persahabatan yang tulus terlihat jelas di sana.


Azril bangkit berdiri, matanya menatap sinis Gerald. Tampak begitu besar kebencian di sana.


Tukhh


Azril memukul kepala Sania pelan. "Heh, jadi udah ga bisa panggil babu lagi ya? Gua ga nyangka, ternyata lu orangnya, putri yang hilang itu."


"Papa, Azril mukul Sania!" Adu Sania, air matanya mengalir dia benar-benar terharu.

__ADS_1


"Heh, sakit banget kah? Sampe nangis gitu? Perasaan gua mukulnya pelan deh." Bela Azril.


Bukhh


Wira memukul Azril pelan.


"Azril, lembutlah dengan adik mu, mulai sekarang menjaga Sania adalah kewajiban kamu. "


"Sakit kah? Mau periksa ke dokter?" Tanya Wira mengusap rambut putrinya.


Sania menangis semakin keras. "Engga..., ini engga sakit. Cum..., Sania..., dari kecil Sania selalu ingin ngadu ke papa, ngaduin semua perbuatan orang ke Sania, Sania aduin ke Papa. Tapi waktu kecil Sania ga punya, tapi sekarang mendadak Sania punya. Sania...., Sania... Seneng bangett."


Semuanya tersenyum hangat di sana, khususnya Wira yang begitu merindukan putrinya. Wira memeluk putrinya itu lagi, satu pelukan tak kan cukup untuk melepas kerinduan itu.


Tiba-tiba Fellin langsung memeluk Papanya.


"Ada apa? Apa peluk-pelukannya nular?" Tanya Gerald nada bercanda.


"Gak tau, Fellin pengen peluk Papa. Pokoknya Papa harus jagain Fellin, Fellin ga boleh hilang, dan Papa ga boleh pergi dari Fellin. Fellin ga bisa kalo ga ada Papa. Papa pahlawannya Fellin, Fellin sayang banget sama Papa, papa yang terbaik. Pokoknya Papa harus hajar setiap orang yang ganggu Fellin." Ujar gadis itu manja.


Gerald tersentak halus. Lalu senyuman hangat timbul di wajahnha. "Kamu Putrinya papa, Dunianya papa, jadi kamu segalanya buat Papa, ngerti? Jadi jangan khawatir."


"Fellin apa udah ga anggep Om lagi? Fellin anak Om kan? Sania, Azril,  dan Fellin itu kesayangannya Om loh."


"Kalo gitu, kita kenalan ulang. Gue Fellerin Skylira," Fellin mengulurkan tangannya ke arah Sania.


"Gu..e, Sania Ma...heswara."

__ADS_1


...***...


__ADS_2