
...***...
Siang itu, Sania duduk sendirian di halte, sembari menunggu kang ojol pesanannya datang. Yah, hanya Sania satu-satunya murid yang naik ojol disekolah bangsawan itu. sudah jelas, yang lainnya naik mobil pribadi.
Akhirnya yang ditunggu datang juga, kang ojol itu segera mengantar Sania kembali ke rumah bangsawan murah hati itu yang sudah membiayai sekolah dan biaya pengobatan nenek Sania.
Tapi, saat sampai di gerbang ada yang aneh, penjaga terlihat semakin banyak, taman jauh lebih rapi, lebih banyak bunga berwarna putih disana.
"Shhtt shttt Sania, buruan sana masuk. Para pelayan wanita semuanya dipanggil oleh nyonya besar, buru-buru sana." kata pak Eko pelan, mendengar itu Sania bergegas berlari kencang. Pak Eko adalah penajga gerbang yang dalam dua hari sudah akrab dengan Sania.
Sania segera buru-buru, tampaknya sangat penting.
Saat Sania masuk, dia sudah melihat semua pelayan wanita tengah berbaris. Tanpa mengganti pakaiannya dia langsung mengikuti barisan itu.
"Ada apa nih bi jum?" bisik Sania yang bahkan belum melepas tasnya.
"Nyonya besar bilang, ada hal yang penting yang bakal diumumin." Sahut bi Jum sekenanya.
Tak lama setelah itu, orang yang ditunggu pun datang, nyonya rumah ini. Dia terlihat begitu elegan, dengan rambutnya yang pendek, senyuman manisnya menambah garis diwajahnya yang sudah tak muda lagi. Tapi tetap saja, aura kecantikan itu masih terpancar jelas.
"Baiklah, saya mengumpulkan kalian disini, karna saya mau kalian semua mengganti gorden menjadi putih dan biru, nuansa rumah harus sedikit berwarna putih dan biru. Karna hari ini, anak saya akan pulang." Katanya, senyuman indah itu terlukis setelah dia mengucapkan kalimat terakhir.
"Dan yah, saya mau kalian pasang kembali foto-foto tuan muda. Dan untuk Sania, ganti baju dulu lalu ikut berberes ya." katanya ramah. Entah Tuan atau Nyonya rumah ini semuanya baik kepadanya.
"Baik Nyonya." Sania mengangguk patuh. Ya dia suka orang yang baik.
......................
Sania memakai seragam pelayannya, yang berdominan warna hitam dan putih.
Bener juga, waktu minggu lalu gue masuk ke rumah ini, tuan muda rumah ini udah pergi. Kata bi Jum, sebulan yang lalu Tuan besar dan tuan muda bertengkar hebat, sampai tuan muda pergi dari rumah ini.
Semenjak pergi dari rumah itu, Tuan besar menurunkan semua foto tuan muda. Lalu, kenapa tiba-tiba tuan muda itu kembali? Kurang uang kah? Kali aja, bocil manja mungkin. Ga akan bisa hidup tanpa orang tua.
Astaghfirullah, berhentilah menilai orang Sania, bahkan orang yang belum lo temuin. Hadeh, kenapa napsu soudzon ini begitu besar.
__ADS_1
Sania bergegas ke aula rumah, dia mengambil kain dan kemoceng. Dia mendapat tugas untuk membersihkan foto-foto tuan muda sebelum digantung kembali.
Mari kita liat wajah tuan muda rumah ini.
Sania membuka foto-foto yang tertutup kain itu. Matanya membelalak tak percaya, dia langsung memegang jantungnya, jaga-jaga kalau jantungnya lepas karna dia terlalu terkejut.
Wait, ini kan muka songong sok keren cowok itu,
Sania menatap tulisan yang ada di sudut bawah foto itu.
"Azril Maheswara? Itu nama cowok songong ini? Dan dia bakal jadi bos gue? Wait...,"
Sania menghentikan semua kegiatannya, pikirannya kosong, sungguh ini sangat tidak masuk akal dan Sania tentu tak bisa menerimanya.
"Hari-hari disekolah udah hancur, masa iya hari-hari di rumah sebagai babu juga bakal rusak? Ayolah, gue cuma mau hidup tenang." Sania menghela napasnya, semangatnya untuk bekerja benar-benar hilang.
"Mampus deh gue kalo dia tau gue kerja dan tinggal disini. Arghhh, Semesta ayo berdamai, buat dia ga pulang kesini."
"Sania, ada apa nak? Kenapa ngoceh sendiri begitu? Apa hari pertama sekolah mu buruk?" Tanya wanita paruh baya itu. Dia berjalan mendekat, sang nyonya rumah yang ramah.
Sania menampilkan senyumnya. "Sekolahnya bagus kok Nyonya, fasilitasnya lengkap, apalagi dikelasnya ada ac, adem banget, seneng Sania sekolah disana."
"Bagus deh kalau begitu, yang rajin sekolahnya, biar pinter terus jadi orang sukses." Tambah Nyonya rumah itu ramah mengelus rambut Sania. "Gimana anak saya? Tampan kan? Keren kan?" tanyanya saat melihat Sania masih memegangi foto itu.
"Eh iy-iya." Sania tersenyum gagu. Jika wanita baik hati dihadapannya bukan ibunya Azril, mungkin saat ini Sania sudah menceritakan hal buruk tentang Azril.
......................
Saat-saat yang di tunggu telah tiba, pria itu baru saja datang dengan mobilnya, dan diteras sana sudah ada Tuan besar Wira dan Nyonya Anya yang menyambut tuan muda itu.
"Loh San? Kamu kenapa pake masker gitu? Kamu sakit?" tanya Bi Jum yang berdiri disebelah Sania. Saat ini keduanya sedang berdiri di sebelah meja makan, guna mempersiapkan makanan untuk tiga bangsawan besar itu.
"Ga gitu bi, tadi waktu goreng ayam, pipi saya kena minyak, jadi saya tutupin biar ga ribet." bohong Sania.
Maaf bi, Sania ga niat bohong, cuma ini terpaksa biar cowok itu ga ngenalin Sania.
__ADS_1
Pembicaraan keduanya berhenti saat tiga bangsawan itu datang mendekat. Sania benar-benar gugup, hidupnya akan berantakan jika Azril tau Sania bekerja sebagai pelayan di rumahnya.
Saat ketiganya duduk, para pelayan langsung menyajikan makanannya. Dan sialnya Sania, dia kebagian melayani makanannya Azril. Azril menatap mata Sania sinis.
Duh mampus gue, jangan bilang di ngenalin gue? Ga mungkin kan?
"Oh iya San, muka kamu kenapa? Kok ditutup? Kamu sakit? Kalo sakit jangan kerja dulu." Kata pak Wira ramah. Sudah dibilang kan baik Tuan dan Nyonya rumah ini sangat ramah.
"Engga kok pak, gapapa, cuma kena minyak doang, paling besok juga udah baikan." Sahut Sania sekenanya.
"Oh iya Zril, kenalin dia Sania. Dia yang nyelamatin papa dan mama waktu hampir kecelakaan waktu itu, untung banget ada dia. Oh iya, dia juga papa sekolahin di Sekolah Bangsawan loh, kalian bisa berteman. Atau kalian udah ketemu belum? Kan Sania juga ada dikelas 2-1?" sambung Nyonya Anya ramah.
Tamat sudah, kisah gue selesai disini.
"Ga tuh pa, ma, ga kenal." sahutnya dingin.
Jika Sania bisa dia ingin sekali menggetuk kepala pria itu, lalu menyiramnya dengan air dingin dan menaburkan tepung biar estetik. Kesal sekali rasanya.
...***...
Sania menghela napasnya, dia merasa lega karna Azril tidak mengakuinya, meski cukup kesal tapi Sania senang, sepertinya itu pertanda Azril tidak ingin melanjutkan perdebatan mereka, dan Sania juga hanya ingin hidup tenang saat ini.
"Kenapa menghela napas lega gitu? Lega karna gue ga bilang lu buat masalah sama gue? Lega karna ga dipecat?" Tiba-tiba suara yang agak familiar itu menyapa telinga Sania. Suara itu berasal dari belakang, Sania segera berbalik. Benar saja, sudah ada Azril disana.
Tahan Sania ..., sabar ..., dia bos lo pelayan.
Sania menampilkan senyuman termanisnya. "Tuan muda butuh sesuatu kah?"
Azril diam saja, dia menaikkan sebelah alisnya. "Kok tiba-tiba berubah? Dari beruang galak? Jadi kucing penurut?"
Ingin ku gatok kelala mu.
"Tuan muda sepertinya lupa, anda tuan muda dan saya pelayan di sini." Jawabnya tanpa memudarkan senyuman manisnya.
"Heh...," Tiba-tiba Azril tersenyum miring, entah apa yang membuatnya tertarik.
__ADS_1
...***...