Nona Antagonis

Nona Antagonis
Yahh


__ADS_3

...***...


Priiiittttt!!!


Peluit sudah berbunyi, pertanda pertandingan sudah akan di mulai. Tampak Fellin benar-benar bermain serius. Dan sudah jelas, Erlan menurunkan kualitas bermainnnya.


Pertandingan itu terus saja berlangsung. Namun poin di tim Fellin masih tertinggal, Fellin menyadari satu hal, ada yang aneh pada Erlan.


Fellin mengangkat tangannya pada Arga, meminta sedikit waktu. "Lo sakit bekicot? Orang bego bisa sakit ya? Kalo lo sakit, mending istirahat deh. Biar digantiin Cecil aja." Fellin meletakkan tangannya di kening Erlan.


Erlan tersentak halus, dia pikir fokusnya Fellim hanya ada pada Azril dan kemenangan, dia tidak menyangka Fellin menyadari keadaannya.


"Sans, gua gapapa. Main lagi aja." Sahut Erlan. Dia menatap Fellin yang sudah begitu berkeringat, dia berusaha sekuat tenaga mengambil semua bola yang jatuh di areanya.


Ga bisa, gua ga bisa kecewain lu lagi Fell.


Melihat Fellin yang berjuang begitu keras, Erlan tak tega, sangat tidak bisa. Dia menghela napasnya panjang,


"Woy dua beban yang di sebrang sana, siap-siap kalah deh. Gua niat serius soalnya." Erlan tersenyum miring. Benar saja, kali ini Erlan bermain dengan sangat serius, semua bola yang datang padanya bisa di atasi.


Azril tersenyum miring, memang inilah yang dia inginkan,


Kalo gua kalah, berarti liburan, dan perintah mama bisa terlaksanakan. Oke deh, akhirnya rencana gua berhasil, si Erlan bego itu hampir aja kacauin semuanya.


Batin Azril, padahal sejak awal Azril memang sama sekali tak berniat main serius, karna yang dia inginkan emang kalah kan?


Sania tidak mengedipkan matanya sama sekali saat melihat Erlan bermain serius, rambutnya yang acak, keringat yang mengalir di lehernya. Astaga! Itu benar-benar pertunjukkan yang menakjubkan untuk Sania yang jarang liat orang tampan.


Tukhhh


Azril menepuk kepala Sania dengan raketnya.


"Apaa--" Sania benar-benar ingin marah, namun saat dia melihat Azril dia langsung tersenyum. "Apa alasan tuan muda yang mulia memukul kepala saya, tolong beri jawaban yang masuk logika wahai tuan muda." Lanjutnya dengan senyuman yang tak memudar, beserta suara nya yang lembut.


"Ga usah gitu banget liatnya, semua pada ngeri. Iler lu keluar tuh."

__ADS_1


Jadi Sania suka Erlan? Tcih.


Entahlah, Azril juga tidak tau, perasaan apa ini. Hanya saja dia kesal melihat itu.


Tashhh!!!!


Poin terakhir itu di cetak oleh Erlan dengan gaya. Dia benar-benar menggoda iman kaum hawa.


Prittt!!!


Peluit dari Arga telah selesai, menandakan bahwa semuanya sudah berakhir.


"Jelas dong, yang menang Erlan dan Fellin, sekian."


"Yeayyy!!!!!" Fellin memeluk Erlan erat. "Thanks ya Lan, ternyata lo bisa di andelin." Fellin benar-benar tersenyum senang sekaligus lega.


"Woiya jelas, gua gitu loh Erlan Marvyn, selain ganteng baik hati dan rajin menabung, gua juga multi talenta, gu--"


Fellin langsung menyumpat mulutnya itu dengan bola raket.


Azril merasakannya, sesak di dada yang tak tertahankan itu. Hatinya benar-benar panas, kakinya gatal ingin menarik Fellin dari pelukan itu.


Sial! Gua harusnya senang kan? Malah bagus kalo sampe Fellin suka sama Erlan, gua jadi bebas, bebas dari benalu itu kan? Gimanapun juga akhirnya gua ga bakal bisa sama Fellin. Ga mungkin bisa bersama, gua harus ikhlasin dia, demi kebaikan semua orang. Termasuk lu Fell, gua ngelakuin ini juga karna lu.


Azril mencoba mengatur napasnya, menahan semua api yang membara itu.


"Jadi udah di putuskan, minggu depan lo ikut liburan bareng kita!" Fellin menunjuk Azril dengan gaya.


"Oke, termasuk juga Sania. Soalnya dia babu gua." Azril menarik tangan Sania cepat, dan pergi dari situ.


Fellin mengepalkan tangannya kuat, dia benar-benar membenci Sania itu.


"Cel, apa ada tuan muda yang bersikap kayak gitu sama babunya, ga ada kan, apa mereka ada hubungan? Apa gue perlu tendang Sania dari sekolah ini, gue yakin bokap gue bakal bisa kok." Fellin menatap benci gadis berambut lurus digandengan pria yang ia cintai itu.


"Santai oke, liat sisi positifnya sekarang. Yang penting minggu depan Azril bakal liburan bareng kita kan? Terus apa yang kurang? Lu mau apa lagi?" Cecil meletakkan uang lima ribu rupiah di kening Fellin.

__ADS_1


"Nah iya, pelan-pelan aja dulu Fell." tambah Arga. Tolong jangan paksa Erlan memberi semangat, dia ga bisa.


...***...


Sania memberikan botol mineral itu pada Azril yang duduk di depannya, dan seperti biasa Sania akan berdiri di belakangnya.


"Lu suka sama Erlan? Gua peringatin jauhin Erlan, Erlan cuma boleh buat Fellin. Ga usah ngarep lebih." Kata Azril tiba-tiba.


Yang bisa ngelindungi Fellin dan mempertaruhkan segalanya itu cuma Erlan,


"Ha? Gimana-gimana konsepnya? Gue? Suka dia? Kagak lah, ga ada mikir begituan gue mah." bantah Sania keras. Tapi, dia juga tidak tau perasaan apa di hatinya. Yang jelas deguban itu terasa sedikit lebih kencang.


"Baguslah, sadar diri sadar posisi. Lu ga layak sama Erlan. "


"Boleh gue nanya satu hal,"


"Gak. Mending lu pergi, beliin gue makanan."


Sania berjalan dikoridor itu sendirian, sekolah besar ini termasuk sekolah yang sepi, murid-muridnya cukup sedikit. Ya itu jelas karna sekolah ini hanya dikhususkan untuk bangsawan, kan?


Liburan ya? Asik juga sih, gue mah ga pernah liburan, kalo hari libur mah paling cari kerjaan perhari, mayan nambah duit jajan. Tapi, apa masih bisa disebut liburan? Kalo gue ikut cuma dijadiin babu? Definisi liburan kan, lepas dari kerjaan, menikmati waktuuu luang, ehh---


Saat melamun, tiba-tiba ada yang menarik tangan Sania. Ya tentu saja bisa di tebak, itu adalah ulah Fellin dan Cecil.


"Emang lo di gaji berapa sama Azril buat jadi babu dia? Gini deh, gue bakal kasih berapapun duit yang lo mau, asal lo jauhin Azril. 100 juta? 200 juta? 500 juta? Bakal gue kasih kalo lo berhenti jadi babunya Azril, ngerti? Gue ga suka liat lo dekat-dekat dia." kata Fellin dengan nada dan ekspresi yang serius.


"500 juta? Seriusan?" tanya Sania tak kalah takjub.


Buset, 500 juta udah bisa biayain Nenek sampe sembuh ga ya? Toh dia ngasih gue 500 juta cuma-cuma, dan cuma buat jauhin Azril, berhenti jadi babunya dan berhenti kerja di rumah Azrol. Gampang banget, gue baru tau dapetin 500 juta bisa semudah ini, ga sih, lebih heran kok ada orang yang keluarin 500 juta segampang itu?


"Nah, jadi gimana? Penawarannya menakjubkan kan, buat orang kayak lo gue yakin itu jumlah yang banyak banget. Jadi gimana?"


Sania diam sebentar, tampak ia tengah berfikir serius kali ini.


...***...

__ADS_1


__ADS_2