Nona Antagonis

Nona Antagonis
Dia gapapa?


__ADS_3

...***...


Erlan tidak peduli dengan sekolah itu, saat ini dia sudah berdiri di pintu kamar Fellin dengan penuh keringat, napasnya tidak karuan. Sepertinya dia habis lari-larian.


"Fellin, dia gapapa Om?" Tanya Erlan menatap papa Fellin yang masih setia duduk disofa sembari memangku laptopnya.


"Erlan..., lo ngapain?" lirih Fellin yang mendadak bangun, mendengar suara familiar itu.


Erlan menghela napasnya lega, sangat lega, mengetahui bahwa gadis yang ia cintai baik-baik saja saat ini.


"Loh? Erlan? Udah pulang sekolah kah? Kok cuma sendirian? Azril mana?" tanya Pak Gerald, menyingkirkan laptopnya.


"Erlan bolos om, habisnya khawatir juga sama nona manja satu ini. Azril, Cecil, sama Arga lagi di sekolah sih om. Kan ga lucu kalo kami semua bolos, jadi cuma saya deh." Jawab Erlan dengan cengiran khasnya, dia duduk di tempat tidur Fellin, melihat wajah gadis itu dengan baik.


Duh..., pucat bangettt. Sakit banget kah?


"Jadi Azril di sekolah?"


"Biasalah Om, Om kan tau Azril gimana orangnya. Dia mana mau bolos,"


"Tapi tetap saja, yang harusnya disini tuh dia, hadeh."


"Gapapa lah pa, mungkin Azril sibuk atau dia takut dimarahi pak Wiz, papa kan tau Pak Wiz tuh gimana kerasnya sama Azril." bela Fellin dengan suara seadanya.


Tiba-tiba telpon Pak Gerald berbunyi, saat dia mengangkat telponnya wajahnya sudah cukup muram. "Saya sudah bilang, sepenting apapun rapatnya, tunda semuanya! Putri saya sedang sakit. Apa kalian mengerti?" Pak Gerald langsung mematikan telponnya.


"Udah lah Pa, Papa kalau mau rapat, ya rapat aja, kalo mereka sampe nelpon papa itu pasti penting," Kata Fellin terdengar begitu lemah.


"Masih pentingan kamu, papa kerja cuma buat kamu. Percuma kerja kalo kamunya sakit."


"Tenang aja Om, kan ada Erlan di sini yang jagain Fellin. Tenang, pasti Erlan jagain kok." Usul Erlan dengan wajah yang cukup meyakinkan.


"Iya Pa, meski agak sarap tapi Erlan kan masih bisa di andalkan." Tambah Fellin meyakinkan.


Pak Gerald menghela napasnya. "Oke, Erlan kalo ada masalah kamu hubungi asisten Om, atau bisa juga ke ruang kerja Om di bawah. Ngertikan?"


"Siap Om!"


Gerald berjalan meninggalkan kamar putri kesayangannya itu. Sejujurnya dia sangat tidak bisa meninggalkan Fellin, apalagi dalam keadaan sakit.


"Azril mana? Apa dia bener-bener udah benci gue? Sampe gue sakit pun dia ga perduli? Sebegitu menjijikannya kah gue di mata dia?"

__ADS_1


Erlan diam saja, dia mengabaikan semua perkataan Fellin. "Gimana keadaan lu? Udah diperiksa dokter? Parah ga?" Erlan meletakkan tangannya di kening Fellin untuk mengukur suhunya.


"Gitu ya, jadi Azril udah ga mau tau soal gue. Ga ga ga, pasti ga gitu! Pasti dia cuma takut dan ga di bolehin Pak Wiz! Paling juga nanti sore dia kesini."


"Lu udah minum obat belum Fell?"


"Gue belum minum obat sih, belum makan soalnya."


Tiba-tiba Erlan berjalan ke arah dapur.


Fellin hanya bisa menatap orang itu menjauh selangkah demi langkah. "Hadeh, katanya bakalan nemenin gue, jagain gue, dianya malah pergi entah kemana."


Fellin menutup matanya. Ah lagi dan lagi air mata itu terus saja jatuh.


Azril, lo pasti bakalan datang kan? Ya kan?


Fellin mencoba meraih ponsel yang ada di nakasnya. Dan tidak ada notifikasi dari Azril.


Fellin menatap fotonya yang berada dalam gendongan Azril itu, yang senantiasa ia jadikan sebagai semua wallpaper di hpnya.


Gue bakal terus berjuang Zril, sampe lo balik ke gue, balik kayak dulu.


Fellin menggenggam erat ponselnya, dia masih sangat berharap.


"Den, di cicipi dulu, ntar ga enak loh." Saran Bi Ani, pengurus Fellin sejak kecil. Tentu saja, selain papanya Bi Ani adalah salah satu yang paling mengerti Fellin.


"Oiya bi, untung ada bibi yang ingetin, bi ani emang ter the best deh." Erlan mencicipinya, dia diam sebentar. "Kok kayak ada yang kurang ya bi?"


Bi Ani mencicipi buburnya juga. "Ini sih agak hambar den."


"Jadi tambahin garem nih bi?"


"Jangan garem den, mendingan gula aja, kan non Fellin suka yang manis-manis."


"Iya juga ya bi, ahh bi Ani emang paling ajib dehhh." Erlan menambahkan gulanya, dia mengaduknya lalu menghias bubur itu. Biasalah, Fellin memang suka yang estetik-estetik.


...***...


Erlan memasuki kamar Fellin, dengan nampan berisi bubur dan susu Stroberi yang ia buat sendiri. Ya Fellin memang paling suka stroberi. Erlan duduk di sebelah Fellin.


"Makan Fell, abis tuh minum obat, biar lu cepat sembuh." Kata Erlan memberikan Fellin mangkuk buburnya.

__ADS_1


"Ga dulu, lagi males. Letak aja di situ." Tolak Fellin.


"Apa lu ga kangen sama Azril?"


Fellin langsung menatap mata Erlan. "Kok lo nanya nya gitu? Ya jelas lah gue kangen, malahan gue pengen banget ketemu Azril sekarang, jangankan ketemu, pesan gue dibales aja gue udah seneng banget. Auto jingkrak-jingkrak."


Tukhh. Erlan menyelentik kening Fellin pelan. "Nah itu lu tau, dia ga bakal bales pesan lu, jadi lu harus sembuh biar lu bisa sekolah dan ketemu Azril di sekolah."


Fellin diam sebentar.


"Jadi, nona Fellerin Skylira, kalo mau sembuh tuh harus makan. Jadi, buka mulutnya aaa." Erlan mencoba menyuapi Fellin. Fellin membuka mulutnya,


"Eh enak! Bubur bi Ani emang selalu enak, kayaknya gua bakal cepet sembuh."


"Makanya makan yang banyak oke? Terus minum obat." Erlan melanjutkan suapannya. Suapam demi seuapan masuk ke dalam mulut Fellin.


...***...


"Woy! Lu di suruh jagain bukan tidur!" Kata seseorang menepuk pundak Erlan yang tertidur di sebelah Fellin. Suara itu juga ternyata membangunkan Fellin juga.


Erlan perlahan membuka matanya, dia ingin menghajar orang yang menganggu tidurnya dan gadis manjanya.


"Elu bagor? Apaan sih, orang tidur, istirahat tuh di biarin dong, bukan dibangunin. Arga sialan emang." Oceh Erlan mencoba bangkit dari posisi enaknya.


"Ah elu Ar, kan Fellin jadi ikut bangun." Cecil menendang kaki pria jangkung itu pelan.


"Lah? Sorry sorry Fell, gua ga niat bangunin lu, cuma pengen gatak pala si sarap ini."


"Gapapa Ar, toh gue juga udah baikan, lagian udah kebanyakan tidur juga gue seharian ini." Fellin mengucek matanya beberapa kali.


"Gimana? Udah makan? Udah minum obat? Mau buah? Gue kupasin deh ini buat lo."  tanya Cecil duduk mendekati gadis itu.


"Aaa Cecil, kangen.... Pengen peluk~" Fellin membuka kedua tangannya. Cecil tertegun halus, lalu senyuman tipis itu terbit dari bibirnya.


"Lah guanya ga kangen sama lu, haha." Cecil memeluk Fellin begitu erat.


"Cecil jahat ih."


Erlan menatap Arga seolah bertanya. 'Azril mana?'


Arga yang mengerti maksud Erlan hanya menaikkan pundaknya mengisyaratkan dia tidak tau apa-apa.

__ADS_1


...***...


__ADS_2