
...***...
Malam itu makan malam di rumah keluarga Maheswara sedikit aneh. Anya dan Wira lebih diam, begitu juga Azril. Mereka semua hanya terpaku pada Sania yang juga diam saja. Anya tau betul pasti gadis malang itu mengalami trauma hebat.
"Malam ini mama pengen liat rumah hantu, Pa, Azril, temenin mama ya? Sania juga ya? Selain rumah hantu banyak permainan lain loh di sana. Mama udah lama ga kesana." Ujar Anya membuka pembicaraan itu.
"Nostalgia masa muda Ma?" tanya Azril sedikit tersenyum. Anya hanya tersenyum sipu.
"Ah, iya juga. Udah lama Papa cuma lakuin kegiatan yang monoton doang. Kantor rumah kantor rumah, bosen juga. Jadi pengen refreshing deh." timpal Wira menyetujuinya.
"Sania juga ikut ya nak, temenin saya. Ntar mereka main, masa iya saya sendirian."
Pokoknya Sania harus ikut. Biar dia ga kepikiran lagi, trauma ini ga boleh membayangi kehidupan gadis ini di masa depan. Terlalu dini untuk dia nyerah sama hidup.
Sebenernya ide untuk pergi ke rumah hantu itu datang dari Anya, demi mengembalikan keceriaan Sania. Anya tidak tau kenapa, tapi melihat Sania yang diam dan selalu murung benar-benar mengoyak hatinya.
"Ayo deh, Azril juga udah lama ga main-main ke sana. Ya udah, Azril siap-siap dulu." Azril bangkit berjalan ke kamarnya.
"Sania? Lu mesti ikut, ga ada kata enggak. Gua ga nerima penolakan apapun." Kata Azril saat dia lewat di sebelah Sania.
Sania menarik napasnya panjang.
Gue rasa ga buruk juga, gue juga udah lama kan gak ngalamin ini? Udah lama juga ga seneng-seneng.
"Oke pak bu, Sania ikut kok."
"Ya udah sana kamu ganti baju dulu aja, saya tungguin." Sahut Anya penuh senyuman, begitu juga dengan Wira, mereka berdua tersenyum dengan hangat. Senyuman itu langsung menyapa hati Sania, perasaannya tiba-tiba seolah tersengat, sangat tersentuh.
Apa kalo orang tua gue masih hidup? Udah seusia mereka ya? Apa bakal selalu dukung gue dan kasih gue senyuman sehangat ini? Gitu kah? Padahal dulu pas ada nenek ga gitu sedih mikirin papa sama mama. Kenapa sekarang mendadak kepikiran ya?
"Ya udah, Sania ganti baju dulu Ya Pak, Buk," Sania undur diri, dia kembali ke kamarnya.
__ADS_1
"Gimana Ma? Pa? Udah siap?" tanya Azril yang baru saja turun. Dia memakai celana panjang, kaos hitam, berbalut jaket hitam. Style biasa. Wajar, dia ga ngerti lagi harus gimana. Intinya hitam is the best.
Wira mengacungkan dua jempolnya. "Ganteng sih, tapi masih belum bisa ngalahin kegantengan papa...,"
Anya dan Azril hanya bisa menggeleng pelan.
"Kegantengan Papa pas muda maksudnya." sambung Pak Wira yang sedikit mengundang senyuman Anya dan Azril.
"Maaf Pak, Bu, Den Azril, Sania lama ya? Maaf." Sania datang dengan dress terbaik miliknya, dress sederhana berwarna putih itu, dengan riasan seadanya dan rambutnya tergerai indah. Azril bahkan sampai terdiam sebentar, dia bengong menatap penampilan Sania. Hampir tidak di kenali.
Keren...,
Sania menatap Azril yang terdiam, mendadak wajahnya merona panas. Ah tolong! Jangan sampai ada yang menyadarinya bahwa Sania tengah memuji tuan muda sombong itu.
"Wahhh cantik banget kamunya, mirip ibu pas muda, serius deh. Duh duh duh, hati-hati di godain pria hidung belang aja deh." Anya langsung mendekati Sania, dia sedikit merapikan rambut gadis itu.
"Oh iya, Papa lupa. Kenapa kita ga ajak Fellin, haduh calon mantu papa yang satu itu masa iya ga di ajak." Pak Wira memukul jidatnya pelan.
"Ya udah biar Papa telpon dulu, minta dia siap-siap terus kita jemput dia." Wira mengambil hpnya segera menelpon Fellin.
Jujur saja Sania tidak nyaman kalau Fellin ikut. Apalagi mengingat Sania belum memaafkan kelakuan Fellin, di mata Sania, Fellin tetap adalah dalang tragedi yang terjadi padanya.
Gue ga usah ikut aja deh, males juga liat Fellin.
Sania baru saja ingin membuka mulutnya, namun Azril sudah merampas hp Wira.
"Fellin sibuk Pa, ga bisa, dia nemenin Papanya. Tadi udah Azril ajak, dia nolak, jadi Papa ga usah telpon dia lagi, takutnya dia malah ke ganggu." Kata Azril, wajahnya terlihat sedikit gagu.
Azril bohong kan? Dia ga mau Fellin ikut kan? Ga mungkin Fellin nolak kalo Azril yang ngajak, pasti ini Azril bohong. Tapi..., gue...? Kok...? Lega ya?
Sania memenangi dadanya, itu lebih lapang dari saat Wira ingin menelpon Fellin.
__ADS_1
"Ya udah lah kalau begitu, kita aja yang pergi." Pak Wira memasukkan kembali hpnya ke saku.
"Sayang bangett." Suara Anya tampak lesu. Jujur saja, Anya sangat suka menghabiskan setiap detiknya dengan Fellin.
...***...
..."Warhhhh!!!!"...
Teriak tiga orang itu yang mengangetkan Fellin yang sedang menonton Tv bersama papanya. Ketig itu tentu adalah Erlan, Arga dan sahabat terbaiknya Cecil. Pak Gerald tidak terkejut soalnya dia sudah tau.
"Erlan!!! Arga!! Cecil!!!! Kalian ini ya!! Jantung gue hampir copot tau ga!! Ya ampunn!" Fellin tengah mengatur napasnya, sembari terus mengelus dadanya. Dia benar-benar terkejut soalnya.
Ketiga bangsawan itu hanya mengapresiasinya dengan tawa yang begitu pecah.
"Ekhmmm." deheman itu mampu menbuat ketiganya diam. "Duh hobi banget ngusilin anak om ya,"
"Hahah, habisnya seru sih om. Oiya, halo om, belum salim ya ampun lupa." Sahut Cecil, dia segera menyalami tangan Gerald, di ikuti dengan Arga dan Erlan.
"Iya deh, kalian rapi-rapian gini mau ke mana?" Tanya Gerald memperhatikan ketiganya dari atas sampai bawah.
"Mau ke rumah hantu om, biasalan main-main, anak muda gitu loh. Lagian bosen juga, jadi kita mau ngajak Fellin jalan-jalan ke sana." Ujar Arga menyampaikan maksud ketiganya datang kemari.
Gerald hanya diam, sedangkan Fellin menatap papa tercintanya penuh harap. Gerald menatap mata putrinya, lalu mengingat suasana hati Fellin sedang tidak baik-baik saja akhir-akhir ini.
Ga ada masalahnya kan kalo Fellin main-main sama temennya? Biar suasana hatinya jadi lebih tenang, Lagian mereka juga bisa di percaya, Fellin ga mungkin luka.
Batin Gerald, baru saja dia ingin berbicara, sudah ada Erlan yang mendahuluinya.
"Om tenang aja om, Fellin perginya sama Erlan. Jadi dia bakal baik-baik aja, ga bakal Erlan biarin Fellin luka, atau nangis." Erlan menatap Gerald penuh keyakinan.
Gerald tersentak halus, dia tidak menyangka bahwa ternyata Erlan mengerti apa yang dia pikirkan.
__ADS_1
"Oke, saya izinkan, dengan syarat Fellin saya harus kembali dengan aman, selamat, ga nangis, plus bonus senyuman di wajahnya."
...***...