
Biasakan like sebelum membaca😘
Flash Back On
Dimasa itu ada satu keluarga kecil yang terlihat begitu harmonis dan bahagia, bukan hanya cinta dan kasih sayang yang berlimpah ruah, tapi juga harta benda dan kesuksesan yang tak terhitung nilainya.
Malam ini di kediaman Admaja, nampak sepasang suami istri yang terlihat begitu romantis. Bram Saseno Admaja merebahkan kepalanya di pangkuan sang istri, Mutia Rahayu wanita cantik yang sudah menemaninya hampir 11 tahun. sedangkan putri kecilnya yang masih berusia 10 tahun tengah asik menonton film kartun kesukaannya tanpa memperdulikan kedua orang tuanya.
"Ma dia datang lagi." seru Bram.
Pemilik jari lentik itu menghentikan gerakannya yang tengah mengusap kepala sang suami.
"Dia siapa?" tanya Mutia sembari mengernyitkan dahi.
"Maaf Papa belum pernah cerita, tapi kali ini Mama harus tau." Bram menatap istri cantiknya dari bawah.
"Sebenarnya aku memiliki saudara tiri, namanya Damar." ucapnya terhenti sejenak sembari menghembuskan nafas dalam. Sementara Mutia terlihat begitu terkejut mendengar kabar itu.
"Dia anak dari istri kedua Papa, dulu sebelum Papa meninggal beliau sudah membagi harta warisannya untuk aku dan Damar, setelah mendapatkan warisan itu Damar menghilang entah kemana ( Bram terdiam sejenak lalu melanjutkan ceritanya) tadi pagi pria itu muncul di perusahaan untuk menemui ku Ma, Damar meminta semua yang aku miliki saat ini, dia menganggap kesuksesan yang saat ini aku raih hasil dari menjual aset milik almarhum. sifatnya tidak berubah dari dulu Ma, pria itu begitu ambisius dan serakah." jelas Bram panjang lebar.
"Jangan pernah memberikan milikmu pada orang lain Pa, karena semua yang kamu miliki saat ini hasil jerih payahmu selama 11 tahun." ucap Mutia yang menjadi saksi jatuh bangunnya usaha sang suami.
"Aku takut dia akan menyakitimu dan anak kita." ucap Bram cemas, pria itu pun bangun dan duduk di hadapan istrinya.
"Tidak akan ada yang berani menyakiti ku dan Bunga, selama ada kamu di samping kita." Mutia tersenyum lembut.
Mendengar ucapan sang istri Bram mendekat dan memeluk istrinya dengan erat.
Dua Minggu Kemudian
Sejak kedatangan Damar ke kantor dua minggu lalu, Bram mengetatkan penjagaan di sekeliling rumahnya. Ia menaruh beberapa pengawal disana karena kawatir Damar akan berbuat nekat untuk melukai anak dan istrinya.
Pagi ini Bram tengah membantu istrinya membuat kue di dapur, ia sengaja meliburkan diri karena hari ini adalah hari yang sangat spesial untuk putrinya.
"Ma Pa Bunga bersiap dulu mau pergi latihan." cicit Bunga yang dari tadi duduk santai di kursi meja makan sembari makan kripik singkong kesukaannya, gadis itu pun beranjak meninggalkan keduanya yang nampak fokus akan pekerjaannya.
"Lihatlah putrimu Pa, bukannya hobby menari malah suka berkelahi." ucap Mutia menatap Bunga yang mulai berjalan menjauh.
"Bagus dong Ma, agar kelak putri kita bisa menjaga dirinya sendiri." ucap Bram justru sangat bangga kepada putrinya yang sudah berhasil meraih beberapa piala dan piagam seni beladiri sejak usianya masih menginjak 4 tahun.
Mutia mendengus mendengar penuturan sang suami.
"Sudahlah Ma, sebaiknya kita bersiap memberikan kejutan pada putri kecil kita untuk acara malam nanti." Bram mencubit gemas pipi istrinya.
Tak lama terlihat Bunga berjalan menuju ke arah mereka dengan menenteng ransel kecil. seperti biasa penampilannya layaknya seorang lelaki, Bunga lebih suka memakai celana jeans dan kaos oblong dengan rambut di ikat kuda.
"Ma Pa Bungga berangkat dulu ya." pamit Bunga menyalimi kedua orang tuanya.
"Hati-hati sayang." ucap Mama Mutia.
"Ingat jangan lari dari ketiga pengawal yang akan mengawalmu." pesan Bram tegas.
Bunga memutar bola matanya malas.
" Iya Pa." ucapnya dengan lemah, lalu pergi meninggalkan kedua orang tuanya.
Sangat terlihat gurat kesedihan di mata Mutia saat melihat putrinya, entah apa yang akan terjadi.
"Pa kenapa perasaanku tidak enak ya." Mutia berbalik arah menatap suaminya.
"Semuanya akan baik-baik saja Ma, sebaiknya kita lanjutkan buat kue nya." Bram menarik tangan istrinya kembali ke dapur, ia berusaha tenang meskipun di dalam hatinya merasakan hal yang sama.
Sore hari pun tiba, kediaman Bunga yang tadinya penuh dengan pengawal kini terlihat begitu sepi, gadis berkuncir kuda yang baru saja tiba di rumahnya berdiri kaku saat melihat beberapa pengawal sudah tergeletak bersimbah darah di setiap sudut rumahnya. mata Bunga membola saat menginggat kedua orang tuanya, kaki kecilnya melangkah cepat memasuki rumah, begitu terkejutnya gadis itu saat melihat tiga orang ART dalam keadaan terikat dan mulut di lakban.
"Bibi, Mbak Ina, Pak Ujang." teriak Bunga berlari kearah mereka lalu membuka satu persatu lakban dan tali yang mengikat ketiganya dengan susah payah.
"Nona Bunga .." Bibi yang notabenya ikut mengurus anak majikannya dari bayi langsung memeluk gadis kecil di hadapannya sembari menangis.
"Ada apa Bi? kemana Mama dan Papa?" Bunga bertanya dengan wajah polosnya.
"Nona." Bibi tidak menjawab bahkan tangisnya semakin menjadi.
Bibi dan Mbak Ina hanya bisa menangis, mereka tidak mampu mengucapkan kata apapun, sementara Pak Ujang hanya bisa menatap anak majikannya dengan tatapan sendu.
__ADS_1
Flash Back Of
"Bunga.." seseorang menepuk bahu Bunga hingga membuat lamunan gadis berusia 18 tahun itu sirna.
"Meta.." Bunga melotot pada sahabatnya karena sudah membuatnya terkejut.
"Lo nangis?" tanya Meta lalu mendudukan dirinya di samping Bunga.
"Lo bercanda? cewek kayak gue pantang nangis."
"Lalu?" Meta menunjuk sisi dua mata Bunga yang masih terlihat jejak kesedihan disana.
"Oh ini gue kelilipan." Bunga beralasan lalu mengusap matanya dengan baju yang ia pakai.
Bayangan 7 tahun silam berputar kembali di memori kepalanya, sejak kejadian itu Bunga di paksa pergi dari rumahnya sendiri, ia masih menginggat ucapan pria asing yang mengusirnya secara kasar dan kejam.
"Mama dan Papamu sudah meninggal, kau harus pergi dari rumah ini." tubuh gadis berusia 10 tahun itu di dorong dengan kasar hingga membuatnya terjatuh dan membuat lutut kecilnya terluka.
Lagi-lagi Bunga menginggatnya, gadis remaja itu beranjak dari kasur usang yang ia duduki, lalu berjalan menuju dapur mengambil air putih.
"Bunga gue kan udah pernah bilang berkali -kali sama Lo, baiknya Lo tinggal di rumah gue deh, dari pada tinggal di kos-kos an sempit kayak gini, Mama pasti seneng kalau Lo mau tinggal disana lagi." ucap Meta memandang sekeliling dengan mata mengembun.
Meta anak dari sahabat Bram dan Mutia, gadis cantik ini begitu cenggeng, padahal usianya sama seperti Bunga, terkadang Bunga di buat jengkel dengan sifat sahabatnya yang gampang menangis.
"Gue udah nyaman tinggal disini Met." Bunga membawah dua gelas air putih dan menaruhnya di atas nakas, ia memutar bola matanya malas saat melihat sahabatnya itu lagi-lagi menangis.
Meta mendengus kesal sembari mengelap airmatanya dengan tisu yang ia bawah, lagi-lagi ia mendapatkan jawaban yang sama dari sahabatnya.
*
*
*
Di kota yang sama tepatnya di kawasan perumahan elit, seorang pria tampan berjas hitam baru saja turun dari mobil sembari mengoceh.
"Kau selalu saja membuatku kesal Van." ia melangkah memasuki rumah mewahnya disusul Evan sahabatnya sekaligus tangan kanannya.
Samson Keanu Winata biasa di panggil Sam, seorang pengusaha muda yang sukses dengan pencapaian karirnya hingga ke mancanegara. wajahnya yang tampan dengan tubuh atletis membuat siapa saja terpesona olehnya, namun sayang pria tampan bertubuh atletis itu memiliki kekurangan, ia sama sekali tidak bisa berkelahi membuatnya harus selalu bersama dengan Evan sahabat sekaligus tangan kanannya yang jago ilmu beladiri, satu hal yang sangat di benci oleh Samson pada diri Evan yaitu suka celap celup tidak kenal tempat.
Seperti kejadian yang tidak mengenakan tadi di kantor sebelum pulang. Samson tidak sengaja melihat ular jadi-jadian milik tangan kanannya, Evan yang saat itu ingin ***-*** dengan sekertarisnya reflek menutup resleting celana miliknya dengan cepat. hingga kejadian na'as pun terjadi, ular yang siap menyembur mangsanya itu terjepit resleting celana yang ia pakai.
"Gue minta ini terakhir kali Lo lakuin hal menjijikkan itu di kantor." Samson merengangkan dasi yang seharian mencekik lehernya lalu mendudukkan tubuhnya di sofa ruang tamu.
"Siapa juga yang pengen ngulang, Lo ngak lihat Samson Gue yang tampan dan gagah ini lecet karena ulah Lo." Evan menatap Samson dengan sinis.
"Sialan, emang ngak ada nama lain buat ular kadut Lo Hah..!!" Samson menatap Evan dengan tajam.
"Cck ular kadut kecil dong." decak Evan kesal.
"Kalian ini kenapa selalu saja bertengkar." Rika, Mama dari Samson tiba-tiba muncul dari dalam.
"Van jangan pulang dulu, Mama sudah masakin makanan kesukaan kalian." lanjutnya.
Mama Rika sudah menganggap Evan seperti anaknya sendiri, karena dari usia 15 tahun Evan tinggal bersama keluarga Winata untuk menjaga Samson, sementara kedua orang tua Evan sudah meninggal, Evan lebih memilih tinggal di apartemen saat usianya menginjak 20 tahun, ia tidak ingin selalu merepotkan mereka, Mama Rika sering kali meminta Evan untuk tinggal kembali di rumah utama keluarga Winata, tapi pria itu selalu saja menolak.
"Ah Mama Rika yang terbaik." Evan memeluk dan menciumi pipi Mama Rika tanpa ada rasa canggung, sementara matanya melirik ke arah Samson dengan mimik wajah mengejek.
Samson mendengus sebal melihat kedekatan Evan dengan Mamanya, namun wajah sebal itu berubah seringgai saat melihat seseorang baru saja datang dengan tangan bersedekap dada berdiri tepat di belakang Evan.
"EHKEEM.." deheman itu begitu keras hingga mengejutkan Evan sekaligus membuatnya terkekeh.
"Beraninya Kau memeluk dan mencium istriku." tangan kekar itu kini berada di telinga Evan.
"Arrrhh ..sakit Pa." Evan merintih kesakitan saat telinganya di jewer oleh Adi Papa dari Samson.
"Dasar anak nakal." Papa Adi semakin keras menjewer telinga Evan membuat Samson tergelak keras.
"Hahaha..." terdengar tawa puas dari Samson, sementara Mama Rika hanya bisa mengeleng melihat tingkah ketiga pria di hadapannya.
Begitulah setiap harinya, kehadiran Evan di keluarga Winata membuat suasana rumah menjadi semakin ramai.
*
__ADS_1
*
Makan malam keluarga Winata telah usai, Evan yang sudah selesai langsung berpamitan untuk pulang ke apartemennya.
"Ma Pa aku pulang dulu." Evan ingin mencium Mama Rika tapi ia urungkan saat mendapat tatapan tajam dari Papa Adi.
"Posesif sekali." cibir Evan.
"Menginaplah nak hanya untuk malam ini, ini sudah malam." pinta Mama Rika memohon.
"Lain kali saja ya Ma, Evan masih ada urusan." ucap Evan menolak.
"Pasti urusan wanita." gumam Samson pelan membuatnya mendapat plototan tajam dari Evan.
Ya Papa Adi dan Mama Rika tidak tau bagaimana kelakuan Evan di luar sana.
"Apa yang kamu katakan tadi Sam?" tanya Papa Adi.
"Jangan di dengarkan Pa, dia itu hanya iri dengan ku karena tidak memiliki kekasih." ucap Evan.
"Ah Kau benar Van, Sam kapan Kamu mengenalkan kekasihmu pada kami?" tanya Mama Rika yang sudah sangat ingin memiliki seorang menantu.
Samson menatap Evan dengan tajam, sementara Evan cekikikan dan berlalu pergi.
"Brengsek Lo Van." batin Samson masih menatap tajam tangan kanannya itu.
"Sam sudah kenyang Ma." tanpa menjawab pertanyaan Mama Rika Samson berlalu pergi begitu saja meninggalkan meja makan.
"Dasar anak itu." Mama Rika mengeleng menatap putranya yang mulai menjauh.
*
Sinar mentari mulai muncul dari ufuk timur dengan malu-malunya, gadis berparas tomboy pemilik nama Bunga kini tengah bersiap untuk berangkat bekerja sebagai tukang parkir salah satu resto mewah yang terletak di pertengahan kota, hanya pekerjaan itu yang cocok untuk pelajar sepertinya, Bunga berencana ingin mencari pekerjaan yang lebih baik setelah pengumuman kelulusan yang akan di umumkan seminggu lagi. biasanya Bunga menunggu parkiran hanya setengah hari saja, dari pulang sekolah sampai malam hari, untuk hari ini Bunga menunggu parkiran dari pagi karena sekolahnya libur.
"Kamu bisa Bunga." Bunga menyemangati dirinya sendiri sembari berdiri di depan kaca lalu berjalan mengambil topi dan peluit yang akan di pakainya untuk bertugas.
Usai sarapan Bunga dengan semangat berjalan kaki menuju jalan raya untuk menyetop angkutan umum. tidak lama ia sampai dan kebetulan angkutan umum langganannya baru tiba, kemudian Bunga menaiki Angkot berlogo merah biru itu.
"Neng Bunga, tumben Neng pagi-pagi sudah berangkat?" tanya sopir angkot langganan Bunga.
"Iya Pak Bunga sekolahnya libur, tinggal nunggu pengumuman kelulusan saja." jawab Bunga dengan sopan.
"Neng ngak mau lanjut kuliah?" tanya sopir itu lagi.
Pak sopir pernah mendengar dari Meta yang juga sering menaiki angkotnya bersama Bunga, jika Bunga merupakan siswi berprestasi dan tahun ini berhasil meraih beasiswa di perguruan tinggi.
"Doain ya Pak." Bunga tersenyum ke arah sang sopir.
Tak lama angkutan umum itupun berhenti di depan resto tempat Bunga bekerja. pemilik resto memiliki alasan mempekerjakan Bunga sebagai tukang parkir, karena pernah terjadi tindak kriminal disana, salah satu mobil milik pelangan mereka berhasil di bawah kabur pencuri, Bunga yang memang memiliki kemampuan ilmu bela diri akhirnya berani menawarkan jasanya pada pemilik resto, disinilah awal mula Bunga bekerja dan memilih tinggal di kos-kosan yang ia tempati sekarang.
"Neng Bunga makin gelis pisan." goda teman Bunga yang juga berprofesi menjadi tukang parkir disana.
"Eh Didin Lo masih kerja disini?" Bunga meledek Didin yang saat ini tengah menatapnya lekat.
"Ya iya dong, mana ada orang yang mau mempekerjakan mantan napi kayak gue gini." Didin meninggalkan Bunga saat ada mobil yang akan memasuki kawasan Resto.
"Yaelah Lo sensian banget sih Din." Bunga mengekor di belakang Didin membantu pria itu untuk mengarahkan mobil yang akan parkir.
Didin hanya lulusan SMA, dia pernah menjadi napi karena nekat mencuri uang di toko klontong, saat itu ia membutuhkan uang untuk membeli obat neneknya yang sedang sakit. uang yang dia curi tidak seberapa tapi hukuman yang di jalaninya hampir 5 tahun, itu saja Didin mendapat penanguhan penahanan karena selama berada di penjara dirinya bersikap baik. Didin semakin menyesali perbuatannya saat mendapat kabar jika sang Nenek meninggal karena serangan jantung.
"Oh ya setelah ini Lo jadi nerusin sekolah kan?" tanya Didin kembali duduk di susul Bunga di belakangnya.
"Ya begitulah." jawab Bunga sembari tersenyum.
"Ngak ada yang nemenin gue jaga parkiran lagi dong." Didin berpaling berusaha menyembunyikan kesedihannya.
"Santai, gue pasti sering main kesini."
Didin hanya mengangguk dan kembali berdiri melakukan tugasnya sebagai tukang parkir.
Bersambung.....
Dukung Neng ya dengan cara like, vote dan komen🥰
__ADS_1