Novel Pindah

Novel Pindah
Gagal


__ADS_3

Kaki jenjang yang masih sangat kokoh itu berlari dengan gesit menuju ruang cctv.


"Mana..? Mana wanita itu..?" Damar berhenti tepat di depan beberapa anak buahnya yang sudah standbay disana.


"Monitor 112 Tuan."


Damar berjalan menghampiri monitor yang pengawal itu maksud.


"Apa yang membuat kamu yakin, jika gadis ini wanita yang ku cari?"


"Tuan meremehkan keahlian saya." ucap salah satu anak buah Damar yang merupakan pakar ekspresi.


"Cari info tentang wanita itu sekarang, kita harus punya rencana matang untuk menangkapnya." Damar menunjuk salah satu anak buahnya.


"Siap bos."


"Untuk kalian, ikuti mereka berdua. jika situasi aman cepat beri kabar, kita bunuh gadis itu malam ini juga."


"Baik bos." kelima orang berucap dengan serempak.


Kini tinggal Damar seorang diri yang berada di ruangan itu.


"Akhirnya harta Admaja akan sepenuhnya menjadi milik ku."


"HAHAHA.."


***


Samson dan Bunga kini sudah berada di dalam mobil. Keduanya tidak saling bicara, Bunga hanya fokus menatap depan sementara Samson sibuk mengabari anak buahnya yang masih berada di dalam.


"Bubarkan, kita akan pulang." ucap Samson setelah itu mematikan ponselnya.


Samson menoleh ke samping, di lihatnya Bunga yang saat ini tengah melamun.


"Semua akan baik-baik saja, aku akan membantumu sebisa ku."


Bunga hanya bisa mendengus pelan mendengar ucapan tuannya. bagaimana bisa pria berbadan besar itu membantu jika menjaga dirinya sendiri saja sang tuan tidak mampu.


Mobil pun mulai keluar dari pekarangan rumah besar nan megah yang baru saja mereka pijak, di susul mobil milik Evan dan beberapa anak buahnya yang tadi sudah berpencar.


Kini hanya ada keheningan yang menemani perjalanan keduanya. Hingga mobil itu pun sampai di rumah besar milik Samson.


"Ayo turun kita sudah sampai." suara Samson membuyarkan lamunan Bunga. Pria yang biasanya begitu menyebalkan di mata Bunga kini terlihat begitu romantis. seperti layaknya seorang kekasih, Samson membukakan pintu mobil untuk Bunga.


"Aaa iya Tuan." dengan kikuk Bunga turun dari mobil, ia merasa sungkan di perlakukan seperti itu.


Usai Bunga keluar dari mobil, Samson berjalan lebih dulu meninggalkan Bunga yang tengah kesusahan berjalan.


"Dasar pria menyebalkan." gumam Bunga cukup keras.


Samson yang berjalan tidak terlalu jauh di depannya, tiba-tiba menghentikan langkahnya dan berbalik badan.


"Kenapa?" tanya Samson.


"Eem tidak ada Tuan." Bunga hanya bisa mengrutuki dirinya yang lancang.


Samson menatap Bunga dari ujung rambut hingga kaki lalu kembali berjalan meninggalkan Bunga.

__ADS_1


"Hils sialan, jadi susah kan gue. Mana sakit lagi." dengan kesal Bunga melepas hillsnya lalu menentengnya masuk, ia lebih memilih melewati pintu samping dari pada harus bertemu dengan tuan dan nyonya besarnya.


Di ruangan keluarga nampak kedua orang tua Samson masih belum tidur. Mereka begitu antusias mendengar bagaimana kedekatan putranya dengan Bunga di pesta tadi.


"Sam, loh mana Bunga?" Mama Rika berjalan menghampiri putranya yang tengah berdiri di depan lift.


"Di kamarnya lah Ma." dengus Samson.


"Mama ngak lihat Bunga masuk." Mama Rika clinggukkan mencari calon menantunya.


"Pakai tangga kali, udah ah Sam capek." Samson memasuki lift, membiarkan sang Mama berdiri di depan lift sendirian.


"SAM, dasar. Putra mu Pa." ucap Mama Rika dengan kesal saat melihat suaminya berjalan menyusulnya.


"Ya ya, kali ini dia putra ku. Lebih baik kita istirahat Ma, ini sudah malam." Papa Adi memeluk istrinya dan mengajaknya ke kamar.


Sementara itu Bunga yang baru saja keluar dari toilet menghembuskan nafas lega karena semua penghuni rumah sudah tidur.


"Pakai lift aja lah." ucapnya sembari menyeret kakinya yang sedikit lecet.


"Papa.." gumam Bunga saat seklebat bayangan sang ayah tengah duduk di kursi roda.


"Bunga berjanji akan membawahmu pergi dari sana." kepalan tangan Bunga mengepal kuat ketika menginggat wajah sang paman yang begitu munafik.


'Ting.' suara lift membuyarkan lamunan Bunga, ia pun berjalan menuju kamarnya dan segera beristirahat.


Di dalam kamar Samson sudah terlihat segar, pria berotot itu baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut basah. Tiba-tiba dirinya termenung menginggat masalah besar yang tengah di hadapi Bunga.


Samson berjalan menuju nakas untuk mengambil ponsel dan mendeal nomor seseorang.


'Tuuuut'


"Iya ada apa?" tanya Evan di sebrang sana.


"Lo ngak pulang ke rumah?" Samson membaringkan tubuhnya di ranjang king sizenya.


"Udah kemaleman, gue pulang ke apartemen malam ini."


"Besok pagi Lo kesini, gue tunggu jangan sampai telat."


'Tuuuut' Samson menutup telponnya dengan sepihak.


"Huuuuufft mungkin ini waktunya." desis Samson. Karena kelelahan pria itu pun tertidur.


****


"Bos mereka di kawal, kita tidak bisa bertindak malam ini." salah satu anak buah Damar mengirim pesan padanya.


Damar yang tengah menunggu kabar dari anak buahnya mendengus kasar.


"Brengsek.." teriaknya sembari menendang kursi.


"Tak apa yang terpenting informasi tentang gadis itu sudah aku dapatkan."


"Hahaha..." tawanya terdengar ke seluruh ruangan.


"Pa." tiba-tiba saja Reno datang dengan wajah suram bak anak TK yang baru kehilangan mainannya.

__ADS_1


Tawa Damar terhenti melihat putra satu-satunya datang dengan wajah muram.


"Ada apa Ren, kenapa wajahmu kecut begitu?" Damar mendudukkan dirinya di sofa hitam yang berada tak jauh dari meja kerjanya.


"Pa pria jadi-jadian itu sudah mengambil wanita ku, bantu aku untuk mendapatkan wanita itu Pa." rengek Reno.


Alis Damar menyatu mendengar ucapan sang putra.


"Pria jadi-jadian? Wanita ku? Siapa yang kamu maksud?" Damar mengambil sebatang rokok dan menyalakannya.


"Samson Pa, siapa lagi. Aku menyukai Bunga, aku ingin menjadikan gadis itu sebagai istriku." pinta Reno.


Damar begitu terkejut mendengar ucapan putranya, tapi setelah itu bibirnya tertarik ke atas membentuk senyuman smirk.


"Lalu bagaimana dengan kekasihmu itu?"


"Viola? Dia hanya wanita matre, Reno juga tidak berselera lagi dengannya." ucap Reno dengan entengnya.


"Hahahaha, kau memang putra ku nak." Damar tertawa dengan kerasnya.


"Tenang saja, Papa akan membantumu mendapatkan wanita itu. Tapi sebelum itu, kau juga harus membantu Papa."


"Hah.. Serius Pa, oke Reno siap. apapun yang Papa minta Reno akan lakukan."


Kedua pria berbeda usia itu sama-sama tertawa dengan kerasnya, harta dan tahta sudah membutakan mata dan hati keduanya.


"Tidurlah nak, ini sudah malam. Papa ingin mengunjungi Paman mu sebentar." Damar menepuk pundak putranya lalu keluar dari ruang kerjanya menuju kamar Bram.


'Krieeekk..' pintu kamar milik Bram terbuka dengan mudahnya.


"Selamat malam adik ku tersayang." Damar tersenyum lepas saat Bram menatapnya dengan tajam.


"Jangan menatapku seperti itu, aku hanya ingin memberimu kabar baik." Damar mendudukkan dirinya di samping ranjang.


"Kau mau dengar kabar baik itu?"


Bram hanya bisa menatap tanpa bisa bergerak ataupun menjawab.


"Aku sudah menemukan putrimu, Bunga Admaja."


Wajah Bram terkejut, sedetik kemudian ia meneteskan airmata.


"Tidak akan lama lagi, semua harta ini akan benar-benar menjadi milik ku."


"HAHAHAHA.."


"Setelah mendapat tanda tangan dari putri mu, aku akan membunuhnya dengan tangan ku sendiri. Dan nasipmu akan sama, tenang saja."


"HAHAHAHA..."


"Bunga, Papa yakin kamu bisa menolong dirimu sendiri dan Papa nak, maafkan Papa telah membawahmu ke masalah ini."batin Bram sembari berurai airmata.


"Sudahlah jangan menangis, lekas tidur adik ku. Jangan harap kamu bisa membuka mata lagi saat semuanya sudah berhasil ku miliki." Damar menepuk pipi Bram lalu berjalan keluar dari kamar adik tirinya.


*BERSAMBUNG...


Gereget ngak sih? Neng gemes banget sama Damar ? Masih pengen lanjut ngak? Jan lupa sesajennya ya biar ceritanya nyampe klimaks😁*

__ADS_1


__ADS_2