Novel Pindah

Novel Pindah
Meluapkan Rindu


__ADS_3

Hari ini dimana Stella akan pulang ke negara kelahirannya, pesawat pribadi milik Damien sudah siap di landasan miliknya, disana berdiri tiga orang yang sama-sama bungkam, hingga suara Stella membuyarkan lamunan Damien yang nampak tak bersemangat itu.


"Om aku pergi, mungkin dengan berjauhan kita bisa intropeksi diri masing-masing, Stella harap setelah Stella kembali hubungan kita akan baik-baik saja." ucapnya tersenyum lalu berjalan menuju pesawat dengan menenteng sebuah koper di tangannya.


Damien mematung di tempatnya, matanya tak lepas menatap Stella yang mulai menjauh, bahkan hingga pesawat lepas landas Damien masih tidak bergeming.


"Tuan kita ada pertemuan penting setengah jam lagi." ucapan Robby membuyarkan lamunan Damien.


Damien sedikit terkejut lalu menatap jam yang melingkar di tangannya.


"Baiklah, ayo kita pergi." Damien melangkah menuju mobil di ikuti Robby di belakangnya.


Di negara A


Setelah kejadian pembulian yang di alami Dewi, Azzura semakin membenci pria yang bernama Farel, setiap harinya Azzura pulang pergi bersama Dewi, dia tidak ingin hal buruk itu terjadi lagi pada sahabatnya, Azzura masih setia tidak membocorkan identitasnya karena ia belum terlalu percaya pada Dewi karena baru mengenalnya.


Pagi ini di mansion Ansel, keluarga kecil nan bahagia itu sedang berkumpul di ruang keluarga, kebetulan kedua twins hari ini libur sekolah karena mempersiapkan diri untuk ajang turnamen yang akan di selengarakan esok hari, sementara Ansel memilih bekerja di rumah karena ingin menyambut putrinya yang akan tiba hari ini.


"Aku sudah tidak sabar menunggu Kakak pulang, sudah berbulan-bulan lamanya kita tidak berjumpa dengannya." ucap Azzura yang saat ini sedang bermanja-manja dengan sang Mama.


"Kau benar sayang Papa juga sangat merindukan Kakak mu itu." Ansel menyauti, ia sedang menemani putranya bermain game sembari menunggu waktu untuk menjemput putri sulungnya.


"Kenapa Damien tidak ikut ya Pa?" tanya Bella membuat Ansel langsung menatapnya tajam.


"Ada yang salah dengan pertanyaanku? bukankah sudah lama dia tidak menginjakkan kakinya di negara ini." ucapnya saat melihat sorot mata dari suaminya.


"Jangan bertanya tentang dia, kamu membuatku cemburu."


'Ukhuk ukhuk.." tiba-tiba saja Azzam tersedak air liurnya sendiri usai mendengar ucapan Papanya.


"Jangan mengejek Papa Zam." tatapan tajam kini Ansel tujukan pada putranya.

__ADS_1


Sementara Azzam merasa lega usai meminum air mineral yang sengaja ia bawah tadi.


"Kalian romantis sekali." ucap Azzam usai mengelap mulutnya dengan tangan.


"Ich Kakak jorok." sahut Azzura yang tidak sengaja melihat Azzam meminum air mineral itu hingga tumpah-tumpah.


"Kakak hanya membersihkan bibir Kakak yang ketumpahan air." Azzam beranjak menghampiri adiknya lalu membersihkan mulutnya dengan baju yang Azzura pakai.


"Aaaa Kak Azzam jorok, MAMAAAA.." teriak Azzura sembari berlari, sementara Bella dan Ansel hanya bisa tersenyum melihat kedua buah hatinya yang selalu membuat mansion ramai dengan teriakan keduanya.


Waktu terasa begitu cepat, jam menunjukkan pukul 02.00 siang, Ansel mengajak keluarga kecilnya menuju landasan miliknya, sementara Kakek Nenek Stella tidak bisa ikut karena terkendala kesehatan.


Ke empatnya menunggu di ruang tunggu, senyum mereka mengembang saat menatap gadis cantik sedang menyeret koper berjalan menuju ke arah mereka .


"Mama, Papa, Twins.." teriak Stella, ia pun menghambur memeluk satu persatu dari mereka.


"Bagaimana kabarmu sayang?" tanya Bella saat pelukan mereka terlepas.


"Stella baik-baik saja Ma." jawab Stella dengan riang, ia bisa membohongi Papa dan kedua adiknya tapi tidak dengan Bella, wanita itu tau apa saja mengenai anak-anaknya.


"Oh harus itu, kedua adik ku harus menjadi juaranya." Stella berjalan sembari merangkul kedua adiknya, semntara Bella dan Ansel berjalan di belakang putra putrinya sembari bergandengan tangan.


Di kamar Stella, disini lah kedua orang wanita berbeda usia ini sedang meluapkan kerinduannya, perasaan Stella yang kacau sedikit berkurang saat bermanja-manja dengan Bella.


"Aku kangen banget sama Mama." saat ini kepala Stella berada di pangkuan sang Mama, sementara Bella mengelus kepala putrinya dengan lembut.


"Mama juga, sayang Mama tanya sekali lagi jawab yang jujur, apa kamu punya masalah? ceritakan pada Mama." Bella berharap putri sulungnya bisa terbuka padanya.


"Stella baik-baik saja Ma, tak ada masalah apapun." gadis itu membenamkan kepalanya di perut Bella, sementara Bella menghela nafas panjang dengan perasaan kecewa.


"Baiklah, sekarang putri cantik Mama harus segera istirahat." Stella menurut ia membenarkan posisinya dan mulai memejamkan mata, setelah memastikan Stella sudah terlelap Bella pun beranjak dan pergi meninggalkan kamar putrinya menuju ruang keluarga menyusul ketiga orang berharga lainnya yang masih asik bercanda.

__ADS_1


"Kalian tidak tidur siang?" suara Bella mengagetkan ketiganya.


"Ah Mama bikin Zurra terkejut saja." renggek Azzura dengan wajah di tekuk.


Bella dan kedua pria berbeda usia itu hanya terkekeh melihat Azzura yang terlihat kesal.


"Kami tidak mengantuk Ma." jawab Azzam, kebetulan ia tengah menunggu seseorang, tak lama bel berbunyi karena para pembantu sibuk dengan pekerjaan masing-masing, akhirnya Azzura berinisiatif untuk membuka pintu saat melihat Kakaknya ingin beranjak dari sana.


"Kak biar Zurra saja."


Azzam hanya mengangguk sementara Azzura merapikan rambutnya yang berantakan lalu kembali menyepolnya hingga nampak leher jenjangnya yang putih mulus itu.


'Ceklek..' suara pintu terbuka, Azzura mematung menatap siapa yang datang begitu juga dengan pria yang sedang berdiri di depannya.


"Ah silahkan masuk." Azzura begitu terkejut saat melihat Brayen berdiri disana, ya Brayen lah yang bertamu ke mansionnya.


Brayen tidak mendengar ucapan Azzura, pria berwajah blasteran itu masih mematung menatap Azzura dengan lekat.


"Hey kau tidak apa-apa?" Azzura mengibaskan tangannya hingga pria itu berjengkit kaget dan salah tingkah setelah menyadari kebodohannya karena terhipnotis oleh kecantikan dan keseksian Azzura.


Saat ini Azzura hanya memakai celana pendek sepaha dan kaos lengan pendek yang cukup besar, namun hal itu justru membuat gadis itu terlihat cantik dan seksi dimata Brayen.


"Azzam ada tidak?" Brayen bertanya sembari melenggang masuk mengikuti tuan rumah.


"Duduk dulu aku panggilkan." jawab Stella gadis itu tersenyum tipis membuat Brayen lagi-lagi terpesona.


Tak lama terdengar langkah kaki dari dalam membuat Brayen menatap siapa yang datang, pria itu tersenyum ketika melihat Azzam berjalan menghampirinya.


"Hay bro akhirnya yang di tunggu-tunggu datang juga, kemana yang lain?" tanya Azzam.


"Entahlah mereka selalu saja lemot."

__ADS_1


Tiba-tiba suara bel menghentikan percakapan mereka, Azzam beranjak dari tempatnya untuk membukakan pintu, nampak kelima pria tampan berdiri di depannya.


Terima kasih untuk kalian yang sudah mampir🥰


__ADS_2