Novel Pindah

Novel Pindah
Cemburu


__ADS_3

Albert menghilang di balik pintu begitu juga dengan Calista, ruangan yang sejenak hening kini menjadi bising ketika Stella menghambur memeluk Damien secara tiba-tiba.


"Terima kasih sudah menjadi orang baik." Stella semakin mengeratkan pelukannya, ia acuh dengan keadaan sekitar, Damien yang mengerti maksud dari kekasihnya juga membalas pelukan gadis itu.


"Kenapa kamu bisa berada disini?" tanya Damien setelah pelukan mereka terlepas.


"Hehehe.. aku menyelinap kesini secara diam-diam." Stella sedikit terkekeh saat mengatakannya.


"Astaga ini sangat berbahaya baby." ucap Lard mulai ikut nimbrung.


Stella menatap pada orang yang memanggilnya baby. "Biasa saja Kak, buktinya aku baik-baik saja." lalu ia memutar bola mata malas.


"Lard benar sayang, lain kali jangan di ulangi lagi." Damien kali ini membenarkan ucapan rekannya yang selalu membuatnya jengkel.


"Dari kapan kamu berada disini, aku dari siang berada disini tidak sama sekali melihatmu masuk?" tanya Dimitri dengan heran.


"Sebenarnya.."


Flash Back on


Usai membaca pesan dari Damien Stella berinisiatif untuk mencari tahu, ia mulai berganti baju karena apa yang di lakukannya ini sedikit extream, Stella lebih memilih memakai celana jeans dan jaket, tangan lentik itu mengambil pistol serta pisau lipat kesayangannya dan memasukkannya ke dalam saku, tidak lupa tas ransel yang berisi roti dan susu untuk berjaga-jaga jika ia terjebak disana, setelah selesai ia keluar dari kamar berjalan menuju gudang, gadis itu melangkah seperti biasa agar tidak ada yang mencurigainya, kebetulan Damien dan rekan-rekannya masih berkumpul di halaman membuatnya lebih leluasa tanpa harus mengendap-endap.


"Hah ini cukup melelahkan." ucap Stella saat berusaha mengeser beton, jalan rahasia yang hanya di ketahui oleh pemilik mansion.


Dengan bersusah payah Stella berhasil mengeser lantai beton itu lalu masuk ke dalamnya, badan ramping nan sintal itu bergelantungan di atap ruang bawah tanah, dengan sekali melompat Stella berhasil mendarat di tempat yang tepat tanpa mengeluarkan suara.


"Sepertinya bakal ada korban selanjutnya selain pengirim paket itu." gumam Stella hampir tak terdengar, ia melihat dua orang tengah berdiri menjaga pintu keluar yang cukup jauh dari posisinya sekarang, membuatnya semakin mudah untuk bergerak.


Dari jauh gadis itu melihat seorang wanita dengan keadaan sangat memprihatinkan sedang tertidur di lantai. "Siapa dia?" ia berjalan lebih mendekat, tidak jauh dari Stella terdapat Almari yang cukup panjang, tanpa bersuara gadis itu berhasil masuk ke dalamnya.


Tidak lama wanita yang tertidur di lantai itu pun terbangun, lalu melihat jam dinding yang berada di depannya. "Aku harus menghubungi anak sialan itu." ucap wanita yang tidak lain ialah Calista.


Calista melihat situasi di sekitarnya, merasa kini waktu yang tepat, ia memencet alat yang berada di dadanya agar bisa terhubung dengan seseorang.


"Arra." ucapnya sedikit berbisik tapi Stella masih bisa mendengarnya.

__ADS_1


(....)


"Lakukan apa yang Mama perintah." ucapnya lagi.


Stella menajamkan telingganya. "Arra? apa yang disebut wanita itu Arrabel, oh my god benarkah wanita yang berada disana Ibu Arrabel? tapi apa salahnya dan apa maksud wanita tadi?." batin Stella berkecamuk.


"Ah sial, sepertinya aku harus berada disini lama." umpat Calista, gadis itu merasa pengap ia berinisiatif melubangi almari dengan mengunakan pisau lipatnya, tapi hal itu ia urungkan saat mendapati sebuah kaca yang terpasang panjang tepat berada di atas kepalanya.


"Ah ini saja aku lepas."


Tak lama kaca pun terlepas dengan mudahnya, akhirnya ia bisa bernafas lega, ia juga mencoba melubangi almari itu agar bisa melihat situasi di luar.


"Kret.. Yeah." ucap Stella saat berhasil melubangi almari itu dengan lubang cukup besar.


Flash Back off


"Astaga baby kamu berada disana selama 7 jam." Lard sangat terkejut begitu juga yang lain.


"Dan kau mengeser beton itu sendiri?" tanya Damitri selanjutnya.


"Siapa yang memberitahu mu tentang jalan rahasia itu?" setelah mendengar cerita dari kekasihnya, sikap Damien berubah dingin.


"Maaf Om aku pernah mengikutimu." baru kali ini Damien bersikap sedingin itu padanya.


"Sebaiknya kau kembali ke kamar mu Stel." Damitri bangkit melihat suasana hati Damien yang kacau membuatnya berfikir untuk menjauhkan Stella dari jangkauan Damien, ia pun menuntun gadis itu untuk pergi dari sana.


"Tapi Kak-."


"Sudahlah mari aku antar." ucap Damitri lembut, keduanya pun melangkah meninggalkan ruangan itu, sesekali gadis itu menoleh ke belakang melihat Damien yang masih terdiam, tidak ada yang berani bercanda saat ini, apa lagi Lard.


Setelah kepergian Stella dan Damitri, Damien berjalan keluar dari sana sembari mengusap wajahnya kasar meninggalkan ketiga rekannya begitu saja.


"Kenapa?" tanya Lard pada Lano tanpa bersuara.


Lano hanya mengangkat bahunya, ia pun tidak mengerti kenapa mood pemimpin Rick Devil berubah sedrastis itu.

__ADS_1


Akhirnya kedua manusia berbeda jenis ini sampai di depan kamar Stella, Damitri sempat melirik tangan gadis itu yang nampak merah.


"Kamu baik-baik saja?" Damitri mencoba bertanya tidak berani menyinggung luka yang Stella alami.


"Aku baik-baik saja Kak Mit, terima kasih sudah mengantarku." ucap Stella tersenyum tipis.


"Baiklah aku kembali menemui anak-anak, istirahatlah." Damitri mengacak rambut Stella kemudian berlalu, sementara Stella gadis itu pun memasuki kamar dengan wajah sendu, ia berfikir apa hanya karena pintu rahasia itu sang kekasih marah padanya.


"Shhhh.."Stella mendesis saat merasakan perih di telapak tangannya.


"Bahkan tanganku terluka separah ini aku tidak merasakan sakit malah lebih sakit hati ini." gumam Stella lalu berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri membiarkan luka itu begitu saja.


Ruang Bawah Tanah


"Kau tau, aku sangat menyayangkan sikap Om Dam tadi, musuh sudah masuk perangkap kenapa malah di lepas, apa lagi mendengar cerita dari Stella tadi, rasanya aku ingin melenyapkan wanita itu." ucap Lard yang kini sedang berkumpul dengan ketiga rekannya kecuali Damien.


"Ya aku juga kesal, berani-beraninya dia mengambing hitamkan kita." kesal Bray.


"Pasti wanita itu akan berulah lagi, kita harus berhati-hati pada Albert, jika Gent sampai meninggal pasti kita yang akan di salahkan olehnya." timpal Damitri.


"Jangan lupakan putri dari Calista, entah siapa nama wanita itu." ucap Lano.


"Kalian tau, tangan Stella tadi terluka cukup parah." ucapan Damitri terhenti saat melihat Damien datang dari arah pintu.


"Benarkah Stella terluka?" batin Damien kawatir saat tidak sengaja mendengar ucapan Damitri.


"Kalian berempat istirahat dulu saja disini, aku sudah membubarkan rekan-rekan kita." Damien balik badan dan berlalu dari sana.


Keempat pria itu hanya saling pandang, melihat sikap Damien yang berubah sedingin es.


"Sudah dingin sekarang semakin beku." kekeh Lard di iringi tawa ketiga rekannya.


Damien merasa sangat bersalah pada Stella, tapi lelaki itu teramat sangat cemburu karena Stella begitu perhatian pada lawannya, saat Albert memangkuh kepala Daddynya tadi, ia sempat mendapat pesan dari kekasihnya, jika ia tidak boleh menyakiti Albert sebab pria itu tidak salah, karena mood pria itu sedang kacau, ia malah membiarkan Calista pergi begitu saja dari sana setelah berani menfitnahnya.


"Aargh sial, harusnya aku membunuhnya tadi." kesal Damien dengan dirinya sendiri, ia masih membutuhkan waktu untuk sendiri, pria itu memilih merendam dirinya dengan air hangat untuk mencairkan kepalanya yang beku.

__ADS_1


__ADS_2