
Biasakan like sebelum membaca😘
"Bagaimana Van, Kamu sudah menemukannya?" tanya Papa Adi menatap Evan yang terlihat fokus mengemudi.
"Sudah Pa Kita akan segera sampai." jawab Evan sesekali menatap gps di mobilnya.
Dari jauh Papa Adi dan Evan bisa melihat mobil milik Samson yang tengah parkir di pingir jalan, terlihat ada beberapa orang yang berkerumun disana.
"Pa itu dia mobil Samson." Evan langsung menghentikan mobilnya di pinggir jalan, lalu keluar dari mobil dengan tergesa begitu juga dengan Papa Adi.
"Kasihan sekali ya pria tadi."
"Iya, untung saja dia segera di bawah ke rumah sakit."
Terdengar samar-samar perbincangan dari mereka membuat Evan dan Papa Adi mempercepat langkahnya.
"Maaf Pak boleh saya tau pemilik mobil ini di bawah ke rumah sakit mana?" tanya Evan dengan perasaan cemas.
"Mereka membawahnya kerumah sakit WT Grand Family Tuan." Evan menatap Papa Adi yang juga tengah menatapnya lalu keduanya sama-sama mengangguk.
Saat keduanya ingin melangkah meninggalkan tempat itu, ponsel milik Evan tiba-tiba berdering.
"Dari WT Grand Family Pa." Evan menunjukkan ponsel miliknya yang masih berdering.
"Tidak usah di angkat kita langsung kesana saja." ucap Papa Adi, keduanya kembali melangkah menuju mobil dengan tergesa.
WT Grand Family
Pria bertubuh atletis yang kini tertidur di brangkar rumah sakit tengah merintih kesakitan, bukan karena lukanya yang membuat dirinya merintih tapi tangan lentik milik sang Mama tengah bertenger indah di telingganya.
"Aduh Ma sakit, kaki Sam sudah tidak bisa jalan. jangan membuat telinga ku juga tidak berfungsi." Samson mengusap kedua telinganya yang memerah sembari menekuk wajahnya dengan kesal.
"Bagaimana enak bukan? Mama sudah berkali-kali bilang sama Kamu Sam jangan pernah jauh dari Evan, kenapa Kamu lebih mementingkan wanita itu." gerutu Mama Rika karena dirinya sama sekali tidak menyukai Viola.
"Cckk.."
Samson berdecak kesal saat menginggat kekasihnya, bagaimana tidak kesal selepas dirinya sadar dari pingsannya, ia begitu menghawatirkan Viola tapi rasa kawatirnya berubah menjadi kesal saat ia mendapat notifikasi pesan dari sang kekasih yang isinya membuatnya marah-marah tidak jelas dan karena hal itu juga Mama Rika jadi memarahinya.
"Baby Aku baik-baik saja, Aku sudah berada di apartemenku, maaf tadi temanku main ke apartemen dan menunggu ku disana jadi Aku meninggalkanmu bersama orang yang berada disana." isi pesan Viola.
Ternyata Viola berani membohonginya, Samson tau dari orang yang menolongnya tadi mereka sama sekali tidak melihat seorang wanita di dalam mobil.
Tak lama lamunan Samson buyar saat pintu ruangannya tiba-tiba di buka dengan kasar, nampak sahabat dan Papanya berjalan dengan tergesah melangkah ke arahnya.
"Kenapa hal ini bisa terjadi? siapa yang melakukan ini padamu?" tanya Papa Adi beruntun saat melihat wajah dan kaki putranya di beliti dengan perban, sementara Mama Rika pergi ke kamar mandi ketika Samson melamun tadi.
"Kalau tanya satu-satu Pa." ucap Samson semakin kesal, wajah tampannya semakin masam saat melirik Evan yang tengah menahan tawanya seolah-olah tengah mengejeknya.
"Dasar Kau, nama mu dan badanmu saja seperti Samson tapi tidak bisa berkelahi."
Papa Adi merasa sangat gemas pada putranya sudah beberapa kali dirinya meminta Samson untuk belajar ilmu bela diri tapi Samson selalu menolak.
"Kalian semua sama saja menyebalkan." sungut Samson dengan wajah masam karena lagi-lagi mendapat ejekan dari orang tuanya sendiri.
Tak lama terlihat Mama Rika keluar dari dalam kamar mandi membuat Papa Adi terkejut.
"Loh Mama kok ada disini?" Papa Adi berjalan menghampiri istrinya lalu merangkul pinggang Mama Rika dengan posesif, sementara kedua pria tampan yang melihat sikap bucin Papanya memutar bola mata dengan malas.
"Mama tadi mendapat kabar dari Dokter Arman Pa." keduanya kini duduk di sofa menyusul Evan yang sudah duduk disana terlebih dulu.
Dokter Arman ialah orang kepercayaan Papa Adi untuk memegang jabatan tertinggi di rumah sakit miliknya sekaligus menjadi Dokter pribadi keluarga Winata.
Perbincangan keduanya terhenti saat mendengar ponsel milik Evan berbunyi.
"Aku keluar sebentar Ma Pa." izin Evan keluar dari ruangan itu lalu mengangkat telponnya.
"Hallo, apa kalian sudah menemukan pelakunya?" tanya Evan kepada anak buahnya.
(.....)
"Brengsek.." tangan Evan mengepal kuat saat anak buahnya mengatakan siapa pelakunya, lalu Evan menutup telpon itu dengan sepihak.
Evan sebenarnya tau jika Viola wanita yang tidak baik dan yang membuatnya semakin membenci wanita itu saat ia tau jika Viola berselingkuh dengan Rival sahabatnya, Evan pernah mencoba menceritakan sifat buruk Viola tapi Samson tidak percaya karena sahabatnya sudah di butakan oleh cinta.
__ADS_1
Evan kembali memasuki ruangan yang di tempati Samson saat amarahnya sudah meredah.
"Telpon dari siapa nak, kenapa harus mengangkatnya di luar?" tanya Mama Rika penuh selidik.
Kini Evan duduk di samping Samson dan menceritakan apa yang di dengarnya tadi.
'Brak...' Papa Adi mengebrak meja setelah mendengar ucapan Evan hingga membuat ketiga orang yang berada disana begitu terkejut.
"Kenapa mereka selalu membuat ulah." geram Papa Adi.
"Aku berjanji akan membalas perbuatan mereka padaku." ucap Samson meremat seprei dengan sangat erat.
"Bagaimana caranya kamu membalas mereka jika kamu tidak memiliki kemampuan ilmu bela diri, sekarang saja kamu tidak bisa berjalan." ucap Mama Rika sedikit kesal melihat putranya yang keras kepala.
"Ya Aku janji kalau kaki ku sembuh aku mau belajar ilmu beladiri." ucap Samson kekeh.
"Bagus." Mama Rika memeluk suaminya dengan erat karena saking bahagianya.
"Kita membutuhkan seseorang untuk merawat sekaligus bisa menjagamu." ucap Papa Adi kemudian.
"Kan ada Mama Pa kenapa harus orang lain?" tanya Samson tidak setuju.
"Tidak, Mama mu hanya boleh merawat diriku seorang." ucap Papa Adi sembari mencium pipi istrinya, sementara Mama Rika terlihat memberengut kesal melihat sikap posesif suaminya.
"Lalu siapa yang bisa mengurus ku sekaligus menjaga ku?"
"Aaaaa Mama sudah dapat orangnya." ucap Mama Rika tiba-tiba ketika menginggat seseorang lalu membisikkan sesuatu pada suaminya.
"Terserah Mama saja." ucap Papa Adi pasrah, sementara Samson dan Evan menatap keduanya dengan rasa penasaran.
*
*
Hotel Carlyle
"Aaah semakin cepat sayang." racau Viola saat Reno tengah memompanya dari atas.
"Oh ini sangat nikmat." ucap Reno menambah ritmenya semakin cepat.
"Tahan sayang sebentar lagi."
"Aaahhhh.." terdengar lenguhan dari keduanya setelah pelapasan nikmat itu usai, Reno langsung ambruk di samping Viola karena kelelahan sudah mengempur wanita itu selama 2 jam.
"Untung saja Kau tadi datang menolong ladang uangku." ucap Viola ketika nafasnya terdengar teratur.
"Heeemm.." Reno hanya menimpalinya dengan deheman.
"Apa Kau tau siapa yang melakukan itu padanya?" tanya Viola dengan rasa penasaran.
"Entahlah Aku tidak tau." Reno menarik Viola dan membawah wanita itu kepelukannya.
"Aku yang melakukannya sayang, Kau hanya milik ku bukan milik banci itu." batin Reno tersenyum smirk.
Ya tanpa sepengetahuan Viola, Reno lah dalang di balik semuanya karena pria itu tidak suka melihat kekasihnya pergi berdua saja dengan rivalnya.
Kini keduanya terlelap hingga pagi tiba.
*
*
Seminggu Kemudian
Di sebuah kamar bernuasa pink terlihat dua gadis cantik sedang bersiap untuk berangkat ke acara wisuda yang di selengarakan hari ini di sekolah mereka.
"Aku sudah cantik belum?" tanya Meta yang saat ini sudah di make over oleh perias langganan keluarga Raharja.
"Heem .." Bungga yang baru saja akan di make over berdehem dengan malas, bagaimana Bunga tidak kesal jika sahabatnya Meta memaksanya untuk berdandan, karena Bunga menghargai niat baik sahabatnya dengan terpaksa dirinya menurut saja.
"Buat sahabat ku menjadi secantik mungkin." ucap Meta pada kedua make up artis yang tengah memoles wajah sahabatnya, dirinya tidak peduli dengan wajah sahabatnya yang terus di tekuk.
"Baik Nona." ucap keduanya serempak di tengah pekerjaan mereka.
__ADS_1
Meta menatap jam yang berada di sudut kamarnya, melihat waktu yang di gunakan untuk merias sahabatnya cukup lama akhirnya Meta memilih keluar menunggu Bunga di ruang keluarga bersama kedua orang tuanya.
Bunga yang saat ini tengah di make over hanya melamun memikirkan langkah kedepannya bagaimana, apa ia menerima beasiswa itu atau memilih bekerja saja. jika dirinya lebih memilih bekerja pekerjaan apa yang pantas untuknya jika hanya bermodal ijasah menengah atas, paling mentok menjadi seorang waiters ataupun OB. jika dirinya memilih kuliah pasti masih harus mengeluarkan biaya untuk keperluan lainnya, apa yang akan ia gunakan untuk membayar jika seminggu ini saja dirinya tidak bekerja sama sekali.
Aku harus kuliah dan menjadi orang sukses seperti cita-cita ku dulu." batin Bunga menyemangati diri sendiri.
"Nona anda benar-benar cantik." ucap salah satu make up artis membuyarkan lamunan Bunga. kedua orang itu merasa kagum melihat kecantikan gadis yang berada di hadapannya saat ini. siapa sangkah gadis tomboy yang tadinya hanya memakai celana jeans dan kaos kebesaran kini berubah menjadi putri cinderella.
"Hah .. apa benar yang di cermin itu aku?" Bunga berdiri seraya menatap pantulan dirinya di cermin.
"Ya Nona anda sangat cantik bukan." kedua make up artis itu merasa puas dengan hasil karyanya kali ini.
"Apa sudah..-" ucapan Meta mengantung saat melihat sahabatnya berubah 180⁰.
"OMG so beautiful girl." Meta menatap kagum kearah sahabatnya, sementara Bunga menatap sahabatnya dengan wajah datar karena masih kesal pada Meta.
"Udah dong cemberutnya, yuk keluar Mama dan Papa udah nunggu kita." Meta tersenyum lalu mengandeng Bunga keluar dari kamarnya menuju ruang keluarga disusul kedua make up artis di belakangnya.
"Wah kamu cantik sekali Bunga." ucap Mama Meta dengan mata berkaca-kaca saat melihat paras Bunga yang mengingatkan dirinya pada Mutia.
"Terima kasih Tante." Bunga terlihat tersipu malu.
"Baiklah Kita berangkat sekarang." sela Papa Meta saat melihat kesedihan dimata istrinya, lalu mengandeng istrinya keluar.
Kini mereka berempat sudah berada di aula, banyak orang yang datang dan acara pun akan segera di mulai.
Seiring berjalannya waktu satu persatu acara sudah berlalu, kini MC menutup acara dengan memanggil donatur terbesar di sekolahnya untuk naik ke atas panggung sebagai bentuk penghormatan sekaligus mengumumkan siswa yang paling berprestasi di SMA Mahardika.
"Mohon perhatiannya sebentar." ucap seorang siswa yang bertugas menjadi MC di acara ini.
Semua tamu seketika diam hingga membuat ruangan itu sunyi dalam sekejap.
"Terima kasih, sebelumnya Saya sebagai MC sekaligus sebagai siswa disini mengucapkan banyak terima kasih kepada donatur terbesar kita yang sudi bersedia hadir di acara sederhana ini, sebagai rasa penghormatan kami dari pihak sekolah di mohon Tuan Adi Winata beserta Nyonya Rika Winata untuk maju ke depan.
Kedua orang yang di panggil langsung berdiri dan berjalan ke arah panggung dengan bergandeng tangan.
"Kasih tepuk tangan untuk kedua tamu besar kita." ucap MC.
'Prok..prok..prok' bunyi tepuk tangan dari para tamu membuat acara semakin meriah.
MC mempersilahkan kedua tamu terhormat itu untuk duduk di tempat yang sudah di sediakan.
"Untuk selanjutnya kita umumkan siswa beruntung dan paling berprestasi di sekolah Mardika tahun ini, coba tebak siapa? (terdengar suara riuh dari para siswa) Tidak perlu banyak cakap lagi ya kita langsung panggil saja ...dia adalah BUUUUNGA, ya saudari Bunga di mohon untuk maju ke depan."
'Prok.prook cuit..cuiit' tepuk tangan meriah di iringi siulan dari siswa laki-laki menambah kemeriahan di akhir acara.
"Bunga nama Lo di panggil tuh." Meta menyikut bahu sahabatnya yang tengah melamun.
"Hah.." Bunga lalu berdiri dan berjalan menuju panggung dan tidak lupa memberikan senyuman manisnya membuat para siswa laki-laki kembali histeris.
"Selamat ya Bunga." ucap MC lalu menyingkir ketika kepala sekolah tengah berjalan ke arahnya dengan membawah buket dan piagam sebagai simbol keberhasilan Bunga yang sudah menjadi siswi berprestasi dan mengharumkan nama sekolah.
Kepala sekolah sedikit memberikan wejangan kepada siswa siswi yang lain agar bisa mencontoh Bunga, setelah usai Kepala Sekolah membisikkan sesuatu pada MC.
Sementara di sudut panggung kedua pasangan suami istri ini begitu terkejut saat menatap gadis yang berada di hadapan mereka.
"Pa bukankah dia gadis yang seminggu ini kita cari." ucap Mama Rika menatap Bunga yang masih berada di atas panggung.
"Hah benarkah?" Papa Adi menelisik penampilan gadis itu dari atas hingga bawah, ia tidak percaya jika gadis cantik yang berdiri di hadapannya kini ialah gadis tukang parkir yang sempat di lihatnya di resto waktu itu.
"Cck Mama sangat yakin Pa, nanti setelah pulang dari sini kita temui dia ya Pa." pinta Mama Rika bersemangat saat menginggat misinya yang ingin menjodohkan putranya dengan gadis itu.
"Terserah Mama saja." Papa Adi mengeleng tidak habis fikir dengan istrinya yang ingin menjodohkan putra tampannya dengan gadis tukang parkir itu.
Mama Rika diam-diam mencari tau tentang identitas Bunga, ternyata Bunga yang terlihat kuat dan pemberani ialah gadis yang sangat malang karena hidup sebatang kara di kos-kosan yang begitu sempit, Mama Rika juga tau jika Bunga sedang membutuhkan biaya untuk meneruskan sekolahnya maka dari itu Mama Rika memanfaatkan keadaan ini untuk mendekatkan sang putra dan Bunga, Mama memilih Bunga karena dirinya begitu mengagumi sosok gadis itu.
Usai Bunga mengucapkan satu dua buah kata kini MC kembali memanggil Papa Adi dan Mama Rika untuk menyerahkan buket dan piagam ke siswi berprestasi tahun ini.
"Selamat ya." ucap Papa Adi menepuk bahu Bunga pelan sembari tersenyum.
"Terima kasih Tuan." ucap Bunga dengan sopan.
"Selamat ya calon mantu." bisik Mama Rika tepat di telinga Bunga membuat gadis itu tertegun dan berfikir keras, setelah tersadar dari rasa kagetnya ia pun membalas ucapan Mama Rika hanya dengan senyuman.
__ADS_1
Bersambung...
Kasih Neng dukungan dong biar semangat Crazy Up Kak readers😁