
Biasakan like sebelum membacaš
Waktu makan malam pun tiba, semua penghuni mansion makan dengan diam, sementara Ansel mencuri pandang anak gadisnya begitu juga dengan Bella, keduanya bahkan tidak nafsu untuk makan karena sudah tidak sabar mendengar cerita yang sebenarnya dari mulut putrinya.
"Kenapa tidak di habiskan Pa Ma?" tanya Stella sembari mengernyitkan dahi.
"Papa sudah kenyang."
"Mama juga." ucap keduanya dengan wajah datar.
Azzam dan Azzura saling pandang kemudian sama-sama mengangkat kedua bahunya acuh.
"Stell ada yang Papa ingin bicarakan sama kamu, Papa tunggu di ruang kerja." Ansel menaruh sendok dan garpu padahal makanan yang berada di piring terlihat masih banyak, ia berlalu begitu saja dari meja makan di ikuti Bella di belakangnya.
"Kenapa sih?" tanya Azzura yang selalu kepo dari dulu.
"Entah, Kakak ngak tau." Stella berdiri ia begitu penasaran apa yang akan di bicarakan Papanya.
"Kalian kalau udah selasai lekas tidur ya." ucap Stella kemudian berlalu menyusul Papa dan Mamanya, sementara kedua twins hanya mengangguk patuh.
Di ruang kerja Ansel nampak begitu sunyi, hawa dingin nan mencekam begitu terasa, Bella tidak ingin membiarkan suaminya mengintrogasi putrinya seorang diri takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan, keduanya hanya diam dengan fikirannya masing-masing, tak lama terdengar bunyi ketukan pintu yang mengejutkan keduanya.
'Tok tok tok..'
"Masuk." Ansel merubah posisi duduknya, ia berusaha berfikir jernih semoga saja apa yang di lihatnya tidaklah benar.
Stella pun masuk, seketika hawa di ruangan itu nampak tegang, saat Ansel menatap putri sulungnya dengan tajam, sementara Bella merasa gelisah tangannya saling meremat hingga keringat dingin keluar dari keningnya.
"Duduk." suruh Ansel, wajahnya masih terlihat datar.
Stella yang tidak mengerti hanya menurut saja, ia pun mendudukkan dirinya dengan perasaan kalut.
"Jelaskan apa maksud dari foto ini?" Ansel menghadapkan laptopnya pada sang putri.
Mata Stella membulat, darimana sang Papa bisa mendapat foto itu, bukankah kejadian itu sudah sangat lama, tangan Stella tiba-tiba gemetar, keringat dingin mulai bercucuran di dahinya.
"Cepat jawab pertanyaan Papa." ucap Ansel dengan tegas, semarah apapun dirinya dia tidak akan mampu membentak orang yang ia sayangi.
"Maafkan Stella Pa Ma hiks hiks." tiba-tiba saja Stella menangis sesengukkan, hal itu sudah menjawab semuanya.
Ansel menghembuskan nafas panjang sembari memijat pelipisnya.
__ADS_1
"Putuskan hubungan mu dengannya." ucapnya kemudian.
Stella langsung mendonggak dan mengeleng keras, Bella yang merasakan kecewa pada putrinya hanya berdiam di sofa sembari menangis.
"Kamu ingin melawan Papa mu ini, apa kata orang jika anak dari Ansel Guinandra berstatus pacaran dengan sahabat Mama mu." Ansel mendelik tajam.
"Tapi Stella mencintainya Pa hiks hiks." tangis Stella semakin menjadi.
"Astaga nak, pria itu tidak pantas untukmu masih banyak pria lain yang lebih baik dan lebih muda."
"Om Dam pria yang baik Pa, maka dari itu Stella sangat mencintainya." ucapnya kekeh.
Ansel mendengus kesal, ia pun menslide foto di laptopnya dan menunjukkannya kembali pada sang putri, meskipun hatinya tidak tega namun ini demi kebaikan putrinya sendiri.
"Lihatlah, pria seperti ini yang kamu bilang baik." Ansel menyodorkan laptopnya tepat di hadapan sang putri.
Lagi-lagi mata Stella membola, bahkan gadis itu sampai menutup mulutnya agar suara tangisnya tidak keluar, Bella yang tidak sanggup melihat putrinya bersedih akhirnya bangkit dan memeluknya.
"Hiks hiks Ma.." tangis Stella terdengar begitu pilu.
"Nak kami sebagai orang tua hanya ingin yang terbaik untukmu, Mama sebenarnya sangat kecewa padamu hiks hiks." Bella membelai kepala putrinya dan ikut menangis.
"Papa minta putuskan dia kalau tidak Papa akan jodohkan kamu dengan teman bisnis Papa." Ansel berdiri meninggalkan kedua wanita itu begitu saja.
'Braak.' Ansel membanting pintu dengan keras membuat kedua wanita itu terlonjak kaget.
"Ma bagaimana ini hiks aku sangat mencintai Om Dam, pasti dia di jebak Ma aku mengenal wanita yang berada di foto itu, dia wanita licik." aduh Stella sembari menangis.
"Ya Mama percaya sama kamu." Bella hanya bisa mengiyakan dan menenangkan putrinya.
Setelah merasa lebih baik Bella segera membawah putri sulungnya menuju kamar, ia membaringkan tubuh sang putri dan menyelimutinya.
"Semuanya akan baik-baik saja sayang, percayalah." Bella mengelus rambut indah itu dengan lembut sampai kedua mata sang putri terpejam.
Melihat Stella sudah terlelap, Bella pun menyelimuti putrinya dan segera pergi dari sana.
"Pa, sudahlah jangan terlalu di fikirkan."
Bella sudah berada di kamar, ia mencoba menenangkan suaminya.
"Aku tidak habis pikir Ma dengan Damien, apa dia tidak sadar usia, kenapa harus putri kita yang ia cintai kenapa bukan yang lain." ucap Ansel frustasi.
__ADS_1
"Lebih baik kita cek dulu kebenaran atas foto itu dari orangnya langsung Pa." Bella membelai rambut suaminya, sedangkan Ansel tidur di pangkuan sang istri.
"Heem, ya sebaiknya Papa menanyakan langsung pada pria impoten itu." umpat Ansel karena kesal.
"Huust, jangan bicara yang tidak-tidak."
Ansel yang mendengar pembelaan dari istrinya langsung beranjak duduk.
"Apa kata-kata ku ada yang salah? benar kan jika temanmu itu pria impoten." ucap Ansel ngeyel.
"Tidak, itu tidak benar." ucap Bella tidak kalah ngeyel.
"Apa kau pernah melihat burung miliknya berdiri heem?" tanya Ansel menatap sang istri dengan tajam.
Mendengar ucapan suaminya yang konyol membuat Bella mendengus. "Sudah ayo tidur, bicaranya udah ngelantur." Bella menjewer telinga suaminya hingga Ansel kembali terbaring.
"Awww sakit Ma." renggek Ansel manja.
"Sudah tua tak pantas." ucap Bella sembari membuang muka menahan senyumnya.
"Issh.." wajah Ansel menekuk bagai baju yang tidak di setrika, lagi-lagi sang istri mengejeknya membuat harga dirinya menguap entah kemana.
****
Di tempat lain, di sebuah apartement mewah terletak di kota A, pria berwajah blasteran sedang termenung sembari mengusap foto mendiang Daddynya.
"Dad aAl akan membalas perbuatan mereka." gumamnya seraya mengepalkan tangan.
Ya Albert diam-diam terbang ke kota paris saat mengetahui jika Stella pulang ke kediamannya, ia juga mengetahui kabar keretakan hubungan Stella dengan orang yang paling di bencinya yaitu Damien.
"Aku akan merebut semua yang membuatmu bahagia, aku berjanji." ucapnya kembali, setetes airmata pun jatuh di figora milik almarhum Daddynya.
Bersambung....
L
Othor lagi kumat, hari ini up 3 eps doain saja othor kumatnya tiap hari yaš¤£
Kopi kopi biar gak ngantukš
tips yuk kasih tips biar cemungutš¤£š¤£
__ADS_1