Novel Pindah

Novel Pindah
Kesurupan


__ADS_3

Biasakan like sebelum membaca😘


"Ayo duduk disini kita makan bersama." mendengar suara Mama Rika, Evan dan Samson dengan serempak membalikkan badan membuat Evan terkejut dengan mata berbinar, sedangkan Samson menatap Bunga dengan wajah datar.


"Bunga, Kamu Bunga kan?" tanya Evan basa-basi membuat Bunga mengernyitkan dahi.


"Aku yang pernah meminjam ponselmu apa Kau ingat?" lanjut Evan.


Kini giliran Samson yang mengernyitkan dahi menatap tajam arah sahabatnya itu.


"Kapan Evan meminjam ponsel tukang parkir itu." batin Samson penasaran.


"Duduk dulu Bunga." ucap Mama Rika saat melihat gadis di depannya masih berdiri.


"Ah iya Nyonya." Bunga merasa canggung ketika duduk satu meja dengan calon majikannya.


"Bunga apa Kamu sudah menginggatku?" kesal Evan karena Bunga tidak menjawab ucapannya.


"Ah iya Saya menginggatnya Tuan." rasanya Bunga ingin sekali pergi dari sana detik itu juga saat melihat tatapan tajam dari seorang Samson.


"Apakah pria itu yang akan Aku rawat? OMG sepertinya dia akan menyusahkan ku." batin Bunga mencuri pandang pria yang duduk di kursi roda saat ini.


"Kita makan dulu ngobrolnya nanti saja." Papa Adi menatap Evan dengan tajam.


Evan menelan ludah dengan kasar saat mendapat tatapan tajam dari Papa Adi lalu mencuri pandang ke arah Bunga, Evan belum sempat mengirim pesan pada Bunga karena kesibukannya mengantikan Samson di kantor.


Sementara Samson tidak menyangka jika wanita yang akan merawatnya adalah mantan tukang parkir, seperti info yang di dapat dari Evan sebelumnya jika gadis dengan penampilan aneh itumantan seorang tukang parkir, bahkan Samson sama sekali tidak menginggat Bunga wanita yang pernah di lihatnya tempo hari.


Keempat orang itu memakan makanannya dengan sangat lahap kecuali Bunga, gadis itu merasa sungkan harus makan satu meja dengan majikannya, sangat tidak sopan menurutnya apalagi melihat Samson yang selalu menatapnya tajam membuatnya menelan makanan dengan susah payah.


"Tuhan rasanya Aku ingin pulang saja dari sini." batin Bunga ketika pandangannya tak sengaja bertemu dengan mata Samson.


Sarapan pagi pun usai, Papa Adi dan Evan sudah pergi meninggalkan meja makan terlebih dulu karena harus lekas ke kantor, ya Papa Adi untuk sementara ini yang membantu pekerjaan Evan untuk mengurus perusahaan, sedangkan Mama Rika, Samson dan Bunga masih berada disana.


"Kamu bisa langsung bekerja Bunga, tugasmu hanya melayani Samson dari makan, minum obat maupun mandi. misal ada kepentingan kantor yang mengharuskan Sam keluar, Kamu harus ikut dengannya." ucap Mama Rika.


"Baik Nyonya."


Mama Rika menghela nafas panjang mendengar Bunga masih memanggilnya Nyonya, ia pasrah jika Bunga lebih nyaman dengan panggilan itu, sementara Samson terlihat cuek sembari bermain ponsel, ia saat itu begitu kesal karena Viola tak kunjung membalas pesannya, bahkan seminggu ini Viola juga belum menjengguknya sama sekali.


"Cck.."


Decakan dari bibir Samson mengalihkan perhatian kedua wanita berbeda usia itu.

__ADS_1


"Kenapa Sam?" tanya Mama Rika menghampiri putranya.


"Viola tidak membalas pesan ku." wajah Samson terlihat masam.


"Mama sudah bilang putuskan wanita itu, dia tidak benar-benar mencintaimu." Mama Rika menatap wajah putranya yang terlihat semakin kesal.


"Sudah lupakan saja, Mama akan mengenalkan mu pada Bung-"


"Tak perlu, Sam sudah tau namanya dan pekerjaannya hanyalah tukang parkir." Sam melirik Bunga menatap gadis itu dengan tatapan merendahkan.


Bunga meremat ujung kemejanya menahan amarah saat mendengar ucapan Samson yang sangat menyinggungnya.


"Sam jangan menghina pekerjaan orang lain Mama tidak suka." geram Mama Rika.


"Ya Ma maaf." ucap Samson sembari memutar bola matanya dengan malas.


"Mama akan pergi mungkin sore nanti akan pulang, jangan membuat masalah dan menyusahkan Bunga, Kau dengar itu."


"Heeem.." Samson berdehem sembari mengotak atik ponselnya.


"Tante tinggal dulu ya, selamat bekerja."


"I-iya Nyonya." ucap Bungga dengan gagap seraya memandang Mama Rika yang tengah berjalan meninggalkannya.


"Kau tau bukan apa tugas mu?" Samson menatap Bunga dengan sengit.


"I-iya Tuan."


"Kalau tau kenapa Kamu masih berdiri disana cepat antar Aku ke kamar." suruh Samson membentak, membuat Bunga terperanjat kaget.


"Baik Tuan." Bunga berjalan tergesa menghampiri Samson dengan segera mendorong kursi roda itu dan membawahnya ke kamar sesuai permintaan lelaki tersebut.


"Kita pakai lift saja, kamarku berada di atas. lain kali jangan mencari muka di depan Mamaku dan Kamu tidak Aku ijinkan lagi untuk makan di meja makan bersama Kami, Aku harap Kamu mengerti posisimu." Samson berbicara tanpa menatap gadis itu.


"Cck ..sombong sekali dia." ucap Bunga, tentu saja hanya berani bicara dalam hati.


"Iya Tuan."


Tanpa banyak bicara Bunga berjalan mendorong kursi roda itu menuju lift lalu menekan angka 3 pada tombol lift tersebut, di dalam lift keduanya hanya diam, bunga berdiri tegap dengan wajah datarnya sementara Samson sibuk dengan ponselnya, tak lama lift pun terbuka, Bunga dengan segera mendorong kursi rodanya keluar dari lift.


"Kamar Tuan yang mana?" tanya Bunga menatap dua kamar berjajar yang ada di hadapannya, yang satu kamar Samson sedangkan satunya lagi kamar milik Evan jika pria itu menginap.


Samson hanya menunjuk salah satu kamar itu dengan jarinya, Bunga yang mengerti lalu membawah Tuannya memasuki kamar.

__ADS_1


"Eem apa Anda ingin tidur Tuan?" tanya Bunga sedikit tidak nyaman karena berada di kamar berdua bersama seorang pria.


"Ya." jawab Samson dengan singkat padat dan juga jelas😂


Bunga dengan ragu mendekati Samson. "Saya bantu Tuan."


"Heem." lagi-lagi Samson hanya berdehem.


Walaupun tubuh Samson lebih besar dari Bunga tapi gadis itu dengan mudahnya mengangkat tubuh Samson ke ranjang.


"


Kuat sekali dia, sangat tidak pantas jika gadis ini menjadi tukang parkir, dia lebih pantas menjadi kuli panggul." batin Samson terkekeh tanpa sadar.


Bunga mengernyitkan dahi menatap Tuannya yang tiba-tiba cekikikan tidak jelas.


"Tuan tidak apa-apa?" tanya Bunga sedikit takut.


Mendengar pertanyaan Bunga membuat Samson tersadar jika dirinya tengah bertingkah bodoh di depan gadis itu.


"Apa maksudmu bertanya seperti itu hah?" Samson berteriak cukup keras menatap nyalang Bunga yang kini berdiri di samping ranjangnya.


"Ku kira Tuan kesurupan eh bukan itu maksud Sa-"


"Keluar dari kamar ku sekarang." potong Samson dengan suara mengelegar sembari menatap Bunga dengan tajam, ia tidak terima dengan ucapan pelayan itu.


"Saya minta ma-"


"Keluar dari kamar Ku atau Ku pecat Kau sekarang juga."


"Iya Saya keluar." Bunga berjalan keluar dengan mengenggam kedua tangannya.


"Brengsek, kenapa Mama memilih wanita preman itu untuk menjadi perawat Ku." umpat Samson kesal.


"Ah lebih baik Aku menelpon Viola lagi." Samson mencari kontak Viola lalu mencoba mendeal nomor itu kembali.


Sementara itu di luar kamar Samson, Bunga terus mengumpati lelaki tersebut.


"Dasar pria sialan, kalau saja Aku tidak butuh pekerjaan ini Aku akan pergi dari sini detik ini juga." umpat Bunga sembari menendang udara dengan asal.


Bunga memilih turun dari lantai 3 untuk berkenalan pada pelayan lain yang bekerja disana.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2