Novel Pindah

Novel Pindah
Kemarahan Derward


__ADS_3

Di mansion Stella tengah mondar mandir di ruang keluarga, gadis itu penasaran apa sebenarnya yang ingin di bicarakan Damien tadi kepadanya, ia juga merasa jenuh berada di mansion sendirian, tak lama terdengar suara Vero yang mengagetkannya.


"Selamat pagi Nona." ucap Vero membungkukkan badan, gadis itu terlihat sangat berantakan pagi ini.


"Ah Vero kau menggagetkan ku saja." Stella memegang dadanya yang berdebar, dari tadi ia mondar mandir tidak jelas, saat kedatangan Vero membuatnya begitu terkejut karena Stella hampir saja menubruknya, ia menatap penampilan Vero dari atas sampai bawah.


"Iyuuh kenapa penampilanmu kacau begini."


"Maaf Nona saya tadi kesiangan, oh ya apa benar jika tiga hari kedepan anda tidak pergi ke kampus?"


"Ya.." jawabnya datar.


Mendengar pertanyaan Vero membuatnya kembali kesal, ia pun mendudukan dirinya di sofa.


Di kampus


Jam masuk kelas pun tiba, kini semua pelajar sudah berada di kelas mereka menunggu dosen datang, kelas itu terdengar begitu riuh dengan suara para mahasiswi yang sedang bergosip, keriuhan seketika menjadi senyap saat Dosen Albert memasuki kelas.


"Selamat pagi anak-anak."


"Pagi Pak .."


Albert menebarkan senyuman manisnya, membuat para wanita yang berada disana meleleh, saat mata itu menatap kursi milik Stella yang nampak kosong, membuat senyum itu seketika memudar.


"Kemana dia, kenapa dia tidak masuk?" batin Albert bertanya-tanya.


"Tugas yang ku beri sudah kalian kerjakan?"


"Sudah Pak." teriak semuanya.


Tidak adanya Stella disana membuat Albert lesu, dia menjadi Dosen hanya untuk mendekati Stella tapi gadis itu malah tidak hadir hari ini.


Sepulang mengajar di kampus, Albert langsung menuju markas milik Cartel untuk menjari tahu perihal Damien, mobil sport milik Albert kini berjalan meningalkan parkiran sekolah, tak lama tibalah Albert di markas, seperti biasa sang Daddy selalu menyambut dirinya dengan hangat.


"Ada angin apa kamu tiba-tiba kemari son?" Derward mengiring sang putra duduk di sofa, sedang ia berjalan menuju almari pendingin mengambil dua botol minuman bersoda, dan menaruhnya di meja kemudian mendudukkan dirinya tepat di samping sang putra.


"Dad aku sudah berhasil mendekati gadis itu tapi Damien, pria itu mengagalkan semua rencana ku." Albert membuka minuman bersoda itu dan meneguknya.


"Sepertinya ada yang janggal dengan hubungan mereka, kemarin aku menyuru Om Dru untuk menyelidiki hal ini, dan sesuai dugaan ku keduanya tengah menjalin hubungan, bukankah kata Arra keduanya masih bersaudara?" lanjut Albert.


Mendengar penuturan putranya membuat Derward tersenyum miring, sepertinya ia baru saja mendapatkan ide.


"Kamu tidak perlu tau son, tugasmu hanya menghancurkan keluarga Damien dan Ansel sampai ke akar-akarnya melalui gadis itu." ucapnya penuh penekanan.


"Apa hubungannya Stella dengan Ansel? apa mereka-."


"Ya gadis itu anak dari Ansel, kita bisa mengunakan gadis itu untuk memecah belah mereka ." terdengar suara tawa dari bibir Derward menggema di seluruh ruangan, sementara Albert tersenyum menyeringai ini kesempatannya untuk merebut Stella dari Damien, jujur saja Albert sudah menyukai gadis itu sejak ia pertama kali bertemu.


Tak berselang lama tawa Derward berganti dengan kemarahan saat mendapat laporan dari rekannya, jika Damien dan rombongannya berhasil membawah Calista kabur.


"Brengsek, Pyar.." vas guci seharga ratusan juta kini hancur tak berbentuk, beserta meja berbahan kaca yang berada di hadapannya pun menjadi sasaran empuk.


'Pyaarr.."


Rekan-rekan Derward yang tau jika pria itu sedang kacau tidak ada yang berani mendekat, mereka lebih memilih ikut dengan Albert untuk mencari keberadaan istri dari mantan pemimpin Cartel.


Albert yang mendengar kabar buruk ini langsung meninggalkan markas dengan membawah beberapa rekannya.


*


Hari ini Azzam dan Azzura berangkat sekolah bersama, semua ini atas perintah Ansel membuat Azzura mau tidak mau harus ikut mobil yang biasa mengantar dirinya dan sang Kakak.


"Dek, jangan di teruskan, Kakak tidak bisa melihatmu dihina setiap harinya." Azzam menatap Azzura dari samping, gadis itu nampak berbeda memang dari wajah aslinya.


"Sudahlah Kak, jangan ikut campur urusanku buktinya aku baik-baik saja, baru juga empat hari masak menyerah". Azzura begitu kesal dengan Kakaknya.


"Ck.. sebenarnya apa tujuanmu menyamar seperti ini?"wajah tampan Azzam terlihat serius saat bertanya, Kakak mana yang tega melihat adiknya setiap hari di buli seperti itu, bahkan Azzura belum memiliki teman sampai saat ini.


"Zura hanya ingin suasana baru saja, bosan menjadi orang yang selalu di hormati hanya karena derajat kita lebih tinggi, aku ingin mencoba menjadi gadis biasa, ingin memiliki teman yang tulus, bukan seperti yang sudah-sudah, mereka mendekati kita hanya karena kita orang kaya, banyak manusia yang memakai topeng di sekitar kita kak."


Jawaban dari adiknya membuat Azzam tercenggang, ya memang benar sampai detik ini pun Azzam tidak tahu mana teman yang tulus dan mana yang bermuka dua.


"Kakak mengerti maksudmu, baiklah lakukan apa yang menurutmu benar, Kakak memihakmu." Azzam mengelus kepala adiknya dengan lembut.

__ADS_1


" Terima kasih Kak, kalau begitu boleh Zura turun disini?" gadis itu menampilkan wajah imutnya yang justru membuat Azzam bergidik.


"Adik kau masih menjadi gadis buruk rupa, jangan memasang wajah seperti itu, sangat tidak sedap untuk di pandang." kata-kata Azzam membuat Zura sangat kesal, sementara Azzam hanya terkekeh.


"Pak berhenti." sopir langsung meminggirkan mobilnya saat mendapat perintah dari Azzam.


Azzura tersenyum riang saat mobilnya berhenti, sebelum turun gadis itu kembali mempringati sang Kakak.


" Ingat, Kakak tidak boleh lapor sama Papa, janji."Azzura mengulurkan jari kelingkingnya untuk mengucapkan janji.


"Iya janji .." Azzam tersenyum, tidak lama gojek langganan Azzura berhenti tepat di samping mobil.


"Oke, jemputan ku sudah datang, sampai ketemu di sekolah." Azzura mengerlingkan matanya dengan genit pada sang Kakak lalu segera turun dari mobil.


Azzam hanya tersenyum tipis melihat tingkah adiknya, karena jalanan cukup ramai pagi ini membuat Azzura sampai lebih dulu dari pada sang Kakak, gadis itu turun dari gojek dan membayar ongkosnya.


"Ini Pak, kembaliannya buat Bapak saja." ucap Azzura dengan pelan, gadis itu memberikan uang kertas berwarna merah.


"Terima kasih neng." Bapak gojek tersenyum lembut, ia bersyukur mendapat langganan yang begitu baik karena setiap harinya Azzura selalu memberinya ongkos lebih.


Selepas turun dari gojek Azzura berjalan memasuki gerbang, kepalanya terus menunduk ia tidak ingin melihat mata teman-temannya yang menatapnya dengan penuh hinaan, tanpa ia sadari ada seseorang yang berjalan tepat di sampingnya.


"Eh kaki siapa ini?" gerutu Azzura saat menatap kaki seseorang yang berada di sampingnya, ia mulai mengangkat kepalanya menatap siapa yang saat ini sedang berjalan bersamanya, pria berwajah tampan berkulit putih saat ini tengah tersenyum padanya.


"Selamat pagi." ucap pria itu kemudian.


Azzura seketika berhenti dan mematung, ia sempat terpanah dengan senyuman manis pria di hadapannya.


"Brayen.." ucapnya tanpa sadar.


"Ya.." Brayen semakin tersenyum mendengar gadis itu memanggil namanya.


Tanpa keduanya sadari banyak siswa siswi yang saat ini tengah menatap mereka, Azzura yang tersadar dengan prilakunya langsung menunduk, gadis itu berlari meninggalkan Brayen yang saat ini sedang menatapnya.


"Lucu sekali." Brayen tersenyum melihat tingkah gadis yang di pamggil udik itu, ia pun terkejut saat seseorang datang menepuk bahunya.


"Hay bro melamun mulu." Azzam merangkul pundak Brayen, lalu keduanya mulai melangkahkan kakinya menuju ruang kelas.


"Ngapain loe tadi senyum-senyum sendiri?" Azzam yang belum sempat melihat adiknya yang berlari dari temannya tadi akhirnya bertanya.


Brayen kembali tersenyum sambil menggelengkan kepala, masak ia dirinya suka dengan Azzura, ketiganya kini berjalan menuju kelas.


Kelas Azzura


Di depan pintu kelas Farel berdiri tengah menghadang Azzura, cowok tampan itu lagi-lagi di buat penasaran, pagi ini dirinya mendengar gosip jika Azzura dan Brayen berangkat bersama, Farel melihat penampilan Azzura dari atas kebawah membuat Azzura menjadi kesal.


"Bisa ngak minggir sebentar." dengan berani Azzura menatap ketua kelas itu.


Farel tersenyum miring mungkin sikap wanita ini yang membuat Brayen suka padanya.


"Kalau loe ingin masuk, loe harus lap sepatu gue sampai bersih." Farel tersenyum nitip saat melihat Azzura melotot padanya.


"Gue ngak mau, minggir ngak." Azzura mencoba masuk tapi Farel malah membentangkan satu kakinya pada pintu, hal itu membuat Azzura mendengus kesal lalu ia berjongkok.


"Lap pakai dasi loe." Farel bersendekap dada sembari melihat pemandangan yang membuatnya merasa terhibur.


"Sialan ternyata seperti ini sifatnya" batin Azzura.


"Mulai hari ini loe harus bersihin sepatu gue seperti ini setiap hari, mengerti." Farel menatap Azzura dengan tajam lalu memasuki kelas meninggalkan Azzura yang masih berjongkok.


Azzura berdiri, semua teman-temannya yang berada di kelas bukannya menolong malah menertawakannya.


"Hahaha .. emang enak."


"Raisain loe.."


"Memang pantas jadi tukang semir sepatu."


"HAHAHA..." tawa terdengar menggema di dalam kelas, sementara Azzura hanya bisa mengelus dada menerima perlakuan dari teman sekelasnya.


Tak lama guru datang menghentikan tawa mereka, semua duduk di tempat masing-masing dan memulai pelajaran.


Farel sempat mencuri pandang pada Azzura karena posisi duduk mereka sejajar, pria itu menyeringai mulai hari ini ia punya mainan baru untuk di jadikan hiburan.

__ADS_1


Waktu terus berputar, terdengar bel istirahat berbunyi, semua siswa berhamburan keluar terutama Farel dan kedua temannya, di kelas hanya tersisa dua orang yaitu Azzura dan siswi berkaca mata, saat Azzura beranjak dari kursinya dan ingin keluar, tiba-tiba gadis berkaca mata itu memanggilnya.


"Azzura."


Azzura menoleh dia menatap temannya lalu tersenyum. "Kamu manggil ku ?" tanya Azzura dengan panggilan sopan.


Gadia berkaca mata itu mengangguk dan tersenyum kemudian menghampiri Azzura lalu memperkenalkan dirinya.


"Ya, kenalkan nama ku Dewi." Dewi merentangkan tangannya, ia tersenyum manis pada Azzura.


Dewi gadis yang berasal dari keluarga tidak mampu, karena kecerdasaannya ia bisa bersekolah disini dan mendapat beasiswa, gadis berperawakan tinggi sama seperti Azzura, berkulit kuning langsat dan memiliki senyuman yang sangat manis karena ada lesung pipi di kedua pipinya, hanya saja penampilannya yang terlihat kuno menutupi kecantikan yang ia miliki, sebenarnya Dewi pun sama seperti Azzura selalu menjadi bahan bulian oleh teman-temannya, bahkan gadis itu di ancam tidak boleh berdekatan dengan Azzura, padahal ia ingin sekali memiliki teman.


"Azzura, panggil saja Zura" Azzura menjabat tangan Dewi.


"Sekarang kita berteman ya, sebenarnya dari awal kita masuk ke kelas ini aku sangat ingin menyapa mu dan menjadi temanmu tapi-." Dewi tidak berani meneruskan kata-katanya.


"Tak apa aku mengerti." Azzura kembali tersenyum dan memegang erat tangan temannya itu.


"Kita ke kantin yuk!" ajak Azzura.


"Tidak.." Dewi mengelengkan kepala dengan cepat.


"Kenapa? kamu tidak makan, biar aku yang traktir." Azzura mengira jika Dewi tidak membawah uang saku.


"Aku takut nanti mereka membuliku lagi." tangan Dewi gemetaran saat menginggat kejadian itu, hal itu membuat Azzura mengerutkan alisnya.


"Kalau begitu biar aku yang ke kantin, kita makan berdua di kelas ya."


Dewi mengangguk dan tersenyum, Azzura melepaskan tangan Dewi, ia mulai melangkah meninggalkan kelas menuju kantin.


"Sebenarnya apa yang menyebabkan Dewi ketakutan begitu." batin Azzura.


Azzura membeli dua kotak nasi goreng dan dua jus alpukat, ia pun kembali ke kelas setelah membayarnya, tak sengaja mata indahnya bertatapan dengan mata tajam milik Farel, hanya sebentar setelahnya iya acuh dan melanjutkan langkahnya.


"Ini untukmu dan ini untuk ku." Azzura terlihat bahagia akhirnya dirinya memiliki teman juga.


"Ini uangnya Zura." Dewi memberikan uangnya tapi Azzura menolak.


"Aku kan sudah bilang tadi akan mentraktirmu, sudah cepat makan." keduanya pun makan bersama sesekali sembari bergurau.


Waktu terus berputar kini Azzura sudah berada di depan gerbang menunggu jemputannya datang, siapa lagi jika bukan gojek langganannya, karena hari ini tidak ada jam tambahan jadi Azzura memilih untuk langsung pulang, tak lama motor bebek itu pun datang berhenti tepat di samping Azzura.


""Maaf non Bapak lama ya?" gojek itu merasa sungkan, takut pelangan setianya menunggu terlalu lama.


"Tidak Pak." Azzura langsung menaiki motor, tak lupa juga memakai helm, motor pun melesat meninggalkan lingkungan sekolah.


Di halaman belakang sekolah, seorang siswi tengah menangis karena mendapat bulian oleh empat teman sekelasnya.


"Hahaha dasar, loe sama aja kayak cewek udik itu menjijikkan." ucap siswa itu dengan lantang.


Gadis itu beberapa kali mendapat tamparan dari seorang siswi, bukan hanya itu ia juga di siram dengan lumpur yang berada disana.


"Maafkan aku Mev hiks.. hiks." tangisnya tersedu-sedu.


Mevi siswi yang terkenal suka membuli temannya, gadis ini lah yang berani menjambak Azzura kemarin.


"Gue udah bilang sama Loe Dewi jangan mendekati cewek udik itu, tapi sepertinya ancaman kita ngak mempan buat cewek kere seperti Loe." teriak Mevi, tangan lentiknya menunjuk-nunjuk gadis yang sudah berbaur dengan lumpur itu.


"Aku juga minta maaf Rel." ucap Dewi kembali sembari menunduk.


Ya siswa itu ialah Farel dan kedua temannya, Farel menaruh curiga saat sempat bertatapan dengan Azzura di kantin tadi karena membeli dua kotak nasi dan minuman, ia sempat mengikutinya dan ternyata benar Dewi sudah berani mengajak Azzura berteman.


sementara Mevi hanya ikut-ikutan, tapi gadis itu juga sangat senang bisa ikut membuli gadis lemah seperti Dewi.


Sementara itu Azzura terpaksa kembali lagi ke sekolah karena buku yang sempat ia pinjam pada Dewi hilang, entah itu terjatuh atau tertinggal, untung saja ia belum berganti dan belum menghapus make up yang berada di tubuhnya itu.


Azzura berjalan memasuki sekolah, disana hanya ada beberapa siswa saja yang masih nongkrong di parkiran, gadis itu terus berjalan sambil menatap sekitar berharap menemukan buku milik Dewi, hingga Dewi di kagetkan dengan seseorang yang berpenampilan sama seperti dirinya bedanya ini laki-laki.


"Astaga.."


"Aduh sory-sory, gue habis lari." ucapnya ngos-ngos'an.


"Memang ngapain lari-lari?" Azzura menautkan kedua alisnya.

__ADS_1


"Gue abis lihat si Dewi di buli sama anak-anak kasihan, mereka ada di halaman belakang." ucapnya lalu kembali berlari keluar dari gerbang sekolah.


"Dewi." Azzura panik, gadis itu segera berlari maraton menuju halaman belakang sekolah.


__ADS_2