Novel Pindah

Novel Pindah
Ajakan Makan Malam


__ADS_3

Dua hari berlalu, seperti yang di perkirakan Albert, sikap Stella tidak lagi dingin padanya, bahkan Stella dua hari ini makan di kantin bersama Albert, banyak yang menggira jika keduanya menjalin sebuah hubungan, hingga kabar itu menjadi tranding topik di kampusnya.


"Pak kenapa mereka menatap ku seperti itu, apa ada yang salah dengan wajahku?" tanya Stella pada Dosen tampan itu, siapa lagi kalau bukan Albert.


"Mungkin mereka iri dengan kecantikanmu." jawab Albert.


Di belakang keduanya ada sang bodyguard cantik yang setia mengikuti kemanapun Stella pergi, gadis itu ingin muntah saat mendengar gombalan dari Albert.


"Apa aku harus melaporkan hal ini pada Tuan Dam ya." gumam Vero yang berada di belakang.


"Kau bicara apa Ver?" tanya Stella tanpa menoleh.


"Ah tidak ada Nona." jawab Vero.


"Stell." panggil Albert keduanya sudah berada di tempat parkir, sementara Vero sedang mengambil mobilnya, Stella yang biasanya menunggu Vero di depan gerbang, kini memilih menunggu di parkiran karena merasa sungkan pada Albert.


Iya Pak kenapa?"


"Apa nanti malam kamu punya waktu?"


Stella menautkan kedua alisnya, "Kenapa Bapak bertanya seperti itu?" bukannya menjawab gadis itu malah balik bertanya.


Albert tersenyum. "Aku hanya ingin mentraktirmu makan malam."


Stella berfikir dia merasa sungkan jika menolak tapi di sisi lain dia tidak berani keluar berdua dengan Dosennya takut Om tersayangnya salah faham padanya.


Melihat Stella hanya diam, Albert pun menunjukkan wajah kecewanya. "Tak apa, mungkin lain waktu aku bisa mentraktirmu.

__ADS_1


"Eem begini saja, nanti aku kabari lagi ya Pak kalau aku bisa."


Albert tersenyum saat mendengar gadis itu menyebut aku kamu tidak seformal kemarin, lalu pria itu menyodorkan ponselnya kepada Stella.


"Aku belum punya nomor ponselmu."


Stella ragu-ragu untuk mengambil ponsel itu, tapi detik kemudian diapun menyimpan nomor miliknya disana.


"Nona.." Vero turun dari mobil, mempersilahkannya masuk.


"Aku duluan Pak." ucapnya tersenyum dan memasuki mobil, begitu pula dengan Albert pria itu tersenyum dan melambaikan tangan sampai mobil milik Stella tak terlihat lagi.


"Yes, akhirnya." ucap Albert tersenyum smirk, ia pun melenggang pergi menuju mobil sport yang terparkir tidak jauh dari sana.


Di negara lain


Hari ini ada pelajaran tambahan dalam bidang olahraga, karena 5 bulan lagi akan di adakan lomba turnamen se provinsi, segala macam jenis olahraga ada disana, saat ini ada puluhan siswa siswi dari beberapa kelas sudah berkumpul di halaman sekolah yang tampak luas, terutama Azzura ia duduk termenung sendiri tanpa teman, sebab penampilan dan wajahnya yang kusam membuat semua temannya menjauh.


Di sisi lain Azzam menjadi pusat perhatian disana, bukan hanya Azzam kelima temannya yang tergabung dalam club basket itu pun juga tidak kalah tampan dari Azzam, terdengar suara riuh dari siswi-siswi yang ganjen hingga teriakan mereka sampai ke telingga Azzura.


"Ihch lebay." umpat Azzura.


Umpatan Azzura tidak sengaja di dengar oleh teman sekelas yang biasa membulinya.


"Hei udik, berani loe mengumpat mereka, nih ngaca." ucapnya sambil melempar kaca yang sengaja ia injak hingga retak sebelum di lemparkan ke arah Azzura.


"Bagaimana, wajah loe sama bukan seperti kaca itu." terdengar tawa dari beberapa siswa siswi yang mendengarnya.

__ADS_1


Azzura berdiri ia pergi begitu saja tanpa mau meladeni mereka, hal itu membuat teman yang tadi mengejeknya murka.


"Sialan dia mengacuhkan ku." gadis itu berjalan cepat lalu menarik rambut Azzura dari belakang.


Situasi disana sangat ramai karena banyaknya siswa hingga kejadian seperti ini satu guru pun tidak ada yang tahu, apalagi posisi mereka saat ini berada di samping, cukup jauh dari tempat dimana yang lain sedang berlatih, sedangkan siswa lainnya menunggu giliran di panggil.


Tanpa mereka ketahui Azzam melihat semua itu, ia selalu memantau adiknya walaupun mereka berjauhan, tangan Azzam mengepal kuat saat melihat adiknya di aniayah seperti itu.


"Zam loe lihat apa?" tanya temannya.


Kelima teman Azzam melihat arah pandang pria itu, mereka begitu terkejut saat melihat Azzam menatap gadis jelek yang sepertinya mendapat bulian dari teman-temannya.


"Zam jangan bilang loe suka sama cewek udik itu."


'Hahaha..' terdengar tawa dari ke empat temannya, kecuali brayen.


Brayen pria berwajah tampan, wajahnya yang sedikit ke bule-bulean itu membuat wanita yang melihatnya terpesona.


Azzam tersadar, ia menatap tajam satu persatu temannya yang tertawa membuat ke empatnya langsung terdiam.


"Zam lihatlah.."


Azzam menoleh ke belakang, di lihatnya Brayen berjalan setengah berlari ke arah Azzura, hal itu membuat Azzam menyunggingkan senyumnya.


Sebelum membaca tinggalkan tanda cinta kalian untuk Author biar ngak lupa🤭🥰


a

__ADS_1


__ADS_2