
"Mama ngak salah?" tanya Evan ingin memastikan ucapan Mama Rika kembali.
"Tidak, memangnya kenapa? salah ya?"
"SALAH MA, kenapa Mama bisa berfikir seperti itu? apa kata orang jika seorang Samson Keanu Winata menikahi seorang pembantu." pekik Samson menolak keras perjodohan ini.
"Pelankan suara mu Sam." tegas Papa Adi penuh penekanan dengan sorot mata tajam, ia tidak suka jika wanita yang di cintainya di bentak seperti itu.
Bunga hanya bisa mengerutu dalam hati menyaksikan perdebatan keluarga Winata dan mendapat penolakan dari Samson.
"Siapa juga yang mau di jodohkan sama Lo, OGAH." batin Bunga.
"Aku sudah memiliki kekasih Ma. Samson sangat mencintai Viola, dia kelak yang akan menjadi istriku." tegas Samson.
"Tapi Mama tetap ingin kalian berdua menikah." ucap Mama Rika tak kalah tegas membuat Samson menghembuskan nafas gusar.
Samson mengambil tongkatnya lalu berdiri dari meja makan melangkah menuju lift, selera makannya sudah hilang saat mendengar permintaan konyol sang Mama.
"Kenapa Mama tiba-tiba menjodohkan mereka?" tanya Evan penasaran, ada rasa sakit yang menghujam jantungnya saat mendengar keinginan wanita parubaya yang sudah di anggapnya Ibu.
"Mama menjodohkan mereka karena kelemahan Samson, Mama tidak ingin mendengar Samson celaka lagi hiks hiks."
Papa Adi mendengus saat lagi dan lagi harus melihat akting istrinya yang tidak meyakinkan itu, sementara Bunga yang dari tadi hanya menunduk kini mendongak dengan alis bertaut.
"Kelemahan? apa badan layaknya Samson masih memiliki kelemahan, tapi apa hubungannya kelemahan pria itu dengan perjodohan ini." kepala Bunga rasanya ingin meledak memikirkan hal itu.
"Tapi Ma-."
"Maaf Nyonya memangnya Tuan Samson memiliki kelemahan seperti apa?" Bunga memotong ucapan Evan.
Mama Rika beranjak dari tempat duduknya lalu menghampiri Bunga sembari menangis meskipun tangisan Mama Rika terdengar di buat-buat, bahkan di kelopak matanya tak ada satu tetes pun air mata.
"Begini nak Bunga, meskipun badan Samson besar dan kekar dia tidak bisa berkelahi dan sering kali mendapat serangan dari para pesaingnya. Tante tidak ingin kehilangan Samson, harapan Tante hanya Kamu."
"Kan ada Evan Ma, tak perlu lah menjodohkan mereka." sunggut Evan.
"Memangnya Kamu mau sampai bangkotan jagain Kakakmu? setiap hari saja kerjaan kalian hanya bertengkar." selah Papa Adi.
__ADS_1
Mendengar ucapan Papa Adi membuat Evan berfikir, ada benarnya juga ucapan sang Papa, jika saja Samson mau belajar ilmu beladiri tidak perlu Evan terus mengekori Samson, ia pun hanya bisa menghela nafas dengan kasar.
"Sebelumnya saya meminta maaf Nyonya, saya menolak perjodohan ini." ucap Bunga sembari menunduk.
Mama Rika menghela nafas panjang, akhirnya ia harus mendengar apa yang tidak ingin dia dengar.
"Bunga Tante tidak perlu jawaban sekarang, Tante siap menunggu sampai Kamu menerimanya." kali ini wajah Mama Rika terlihat benar-benar sendu.
Bunga mencoba menatap wanita parubaya yang sudah sangat baik padanya lalu menghembuskan nafas dalam-dalam.
"Kasih Bunga waktu ya Nyonya." ucapnya kemudian.
Akhirnya Mama Rika tersenyum lega, makan siang pun di mulai tanpa adanya Samson disana.
*
*
Evan berjalan lunglai menuju ruangannya, entah mengapa mendengar keinginan Mama Rika yang ingin menjodohkan saudaranya dengan Bunga membuatnya tidak bersemangat lagi.
"Bunga, apa Gue suka sama gadis itu. ah entahlah lebih baik lanjutin kerjaan aja."
Akhirnya Evan kembali serius dengan pekerjaannya, menginggat Samson tidak lagi kembali ke kantor membuatnya harus bekerja ekstra.
Waktu terus berputar tak terasa malam hari pun tiba, Evan yang terlalu sibuk tidak menyadari jika waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 malam.
"Aaah akhirnya selesai juga." Evan merengangkan tangannya untuk melepas ototnya yang terasa kaku.
Menginggat hatinya yang masih galau karena Bunga, Evan berencana ingin ke Club malam ini, untuk menghilangkan perasaan yang entah itu apa Evan sendiri tidak tahu, dengan langkah pasti Evan mengambil kunci mobil dan segera memakai jasnya lalu keluar dari ruangannya.
"Dua atau tiga wanita mungkin cukup untuk menghilangkan kegalauan ini." gumam Evan sembari fokus menyetir.
Mobil fortuner hitam itu pun terus melaju membelah jalanan malam yang cukup sepi, Evan masih fokus menyetir hingga fokusnya beralih pada seorang wanita yang tengah berlari di gelapnya malam, dan paling membuat Evan terkejut wanita itu dengan nekat menghadang mobil yang di kendarainya dengan merentangkan tangan.
'Ciiiiiittttt.' suara rem berdecit menandakan jika mobil milik Evan telah berhenti.
Tak lama wanita itu berlari ke arah mobilnya lalu mengetuk pintunya sembari berteriak.
__ADS_1
"Buka tolong Buka.." teriaknya.
Dengan perasaan kesal Evan terpaksa membuka pintu mobilnya.
'Ceklak..' pintu mobil terbuka.
"Siapa sih Lo?" teriak Evan pada wanita yang terlihat ketakutan itu.
Tanpa menjawab pertanyaan Evan gadis itu tiba-tiba masuk ke mobil lalu menutup mobilnya tanpa meminta persetujuan dari si empunya.
"Cepat nyalakan mesinnya." perintah gadis itu.
Evan menatap gadis itu tajam sembari mencengkram stir dengan perasaan kesal, dari jauh dirinya bisa melihat beberapa pria bertato tengah berlari ke arah mobilnya, tanpa menunggu lama dengan cepat Evan menstater dan melajukan kendaraannya melesat menjauhi tempat itu.
Suasana di mobil begitu hening, Evan sempat melirik gadis yang masih terlihat ketakutan, terlihat tangan gadis itu masih gemetaran membuatnya penasaran apa yang terjadi dengan gadis itu.
"Siapa mereka tadi?" tanya Evan memecah keheningan sembari fokus menyetir.
"Antarin Gue ke blok XX." ucap gadis itu dengan suara gemetar, nampak jelas jika gadis itu sedang menangis.
Tidak mau ambil pusing tanpa bertanya lagi ia pun menuruti permintaan gadis itu, suasana di mobil kembali hening hingga mobil sampai di tempat yang mereka tuju.
Tanpa bicara atau mengucapkan terima kasih gadis itu dengan cepat turun dari mobil Evan.
"Dasar gadis aneh." Evan menatap ke samping dimana gadis itu masuk, ia melihat rumah besar dengan pagar menjulang tinggi.
"Anak orang kaya rupanya, tapi kenapa dia bisa di kejar-kejar pria bertato itu."
"Aah sudahlah lebih baik Gue bersenang-senang malam ini." gumam Evan, kembali melajukan mobilnya menuju sebuah club.
Disisi lain tepat di kediaman Samson, gadis berpakaian layaknya pria itu tengah tidur terlentang mengunakan tangannya sebagai bantal, ia menginggat kejadian tadi pagi saat tak sengaja bertemu dengan pria yang pernah datang di kehidupan masa lalunya, meskipun kejadian itu sudah sangat lama dan pria itu terlihat menua tapi dirinya masih sangat mengenali pria parubaya itu.
"Aku harus mencari tahu siapa mereka dan mengapa pria itu bisa memakai marga Admaja di belakang namanya." gumam Bunga dengan tangan mengepal.
Sejak dirinya di usir dari rumahnya sendiri, Bunga tidak pernah lagi melihat Bibi dan pekerja lainnya, bahkan ia tidak sempat bertanya dimana mayat kedua orang tuanya saat itu, ketiga pekerja yang masih tersisa itu dengan kompak menutup mulut mereka sembari memandangnya dengan ibah.
Bersambung ...
__ADS_1