
Mansion Damien
"Empat hari kedepan kamu tidak usah berangkat ke kampus,." penghuni mansion baru saja menyelesaikan sarapan, ketiganya masih berada di meja makan, siapa lagi jika bukan Damien, Stella dan Robby.
"Apa alasan Hubby melarangku ke kampus?" Stella menautkan kedua alisnya menatap Damien lekat.
"Tentu saja karena Dosen ganjen mu itu, aku tidak suka jika kau dekat-dekat dengannya, dia hanya seminggu mengantikan Dosen lamamu kan, aku sudah mencari tau, setelah empat hari berlalu kamu baru boleh pergi ke kampus lagi" jawab Damien matanya menatap Stella dengan tajam.
Stella mendengus, ia berfikir sikap Damien sangat keterlaluan kali ini, padahal menurutnya Dosen yang bernama Albert itu orang yang sangat baik.
"Aku ingin bicara serius denganmu, aku tunggu di ruang kerja ku dan kamu Robb seperti biasa aku percayakan urusan kantor padamu." Damien terlihat serius kali ini, hal itu membuat Stella bertanya-tanya, tidak biasanya sang kekasih bicara seserius itu.
"Baik Tuan." Robby beranjak dari sana, sementara gadis cantik itu memasang wajah masam.
Baru beberapa langkah Damien berjalan, terdengar bunyi nyaring dari ponsel miliknya membuat Robby tidak jadi pergi, pria itu masih mematung menunggu Tuannya mematikan telpon, sementara Damien pun langsung mengangkatnya.
"Hallo."
(....)
"Oke aku segera kesana?" Damien kembali melangkah menuju kedua orang yang dari tadi menatapnya.
"Sayang aku harus pergi, jangan keluar jika bukan bersamaku." Damien kembali melangkah tapi di hentikan oleh Robby.
"Maaf Tuan apa saya harus ikut?" tanyanya dengan ekspresi datar.
"Tidak usah kamu ke kantor saja disana lebih membutuhkanmu."
Robby mengganguk, Damien kembali melangkah di ikuti Robby di belakangnya, kali ini mereka membawah mobil sendiri-sendiri, mobil Damien sudah melesat lebih dulu sementara Robby pria itu menghentikan langkahnya saat melihat Vero terburu-buru.
"Huh aku terlambat." ucap Vero, gadis itu berlari menuju mansion tapi langkahnya terhenti saat berpapasan dengan Robby.
"Hari ini dan tiga hari mendatang Nona Stella tidak ke kampus jadi kamu tidak perlu datang kemari." ucap Robby datar.
"Tapi kenapa Tuan?" tanya Vero dengan alis menyatu, Robby tidak menjawabnya, pria itu langsung ngacir menuju mobil dan meninggalkan Vero yang nampak kesal.
"Dasar pria menyebalkan, apakah dengan keluarganya dia juga dingin seperti itu." Vero bergidik ia lebih memilih masuk mansion dan bertanya pada Stella langsung.
Saat ini Damien sudah ada di mall terbesar di kota itu, tujuannya bukan untuk belanja ataupun jalan-jalan, tadi saat di mansion ia mendapat telpon dari Lano jika seseorang yang selama ini bersembunyi sudah keluar dari sangkarnya, Lano beserta tiga rekannya yang tidak lain Lard, Bray dan Dimitri kini tengah memata-matai seseorang, sembari menunggu pemimpin mereka keempatnya berjalan berpencar.
Dari kejauhan Lano bisa melihat Damien, ia pun berbalik dan berjalan menghampirinya, ia mengajak Damien ke tempat yang cukup sepi.
"Om target sudah kita ikuti." Damien mengangguk, sementara Lano memasang sesuatu di telinga Damien agar memudahkan mereka untuk berkomunikasi.
__ADS_1
Mereka keluar dari mall, keduanya memilih menunggu di mobil, tidak mungkin bukan jika mereka membuat keributan di dalam, cukup tiga orang saja yang mengintai orang itu.
Disisi lain
Wanita berkulit putih dengan penampilan glamour tengah berjalan di ikuti oleh empat pengawal yang memakai baju serba hitam, meskipun usianya tidak mudah lagi namun ia masih terlihat sangat cantik, semua orang yang berpapasan dengan mereka tidak berani melihat, karena keempat pengawal itu berbadan besar dengan wajah sangar, nampak sangat menakutkan, wanita itu masih ingin berkeliling untuk memborong semua yang dia inginkan padahal dua pengawal yang berada di belakang sudah kualahan membawah beberapa bag hingga tangan keduanya tidak cukup, sementara dua pengawal di depan bertugas untuk melindungi wanita itu, jika terjadi hal buruk yang tidak di inginkan.
"Cek cek.." ucap Dimitri.
"Ya Lard disini." sahut Lard.
"Sepertinya mereka masih lama berada di dalam." ucap Dimitri.
"Ya, tapi kita tidak boleh gegabah jangan sampai kehilangan jejak mereka." Lard menatap benggis target mereka.
"Dimana Bray?" sesaat Dimitri menginggat satu rekannya, ia tidak mendengar suara Bray sama sekali.
"Entahlah." Lard cuek, ia hanya fokus mengikuti targetnya dari belakang.
Sementara di sebuah resto cepat saji yang berada di dalam mall, ada dua wanita cantik nan seksi yang sedang di goda oleh seorang pria tampan.
"Hai boleh aku duduk disini." ucapnya sembari tebar pesona pada dua wanita cantik itu.
Mendengar suara bariton yang menyapa mereka, membuat keduanya menatap pria itu dengan serempak, mereka terhiptonis dengan ketampanan yang di miliki pria tampan di depannya.
"Kenalkan namaku Bray, boleh tau siapa nama kalian." Bray mengerlingkan mata pada kedua wanita seksi itu, ya pria yang di cari-cari oleh kedua rekannya ternyata sedang berada di food court bersama dua orang wanita, Bray belum mendapat jawaban dari keduanya, tiba-tiba saja ada seseorang yang menoyor kepalanya dari belakang.
"Aduh.." Bray terkejut lalu menenggok ke belakang.
"Brengsek, ada misi penting malah main disini." umpat Dimitri menatap tajam rekannya.
"Hehe sambil menyelam minum air." Bray cengegesan, melihat Dimitri yang akan menelannya hidup-hidup, dengan berat hati ia meninggalkan dua gadis cantik nan seksi itu, sementara kedua wanita itu menatap Bray dan Dimitri dengan sendu.
"Yah ngak jadi dapet cowok cakep." keluh wanita yang
memakai dress minim bahan.
"Sudahlah bukan rezeki." sahut temannya.
Waktu terus berputar akhirnya wanita yang mereka incar saat ini sudah menaiki mobil, sepertinya ia akan pulang. Dimitri, Bray dan Lard langsung memasuki mobil, disana sudah ada Lano dan Damien yang menunggu mereka, tak lama mobil wanita itu melaju meninggalkan mall di susul mobil milik Lano di belakangnya, Damien meninggalkan mobilnya disana, memilih satu mobil bersama rekan-rekannya.
*Mobil yang di kendarai wanita itu terus melaju, sepertinya para pengawalnya tidak menyadari jika ada mobil asing yang mengikuti mereka, hingga kedua mobil itu melewati jalan yang begitu sepi, hanya ada pohon-pohon besar disisi kanan dan kiri, hal itu menjadi kesempatan untuk Lano menghentikan mobil yang membawa targetnya.
'Ciiiiiiiiitttt' mobil yang menjadi target mereka seketika berhenti mendadak saat Lano berhasil menyalip mobil itu.
__ADS_1
"Brengsek, siapa mereka."umpat salah satu pengawal.
"Nyonya berdiamlah di dalam jangan sampai anda keluar." ucap pengawal lain memberi peringatan pada wanita itu, wanita yang menjadi target hanya bisa mendengus dan menatap tajam saat tau siapa yang sudah berani menghadangnya.
Para pengawal yang berada di mobil itu keluar satu persatu begitu juga dengan Damien dan rekan-rekannya.
"Berani-beraninya kalian menghadang kami, mau apa kalian?" tanya salah satu pengawal.
Damien dan lainnya tersenyum menyeringgai menatap keempat pengawal di depannya.
"Kami menginginkan wanita yang ada di dalam, suruh wanita itu keluar." sorot mata Damien begitu menakutkan membuat nyali ke empat pengawal itu menciut, tapi walau begitu mereka harus tetap melindungi majikannya.
"Ciih langkahi dulu mayat kami." ucap pengawal lain menantang.
Tanpa banyak bicara kelima orang yang tidak lain Damien dan keempat rekannya mulai menyerang ke empat pengawal itu.
'Bugh..'
'Bugh..'
"Kalian kuat juga." ucap Bray menyeringgai karena sempat mendapat tendangan dari lawannya.
Perkelahian tidak terelakkan, hingga pertarungan ini di menangkan oleh Damien dan rekan-rekannya.
"Akhirnya.." ucap Lard, sementara wanita yang berada di dalam mobil sudah gemetaran, wanita itu sempat mencari bantuan tetapi kenapa bantuan itu tak kunjung datang.
"Tok tok.. keluar wanita ular." teriak Damien dengan penuh amarah.
"Kalau kau tidak mau membuka mobilnya, akan ku bakar dirimu bersama mobil mu ini." gertak Dimitri membawah satu tor bensin di tangannya.
Tidak ada pilihan lain wanita itupun akhirnya keluar. "Mau apa kau Dam?" wanita itu menatap Damien dengan tajam.
"Hai Callista, bagaimana kabarmu?( Damien tersenyum tipis) sepertinya kau sehat-sehat saja, tapi hanya untuk saat ini, setelah kau ikut denganku kau pulang hanya tinggal nama." wajah itu kembali dingin, tangannya mengepal kuat saat menginggat sang Papa terbunuh karena ulah wanita di hadapannya.
"Santai Callista kau hanya butuh mengulur waktu, hingga bantuan datang dan kau selamat." batin Calista tersenyum menyeringai.
Tanpa banyak bicara Damitri yang sudah tau jika wanita itu berniat mengulur waktu, langsung menyeretnya ke mobil di ikuti Damien dan yang lainnya.
"Brengsek, lepaskan aku." Calista meronta berteriak histeris.
"DIAM." teriak Damitri, ia mendorong wanita itu begitu keras ke dalam mobil.
Harapan Calista untuk selamat pun pupus, nyatanya mereka berhasil membawahnya pergi, entah bagaimana nasipnya nanti, mungkin benar apa kata Damien, wanita itu pulang hanya tinggal nama.
__ADS_1