Novel Pindah

Novel Pindah
Tom End Jerry


__ADS_3

Kelima remaja tampan itu pun masuk, ada yang menatap takjub pada bangunan arsitektur mansion milik Azzam, ada pula yang biasa saja karena menjaga emagenya dan yang paling parah sahabat Azzam yang bernama Nathan, lelaki itu dengan konyolnya melepas sepatu karena tidak tega jika harus menginjak lantai sebersih itu.


"Eh Tan Loe ngapain pakai di lepas segala?" Rama yang berjalan di belakang Nathan memperhatikan gerak gerik sahabatnya itu, hingga keempat teman lainnya menoleh dan tertawa terbahak-bahak.


"Jangan di lepas ini bukan tempat ibadah." ledek Azzam.


"Dasar norak." sahut Rama.


"Sialan .." umpat Nathan kembali memakai sepatunya lalu berjalan terlebih dulu layaknya pemilik mansion.


"Silahkan duduk, aduh." Nathan mengaduh kesakitan saat Rama menoyor kepalanya.


Azzam dan Brayen terkekeh melihat kedua sahabatnya yang seperti tom and jerry jika bertemu.


"Biii.." teriak Azzam.


Asisten menghampiri dengan setengah berlari menuju ruang tamu.


"Ya Tuan muda."


"Tolong buatkan minuman dan bawahkan beberapa camilan." perintah Azzam, asisten itupun membungkuk lalu pamit.


"Gila mansion Loe udah kayak istana di negeri donggeng, boleh dong sekali-sekali kita nginep." mulut Nathan memang cerewet di banding yang lainnya.


"Bener kata Setan, sekali-sekali kita nginep sini boleh dong Zam." Brayen menyengir menunjukkan deretan giginya yang putih.


Setan panggilan teman-temannya pada Nathan.


"Nama Gue Na-than, ganteng-ganteng gini di panggil setan." gerutu Nathan.


Tak lama cemilan dan minuman pun datang.


"Waah ini nih yang bikin betah." Rama mengambil satu gelas syrup, tanpa menunggu di persilahkan oleh tuan rumah, pria itu langsung menegukknya hingga tandas.


"Hehe haus banget Gue." Rama terkekeh saat kelima temannya menatapnya tajam.


"Dasar nama Loe aja yang rama tapi sopan santun Loe nol." Nathan mendengus kesal.


"Itu Ramah bego." kali ini Rama menyentil jidat Nathan dengan keras.


"Arrrhh sakit kunyuk." Nathan ingin membalas tapi ia urungkan saat melihat bogeman tangan milik Rama yang terkepal tepat di depan wajahnya.


Sementara yang lain hanya geleng-geleng kepala kemudian fokus ke ponsel masing-masing.


Brayen terus saja menatap ke dalam berharap ada yang keluar dari sana, Azzam yang paham langsung berdehem dengan keras membuat Brayen malu.


Hari sudah sore, sore ini Azzura mengajak Kakaknya Stella ke mall, ia ingin membeli sesuatu untuk membuatnya terlihat hitam, karena miliknya sudah hampir habis, sekalian juga ia mengajak sang Kakak untuk shopping.


'Tok tok tok..'


"Kak, Zurra masuk ya?" teriak Azzura.


"Masuk aja Dek." Stella saat ini sedang berdandan, ia berfikir dari pada berdiam diri di kamar menginggat masalahnya dengan Om nya lebih baik ikut adiknya ke mall.


Stella melirik adiknya yang tampil cantik sore ini begitu juga dengan Stella, tidak ada yang gagal memang produk dari Bella dan Ansel.

__ADS_1


"Oh ya ajak Azzam gih biar seru." ucap Stella, ia belum tau jika Azzam kedatangan teman sekolahnya, bahkan sampai sore mereka masih betah di kamar.


"Kak Azzam lagi ada temennya Kak, kata Bibi sih mereka lagi ngumpul di kamarnya." Azzura membenarkan penjepit pita yang ia pakai, penampilannya di rumah sangat bertolak belakang saat berada di sekolah.


"Yaaah ngak seru dong Dek, coba kamu panggil masak Kakaknya baru pulang malah ngumpul sama temannya sih." pinta Stella.


"Eemm harus gitu Kak aku kesana?" tanya Azzura dengan ragu.


"Memang kenapa? aaa Kakak tau pasti teman-teman Azzam pada naksir kamu ya." goda Stella menunjuk hidung Azzura dengan jari telunjuknya.


"Naksir? hah mereka malah memanggilku cewek udik." batin Azzura tiba-tiba merasa kesal.


" Dek." Stella mengoyang bahu adiknya yang sedang melamun.


"Udah ah mending Aku panggil Kak Azzam aja." Azzura meninggalkan kamar Kakaknya dengan wajah cemberut.


"Kenapa dengan dia?" Stella mengangkat kedua bahunya acuh lalu melanjutkan make upnya yang belum selesai.


Kamar Azzam berjarak 3 kamar dari kamar Stella, berbeda dari kamar Azzura, kamar gadis itu tepat berada di pojok karena disana terdapat balkon kecil yang langsung mengarah ke kolam yang berada di bawah.


'Tok tok tok..'


"Kak Azzam buka pintunya." teriak Azzura dari luar.


Sementara di dalam kamar milik Azzam.


"Eh suara siapa itu Zam, apa suara Bibi aah sial." Nathan kembali mendapat toyoran dari Rama.


"Ngawur, mana ada suara Bibi semerdu itu."


'Ceklek..' pintu sengaja di buka sedikit oleh Azzam.


"Lama banget sih Kak." ucap Azzura dengan cemberut, sementara Azzam menatap adiknya dari atas hingga bawah.


"Mau kemana?" tanya Azzam mengernyitkan dahi.


"Kak Azzam mau ik-." suara Azzura tercekat karena kelima teman Azzam mencoba membuka pintu dengan paksa.


"Ish apa-apa'an kalian ini." umpat Azzam, sementara teman-teman Azzam melonggo menatap gadis cantik di depan mereka terutama Brayen, pria itu tidak berkedip sama sekali.


Azzam memutar bola mata malas saat melihat kelima temannya mematung memasang wajah mupeng.


"Kalian lebih baik pulang, nginapnya lain kali saja." suara Azzam mengejutkan semuanya, ia pun mendorong satu persatu temannya untuk keluar, sementara Azzura acuh dan berjalan memasuki kamar sang Kakak.


"Itu adek Loe Zam? wah Loe parah gak bilang-bilang sama kita kalau punya adek secantik itu." ucap Nathan, kelimanya berjalan menuruni tangga.


"Apa perlu Gue umumin, ngak kan? udah sana pulang."


usir Azzam ketika sudah sampai di teras.


"Kejam Loe Zam." ucap Rama.


"Iya nih ngak asik." saut teman lainnya.


Brayen dari tadi hanya diam, pria itu terlihat senyum-senyum sendiri, untung saja teman-temannya tidak menyadarinya.

__ADS_1


"Lain kali kalian boleh menginap disini, bye." Azzam menunggu teman-temannya menjauh lalu segera menutup pintunya.


"Hufft untung saja Mama dan Papa pergi." Azzam pun kembali ke kamarnya.


Setelah Azzura membujuk sang Kakak, akhirnya Azzam mau ikut mereka ke mall.


Di kota A Stella lebih memilih melupakan masalahnya dengan cara shopping, sementara di tempat lain pria berwajah tampan yang sedang duduk di kursi kepemimpinannya sebagai CEO kini tidak fokus bekerja karena memikirkan masalahnya dengan Stella.


"Aaarrhhhh sial." Damien membuang seluruh barang yang berada di meja kerjanya hingga barang-barang tersebut berserakan di lantai.


Tak lama terdengar bunyi ketukan pintu dari luar.


'Tok tok tok..'


"Masuk."


Robby terkejut menatap ruangan Bosnya yang nampak kacau, kalau sudah begini pasti Robby yang akan menjadi sasaran kemarahan bosnya.


"Ada apa?" tanya Damien dengan wajah datar tapi sorot matanya menatap Robby dengan tajam membuat tangan kanannya itu tidak berani menatapnya.


"D- di luar ada Nona Arrabel Tuan." Robby menunduk takut karena sebelumnya Damien berpesan jangan menerima tamu untuk hari ini, apalagi Arrabel wanita yang sudah berani menantangnya.


"Berani juga dia kemari." bibir Damien tersenyum miring, sebelum ia memerintahkan Robby untuk menyuruh wanita itu masuk gadis itu sudah menerobos, ia sengaja memakai baju seksi untuk mengoda Damien.


"Lama sekali." Arrabel melirik Robby sinis kemudian berjalan melengak lenggok ke arah Damien.


"Kak Dam."


"Berhenti disana." ucap Damien penuh penekanan, dengan sorot mata membunuh.


"Oke." Arrabel tidak sama sekali takut, ia menatap seluruh ruangan yang terlihat berantakan,ternyata benar kata orang suruhannya yang sengaja ia sewa untuk memata-matai, jika Damien dan Stella sedang bertengkar sampai gadis itu pergi meninggalkan negara ini, ia tersenyum tipis dan memilih duduk di sofa, wanita itu sangat tidak tau malu dan tidak merasa bersalah sedikit pun setelah kejadian malam itu.


"Apa maumu?" Damien menatap Arrabel seperti seekor singga yang siap menerkam mangsanya.


"Oke aku tidak ingin banyak bicara disini." Arrabel mengeluarkan amplop coklat yang berada di tasnya.


"Lihat lah aku punya surprice untukmu Kak." ucap Arrabel kemudian.


"Robb." Damien melirik Robby, sementara Robby yang mengerti langsung mengambil amplop itu dan membukanya, mata Robby melebar saat melihat beberapa foto Bosnya dan Arrabel dengan keadaan tak berbusana, bahkan Damien terlihat memagut bibir Arrabel di foto itu.


"T-tuan.." Robby berjalan ke arah Damien dan menunjukkan foto yang berada di tangannya.


Rahang Damien mengetat hingga otot lehernya terlihat. "Brengsek jadi kamu yang menjebakku waktu itu." matanya menatap nyalang pada gadis itu.


"Hahaha kau benar Kak, aku yang melakukannya." Arrabel beranjak dari sofa berjalan mendekati Damien.


"Apa maumu?" tanya Damien berusaha mengontrol emosinya.


"Aku mau Kau memutuskan gadis kecil itu dan kita menikah." bisik Arrabel tepat di telingga Damien dengan nada sensual.


Gantung ya kasiaaann🤭


ada readers yang bilang cerita Azzura dan Damien selesain satu-satu thor, Author menambah kisah si kembar disini biar epsidoe nya panjang Kakak, tenang kisah Azzura mengikuti alur dari kisah Damien kok jadi ngak melulu Damien dan Stella😉Author sayang kalian yang masih bertahan disini😘😘 terima kasih suportnya.


"

__ADS_1


__ADS_2