
Dua bulan telah berlalu, selepas mengetahui siapa tersangka utamanya Damien tidak ingin terburu-buru melancarkan aksi balas dendamnya atas meninggalnya sang Papa, dia lebih fokus melebarkan wilayah kekuasaan Rick Devil agar kelompok mafia yang baru di resmikan itu semakin kuat.
Di sisi lain, seiring berjalannya waktu kedua twins sibuk mempersiapkan diri untuk melanjutkan pendidikan mereka di jenjang sekolah menengah atas, keduanya memilih bersekolah di tempat Kakaknya dulu.
Pagi ini dimana keluarga Ansel sudah bersiap untuk sarapan, semuanya sudah berada di meja makan kecuali Azzura.
"Azzam dimana adikmu?" Ansel duduk dengan tegak menatap sang putra dengan alis mengkerut.
"Ah biar Mama panggil sebentar, mungkin dia kesiangan." Bella bangkit dari duduknya, berjalan menuju tangga, baru saja Bella melangkah ketiganya di kejutkan dengan seorang gadis yang berpenampilan culun sedang menuruni tangga.
"Astaga benarkah yang ku lihat ini." gumam Azzam dengan suara pelan sembari menatap sang adik.
Sementara Bella menghentikan langkahnya, ia menatap Ansel yang juga sedang menatapnya.
"Melihat putriku berpenampilan seperti itu jadi menginggat masalalu ku."batin Bella.
"Selamat Pagi semua." ucap Azzura dengan riang.
"Sayang haruskah kau berpenampilan seperti itu?" Ansel menatap putrinya lekat tanpa menjawab sapaan Azzura, begitu juga yang lain.
"Aku sedang menjalankan misi Pa."
Kedua putra putri Ansel sudah menginjak remaja, twins dulunya selalu riang dan banyak tingkah, kini sifat keduanya terlihat lebih dewasa.
Ansel, Bella dan Azzam menautkan kedua alisnya saat mendengar jawaban ambigu dari Azurra.
"Misi apa sayang yang kamu maksud?"
"Rahasia." ucap Azurra tersenyum.
Ketiga orang yang bersama dengannya dengan kompak mengelengkan kepala melihat tingkah absurd Azurra, tanpa banyak bertanya lagi mereka segera menyantap makanan yang sudah di hidangkan oleh Bella.
__ADS_1
"Adik, jika penampilanmu seperti ini aku tidak janji akan mengenalkanmu kepada teman-teman baruku sebagai adik kandungku." ucap Azzam yang saat ini sudah berada di dalam mobil bersama Azurra.
"Siapa juga yang mau di kenalkan, ingat di sekolah nanti kita harus berpura-pura tidak saling mengenal."
"Maksudmu?"
"Ya.. aku ingin menutupi identitas ku, Pak stop aku turun disini saja." ucap Azurra.
Dengan mendadak supir menginjak rem karena kaget mendengar suara majikannya yang tiba-tiba menyuruhnya untuk berhenti.
'Ciiiiiiitttt..' anggap saja itu bunyi mobil si twins😅
"Mau kemana?" Azzam segera mencekal tangan adiknya saat gadis itu ingin menuruni mobil.
"Aku akan naik gojek saja Kak, tenanglah Zurra akan baik-baik saja." jawab Azurra.
"Tapi-"
"Tenanglah Kak aku bisa jaga diri." Azzura segera keluar dari mobil, sementara Azzam hanya bisa menghembuskan nafas kasar saat melihat adiknya bersikap konyol.
Gadis berparas culun yang tidak lain ialah Azzura kini sudqh berdiri di depan gerbang sekolah, ia menghembuskan nafas dalam lalu mengeluarkannya sebelum memasuki kawasan sekolah, tak lama terdengar bunyi keributan para siswi saat menatap seseorang yang baru keluar dari mobil mewahnya, membuat gadis itu berbalik menatap ke belakang.
"Waaahhh tampan sekali siapa dia?"
"Aaa pangeranku."
"Semoga aku satu kelas dengannya."
Masih banyak lagi teriakan para siswi hingga membuat gadis berparas culun itu memutar bola matanya malas, bagaimana tidak jika ia tahu yang di maksud para siswi itu ialah Azzam sang Kakak.
Azzam berjalan dengan tegap menuju gerbang sekolah, ia hanya melirik Azzura sekilas lalu kembali menatap kedepan tanpa memperdulikan para siswi yang meneriakinya.
__ADS_1
Entah sebuah kebetulan atau apa, Azzura dan Azzam kali ini tidak satu kelas, padahal keduanya sama-sama cerdas, harusnya Azzura berada di kelas yang sama dengan Azzam, tapi gadis itu malah berada di kelas yang rata-rata siswanya ber IQ rendah, saat ini ada beberapa siswa siswi sudah berada di dalam kelas Azzura.
"Ih siapa dia, lihatlah penampilan dan wajahnya." ucap salah satu siswi yang duduk tidak jauh dari Azzura.
Semua memandang gadis itu aneh, hingga terdengar suara tawa dari seorang siswa yang dengan sengaja menempelkan sesuatu di punggung Azzura.
"Hei udik cepat menyingkir dari sini, ini tempatku." usirnya.
Azzura tanpa menolak langsung berdiri dan berpindah tempat, hingga semua yang berada disana melihat sesuatu yang berada di punggung Azzura, tak lama terdengar suara tawa dari siswa siswi yang berada di kelas.
"Hahaha memang pantas di panggil cewek udik."
Tawa mereka semakin kencang, Azzura yang sadar ada sesuatu di belakang punggungnya langsung merabanya dan benar saja ada secarik kertas yang bertuliskan "Nama ku udik" tangan lentik itu seketika meremas kertas yang membuatnya di tertawakan, tanpa bisa melawan Azzura hanya diam dan kembali duduk.
Tak lama bel masuk berbunyi, semua siswa siswi banyak yang baru datang, hingga mereka menempati tempat duduk masing-masing karena jam pelajaran akan segera di mulai.
***
Di ujung negara lain kawasan kampus tempat Stella menimba ilmu kini begitu ramai dengan teriakan para mahasiswi, hal itu membuat Stella penasaran.
"Loe tau ngak mereka ngeributin apa Lex?" tanya Stella.
"Entahlah sepertinya ada dosen baru yang mengantikan Pak Damar." Lexa menatap puluhan wanita yang sedang mengerubungi dosen itu.
"Gue jadi penasaran setampan apa dosen baru kita." ucap Rosi yang sudah melengang pergi menuju kerumunan.
"Ros gue ikut." Stella berlari menyusul Rosi, sementara Lexa hanya menatap sahabatnya dari jauh, dia tidak ingin merusak rambutnya yang baru saja perawatan ke salon.
Satu persatu mahasiswi mulai bubar karena bel masuk sudah berbunyi, hingga tubuh dan wajah dosen baru itu terlihat jelas, Stella yang tadinya ingin berlari ke kelas kini mematung saat melihat orang yang sepertinya pernah ia jumpai.
"Astaga pria itu." gumam Stella dengan mulut terbuka saat dosen baru itu mengerlingkan mata ke arahnya.
__ADS_1
Siapa kira"orangnya?
Ayo coba tebak🤭